
Yang Kembali beneran.
"Ngh..," lenguh Nayla seraya mencari-cari ponselnya yang terus berdering karena bunyi alarm yang disetel nya semalam. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, menandakan Nayla untuk segera bangun dan melaksanakan ibadahnya.
Bergegas ke kamar mandi untuk bersuci, tapi sebelumnya Nayla membasuh wajahnya di wastafel. Ia tatapi pantulan dirinya dalam cermin. Kemarin, Nayla baru saja resmi mempunyai seorang kekasih tapi kenapa dirinya merasa biasa saja. Tak ada yang istimewa, tak ada euforia bahagia.
Kemarin, setelah makan siang Rio mengantar Nayla kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yang berarti. Rio hanya mengatakan terimakasih karena sudah mau memberikan kesempatan padanya untuk menjadi seorang kekasih.
Tak ada jemari yang saling bertautan apalagi ciuman bibir. Keduanya hanya saling berbicara saja.
Semalam pun Rio hanya menelponnya saja, tak ada janji untuk makan malam bersama atau pun yang lainnya.
Terlalu asik melamun membuat Nayla sedikit terlambat melaksanakan ibadahnya, ia segera bergegas untuk bersuci dan secepat kilat kembali ke kamarnya.
" Morning beautiful, hari ini aku jemput ya," Nayla membaca pesan di ponselnya yang ternyata dari sang kekasih bernama Rio.
" Ok," jawab Nayla singkat. Ia pun segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Tepat pukul tujuh pagi Nayla sudah menunggu di lobi apartemen dan 10 menit kemudian sebuah city car berwarna putih datang untuk menjemputnya.
" Maaf telat, jalannya macet," ucap Rio beralasan.
Nayla mencium wangi parfum lembut lainnya saat ia memasuki mobil Rio. Wangi parfum wanita yang berbeda dengan yang pernah diciumnya dulu.
Ingin bertanya tapi Nayla takut di sangka sebagai kekasih yang terlalu parno dan curiga berlebihan. Hingga ia memilih untuk diam saja.
Jalanan cukup padat karena hujan turun sejak pagi. Nayla edarkan pandangannya ke arah luar jendela menatapi rintik-rintik air yang jatuh membasahi bumi. Turunnya hujan selalu di sertai kenangan bagi seorang Nayla.
"Seharusnya, aku tak jatuh cinta saat hujan. Karena setiap hujan menyapa, sesak ku terulang bersama genangan yang bernama kenangan," batinnya dalam hati.
" Sepertinya hujan ini akan berlangsung lama," ucap Rio saat ia mendapati Nayla tengah memperhatikan hujan.
" Sepertinya begitu. Hujan di pagi hari membuat perasaan tidak normal," sahut Nayla.
Rio berpikir sejenak dan ia pun membenarkan. "Hu'um benar... Hujan di pagi hari memang sangat bisa menentukan suasana hati. Perasaan susah maupun senang yang timbul biasanya tergantung pada ingatan yang muncul bersamaan dengan rintik hujan," sahut Rio.
Melihat wajah Nayla yang sendu membuat Rio bertanya" Apa kamu mempunyai kenangan dengan hujan ?"
Nayla tolehkan kepalanya dan menggeleng pelan sambil tersenyum. " Nggak ada, " jawabnya bohong.
Rio pun membalas senyuman Nayla dan ia tahu jika gadisnya itu tengah menyembunyikan sesuatu. Maklum jam terbang Rio yang tinggi membuat ia paham dengan sikap perempuan.
Tak mungkin Nayla tak mengingat tentang sesuatu karena wajah gadis itu berubah sendu dengan cepatnya.
Setelah beberapa puluh menit berkendara akhirnya mereka pun tiba di kantor Nayla.
" Terimakasih," ucap Nayla sembari turun dari mobil kekasihnya itu.
Tak ada pelukan apalagi ciuman perpisahan. Nayla turun begitu saja dari mobil laki-laki yang kini menyandang gelar pacar.
Rio pun tersenyum saja. Dirinya memang bukan seorang pria baik, sudah banyak wanita yang singgah dalam hidupnya dan juga ranjangnya tapi ia lakukan itu tanpa paksakan. Semua dilakukan atas dasar suka sama suka.
Seperti sekarang sikap Nayla yang dingin membuat Rio tak berani untuk berbuat sesuatu yang agresif. Ia tak berani untuk sekedar menyentuh Nayla. Sebagai laki-laki, Rio akan bertindak lebih jika si perempuan memberikan jalan untuk melakukannya. Jadi sikap Rio tergantung si wanitanya.
Rio segera menurunkan kaca mobil sebelum Nayla benar-benar pergi. " Nanti sore, aku jemput ya," ucapnya.
Nayla yang mendengar itu menahan langkahnya sambil menolehkan kepala. "Oke," sahut Nayla sembari mengangkat kedua jempolnya.
Rio tertawa melihat tingkah Nayla yang menurutnya menggemaskan itu. Ia amati Nayla hingga gadis itu menghilang dari pandangannya barulah ia pergi.
