
Happy reading ♥️
"Mau nganterin Nayla pulang sekolah. Mau ya, Nay ?"
Semua tercengang mendengarnya, bahkan Nayla sendiri membulatkan matanya karena tak percaya. Tubuh Nayla gelisah di atas tempat duduknya.
Tanpa sadar Mata Nayla langsung menatap nanar punggung Elang dari arah belakang. Gadis itu tahu jika dirinya dan Elang tak memiliki hubungan apa-apa. Tapi kenapa Nayla merasa begitu ragu, seolah-olah tak ingin mengkhianati laki-laki yang bukanlah kekasihnya itu, laki-laki yang ingin segera Nayla lupakan, laki-laki yang ternyata masih saja mempengaruhi hati dan pikirannya.
Mata nayla beralih pada Maxi yang berdiri sambil menunggu jawaban darinya. pemuda itu tersenyum penuh harap.
Nayla sungguh merasa sangat bingung. Di satu sisi, dirinya masih saja menaruh hati pada Elang seorang. Tapi di sisi lain, Maxi adalah seseorang yang baik hati. Walaupun Nayla tak menyukainya tapi gadis itu juga tak mau mempermalukannya.
Seandainya saja Maxi mengajaknya secara sembunyi-sembunyi, mungkin Nayla akan menolaknya dengan halus. Tapi pemuda itu mengajaknya si hadapan banyak orang dan tak mungkin Nayla membuatnya malu.
Semua mata tertuju pada Nayla, tak hanya Maxi tapi semuanya menunggu jawaban dari gadis itu. Nayla menelan ludahnya paksa sebelum ia menjawab. "Bo-boleh, tentu saja boleh," jawab Nayla pada akhirnya.
"Braaakkk !!!" Dengan kasar Elang keluar dari tempatnya duduk. Ia berjalan menuju pintu luar. Beberapa orang temannya memanggil-manggil nama Elang tapi pemuda jangkung itu tak peduli. Ia bahkan tak menolehkan kepalanya sama sekali. Tiba-tiba pendengarannya Elang jadikan tuli.
Apa yang Elang lakukan menjadi pusat perhatian, bunyi derit kursi yang bergerak dengan paksa membuat para siswa yang berada di kantin menolehkan kepala.
Kini semuanya melihat kepada Vony, Gadis itu terlihat sangat menyedihkan karena ditinggal oleh Elang seorang diri. Vony menatap nyalang dan penuh kebencian kepada Nayla. Vony sadar jika Elang pergi dengan tiba-tiba karena mendengar jawaban Nayla. Kekasihnya itu tak rela jika gadis yang disukainya didekati oleh laki-laki lain.
"Kaka lo kenapa, Mel ?" Tanya Zia takut-takut.
"PMS kali," jawab Amelia tak acuh.
Semenjak Elang resmi berpacaran dengan Vony, Amelia tak lagi banyak berinteraksi dengan kakaknya itu.
Sejujurnya Amelia sangat tak suka dengan hubungan sang kakak, karena menurutnya Vony bukanlah seorang gadis yang baik. Amelia kira Elang berbeda dengan para lelaki pada umumnya, ya itu melihat seorang gadis dari hatinya bukan karena penampilan fisiknya.
Sudah jelas-jelas Elang tahu bahwa Vony pernah bermasalah dengan Amelia juga Nayla, tapi pemuda itu malah menjadikan Vony sebagai kekasih.
Sedangkan Nayla, ia tetapi punggung Elang yang bergerak menjauh. Merasa bingung dengan sikap lelaki itu. Elang mempermainkan hatinya. Di mata Nayla, Elang seperti menunjukkan rasa cemburu. Dengan begitu, bukannya berarti Elang memiliki rasa yang sama dengan dirinya ? Tapi pada kenyataannya lelaki itu lebih memilih Vony sebagai kekasih.
Sikap tak dapat ditebak dari alam membuat Nayla tersiksa dan tak mudah untuk melupakan pemuda jangkung itu.
"Nay, aku tunggu pulang sekolah ya," ucap Maxi dan itu membuat Nayla tersadar dari lamunannya.
"Oh, ok," sahut Nayla dengan senyuman canggung di wajah cantiknya.
Vony segera berdiri, begitu Elang meninggalkannya. Ia memberikan beberapa lembar uang kertas pada Angela temannya, agar gadis itu membayar semua jajanan yang ada di atas meja.
Lalu dengan langkah tergesa-gesa Vony berusaha menyusul keberadaan Elang . "El, tunggu !!" Pekik Vony sembari menyamakan langkahnya dengan lelaki itu.
Elang sama sekali tidak menolehkan kepalanya pada Vony. Lagi-lagi Elang menulikan pendengarannya.
"El, tunggu," ucap Vony seraya menahan lengan Elang.
"Mau Lo apa sih ? Lo sama sepupu lo, puas kan sekarang ? Lihat Vony ! Gue udah hancur ! Bilang sama sepupu lo, gue udah hancur !!" Elang setengah berteriak pada gadis yang merupakan kekasihnya itu. Wajahnya memerah dan nafasnya memburu tak beraturan. Bisa Vony lihat dengan jelas jika Elang benar-benar dalam keadaan marah.
"Tinggalin gue sendiri !" Desis Elang seraya melanjutkan kembali langkahnya seorang diri menuju kelasnya.
Vony tatapi kepergian Elang dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Dari dulu...
Vony ingin sekali menjadikan Elang kekasih, sebagai ajang pembuktian diri pada semua orang bahwa seorang Vony bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut.
