
" Dan asal kamu tahu, Elang. Aku bukan berselingkuh di depanmu. Aku dan Rio telah resmi berpacaran. Jadi sebenarnya kamulah orang ketiga diantara kita," kata Nayla dengan penuh emosi. Ia masih merasa kecewa dengan apa yang Elang lakukan padanya.
Elang bagai tertampar, mendengar apa yang Nayla katakan tentang statusnya dengan pemuda bernama Rio itu membuat hati Elang meradang.
" Kita sudah sama-sama dewasa, kamu udah gak bisa ikut campur dalam kehidupan cinta aku. Jadi ku mohon pergilah, Elang. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama,"
" Don't say that ! Please don't say that..," ucap Elang penuh mohon.
" Ku mohon pergilah, Elang...," Nayla berkata lirih. Terdengar rasa sakit juga kecewa dalam nada suaranya.
" Tak bisakah kamu mengerti bahwa aku melakukan itu karena terlalu takut kehilanganmu, Nay,"
Hening...
Nayla masih diliputi oleh rasa kecewa. Elang selalu saja berbuat seenaknya hingga kehidupan cinta Nayla sangatlah berantakan.
" Sudah malam, sebaiknya kamu pulang," kata Nayla sembari mengambil jas Elang yang tersampir di atas sofa dan memberikannya pada laki-laki jangkung itu.
Elang meraih jas hitam miliknya dari tangan nayla, tapi ia memohon pada gadis itu melalui matanya. "Nay..," ucap Elang lirih. Berharap Nayla tak mengusirnya.
" Aku harus beristirahat," ucap Nayla.
Elang masih tak bergeming dari tempatnya berdiri saat ini. Ia masih tak ingin berpisah dari Nayla.
" Nay...,"
" Ini sudah malam, tak seharusnya aku menerima tamu laki-laki semalam ini," potong Nayla cepat.
Mau tak mau, Elang pun menuruti kemauan gadisnya itu. Padahal tadinya malam ini Elang berniat untuk meresmikan hubungan mereka. Dan jika Nayla bersedia, Elang tak akan menunggu waktu lama. Ia akan langsung mengajak Nayla untuk menikah.
Kalau perlu Elang akan langsung datang menemui orang tua Nayla yang berada di Bogor malam ini juga.
Tapi nyatanya harapan tak sesuai kenyataan. Semuanya tak berjalan mulus, tak sesuai dengan yang Elang impikan.
" Baiklah aku pulang, tapi kita akan bicara dan selesaikan ini semua," ucap Elang.
Nayla tersenyum kecut sebelum menanggapi perkataan Elang. " Apa yang harus diselesaikan ? Kita tak memiliki masalah apapun karena kita memang tak saling berhubungan sama sekali. Kamu hanya seorang Kakak dari sahabatku, Amelia. Yang keberadaannya pun entah di mana,"
" Nay ! Aku tahu kamu marah dan kecewa tapi ini semua belum berakhir," ucap Elang tak ingin dibantah.
" Aku akan kembali padamu," lanjutnya lagi dan ia pun berjalan menuju pintu.
Nayla menatap nanar punggung laki-laki yang selalu ada dalam hati juga pikirannya itu. Laki-laki yang sangat sulit untuk Nayla lupakan walaupun ia mati-matian mencobanya.
Tapi pada kenyataannya...
Kembalinya Elang malah membuat Nayla semakin tidak baik-baik saja. Laki-laki itu dengan mudahnya mengklaim jika diri Nayla adalah miliknya tanpa bertanya Nayla mau atau tidaknya. Elang juga dengan semena-mena meminta Nayla menjauhi Rio dan kini kenyataan yang lebih menyakitkan yaitu banwa Elang lah dalang tak berhasilnya semua kisah cinta Nayla.
" Ceklek" terdengar bunyi gagang pintu yang hendak di buka.
" Elang....," Kata Nayla.
Mendengar namanya dipanggil membuat Elang segera tolehkan kepala ke arah suara. Ia berharap agar Nayla mengurungkan niatnya untuk mengusir Elang.