Sedangkan Nayla, ia berjalan dengan cepat. Karena jalanan yang padat membuatnya sedikit terlambat. Nayla mendapati sang kakak Nadia, saat ia masuk bilik kerjanya.
" Maaf aku terlambat," ucap Nayla pada kakak sekaligus bosnya itu.
Nadia menatap lain pada adiknya itu. "Kamu pasti tahu bukan itu alasan Mbak Nadia datang ke sini," ucap Nadia.
" Nay....," Lirih Nadia. " Kamu gak mau cerita sama Mbak ?"
" A-aku," ucap Nayla sedikit ragu.
" Nay, kamu gimana sama Rio ? Kemarin kamu makan siang sama dia kan ? Apa kamu udah ngasih jawaban ?" Tanya Nadia beruntun. Pasalnya ia tahu jika Rio menyatakan cinta pada adiknya itu dan kemarin ia sibuk menaklukkan Alex yang tengah merajuk hingga sedikit lupa tentang adiknya.
" Aku... Aku menerima pernyataan cinta Rio," ucap Nayla pada akhirnya.
" Kamu yakin ?" Tanya Nadia.
" Hmm ya gitu deh, aku lagi berusaha untuk bisa nerima dia,"
Nadia tatapi wajah polos adiknya itu. Ia tahu jika Nayla sangat tak berpengalaman soal berhubungan asmara.
" Nay... Kalau kamu memang gak suka sama Rio jangan memaksakan diri,"
" Hmmm suka kok, Rio baik," potong Nayla.
" Nay... Bukannya Mbak Nadia gak setuju kamu sama kak Bimo. Hanya saja status Bimo yang merupakan tunangan gadis lain yang membuat Mbak...,"
" Aku gak suka kak Bimo kok, Mbak," sanggah Nayla dengan cepat. Ia tak mau kakaknya menjadi salah paham. Ingin Nayla mengatakan jika dirinya selama ini menaruh hati pada Elang dan laki-laki itu mengatakan akan kembali untuknya. Tapi siapa yang akan percaya. Setelah 8 tahun pergi tanpa kabar, Nayla pun tak yakin jika Elang akan kembali.
" Aku suka Rio, dia baik dan asik jika diajak berbicara," lanjut Nayla berusaha meyakinkan sang kakak.
Nadia pun menarik nafas dalam. " Jika kamu memang menyukainya, ya udah. Tapi... Please hati-hati ya, Nay. Jaga diri baik-baik," ucap Nadia.
" Rio adalah tipe laki-laki metropolitan, mbak Nadia yakin dia pasti sangat berpengalaman soal wanita dan Mbak gak mau kamu kenapa-kenapa,"
" Mbak bisa percaya sama aku... Aku akan jaga diri baik-baik," sahut Nayla.
" Nay, percayalah... Hal yang paling penting bagi seorang perempuan adalah menjaga nama baik dan harga dirinya," ucap Nadia memperingatkan.
" Hu'um... Mbak Nadia jangan khawatir, aku gak akan melakukan hubungan yang diluar batasan,"
" Syukurlah Nay... Mbak takut Rio hanya mengambil keuntungan darimu yang masih polos ini," ucap Nadia yang merasa cemas jika adiknya salah memilih jalan.
" Aku akan berusaha untuk menjaga diri sebaik mungkin. mbak Nadia jangan khawatir,"
Apa yang Nayla katakan membuat Nadia bisa bernafas dengan lega. Rasa takutnya berkurang setelah Nayla mengatakan ia tak akan melakukan hubungan yang dapat merugikan dirinya.
***
Pada sore harinya Rio datang untuk menjemput Nayla sesuai dengan janjinya tadi pagi. Laki-laki itu datang dengan seikat mawar merah di tangannya. " Buat kamu," ucap Rio.
Nayla meraih buket bunga itu dan mencium dengan rakus wanginya. " Terimakasih," ucapnya tulus. Ia pun segera masuk ke dalam mobil kekasihnya itu untuk pulang.
Di perjalanan, gerimis hujan turun membasahi bumi. Lagi-lagi Nayla tenggelam dalam kenangannya padahal berada Rio di sebelahnya.
Keduanya langsung pulang menuju apartemen Nayla tanpa pergi makan malam terlebih dahulu karena malam ini Rio harus menemani sang paman bertemu kliennya.
Karena hujan yang turun tak juga reda, akhirnya Rio mengantarkan Nayla menuju apartemennya dengan memayungi gadis itu hingga tubuh mereka menjadi dekat satu sama lain. Nayla dan Rio berjalan beriringan di bawah satu payung yang menaungi tubuh keduanya dari hujan.
Tanpa mereka sadari seorang pemuda bertubuh tinggi berdiri dalam hujan dan posisinya tak jauh dari mereka. Pemuda itu pun memegang buket bunga di tangannya. Mata Nayla bersitatap dengan mata coklat karamel itu saat si pemuda itu tolehkan kepala.
Deg !
Dunia seolah berhenti berputar bagi Nayla dan pemuda bermata coklat itu.
to be continued ♥️
thanks for reading 🥰
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya