
"Krek, krek," terdengar beberapa batang bunga mawar yang patah karena aku menggenggamnya terlalu kuat.
Nayla melintas di hadapanku dengan seorang pria yang merangkul mesra pundaknya. Nayla alihkan pandangannya dan lewati aku begitu saja seolah-olah sama sekali tak mengenalku.
"Krek," terdengar kembali beberapa batang bunga yang patah karena aku menggenggam buket mawar itu dengan sangat kuatnya. Melampiaskan rasa cemburu yang bergemuruh di dalam dada.
Aku ikuti gerak langkah mereka dengan ujung mata. Pria itu mengantarkan Nayla hingga lobi apartemen. Ia menutup payung hitamnya sebelum berbicara pada Nayla.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang ku lihat hanya pergerakan kepala Nayla yang menggeleng juga mengangguk. Terus aku awasi keduanya dari jauh hingga sesuatu yang sangat buruk terjadi.
Tangan lancang lelaki itu berani menyentuh dahi Nayla dan merapikan rambutnya. Pria siallaan itu berani menyentuh Nayla !
Nayla ku...
Aku mengerang dan menggeram dalam hati. Tanganku yang lain, yang tak memegang buket bunga mawar sudah terkepal kuat dan siap menghantam wajah pria itu
Sudah bisa dipastikan jika pria siaalan itu akan terkulai lemas tak berdaya di atas lantai jika aku memberinya pukulan tepat di wajahnya.
Mati-matian aku menahan diri untuk tidak melakukannya. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha menenangkan diriku sendiri.
Rasa cemburu ini benar-benar menyiksaku
Aku tak suka cara dia memandang mu, Nayla !
Aku tak suka cara dia berbicara padamu
Aku tak suka dengan apa yang dilakukannya padamu saat ini.
Aku tak suka segala sesuatu tentang dia !
Wajahku memanas dan nafasku menderu hebat saat aku mulai berpikir jika kamu pun menginginkan dia, bukan aku !
Aku cemburu !!
" Why you are so f*cking beautiful ?" ( Kenapa kamu sangat cantik ?) keluhku dalam hati. Tak heran banyak laki-laki yang menginginkanmu.
Aku berjalan mendekati keduanya dengan mata menatap tajam dan Nayla pun sadar akan hal itu. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah tegang.
" Kamu mempunyai kekasih baru, tapi aku masih sangat mencintaimu," ucapku pelan.
Pikiranku kacau tak karuan saat memikirkan pria itu memiliki cintamu yang seharusnya milik aku.
" Kamu boleh bilang aku gila atau terobsesi padamu, aku tak peduli. Kamu milik aku, Nay," lirihku dengan pandangan mata yang tak teralihkan darinya.
" Aku ingin kamu kembali padaku, Nay. Akan aku lakukan apapun untuk mendapatkan mu," ucapku sambil tersenyum miring pada Nayla yang terus memperhatikan aku.
***
Pov Nayla.
Hujan selalu membuatku teringat pada Elang. Seperti saat ini, walaupun aku bersama Rio tapi nyatanya hati dan pikiran aku tertuju pada Elang seorang. Kadang aku merasa telah menyakiti hati Rio walaupun sebenarnya ia tak tahu.
" Sret " terdengar suara payung yang terbuka. Rio memayungi aku dari rintikan air hujan.
"Kamu kok hujan-hujanan sih, Nay," ucapanya lembut padaku.
Aku hanya tersenyum, " terimakasih," ucapku.
Kami pun berjalan berdampingan di bawah naungan payung hitam. Baru kali ini kami berjalan dengan sangat dekat hingga beberapa kali tubuh kami bersentuhan satu sama lain dengan tidak sengaja.
Jalan dari parkiran menuju apartemen sedikit menanjak. Aku melihat sepasang kaki pria yang berdiri di bawah hujan. Mataku menelisik tubuhnya sedikit demi sedikit dari arah kaki dan terus naik menjelajahi tubuhnya yang tinggi. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna hitam. Mataku terus menjelajah hingga pandanganku sampai pada wajah.
" Ya Tuhan..," gumamku pelan.
Jantungku langsung bekerja extra saat mata kami bertemu. Sudah 8 tahun berlalu tapi tak membuatku lupa padanya.
" Tentu saja aku mengenalnya !! Karena tak sehari pun terlewat untuk mengingatnya," pikirku dalam hati.
Dia Elang...
Laki-laki yang merupakan cinta pertama juga pencuri ciuman pertamaku. Tubuhku tiba-tiba gemetar saat memikirkan itu.
" Kamu kedinginan ?" Tanya Rio sembari merangkul pundak ku tepat saat kami melintasi Elang yang menatap dingin pada kami berdua, tapi khusunya aku.
Elang berdiri dalam hujan dengan sebuah buket bunga mawar merah dan putih. Matanya menatap tajam juga dingin dengan bibir terkatup rapat.
Rio menutup payungnya saat kami kami tiba di lobi. Ia berbicara padaku tapi mataku hanya tertuju pada pria yang berdiri tegak dengan tatapan matanya yang tajam dan tak teralihkan. Aku hanya mengangguk dan menggeleng pelan menanggapi setiap kata yang Rio ucapkan.
" Walaupun begitu kamu masih terlihat sangat cantik," lanjut Rio seraya tersenyum lembut kepadaku.
Aku sangat terkejut dengan apa yang Rio lakukan. Ini kali pertama Rio melakukan kontak fisik denganku. Dan apa yang Rio lakukan membuatku takut.
Takut menyulut kemarahan Elang.
" Nay ?" Tanya Rio karena aku tak fokus padanya yang sedari tadi berbicara padaku.
" Hah ? Apa ?" Tanyaku seraya menelan saliva.
Bukan karena gugup mendengarkan kata-kata Rio, tapi aku gugup karena laki-laki jangkung berjas hitam itu berjalan pelan ke arahku dan Rio. Dia bukan lagi pemuda remaja yang suka mengenakan hoodie hitam seperti dulu.
Wajahnya sudah berubah lebih tegas dan dewasa. Tubuhnya pun lebih tegap dan berisi layaknya pria dewasa. Hanya satu yang tak berubah yaitu tatapan matanya.
Semenjak bertemu tadi, tak sekalipun pandangan matanya teralihkan dariku.
Dadaku berdebar kencang dan menggila, tubuhku gemetar tanpa aku minta.
Elang melangkah pasti menuju tempat kami berdiri. Sudah terbayangkan hal buruk akan terjadi. Aku sangat takut Elang berbuat sesuatu yang buruk pada Rio.
" Rio, terima kasih ya. Sampai ketemu besok," ucapku halus berusaha untuk mengusirnya.
" Ayo aku antarkan sampai unit apartemenmu," ucap Rio.
" Ja.. jangan...," Ucapku gugup karena melihat Elang yang berjalan kian mendekat.
" Maaf, Rio... Aku tak bisa...,"
Rio tersenyum walaupun aku tahu ia kecewa. Rio tak bisa menutupi perasaannya dari raut wajahnya yang berubah masam.
" Ok, mungkin bukan sekarang. Tapi nanti aku boleh datang kan, Nay ?" Tanya Rio dan aku hanya mengangguk saja.
" Hati-hati di jalan," ucapku lagi. Berusaha kedua kalinya untuk membuat Rio segera pergi karena jarak Elang sudah dekat dengan kami. Dan tangan Elang terkepal kuat.
Bukannya pergi, tapi Rio malah terus memandangi wajahku tanpa jeda. Membuat dadaku kian berdebar kencang.
Bukan karena tatapan Rio tentu saja, tapi karena senyuman miring di wajah Elang.
" Baiklah, aku pergi. Besok kita makan siang bersama lagi ya," ucap Rio dan ia pun segera membalikkan tubuhnya untuk pergi.
" Brak," terdengar dua tubuh yang bertabrakan.
Ternyata Elang menabrak pundak Rio dengan sengaja. " Ah Sorry," ucap Elang.
Rio menengadahkan kepalanya pada Elang. " Its oke," jawab Rio dan keduanya pun melanjutkan langkah mereka.
Sedangkan aku...
Aku segera berlari menuju lift, memanfaatkan kesempatan itu dengan berusaha menghilang dari Elang.
Beruntung bagiku karena pintu lift langsung terbuka lebar saat aku memijit tombolnya. Dan segera menekan lagi tombol pintu lift agar segera tertutup saat aku sudah berada di dalamnya.
Pintu lift pun bergerak untuk menutup, dan hampir saja tertutup sempurna saat sebuah tangan putih pucat berbalut jas hitam menahannya agar tak tertutup.
Pintu lift pun kembali terbuka lebar dan laki-laki jangkung itu masuk ke dalamnya.
Aku menelan ludahku dengan paksa saat Elang melangkahkan kakinya mendekati aku.
Setiap kakiku melangkah mundur, maka langkah kaki elang selangkah maju semakin mendekati aku.
Aku menengadahkan kepala dan pandangan mata kami pun bertemu.
Aku terus berjalan mundur dan Elang terus melangkah maju. Hingga punggungku menabrak dinding lift dan kini aku tak bisa melarikan diri.
"Aku pulang Nayla, hanya untukmu... seperti yang sudah ku janjikan delapan tahun lalu," ucap Elang sembari menundukkan kepalanya hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat dan beraroma mint menerpa wajahku.
Wajah Elang kian mendekat dan....
Bersambung.....
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚♥️