The Unexpected Love

The Unexpected Love
Tak Rela



Happy reading ♥️


Mumpung Senin jangan lupa vote 😁


" Terimakasih atas pengertian, Kakak," ucap Nayla sambil tersenyum manis.


Senyum yang bisa membuat Leo menelan ludahnya paksa. Ia perhatikan gadis yang berjalan menjauh itu. Tak ada yang istimew darinya, dia jauh dari berbeda dari setiap gadis yang disukai Leo.


Baju olahraga sekolahnya saja terlihat kebesaran hingga gadis itu terlihat culun bila dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Tak menggunakan polesan makeup seperti kebanyakan para gadis remaja sekarang yang menggunakan riasan no make-up look. ( Menggunakan makeup tapi dengan hasil natural ). Wangi tubuhnya pun hanya sebatas bedak bayi. Tapi senyum dan tutur katanya yang lembut mampu menghipnotis siapapun yang berbicara dengannya termasuk Leo.


Leo terus memperhatikan hingga tubuh Nayla menghilang dibalik sebuah pintu. Lamunan Leo juga harus berakhir karena ponsel yang berada dalam saku celananya berbunyi dan bergetar.


"Elu ngapain diam di pintu masuk ?" Tanya lawan bicaranya dengan suara melengking. Siapa lagi jika bukan si adik sepupu yang bernama Vony. Gadis dengan tatanan rambut ala salon itu tengah berdiri sambil melambaikan tangannya diantara kerumunan penonton. Wajahnya tetap cantik walaupun dia cemberut. Leo tak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia langsung mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke dalam saku lalu ia berjalan menembus kerumunan untuk bisa mencapai Vony.


"Kenalin sepupu gue," ucap Vony bangga pada teman se-genk pemandu soraknya. Leo memang ganteng dan modis untuk seukuran anak remaja. Tubuhnya tinggi walaupun tak setinggi Elang, di tubuhnya menempel barang-barang bermerek yang tengah digandrungi oleh para anak remaja. Tak heran jika kehadiran Leo cukup mencuri perhatian para gadis yang berada di sana.


Elang belum menyadari kehadiran musuhnya itu. Ia masih bermain dengan semangat di tengah lapang, berusaha untuk menang agar dapat melaju ke babak final yang akan diselenggarakan besok siang.


Dengan kekompakan dan skill yang dimiliki para anggota timnya membuat tim basket sekolah Elang memimpin perolehan skor sementara. Elang sebagai kapten terlihat begitu aktif memberikan pengarahan pada anggota timnya untuk menempati posisi yang strategis agar bola tak berpindah tangan pada lawan.


Leo yang melihat itu cukup terkesan dengan penampilan Elang. Dalam hati Leo, ia mengakui jika kemampuan Elang bermain basket melebihi teman-temannya yang lain dan itu membuat Leo semakin merasa tersaingi.


Perhatian Leo kembali teralihkan saat ia melihat dua gadis yang berpapasan dengannya tadi. Satu gadis cantik yang sangat judes dan satu lagi gadis lugu dengan senyumnya yang mempesona. Senyum yang tak bisa Leo lupakan sampai saat ini.


Pandangan Leo tak dapat dialihkan dari dua gadis yang berjalan beriringan di tepian lapang dan ia cukup terkejut saat kedua gadis itu ternyata duduk tak jauh darinya malah duduk tepat di bawahnya.


"Nih, si culun yang duduk di bawah ini adalah gadis yang Elang taksir, yang pernah aku kirimkan fotonya waktu itu," bisik Vony pada Leo sembari menunjuk Nayla.


"Dan di sebelahnya adalah Amelia adik Elang. Anaknya sombong banget, sebel banget gue lihatnya," lanjut Vony dengan sama berbisik.


Leo mengganggukan kepala paham tapi ia lebih memperhatikan Nayla daripada Amelia. Selama ini ia tak habis pikir pada Elang yang bisa menyukai Nayla. Gadis itu dari kejauhan terlihat lugu dan culun. Sangat berbeda dari perempuan yang bernama Putik yang merupakan mantan kekasihnya dulu dan karena gadis itulah ia dan Elang menjadi berseteru.


Putik tak jauh beda dari Vony. Keduanya senang menggunakan polesan make up dan baju-baju minim bahan untuk memamerkan kemolekan tubuh mereka yang nyaris sempurna.


Tapi kini Leo bisa paham kenapa seorang Elang bisa menyukai Nayla. Gadis itu walaupun terlihat biasa-biasa saja tapi mampu membuat seseorang terpesona karena hanya senyuman yang ia berikan.


"Lihat-lihat si Elang menuju kemari, dia pasti melihat ke arah gadis culun itu," bisik Vonny


penuh rasa iri membuat Leo mengakhiri lamunannya dan melihat ke arah Elang.


Apa yang Voni ucapkan benar adanya, lelaki jangkung berkulit pucat itu langsung melihat ke arah Nayla Setelah dia berhasil mencetak angka. Bisa Leo lihat dengan jelas bagaimana Elang mengulum senyumnya malu-malu.


"Go Kak El !!!" Teriak Nayla tapi gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat ia tak sadar meneriakkan nama Elang.


Nayla berbisik pada Amelia dengan wajah berwarna merah. Entah apa yang ia bisikan, tapi satu hal yang pasti gadis itu berbisik sambil senyum-senyum dan itu sungguh sangat terlihat menggemaskan di mata Leo.


"Lo ngapain sih jadi ngeliatin dia? Cewek kampungan gitu lo lihatin," kesal Vony pada sepupunya itu karena ia memergoki Leo yang sedang memperhatikan Nayla tanpa mengedipkan mata.


Saking kesalnya Vony iya menyepak sebuah tas yang terletak dekat dengan kakinya hingga tas itu mengenai Nayla.


Nayla tolehkan kepala karena ia terkejut ada sebuah benda yang menabrak punggungnya. Bukannya marah, Nayla malah meminta maaf "Maaf, apa tasnya terjatuh gara-gara aku? "Tanya Nayla pada Leo yang duduk tepat di belakangnya.


Leo tak langsung menjawab laki-laki itu malah menatap Nayla tanpa bisa berkata-kata. Lagi-lagi senyuman Gadis itu membuatnya terhipnotis.


"Kak ? Maaf ya..," ucap Nayla sembari berdiri kemudian ia membetulkan letak tas yang tergeletak padahal itu bukanlah tas milik Leo.


"Ngh... Nggak apa-apa," sahut Leo sedikit gugup.


"Gila ngapain gue jadi grogi gini," batin Leo dalam hatinya.


"Makanya duduknya yang bener ya nggak usah kecentilan, eh gak usah banyak gerak," sahut Vony dengan wajah ramah tapi penuh sindiran.


"Maaf kak Vonny, Nayla gak sengaja," ucap Nayla.


Mendengar keributan antara sahabatnya dengan seseorang bernama Vony membuat Amelia tolehkan kepala ke belakang untuk melihat keadaan sahabatnya


Nayla tahu jika Amelia sudah mulai terpancing emosi. Segera Nayla dudukan kembali tubuhnya di samping sang sahabat dan merangkul pundak Amelia untuk mengajaknya melanjutkan menonton pertandingan basket. Nayla tak mau ada keributan lagi.


"Udah Mel diemin, yang waras ngalah aja, "bisik Nayla berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.


Amelia tertawa mendengarnya dan ia pun menuruti saran Nayla untuk kembali menikmati pertandingan basket.


Elang berdiri di tengah lapang, ia hendak menembak bola guna mendapatkan 3 angka. Elang pantul-pantulkan bola ke atas lantai lapang sebelum ia mengarahkannya ke dalam ring. Elang melirik pada Nayla tepat sebelum ia melemparkan bolanya.


"Tring" bola masuk ke dalam keranjang dengan sempurna. Semua anggota tim menyalami Elang dengan singkat mengisyaratkan kata selamat. Tangan elang bersalaman tapi matanya lagi-lagi melihat ke arah Nayla.


Nayla duduk gelisah karena mendapatkan tatapan mata dari Elang. Merasa tak percaya dengan apa yang terjadi. Gadis lugu itu terlihat malu-malu dan menggemaskan, begitu juga Elang yang tersenyum samar di tengah lapang wajahnya yang putih pucat kini berhiaskan semburat merah. Keduanya seolah dipenuhi oleh gelembung-gelembung cinta yang tak kasat mata.


"Bang El ngelihat ke kita aja gak sih ?" Tanya Amelia dengan suara nyaring hingga Leo pun bisa mendengarnya.


"Masa sih ?" Tanya Nayla dengan dada yang berdebar dengan hebatnya.


Perhatian Leo kini tak lagi berpusat pada Elang tapi beralih pada gadis cantik yang duduk yang berada tepat di bawahnya seolah tak ada puasnya melihat senyum Nayla. Perkataan Vony pun tak lagi didengarnya, Leo sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tiba-tiba saja Leo ingin mengangkat wajahnya dan melihat ke arah lapang yang ternyata dirinya sudah ditatapi nyalang oleh Elang.


Ya pemuda yang tengah bermandikan keringat itu memperhatikan Leo sedari tadi. Ia tak rela jika gadis yang disukainya di perhatikan oleh musuh besarnya.


to be continued ♥️


kebut komentar yuuuu tar aku up lagi


jangan lupa aku sangat suka sogokkan wkkwkkwkw