The Unexpected Love

The Unexpected Love
Damai



Kedua laki-laki yang duduk saling berhadapan itu menolehkan kepala mereka secara bersamaan. Keduanya melihat pada seorang gadis yang baru saja memasuki pintu lobi. Siapa lagi jika bukan Nayla.


Mata Nayla langsung beradu pangan dengan netra coklat karamel milik Elang. Laki-laki jangkung itu merasa sangat lega saat melihat Nayla sudah pulang. Ia hendak berdiri untuk menghampiri Nayla, tapi ia urungkan niatnya itu karena Nayla menggelengkan kepalanya pelan sebagai peringatan pada Elang agar tak datang padanya.


Elang pun dudukkan kembali tubuhnya di atas kursi. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya yang sudah berada di ujung tanduk.


Mata Elang yang tajam mengawasi gerak-gerik Rio yang kini berdiri dah berjalan menuju Nayla. " Sayang...," Sapa Rio dan itu membuat rahang Elang mengeras dan menimbulkan bunyi gemeletuk gigi yang saling beradu. Tangan Elang terkepal kuat, dan ia melihat penuh benci pada laki-laki itu. " sialaan" maki Elang pelan. Ia tak suka Rio memanggil Nayla dengan sebutan sayang.


" Jangan seperti ini, Rio. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku bukan lagi kekasihmu," kata Naya tanpa nada emosi tapi ia mengucapkannya dengan sangat jelas.


Rio menelan ludahnya paksa. Nayla bukanlah seorang perempuan yang gampang luluh dengan kata-kata manis penuh rayuan. Rio yang hendak menggenggam tangan Nayla pun mengurungkan niatnya itu.


Rio tersenyum canggung, " bisakah kita bicara sebentar ?" Tanya nya dengan sorot mata memohon.


" Bicara tentang apa lagi ? Aku rasa semuanya sudah jelas," jawab Nayla dengan tenangnya.


" Bicara tentang kita,"


" Tak ada lagi tentang kita," potong Nayla cepat.


" A-Aku ingin kita berakhir dengan baik-baik, Nay. Aku tak ingin berakhirnya hubungan kita menjadi....,"


" Menjadi penghambat kerjasama antara paman kamu dan Alex kakak ipar aku ?" Tebak Nayla.


Rio mengangguk pelan, terlihat rasa cemas yang begitu kentara dari wajahnya.


" Oleh karena itu ayo kita bicara, please...." Rio kembali memohon.


Nayla bukanlah seorang gadis yang keras hati. Melihat wajah Rio yang sangat ketakutan membuat ia memberikan laki-laki itu kesempatan untuk berbicara.


Hanya memberikan kesempatan bagi Rio untuk berbicara. Bukan memberikan kesempatan kedua untuk hubungan mereka. Nayla sudah tak ingin terikat dengan laki-laki itu, karena hati Nayla sudah tertambat pada Elang. Dan fakta jika Rio bukanlah lelaki setia membuat Nayla tak lagi merasa respect padanya.


Dan selalu hanya Elang yang dicintainya.


" Baiklah, tapi kita bicara di sini saja, aku tak mau di tempat lainnya," ucap Nayla mengajukan syarat.


" Di lobi ini ? Apa kamu tak mau pergi ke tempat yang lebih nyaman, cafe misalnya ?" Tawar Rio.


" Terserah kamu, mau bicara atau tidak ? Di sini atau tidak sama sekali?" perkataan Nayla tak bisa dibantah lagi.


Rio menghela nafasnya, membujuk Nayla bukanlah sesuatu yang mudah. Ia pun akhirnya menyerah dan menyetujui keinginan Nayla untuk berbicara tentang perpisahan mereka di kursi lobi apartemen saja.


Nayla dan Rio duduk tepat di sebelah Elang yang sedari tadi mengawasi mereka dengan mata tajamnya. Nayla memilih untuk berada dekat Elang agar laki-laki itu bisa mendengarkan apa yang akan ia dan Rio bicarakan. Selain itu juga, agar Elang bisa menghalau Rio jika laki-laki itu bertindak sesuatu yang tidak disukainya.


Nayla duduk tepat di sebelah Elang. Mata mereka kembali bertemu saat Nayla hendak duduk di kursinya. " Nay..," gumam Elang sangat pelan seolah bertanya keadaan gadis itu. Nayla tersenyum, memberikan isyarat pada Elang jika ia baik-baik saja.


Elang mengusap halus punggung Nayla dengan jemarinya. Nayla yang duduk menyerong memungkinkan Elang untuk melakukan itu pada gadisnya. Elang mengisyaratkan pada Nayla jika ia akan terus berada di sana menemaninya.


Rio yang saat ini sedang dirundung rasa cemas tak sadar dengan apa yang dilakukan laki-laki jangkung itu pada mantan kekasihnya.


" Jadi apa yang ingin kamu bicarakan ?" Tanya Nayla.


" Pertama-tama aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu, Nay," ucap Rio penuh sesal. Walaupun Nayla tak tahu apakah laki-laki itu benar-benar menyesali perbuatannya atau tidak.


" Aku sudah memaafkanmu, kamu jangan khawatir," sahut Nayla.


Rio tersenyum canggung mendengarnya, ia kira Nayla akan meledak marah dan memaki-makinya namun ternyata tidak. Nayla masih terlihat sangat tenang.


" Im a bad person," ( aku orang yang jahat )


Lagi-lagi Rio tersenyum canggung sambil melipat kedua bibirnya ke dalam. Ia bingung harus berbicara seperti apa.


" Tentang kita...,"


" Tak ada lagi 'tentang kita' semuanya sudah berakhir dan aku harap kamu bisa pahami itu," potong Nayla.


Elang yang mendengar itu mengulum senyumnya padahal dalam hatinya ia bersorak gembira dan berpesta pora atas perpisahan Nayla dan kekasihnya.


" Aku tahu, dan aku sangat bodoh karena melepaskan gadis sebaik kamu. Maafkan kata-kata kasar yang aku ucapkan tadi padamu, Nay. Aku begitu terkejut melihatmu di sana hingga aku kehilangan kendali." lanjut Rio.


" Rio, jika kamu takut perpisahan ini mempengaruhi hubungan paman mu dengan Alex, maka kamu tak usah khawatir. Yang terjadi pada kita tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Asal.... Asal kamu bekerja dengan profesional. Tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku juga tak akan bicara buruk tentangmu pada siapapun, karena apa yang kamu lakukan adalah masalah pribadimu," jelas Nayla langsung pada intinya.


Wajah Rio yang tadinya menunjukkan rasa cemas kini berubah malu.


" Aku akan bekerja dengan profesional, aku berjanji padamu. Semoga kita bisa berteman baik ke depannya," ucap Rio sungguh-sungguh.


" Terimakasih karena tidak membuka borokku, Nay," lanjutnya lagi.


" Aku tak akan pernah lakukan itu. Apa yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri dan aku takut akan hal itu. Aku tak akan mau menyakiti orang lain," timpal Nayla.


" Nay...," Rio menatap haru gadis itu.


" Aku hanya berdoa semoga kamu menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Menjadi laki-laki setia untuk jodohmu nanti. Percayalah jika laki-laki baik akan dipersatukan dengan perempuan baik. Begitu juga sebaliknya," ucap Nayla dengan lembut tanpa ingin menyinggung perasaan laki-laki yang pernah jadi kekasihnya itu.


Mata Rio mengembun dan ia mengangguk pelan. Menyetujui apa yang Nayla katakan.


" Seandainya saja kamu mau memberikan aku kesempatan kedua, Nay...," Ucap Rio lirih namun bisa terdengar.


Spontan Elang tegakkan tubuhnya, ia bersiap-siap untuk menerjang Rio jika laki-laki itu berbuat sesuatu yang tak Elang inginkan.


" Kita akan terus berteman, ku rasa itu saja sudah cukup untuk kita," sahut Nayla.


Rio kembali tersenyum canggung ," jadi kita damai kan, Nay" tanya Rio.


Nayla yang mendengar itu tertawa pelan."tentu saja kita damai sebagai teman," jawab Nayla.


" Kalau begitu, aku pamit ya Nay. Semoga kamu berbahagia setelah ini,"


" Pasti... Pasti aku akan bahagia, kamu jangan khawatir," sahut Nayla.


Rio pun berdiri, ia berpamitan pergi tanpa memberikan kecupan ataupun pelukan perpisahan. Meninggalkan Nayla yang melepas kepergiannya dengan senyuman.


Setelah Rio benar-benar pergi Elang pun berdiri mendekati Nayla. Ia raih jemari Nayla dalam genggamannya.


Nayla tolehkan kepala dan tersenyum pada Elang. Kini ia membalas genggaman tangan Elang tanpa rasa ragu sedikitpun.


Elang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ia tersenyum malu-malu saat Nayla membalas tautan jemarinya.


" Kini hanya tentang kita, mari kita bicara," ucap Elang.


Nayla membalas senyuman laki-laki jangkung itu, dan ia pun mengangguk pelan menyetujuinya.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