The Unexpected Love

The Unexpected Love
Selalu Begitu



Acara demi acara telah selesai dilalui dengan lancar. Hingga tiba waktunya untuk para tamu meninggalkan tempat resepsi. Hanya tinggal beberapa orang kerabat dan keluarga saja yang berada di sana.


"Ayo aku antar pulang," ajak Rafa pada Amelia.


Seharian ini Amelia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman di masa SMA nya dulu, begitu juga Rafa. Hingga keduanya tak terlalu banyak berinteraksi.


Hampir semua teman dekat ketika mereka SMA datang kecuali Vony yang memang yak diundang dan menurut kabar terbaru Vony dan seluruh keluarganya tak lagi tinggal di kota Bogor. Mereka pindah setelah banyaknya kasus yang menimpa keluarganya.


"Gak mau ! Aku mau pulang sama Mami dan Papi atau menyewa kamar di hotel ini untuk menginap," tolak Amelia.


"Belum waktunya, Mel," sahut Rafa setengah berbisik.


"Belum waktunya apa ?" Amelia berkerut dahi tak paham.


"Belum waktunya untuk kita sewa kamar di hotel seperti Elang dan Nayla," jawab Rafa sambil menaik turunkan alisnya menggoda gadis itu.


Mendengar jawaban Rafa membuat pipi Amelia terasa panas, dirinya yakin jikan wajahnya sudah berubah merah.


"Siapa yang mau sewa kamar sama kamu !!" Sahut Amelia dengan suara meninggi, ia langsung balikkan tubuhnya dan meninggalkan lelaki itu sambil mengomel kesal.


"Bad words, Sayang ! Bad words!" Sahut Rafa yang sudah mengerti omelan gadis pujaannya itu.


Amelia berdecak kesal dan hentikan langkahnya. Ia putar kembali tubuhnya, menghadap pada Rafa. "Jangan panggil aku sayang ! Aku bukan kekasihmu, dan ingat sebentar lagi aku akan dijodohkan," ucapnya dengan penuh tekanan.


"Lo, hobi banget sih gangguin dia," ucap Elang yang kini sudah berdiri tepat di sebelah Rafa.


Rafa yang mendengar itu hanya tertawa saja. Ia tahu Amelia selalu bersikap galak dan judes. Gadis itu juga selalu menolaknya. Tapi Rafa juga tahu jika di sudut hatinya yang dalam Amelia peduli padanya. Terbukti dengan mata gadis itu akan selalu melihat ke arahnya jika Rafa tengah berbicara dengan gadis lainnya.


Dan tak hanya itu. Amelia pun akan melihat takut-takut pada Rafa jika gadis itu didekati oleh pria lain seolah-olah tak ingin membuat Rafa cemburu.


"Gemes banget gue, El. Do'ain biar gue cepat-cepat dapat kabar bagus ya," ucap Rafa.


"Kabar apaan ?" Elang berkerut alis tak paham.


"Ada deh," sahut Rafa sambil tersenyum lebar.


"By the way, makasih banyak ya, Fa. Atas semua bantuan lo dan yang lainnya," ucap Elang tulus.


"Sama-sama... Sekali lagi selamat ya, El. Semoga lo dan Nayla langgeng. Dan semoga malam ini lo berhasil ya," sahut Rafa dan Elang hanya terkekeh-kekeh menanggapinya.


Menjelang malam, satu persatu kerabat dan keluarga pun meninggalkan hotel itu. Meninggalkan Elang dan Nayla yang akan menghabiskan malam pertama mereka di sana.


Elang mengantarkan Nayla lebih dulu ke kamar pengantin mereka, agar gadis itu bisa beristirahat setelah kegiatan yang melelahkan di hari ini. Nayla di bantu oleh tim makeup nya untuk melepaskan atribut pengantinnya. Sedangkan Elang hanya berganti baju dengan yang lebih kasual.


Sementara Nayla membersihkan diri, Elang kembali ke lantai bawah dan melepas kepulangan keluarganya di lobi hotel.


"El, Nayla masih capek loh itu. Jangan kamu paksa ya," ucap sang Mami mengingatkan. Tak hanya sekali itu tapi sudah berkali-kali ia mengatakannya.


"Iya, Mi... 8 tahun aja Elang bisa nunggu masa satu malam aja gak bisa," sahut Elang.


"perasaan Mami ke Nayla itu sama dengan Amelia jadi gimana gitu..,"


Setelah semua anggota keluarganya pergi meninggalkan hotel, Elang pun kembali ke dalam kamar pengantin nya. Ia dapati kamar itu telah kosong. Rupanya orang-orang yang membantu Nayla telah meninggalkan kamar itu.


Elang sadarkan pandangannya dan ternyata ia juga tak mendapati istrinya di sana. Elang berjalan menuju pintu yang ia yakini sebagai pintu toilet dan mengetuknya pelan.


"Nay, sayang... Kamu ada di dalam ?" Tanya Elang.


"I-iya," sahut Nayla terbata-bata dari balik pintu.


Elang mengulum senyumnya. Ia yakin jika saat ini Nayla pasti sedang merasakan gugup.


Sementara itu di dalam toilet, Nayla tengah berdiri di hadapan cermin dengan dada berdebar kencang tak karuan.


Ia merasa gugup karena akan menghadapi malam pertamanya dengan Elang. Walaupun kini Elang telah resmi mejadi suaminya tapi rasa berdebar-debar Nayla saat dekat dengan lelaki itu belum juga hilang. Bayangkan saja bisa menikah dengan idolamu sendiri, pasti tak akan mudah jika berada di dekatnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja ? Sudah terlalu lama kamu di dalam sana. Aku gak mau kamu sakit," Elang mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya.


"Tu-Tunggu sebentar," sahut Nayla.


"Kamu sembelit ya ?" Goda Elang dari luar.


"Ng-nggak !! Enak aja," jawab Nayla dengan pipi yang merona merah padahal Elang tak bisa melihatnya.


Lagi-lagi Elang mengetuk pintu. "Sayang, ayo kita sholat dulu. Aku udah gak sabar pengen jadi imam kamu," ucap Elang terdengar ambigu dan laki-laki itu mengucapkannya dengan nada suara lembut penuh rayu.


Nayla menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya yang sedang dilanda rasa gugup itu.


Setelah dirinya merasa siap, Nayla pun keluar dari dalam toilet dan mendapatkan Elang yang sudah berdiri di hadapannya. Nayla menengadahkan kepalanya pada Elang yang sedang tertunduk melihat ke arahnya. Pandangan mata mereka pun bertemu.


Elang tersenyum pada Nayla yang saat ini pipinya merona merah. "Nay, cantik banget pakai piyama satin, biasanya bergambar Doraemon," goda Elang. Ia teringat bagaimana saat Nayla dulu menginap di rumahnya. Saat istrinya itu masih berusia belasan tahun.


"Jangan godain aku terus," sahut Nayla dengan wajahnya yang semakin merona merah. Gadis itu mencebikkan bibirnya karena kesal juga malu di saat yang bersamaan.


"Habis gak tahan, Yang. Kamu gemesin banget kaya dulu," sahut Elang.


"Tau gak , Yang ? Aku selalu merasa senang kalau kamu menginap dengan Amelia karena dengan begitu aku bisa melihatmu lama-lama," lanjut Elang seraya menatap dalam wajah istrinya itu.


Elang merengkuh pinggang Nayla agar gadis itu mendekat padanya. Mata Elang meredup sayu dan menatap dalam pada Nayla. Ia tundukkan kepalanya dan mengangkat dagu Nayla dengan jempolnya.


Keduanya saling beradu pandang dalam pancaran rasa cinta yang sama besarnya.


Tak tahan lagi, Elang pun membenamkan bibirnya di atas bibir Nayla dan mengulumnya dengan lembut. Ia melakukannya dengan penuh perasaan seolah-olah menyatakan perasaan cintanya melalui sebuah ciuman.


Tapi lama-lama ciuman itu kian menuntut. Elang menginginkan lebih dan Nayla menyadari hal itu.


"Sayang... Bukannya kita mau sholat dulu ?" Tanya Nayla dengan nafas yang memburu.


"Ah, ya aku lupa," sahut Elang. Suaranya sudah terdengar serak karena lelaki itu sudah terbalut hasrat.


Nayla hendak uraikan pelukannya tapi tangan kekar Elang tak melepaskan belitannya. "Aku sangat mencintaimu, Nayla. Sejak dulu dan akan selalu begitu," lanjut Elang seraya melabuhkan bibirnya di atas dahi Nayla dan mencium istrinya itu dengan lama.