
Papi Elang meraihnya dengan wajah terheran. Ia pun membaca tulisan yang ada di atas berkas itu. "Husband Aplication ?" (Lamaran suami ) Gumamnya pelan, lalu melihat pada pemuda yang duduk tegak di hadapannya.
Pemuda itu terlihat sangat gagah dan penuh percaya diri dengan setelan jasnya. Rambutnya tersisir rapi dengan model terbaru. Wangi maskulin menguar dari tubuhnya yang terlihat segar bugar.
"Lamaran untuk menjadi suami," jawab Rafa sambil tersenyum.
"Saya mengajukan diri untuk melamar anak Om yang bernama Amelia Sarah Wiguna. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan segala sesuatu tentang diri saya sebagai bahan pertimbangan bagi Om untuk bisa menerima saya sebagai menantu," lanjutnya lagi. Rafa berbicara dengan tegas tanpa rasa gugup. Seperti seseorang yang sedang melakukan wawancara kerja.
Papi Elang yang masih terkejut itu membuka map yang ada di tangannya dan membaca lembaran kertas pertama. "Data pribadi," gumamnya pelan dan ia mulai membacanya dengan teliti. "Rafandra Abimana... Jadi kamu ini anak tunggal ?"
"Iya benar, Om," jawab Rafa membenarkan.
"Bukannya dulu tinggal di Bogor?" Tanya Papi Elang saat ia melihat alamat Rafa sudah berpindah tempat.
"Sejak lulus SMA saya pindah ke Jakarta, Om," jawab Rafa lagi.
Papi Elang membaca data pribadi Rafa dengan cepat karena itu hanya terdiri dari satu lembar saja. "Latar belakang pendidikan," gumamnya pelan. Membaca lembar kertas yang lainnya.
Rafa menceritakan latar belakang pendidikannya dalam selembar kertas. Di sana menjelaskan perjalanan pendidikan pemuda itu dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Dilengkapi dengan ijazah dan transkrip nilai yang bisa Papi Elang baca dengan jelas.
Dan tak hanya itu, Rafa juga menyertakan sertifikat pendidikan non formal yang dimilikinya seperti sertifikat workshop dan kursus-kursus tambahan. Papi Elang melihat-lihatnya dan membaca itu satu persatu dan ia cukup terpukau dengan deretan angka nilai Rafa yang selalu nyaris sempurna.
"Hmmm... Jadi kalian pernah satu sekolah di masa SMA ya ?"
" Betul, Om. Amelia adalah adik setingkat di bawah saya," jawab Rafa tegas.
"Nilai akademismu bagus," pujinya tulus dan itu membuat Rafa tersenyum lebar karena senang.
Setelah selesai membaca latar belakang pendidikan yang Rafa miliki, Papi Elang membuka lembaran kertas lainnya yang berisikan pengalaman bekerja pemuda itu.
"Jurusan kuliahmu sangat sesuai dengan bidang pekerjaanmu saat ini. Pasti kamu adalah seorang yang berpikir sebelum bertindak,"
"Terimakasih, Om. Saya anggap itu sebagai pujian," timpal Rafa.
"Keahlian..., Woow.. kamu mengusai 5 bahasa asing ?" Tanya Papi Elang seraya menatap takjub pemuda di hadapannya.
"Betul sekali, Om. Saya bisa berbahasa Inggris, Spanyol, Jerman, Itali dan bahasa Indonesia tentu saja,"
"Jadi kamu ini seorang polyglot (Polyglot adalah, seseorang yang menguasai lebih dari 5 bahasa atau lebih. Mereka bisa menulis dan berbicara bahasa asing dengan lancar) ?"
"Saya masih dalam tahap belajar, Om," sahut Rafa berusaha untuk tak terlihat sombong.
"Pasti semua ini karena tuntutan pekerjaanmu yang mengharuskan kamu untuk bepergian ke luar negeri. Benar bukan ?"
