
Nayla berdiri di dapurnya yang baru. Kini ia tak tinggal di apartemennya yang lama karena Elang sang suami telah membelikannya yang baru yang lebih luas dari sebelumnya. Hasil gaji Elang dalam mata uang dolar membuatnya bisa membeli apartemen itu.
Nayla tatapi air kopi yang bergerak memutar di dalam cangkir. Kopi itu Nayla buat untuk suami tercintanya Elang dengan takaran rahasia yang hanya diketahui olehnya. Rasa cintanya pada Elang sejak Nayla Remaja membuatnya tahu segalanya tentang lelaki jangkung itu.
Tapi saat ini Nayla menatap sendu kopi di dalam cangkir itu, lalu ia pun mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Besok Elang akan terbang ke daerah timur tengah untuk melakukan pekerjaannya. Ia akan meninggalkan Nayla untuk beberapa Minggu ke depan.
Padahal ini bukan yang pertama kalinya bagi Nayla. Tapi dirinya masih merasa sedih setiap Elang akan pergi meninggalkannya.
Tadinya Elang berniat untuk mencari pekerjaan di Indonesia. Oleh karena itulah ia memutuskan untuk membeli sebuah apartemen yang luasnya 2 kali dari apartemen Nayla yang dulu. Tapi perusahaan lama Elang menawarinya pekerjaan dengan imbalan uang yang sangat mengiurkan. Bahkan jika Elang berhasil, lelaki itu akan mendapatkan sebuah posisi yang sangat menjanjikan.
Dalam hatinya yang paling dalam sebenarnya Nayla tak ingin berjauhan tapi melihat Elang yang sangat antusias saat bercerita tentang pekerjaannya membuat Nayla sadar jika pekerjaan itu adalah sesuatu yang Elang cintai dan Nayla merasa tak berhak untuk merampasnya. Tapi nyatanya Nayla masih saja merasa sangat sedih setiap kali Elang akan pergi.
"Sayaaaaang," ucap Elang terdengar manja. Dan ia pun memeluk tubuh Nayla dari arah belakang. Elang tundukkan kepalanya agar bisa mencium puncak kepala istrinya itu.
"Aku gak bisa pergi kalau kamu kaya gini, Nay," ucap Elang seraya mengeratkan pelukannya.
Cepat-cepat Nayla usap lagi pipinya yang basah. Ia tak ingin Elang melihatnya menangis. Tapi sepertinya hal itu terlambat karena Elang lah yang kini mengusap pipinya dengan jempol tangannya.
"Aku gak apa-apa... Aku hanya merasakan rindu padahal kamu belum pergi. Aneh ya ?" Tanya Nayla sambil tertawa yang dipaksakan.
"Akupun sayang... Belum apa-apa aku sudah merindukanmu. Tapi, pekerjaan ini tak bisa aku tinggalkan karena aku sudah menandatangani kontraknya," sahut Elang.
Bukannya ia tak ingin mengajak Nayla, tapi kali ini pekerjaan yang Elang tangani benar-benar menyita waktunya. Sehingga jika Nayla ikut pun Elang pasti akan banyak meninggalkannya.
"Iya tak apa-apa, aku mengerti. Hanya saja aku akan sangat merindukan kamu," ucap Nayla tanpa mampu menyembunyikan perasaannya.
"Kamu mau ikut ?" Tanya Elang seraya memutar tubu istrinya itu agar mengahadap padanya.
Elang angkat dagu Nayla dengan jempolnya hingga kini mata Nayla tertuju padanya. Pandangan mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat.
"Hanya kamu yang aku pikirkan saat kita berjauhan. Jangan khawatir aku akan tergoda wanita lainnya karena hanya kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan," kata Elang.
"Aku juga... Hanya kamu yang ada dalam hati dan pikiranku. Tak mungkin aku berpaling pada yang lainnya," sahut Nayla.
Telah bertahun-tahun lamanya mereka saling menunggu dan juga saling setia satu sama lainnya. Walaupun Nayla sempat melihat kekasih yang lamanya hanya dalam hitungan hari saja. Tapi nyatanya Elang tetap berada di sana, menjadi lelaki yang Nayla cintai dengan sebenarnya.
"Setelah semuanya selesai, aku akan mengajukan cuti panjang untuk membuat bayi bersamamu," lanjut Elang yang di balas sebuah cubitan gemas di perutnya.
"Amelia juga sedang ditinggalkan Rafa. Kamu bisa bertemu dengannya besok,"
"Hu'um, aku akan menemui Amelia. Karena aku tak bisa pergi kemana-mana jika ada kamu," Sahut Nayla dan Elang tersenyum mendengarnya.
Apa yang Nayla ucapkan memang benar adanya. Elang selalu mengurungnya jika lelaki itu sedang berada di Indonesia.
Saat membantu pengantin baru itu untuk berbelanja pun, Elang tak bisa lama-lama. Ia langsung membawa Nayla pulang ke apartemen dan memadu kasih sepuasnya. Tanpa memperdulikan teriakan Rafa yang memanggil namanya.
"Bersemangat lah... Tak lama lagi kita akan pergi ke Eropa bersama Amelia dan Rafa untuk berbulan madu bersama. Oleh karena itu aku harus menyelesaikan dulu pekerjaanku agar tak menggangu bulan madu yang kedua kita,"
Nayla tertawa saat ia mengingat bulan madunya di Bali beberapa waktu lalu. Tamu bulanannya datang tepat setelah pesawatnya mendarat di bandara Ngurah Rai. Tapi untungnya ia sudah menunaikan kewajibannya sebagai istri tepat di malam pertama mereka. Tapi tetap saja Elang merasa sangat tersiksa selama bulan madunya di Bali.
"Kamu boleh tertawa, tapi ingat kata Rafa. Sekarang sabar nanti hajaaarrrrr. Awas saja jika tamu bulananmu datang saat bulan madu ke dua kita," kata Elang sembari mencebikkan bibirnya kesal.
To be continued ♥️