" Jangan pernah datang kemari lagi, biarkan aku dan pikiranku yang lalu,"
" What ?" Gumam Elang tak percaya.
" Biarkan aku dan pikiranku yang selalu mengatakan jika hubungan diantara kita tidaklah nyata," jawab Nayla dengan sangat jelasnya. Membuat Elang berdiri terpaku di depan pintu untuk beberapa saat. Pandangan mata mereka bertemu dan saling terkunci.
Nayla lebih dulu mengakhirinya, ia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu itu seperti tadi. Nayla sandarkan tubuhnya di daun pintu dan tak lama ia pun mendengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali menandakan Elang telah pergi.
Nayla meluruhkan tubuhnya di atas lantai. Kepalanya tertunduk lesu diantara dua lututnya yang di tekuk. Tanpa Nayla sadari air matanya telah terjatuh.
" Aku memang ingin hadirmu, tapi tak seperti ini ceritanya," lirih Nayla di sela-sela isakkan tangisnya.
***
Sudah berlalu hampir satu Minggu semenjak Nayla bertemu Elang untuk pertama kalinya dan kembali berpisah setelah terpisah delapan tahun lamanya.
Cinta terpendam mereka sempat bersatu untuk sesaat. Bahkan keduanya sempat memadu kasih dengan panasnya dan hampir saja berakhir di atas ranjang tapi untungnya Nayla masih bisa menjaga dirinya sendiri.
Padahal Nayla pun sangat terbuai saat melakukannya. Bayangkan saja, memendam rasa bertahun-tahun lamanya dan kemudian Elang muncul dengan segala kata cinta yang dia ucapkan untuknya membuat Nayla terbawa perasaan dan membalas cumbuan Elang dengan sama panasnya.
Tapi setelah mengetahui apa yang Elang lakukan padanya membuat Nayla kecewa luar biasa.
Nayla memasuki bilik kerjanya, sudah beberapa hari ini selalu terdapat buket bunga mawar yang bertuliskan " i'm sorry," tanpa nama pengirimnya. Tentu saja Nayla tahu itu berasal dari siapa.
Entah bagaimana caranya tapi Elang bisa melakukannya itu semua. Memberikan buket bunga sebelum gadis yang dicintainya itu datang ke kantor. Dan Nayla akan langsung memasukkannya ke dalam tempat sampah ketika ia mendapatkannya.
Hubungannya dengan Rio juga statis saja. Tak ada kemajuan yang berarti karena Nayla memang tak mencinti pria itu tapi berpisah pun Nayla belum bisa. Ia tak mau dicap sebagai perempuan yang hanya mempermainkan sebuah hubungan walaupun pada kenyataannya Nayla memang seperti itu.
***
Pada sore harinya Nayla sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia sedikit bersemangat karena menghadapi weekend. Nayla berencana untuk menghabiskan waktunya di apartemen dengan menonton film secara maraton. Kebetulan Rio sedang ada tugas luar kota sehingga kaki-kaki itu tak akan menemuinya.
" Mbak Nayla, ada yang jemput di bawah. Orangnya ganteng banget !!" Ucap salah satu teman kerja Nayla yang berbeda bagian dengannya. Gadis itu datang ke mejanya tepat saat Nayla bersiap untuk pulang.
" Oh ya ? Siapa ?" Tanya Nayla.
" Gak tahu. Dia gak nyebutin nama, tapi katanya pengen ketemu sama Nayla dan nunggu Mbak di lobi,"
" Ok, thanks yaa...," Nayla pun mengaitkan tas kerjanya di bahu dan berjalan keluar dari mejanya. " Pasti Rio," gumam Nayla. Kekasihnya itu memang akan pergi ke luar kota setelah selesai bekerja. Nayla tak menyangka jika Rio menyempatkan diri untuk menemuinya terlebih dahulu.
Perasaan Nayla biasa saja, tak ada debaran jantung yang mebggila atau pun tubuh yang gemetar ketika akan menemui kekasihnya itu. Semua terasa datar-datar saja.
Nayla tersenyum dan menjawab sapa beberapa orang yang berpapasan dengannya. Tak ingin membuat Rio menunggu terlalu lama, Nayla pun segera turun ke lantai 1 di mana Rio berada.