Tapi nyatanya sekarang, itu semua tak berarti. Karena pada akhirnya Vony menginginkan hati Elang juga. Gadis itu mendamba Elang untuk membalas cintanya.
Ya pada akhirnya seorang Vony benar-benar jatuh cinta pada Elang dan ia merasakan sakit hati dengan hebatnya saat menunjukkan siapa yang dicintainya.
"Mau Lo apa sih ?" Pertanyaan Elang memenuhi pikiran Vony saat ini.
"Aku ingin hatimu, Elang... Aku ingin cintamu," ucapnya lirih.
Sedangkan di dalam kantin, keadaan semakin heboh sepeninggal Maxi. Amelia, Zia, dan teman-temannya yang lain begitu antusias tentang Maxi yang secara terang-terangan mendekati Nayla. Mereka heboh dalam rasa bahagia.
Tapi Nayla tak merasakan hal yang sama, hatinya masih terpaut pada Elang seorang dan melihat kepergian Elang seperti tadi membuatnya tak merasa nyaman.
***
Pulang sekolah, Vony sudah berdiri di luar kelas Elang. Jika biasanya gadis itu yang memerintahkan Elang untuk menjemputnya tapi kali ini dirinya sendiri yang menunggu Elang. Vony benar-benar merendahkan diri.
Beruntung bagi Vony karena kelas Elang terlambat pulang. Sehingga Gadis itu bisa melakukannya, yaitu menunggu Elang pulang.
Vony lebarkan senyumnya saat dia mendengar lantunan doa pertanda kelas telah berakhir. Tak lama setelah itu murid-murid di kelas Elang berhamburan keluar kelas.
Keluarnya Elang bersamaan dengan sang adik yang juga datang. Amelia melihat dingin pada Vony.
"Ck ! Aku tunggu di mobil aja !" Decak kesal terdengar dari mulut Amelia saat mengatakan kalimat itu pada Elang.
Amelia juga tidak bertegur sapa dengan kekasih sang kakak. Gadis itu tak menganggap Vony ada.
"Lo ngapain ke sini ?" Tanya Elang.
Belum juga rasa kesal Vony hilang karena sikap judes Amelia, kini Elang pun berlaku sama. Kekasihnya itu tidak dalam model ramah. Yaa walaupun setiap harinya Elang tak pernah bersikap baik.
"Aku mau pulang bareng," jawab Vony.
Elang berkerut alis tak paham. " Gue kan diantar jemput sopir, dan gue nggak mungkin anterin lu pulang,"
"Iya gak pa-pa, cuma sampai gerbang aja kok," ucap Vony yang tak ingin menerima penolakan.
Mood Elang masih kacau tak karuan. Laki-laki jangkung itu berjalan mendahului, padahal sudah dari tadi Vony menunggunya pulang. Jangankan untuk bergandengan tangan, untuk berjalan berdampingan pun sepertinya Elang enggan dan itu membuat Vonny benar-benar merasa tersiksa.
Jika biasanya orang-orang melihat kepada mereka dengan tatapan iri, Tapi saat ini semua mata melihat penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin pasangan yang baru saja jadian itu terlihat seperti tengah berseteru.
Mood Elang semakin kacau lagi saat ia melihat Nayla yang sedang berjalan berduaan dengan Maxi. Seperti halnya Elang, Nayla dan Maxi pun berjalan menuju pelataran parkir di mana motor besar Maxi berada di sana. Sialnya lagi motor itu terletak tepat di sebelah mobil milik Elang.
Nayla dan Maxi berjalan berdampingan tanpa berpegangan tangan. Walaupun hanya seperti itu saja mampu membuat Elang merasakan sesak di dadanya.
Elang terus berjalan mengikuti keduanya dengan dada yang panas dan siap untuk meledak marah. Ia idak peduli pada Vony yang terus berjalan mengekorinya.
Kini Elang berada di sebelah mobilnya dan Nayla berada di sisi yang lain bersama Maxi.
Maxi membuka kaitan helm dan ia akan membantu Nayla untuk mengenakannya. Elang melihat itu semua dengan begitu jelas dan ia teringat beberapa hari yang lalu dia lah yang melakukan itu pada Nayla, memakaikan Nayla hoodie hitam miliknya dan membuat sampul tali di leher agar kepala gadis itu terlindungi dari air hujan.
Nayla tak sadar jika dirinya sedang diperhatikan. Walaupun ia tidak tahu ada Elang, tapi Nayla tetap menolak halus apa yang hendak Maxi lakukan padanya. Nayla mengenakan helmnya itu sendiri tanpa bantuan.
Elang masih berdiri di sisi pintu mobil, padahal sang adik sudah ada di dalamnya sejak beberapa menit yang lalu. Amelia tengah asik pada layar ponselnya.
"El," ucap Vony pun yang sudah dari tadi mengekori. Tapi Elang tak bergeming seolah ia tidak mendengar Vony yang memanggil namanya.
Tak jauh dari tempat Elang berdiri Maxi mulai menaiki motornya dan ia meminta Nayla untuk menyusulnya naik di kursi penumpang.
Mau tak mau Nayla pun menuruti apa yang Maxi katakan padanya. Nayla mengangkat sedikit roknya yang panjang agar bisa menaiki motor temannya itu. Tapi pergerakan Nayla berhenti saat Ia mendengar seseorang meneriakan namanya.
"Nayla !!! Aku yang anterin kamu pulang !!!" Teriak Elang dengan wajahnya yang sudah berubah merah padam.
To be continue.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Mumpung hari Senin vote yuk...
Kalau vote-nya banyak aku up lagi nanti sore
Maaciw zheyeenk 😚