The Unexpected Love

The Unexpected Love
Dreamcatcher



Keesokan harinya Elang benar-benar masuk sekolah, Padahal kemarin orang tuanya meminta Elang untuk tetap tinggal di rumah sakit guna mendapatkan perawatan yang intensif tapi dengan keras kepalanya Elang berkata bahwa ia sudah sehat dan siap bersekolah. Ia pun menambahkan alasan terlalu banyak materi pelajaran yang tertinggal. Karena Elang begitu bersikukuh, akhirnya Papi Elang pun mengizinkan tapi dengan banyak syarat yang harus Elang patuhi tentu saja.


'Braakkk !' Elang menutup pintu mobil yang mengantarkannya dengan agak kencang, tak hanya sendirian tapi bersama sang adik juga Amelia. Mobil yang keduanya tumpangi tak beranjak pergi. Salah satu syarat yang harus Elang patuhi yaitu sekarang dirinya hanya boleh mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah saja, setelah itu ia harus langsung pulang ke rumah.


Oleh karena itu mobil beserta sopir pribadi yang telah disediakan oleh Papi Elang tinggal di sekolah untuk menunggu kepulangan Elang dan juga Amelia.


Elang juga sudah tak tak boleh menjemput Amelia dengan alasan apapun, kini tugasnya digantikan oleh sopir pribadi atau saudara sepupu mereka yang telah ditunjuk oleh ayahnya. Elang hanya boleh keluar rumah untuk bersekolah saja.


Pihak sekolah Elang juga belum mengizinkan lelaki itu untuk pindah ke sekolah yang lain dengan alasan waktu belajar di semester ini hanya tinggal beberapa bulan saja. Entah itu benar adanya atau seseorang telah menghalang-halangi kepindahan Elang.


Elang menutupi kepala dengan hoodie hitam miliknya, karena jahitan luka di belakang kepalanya masih terlihat dan belum ditumbuhi rambut kembali. Ia menggendong tas ranselnya dan berjalan menuju sekolah. Di di pintu gerbang beberapa teman Elang sudah menanti kedatangannya. di manapun Elang bersekolah, pemuda itu selalu saja mempunyai banyak teman atau lebih menyerupai pengikut.


"El syukurlah lo udah bisa sekolah lagi," Rafa menyambut kedatangan lelaki jangkung itu dengan antusias.


Elang membalas sambutan mereka dengan senyum dan mereka pun bercakap-cakap. tapi pembicaraan itu berhenti saat Amelia meneriakkan sebuah nama.


"Naayyyy, tunggu !" teriak Amelia saat ia melihat sahabatnya Nayla yang lebih dulu masuk ke area sekolah.


Nayla tolehkan kepala dan membalas lambaian tangan Amelia, ia terperangah saat melihat elang berada tak jauh dari sahabatnya itu. Rasa terkejut bercampur senang memenuhi dada Nayla saat ini.


Secara refleks Nayla membalikkan tubuhnya dan berjalan tergesa menuju tempat Amelia dan Elang berdiri. "senang melihat kak El sudah sehat dan bisa masuk sekolah lagi," ucap Nayla tanpa sadar.


Dorongan rasa bahagia yang membuncah dalam dirinya membuat Nayla berani mengeluarkan kata-kata itu padahal biasanya untuk menatap mata Elang saja Nayla begitu takut-takut. bibirnya melengkungkan senyum dan matanya berbinar saat ia mengatakan itu pada Elang.


Elang terkejut luar biasa, ia tak menyangka akan mendapatkan sambutan semanis itu dari Nayla. "Berkat do'a kamu, Nay," sahut Elang tak seketus biasanya walaupun Elang tak membalas senyuman yang Nayla berikan. Bukannya Elang tak merasa senang tapi sebenarnya seorang Elang tengah merasa sangat gugup saat ini.


Elang lebih sanggup untuk berkelahi, 2 orang lawan pun tak masalah. Akan Elang layani mereka. Tapi begitu dihadapkan dengan gadis yang sangat disukainya Elang merasa sangat lemah. Untuk melengkungkan senyum saja rasanya serba salah.


"Kak El sembuh karena aku tengok kemarin," sombong Amelia.


"Jangankan Elang, Pusing dan demam Rafa aja hilang kalau lihat senyuman Amel," gombal Rafa.


"Iya karena pusing dan demamnya itu pindah ke aku," ucap Amel judes. "Ayo Nay ! kita pergi," Amelia menarik lengan sahabatnya itu agar ikut dengannya.


Nayla berjalan tergesa mengikuti langkah Amelia namun tak lama ia tolehkan kepala untuk melihat pada Elang dan tak menyangka jika Elang pun ternyata tengah melakukan hal yang sama yaitu melihat kepadanya.


Cepat-cepat Nayla memalingkan muka, karena ia sadar wajahnya yang terasa panas pasti sedang memancarkan semburat merah di kedua pipinya.


" yang tadi malam gue bilang di WhatsApp udah lu jalanin ?" tanya Elang pada salah satu temannya itu.


"Udah, gue cari tahu. Kayanya sih yang namanya Arya itu," jawabnya.


"Lo tahu kan apa yang harus lo lakuin ?" tanya Elang.


Pemuda itu anggukan kepala sebagai bentuk jawaban. "Tenang, gue jamin dia gak bakalan deketin Nayla lagi," ucapnya penuh keyakinan.


***


Telah berlalu 3 Minggu semenjak Elang kembali sekolah. sejauh ini keadaan aman terkendali. Elang menuruti segala perintah dari Papinya ia tak lagi pergi tanpa izin.


Lalu bagaimana dengan Nayla apakah Elang membiarkannya begitu saja?


Tentu tidak, Elang meminta bantuan para temannya untuk menjaga Nayla dari jauh. saat gadis itu mengikuti les akan ada beberapa teman Elang yang berdiam diri di sekolah atas perintah Elang tentu saja. Mereka akan memastikan keselamatan Nayla sampai rumah.


Elang tidak memanfaatkan kebaikan temannya begitu saja tanpa ada timbal baliknya. Elang senang berbagi, bahkan tak ada yang tahu jika Elang pernah memberikan sejumlah uang pada salah satu temannya untuk membantu ibu temannya itu berobat jalan. tak heran jika teman-teman Elang begitu loyal padanya.


Ingat, Elang adalah kesayangan sang Oma yang berada di luar negeri. Oma yang berasal dari pihak maminya itu sering mengirimkan uang untuk Elang dalam bentuk Euro dan bila di tukar ke dalam rupiah cukup membuat rekening Elang gendut untuk ukuran seorang pelajar. Tak heran jika Amelia saja sering memalak sang Kakak.


"Pih, Elang pasti pulang telat hari ini," ucap Elang pada Papinya yang sedang menikmati sarapan pagi.


" Apa yang sudah papi bilang, El ?"


"mulai hari ini di sekolah akan dilaksanakan acara 'bulan prestasi' selama satu minggu ke depan. Dalam acara itu ada pertandingan basket antar sekolah dan Elang ditunjuk sebagai salah satu siswa yang mewakilinya," jelas Elang.


"Bilang saja kamu tak bisa ikut bertanding,"


"Tapi pih, Elang ini salah satu anggota tim inti sekolah," jawab Elang memelas.


cukup lama keduanya berargumen hingga akhirnya Papi Elang menyerah dan mengizinkan anak lelakinya itu untuk ikut bertanding.


"setelah latihan dan setelah tanding basket kamu harus langsung pulang, Elang. Tidak ada acara nongkrong atau apapun lagi,"


"Oke pih," Elang menyetujui.


***


"Pak, nanti ke jalan Kenari dulu ya" ucap Amelia pada sopir yang mengantarkan mereka ke sekolah. karena ini adalah bulan prestasi maka di sekolah Amelia kegiatan belajar dihentikan dulu selama beberapa waktu dan digantikan dengan kegiatan lain seperti pertandingan olahraga dan market day yang menjual hasil karya para siswa.


Nayla sudah menunggu di depan halaman rumahnya ditemani oleh sang ibu beserta satu box berisikan hiasan dreamcatcher itu. Amelia hanya menjemput Nayla saja tak butuh waktu lama mereka pun langsung pergi menuju sekolah.


"Nay, gimana si Arya?" tanya Amel. Gadis itu tahu jika Arya sedang gencar melakukan pendekatan pada Nayla.


"udah biasa aja, malah dia kaya takut gitu kalau ketemu aku padahal aku belum juga nolak pernyataan cinta dia, tapi Arya udah kabur duluan,"


jawab Nayla setengah berbisik.


Elang yang mendengar itu mengulum senyumnya penuh kemenangan.


***


Stand penjualan milik Nayla dan Amelia berada di baris depan sekolah. di sana terdapat 5 orang gadis termasuk Nayla dan Amelia. stand penjualan dreamcatcher itu cukup diminati banyak orang terutama oleh para siswa laki-laki. sedikit mengherankan memang karena biasanya hiasan seperti itu lebih diminati oleh para siswa perempuan.


Ada yang getar-ketir hatinya melihat itu semua, tak hanya Elang yang khawatir Nayla akan ditaksir siswa lain tapi ternyata Rafa pun merasa tak rela jika Amelia yang sering dirinya goda akan dilirik oleh siswa lainnya apalagi hari ini sekolah itu dipenuhi oleh para siswa-siswi yang datang dari sekolah lain.


Pada mulanya Rafa hanya iseng menggoda Amelia karena gadis itu sangatlah judes bin jutek, tapi lama-lama Rafa sendiri yang terbawa perasaan. seperti saat ini, ia merasa tak rela saat Amelia menawarkan dagangannya pada siswa lain.


Melihat hal itu Rafa langsung datang ke stand Amelia untuk melihat-lihat, "Cantik-cantik banget kaya yang jualannya," ucap Rafa menggoda Amelia.


Gadis yang berkulit putih pucat dan berambut coklat itu mendelikan matanya dengan judes pada Rafa. "maaf ya di sini hanya melayani yang akan membeli saja, kalau cuman lihat-lihat sebaiknya kamu pergi," sahut Amelia.


"Rafa datang ke sini kan mau beli Mel," ucap Rafa.


"ya udah cepetan pilih, beli dan langsung pergi, jangan ngalangin orang yang mau lihat lagi,"


"kata Amel bagus yang mana?" tanya Rafa.


Amelia pun membawa banyak hiasan itu dari dalam box dan memberikannya pada Rafa. "ini bagus semua, "ucap Amelia asal.


"ya udah kalau gitu kakak Rafa beli semuanya, demi Amelia," gombal Rafa.


"Semuanya jadi 300 ribu," kata Amelia. seketika teman-teman Amel melihat padanya karena gadis itu telah menaikkan harga.


"nggak bisa lebih mahal lagi, Mel ?" tanya Rafa.


lagi-lagi ia menggoda gadis itu.


"jangan banyak omong cepetan bayar," ucap Amelia seraya memasukkan banyak hiasan itu ke dalam kantong plastik dan menyerahkannya pada Raya.


Raya meraih kantong itu dan membayar sebesar yang Amelia sebutkan tadi.


"kalau menurut Nayla yang mana yang bagus ?" tanya Rafa


Nayla pun memilihkan beberapa hiasan yang menurutnya bagus. "Aku suka warna putih, biru dan yang warna-warni ini," ucap Nayla.


"Ya udah aku beli semua, jadi berapa ?" tanya Rafa.


"semuanya jadi 45.000, "jawab Nayla sembari melihat pada Amelia yang tadi memberikan harga mahal sedangkan Nayla menjual dengan harga yang sebenarnya.


"tadi aku beli di toko sebelah lebih mahal loh," sindir Rafa.


"tapi aku beli aja, Soalnya yang jualannya cantik banget. lihat wajahnya saja membuat hati Rafa jadi adem gitu," lanjut Rafa cepat-cepat karena Amelia sudah menekuk muka tak suka.


Nayla tersenyum sembari memasukkan 3 buah dreamcatcher ke dalam plastik dan menyerahkannya pada Rafa.


Rafa meraih kantong itu dan membayar sebesar yang Nayla sebutkan tadi. "kembaliannya ambil aja, uang Rafa masih banyak kok, buat nanti belanja lagi sama Amelia" sombong Rafa agar terdengar Amelia.


Nayla tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


Rafa pun pergi setelah Amelia mengusirnya. Tapi anehnya setelah itu banyak lagi yang datang membeli barang dagangan mereka hingga tak butuh waktu lama stand Amelia pun kehabisan stok.


Nayla dan Amelia tidak tahu jika ada seseorang yang menjadi dalang habisnya dagangan mereka. siapa lagi jika bukan Elang dan Rafa.


"Mereka besok jualan apa lagi El ? masa iya gua mesti beli hiasan bulu melulu tiap hari ?" keluh Rafa.


"Yaa Allah.. kalau saja aku gak cinta.. gak mau begini," batin Rafa dalam hatinya.


"Tenang, tar gue bakal cari akal biar mereka gak jualan lagi," ucap Elang seraya menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.


to be continued ♥️


Thanks for reading ♥️