Nayla masih tersenyum-senyum saat ia terlibat pembicaraan dengan beberapa temannya di dalam lift. Namun senyum Nayla surut saat pintu lift terbuka dan ia melihat laki-laki jangkung dengan kulit putih pucat dan berambut coklat madu telah berdiri tak jauh dari pintu lift.
Laki-laki itu tampil lebih mencolok dibandingkan dengan pria lainnya. Padahal ia hanya mengenakan setelan jas hitam biasa yang hampir sama dengan yang lain.
Elang menjadi pusat perhatian, tubuhnya yang tinggi tegap dan parasnya yang tampan khas indo blasteran membuat para wanita menolehkan kepalanya dua kali untuk melihat Elang. Malah ada yang melihatnya dengan tidak mengedipkan mata.
Tapi walaupun begitu, tatapan mata Elang hanya tertuju pada Nayla seorang. " Nay..," gumam Elang pelan saat ia melihat gadis yang sedang merajuk marah itu.
Nayla ingin berusaha menghindari tapi Elang sudah berjalan mendekati dan kini mereka menjadi pusat perhatian. Tak mungkin Nayla beradu argumentasi dengan laki-laki jangkung itu di sini.
" Udahan yuk marahnya ? Aku gak tahan," bujuk Elang dengan tatapan matanya yang meredup sayu penuh mohon.
Perasaan Nayla yang tadinya biasa saja karena akan bertemu Rio kini berubah. Dadanya berdegup kencang, dan tubuhnya gemetar hanya karena Elang berkata seperti itu.
" Mmmmhhhh," gumam Nayla. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ternyata beberapa pasang mata tengah melihat padanya juga Elang.
" Apa aku harus berlutut ? biar kamu mau maafin aku, Nay ?"
Nayla tercengang, jangankan Elang berlutut. Sekarang saja mereka sudah menjadi pusat perhatian.
" Ngh... Nggak usah," jawab Nayla terbata-bata.
" Kalau begitu ayo kita pulang. Aku boleh anterin kamu kan ?"
Nayla hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban dan Elang pun tersenyum karenanya
Keduanya berjalan berdampingan, tubuh tinggi Elang bagaikan menara bagi Nayla. Dan Nayla terlihat menggemaskan dari sudut pandang Elang.
" Elang terlalu starbak untuk aku yang kopikap," gumam Nayla sambil tertawa.
Ia ingat mantra yang selalu diucapkannya dulu. Mantra yang digunakan dirinya agar tak menyukai Elang. Tapi kata-kata mantra itu tak berguna sama sekali. Pada kenyataannya Nayla selalu mencintai Elang si starbak.
Dan sekarang pun Elang masih terlalu starbak bagi Nayla. Pesona Elang masih luar biasa menghipnotis dirinya.
Nayla yakin tak hanya dirinya saja yang terpesona tapi juga para wanita yang berpapasan dengan mereka. Para wanita itu tak malu-malu untuk melihat pada Elang padahal ada Nayla yang berjalan di sebelahnya.
Keduanya berjalan berdampingan. Sesekali Elang berbicara dan Nayla menanggapinya. Walaupun banyak mata wanita yang menatap pada Elang, tapi Elang hanya memusatkan perhatiannya pada Nayla seorang.
Setelah berjalan beberapa lama, keduanya sampai pada mobil putih Elang yang terparkir tak jauh dari gedung tempat Nayla bekerja. Elang pun membukakan pintu mobilnya itu untuk Nayla dan gadis itu terkejut luar biasa saat mendapati sebuah buket bunga mawar besar di tempat duduknya.
Bunga yang Elang letakan secara khusus di sana untuk Nayla. " kali ini bunganya jangan dibuang ya, Sayang," ucap Elang pada Nayla yang pipinya sudah merona merah.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
Maaf yaa aku janji mau kreji up tapi malah dobel up aja kemarin.
Teh bella jatuh dan terkilir kakinya jadi agak manja.
Insyaallah aku pasti ngadain kreji up untuk bayar yang kemarin.
ditunggu aja ya
Terimakasih pengertiannya 🙏🙏