The Unexpected Love

The Unexpected Love
Meminta Restu



"Huufftttt....," Elang menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sangat grogi.


Saat ini Elang sedang berada tepat di depan rumah orangtua Nayla. Elang ingin segera menyelesaikan masalahnya. Sebenarnya bukan suatu masalah, karena keinginan suami membawa istrinya kemanapun ia pergi adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu Elang memberanikan diri untuk segera menemui kedua orangtua istrinya itu.


"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Nayla sembari membelai halus lengan Elang untuk menenangkan. Dan bagaikan sebuah mantra, ucapan Nayla membuat Elang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Baiklah, ayo turun," ucap Elang dengan senyuman di wajahnya.


Elang turun dari mobilnya dan segera berjalan menuju bagasi. Ia membuka pintu bagasi itu dan mengeluarkan beberapa paper bag yang berisikan banyak buah tangan di dalamnya. Bukan bermaksud untuk menyogok, tapi Elang memang selalu melakukan itu setiap berkunjung ke rumah mertuanya.


Tanpa rasa ragu, Elang langkahkan kakinya diikuti oleh Nayla. Keduanya berjalan menuju pintu dan mengetuknya.


Tak menunggu lama, terbukalah daun pintu berwarna coklat tua itu. Ibu Nayla pun terkejut dengan kedatangan anak dan menantunya itu. "Loh kalian ? Kok gak bilang dulu mau datang ? Kan bisa Ibu masakin yang enak-enak, seandainya mengabari dulu," ucap Ibu Nayla sembari membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan mempersilahkan anak dan menantunya untuk masuk.


"Buat ayah dan ibu," ucap Elang sembari memberikan beberapa paper bag di tangannya.


"Hadeeeuuhh El... Kebiasaan deh bawa oleh-oleh banyak. Bikin ibu senang aja,"


Elang yang mendengar itu pun tertawa.


"Padahal gak usah begini... Kalau mau datang ya datang aja, gak usah repot-repot,"


"Gak repot kok, Bu," potong Elang cepat.


"Ya udah, kalian istirahat saja dulu. Kamar kalian juga sudah ibu bersihkan. Mami Papi sehat, El ?" Ucap ibu Nayla sembari berjalan menuju dapur untuk membuka buah tangan yang Elang bawa. Diikuti oleh Nayla di belakangnya. Ia akan membuat secangkir kopi untuk Elang.


"Alhamdulillah sehat, Bu," sahut Elang yang kini mendudukkan tubuhnya di ruang keluarga. Ia pun menyalakan sebuah televisi layar datar berukuran 40 inchi itu dan mencari sesuatu yang menarik untuk ditontonnya.


Elang masih saja mengatur nafasnya. Berusaha untuk tetap tenang. Lalu Elang pun tersenyum samar, ia ingat bagaimana dulu dirinya datang seorang diri pada orangtua Nayla. Elang datang untuk mengungkapkan keinginannya melamar gadis itu. Padahal Nayla saat itu masih mempunyai seorang kekasih.


Saat itu ada Alex juga Nadia. Elang juga menjelaskan tentang Bimo yang menjadi kaki tangannya untuk menjaga Nayla dari jauh. Hingga Nadia pun paham mengapa sikap berlebihan Bimo pada sang adik ternyata adalah permintaan Elang.


Apa yang Elang jelaskan juga membuat Alex, si suami posesif dan juga cemburuan akhirnya bisa bernafas dengan lega. Ia pernah berpikiran buruk jika Bimo dan Nadia masih memiliki rasa, dan itu membuat Alex sangat tersiksa.


Mendengar apa yang Elang jelaskan membuat Alex membantu Elang dalam mendapatkan Nayla. Bahkan ia lah yang menjebak Leo di hotel tempat Amelia melakukan seminar. Dan hari itu Amelia memiliki janji temu dengan Nayla, hingga mereka bisa membuka kedok Rio.


Elang tersenyum bahagia. Ia merasa senang bagaimana keluarga Nayla menerima dirinya dengan baik dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kebaikan mereka. Elang bertekad untuk mencintai, menyayangi dan melindungi Nayla dengan segenap hati. Oleh karena itulah Elang akan membawa Nayla kemanapun ia pergi.


Tak lama menunggu, Nayla membawakan secangkir kopi hitam untuk Elang. Dibarengi dengan datangnya ayah Nayla dan juga ibunya yang membawa aneka makanan kecil di atas nampan. Mereka pun bercengkrama bersama.


***


Malam pun menjelang, Elang putuskan untuk bermalam di rumah orangtua istrinya itu. Ia akan berbicara dan juga meminta izin pada orangtua Nayla.


***


Dan disinilah Elang sekarang, di teras luar rumah Nayla. Ditemani gemericik air dari sebuah kolam berisikan banyak ikan koi yang berenang-renang.


Bersama Nayla dan kedua orangtuanya.


Elang berdehem sebelum ia berbicara, menetralkan suaranya yang sedikit bergetar karena rasa gugup.


"Ayah," ucap Elang membuka pembicaraan diantara mereka.


Ayah Nayla yang sedang melihat ke sembarang arah pun tolehkan kepalanya pada Elang.


"Ayah pasti tahu jika saya sangat mencintai putri Ayah, Nayla," lanjut Elang seraya membawa tangan Nayla ke dalam genggamannya. Membuat Nayla menatap hangat suaminya itu.


"Ya, ayah tahu... Bukankah anak ayah ini cinta pertama mu ?" Tanya ayah Nayla sembari tersenyum.


"Ya... Dan juga cinta terakhirnya Elang. Insyaallah," ucap Elang tanpa ragu. Membuat ayah dan ibu Nayla tersenyum mendengarnya.


"Saking cintanya Elang pada Nayla membuat Elang tak sanggup berjauhan dengannya. Elang akan selalu memikirkan Nayla di setiap waktu. Merindukannya tanpa henti dan berharap untuk segera bertemu," jelas Elang.


Ayah dan ibu nayla mendengar kan apa yang Elang jelaskan dengan seksama. Dan keduanya mengerti apa yang Elang rasakan. Karena sebagai pasangan yang saling mencintai, ayah dan ibu Nayla pun merasakan hal yang sama.


"Kini, Elang mempunyai posisi pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tentunya dengan penghasilan yang jauh lebih besar, tapi sayangnya jarak memisahkan kami berdua," ucap Elang hati-hati.


"Elang juga tahu Nayla mempunyai karir yang tak kalah bagusnya karena ia adalah seorang wanita yang luar biasa. Hanya saja Elang tak sanggup untuk hidup berjauhan," Elang menjeda ucapannya untuk sesaat dan ia menatap wajah Nayla untuk mendapatkan kekuatan.


"Elang meminta izin pada Ayah dan Ibu untuk membawa Nayla ikut serta dengan Elang. Elang akan bertanggung jawab dengan menafkahi Nayla sebaik-baiknya. Dan jika Nayla ingin berkarir di negara yang baru, Elang tak masalah. Atau Nayla ingin kuliah lagi juga tak apa-apa. Nayla memilih menjadi ibu rumah tangga pun, Elang akan sangat bahagia. Asal kami bisa hidup bersama, apapun yang Nayla inginkan, akan Elang dukung" jelas Elang seraya menatap Nayla penuh rasa cinta.


Ayah Nayla tersenyum entah untuk yang ke berapa kalinya. Ia sangat senang melihat anak dan menantunya yang yang terlihat mesra dan penuh kasih sayang.


"Sebagai orang tua... Bohong jika ayah bilang tak sedih berjauhan dengan anaknya, tapi ayah juga sadar jika Nayla bukan lagi milik kami. Nayla kini menjadi tanggung jawab mu sepenuhnya. Jika Nayla setuju dengan permintaanmu, maka ayah dan ibu tentu akan mengizinkannya,"


Elang yang mendengar itu melengkungkan senyumnya, matanya berbinar bahagia dan ia menggenggam tangan Nayla kian erat saja.


"Tapi... Ayah dan ibu titipkan Nayla padamu. Maka perlakukan dia dengan baik dan penuh kasih sayang. Cintai Nayla dengan sepenuh hatimu, dan jagalah anak ayah sebaik-baiknya," ucap ayah Nayla sembari menahan air bening yang menggenang di pelupuk matanya. Sedangkan ibu Nayla telah meraih selembar tisu untuk mengusap pipinya yang terlanjur basah.


"Ayah dan ibu jangan khawatir... Elang sangat mencintai Nayla. Akan Elang camkan dalam hati dan juga pikiran apa yang ayah ucapkan tadi," ucap Elang. Dalam hatinya ia berucap syukur berkali-kali karena orangtua Nayla mengizinkannya untuk membawa putri kesayangan mereka bersamanya.


to be continued