"Hmmm ya.. salah satu alasannya itu, Om. Untuk menunjang pekerjaan saya," jawab Rafa.
"Salah satunya ? Berarti ada alasan lain mengapa kamu belajar banyak bahasa ?" Tanya Papi Elang seraya menatap penasaran.
"Alasan lainnya agar saya mengerti apa yang Amelia ucapkan saat dia mengomel marah-marah, Om,"
"A-apa ? Uhuk uhuk uhuk !" Papi Elang terbatuk-batuk karena saking terkejutnya ia dengan jawaban yang Rafa berikan.
"Minum dulu, Om," Rafa pun ikut terkejut dengan reaksi dari papi Elang akan jawabannya.
"Du-dulu Amelia pernah ngomelin Rafa pakai bahasa asing dan saya nggak ngerti sama sekali. Tapi sekarang tidak lagi, saya sudah siap jika Amelia mau menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi," jelas Rafa.
Papi Elang mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ia pun menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ke lembaran kertas yang berikutnya.
"Pekerjaan kamu sudah tetap. Ini cukup bagus untuk pemuda seusia kamu," lanjut Papi Elang.
"Pendapatan saya, dan jumlah tabungan yang saya miliki ada di lembar berikutnya, Om," sahut Rafa.
"Alhamdulillah saya tidak punya hutang dan kewajiban lainnya. Om bisa lihat di rekening koran tabungan saya, ada sejumlah uang yang saya transfer dengan jumlah yang sama setiap bulannya. Itu adalah untuk bundanya Rafa. Dan nanti itu akan diatur oleh Amelia jika om menerima saya sebagai menantu. Saya akan terbuka mengenai keuangan pada istri saya,"
" Tapi walaupun saya anak tunggal dan juga sangat dekat dengan bunda, Om jangan khawatir karena nanti saya akan tinggal di tempat yang terpisah setelah menikah. Seperti kata pepatah, tak mungkin ada dua ratu dalam satu istana,"
"Bagus, saya setuju dengan itu. Tapi meskipun begitu sebagai anak harus sering mengunjungi orangtuanya," sahut Papi Elang menyetujui cara berpikir Rafa.
" Tentu saja, Om. Berkunjung ke rumah orang tua dan melihat keadaan mereka adalah sebuah kewajiban," ucap Rafa membenarkan.
Papi Elang pun membaca lembaran kertas yang berikutnya yang berisikan hasil medical check up pemuda itu. Sebagai dokter, Papi Elang sangat paham dengan apa yang sedang di bacanya. "Tak ada riwayat sakit berat, tak ada riwayat penyakit genetik, berat badan dan tinggi badan proporsional, laporan vaksin juga lengkap," ucapnya pelan.
"Selama di luar negeri pernah sakit?"
"Pernah Om, sakit flu dan demam biasa. Alhamdulillah saya tak pernah menderita sakit berat apalagi menderita penyakit menular segsual karena saya 100 persen masih perjaka," Jelas Rafa. Ia sadar tentunya calon mertuanya itu takut jika ia terbawa arus pergaulan bebas selama bertugas di luar negeri.
Papi Elang tercengang mendengarnya.
"Jadi Om jangan khawatir, selama di luar negeri saya tak melakukan kehidupan segs bebas,"
"Ooh bagus ! Karena segs bebas itu adalah sesuatu yang buruk dan dilarang agama. Apa kamu bisa sholat dan mengaji ?"
"Saya melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dan bisa mengaji beserta mengerti tajwidnya. Saya sudah khatam membaca Al' quran sebanyak 4 kali. Saya juga melaksanakan ibadah puasa," jawab Rafa.
Mendengar itu membuat Papi Elang tersenyum. "Itulah yang paling penting, karena seorang suami adalah imam. Kamu akan menjadi contoh bagi istri dan anak-anakmu nanti,"
Papi Elang pun menutup map yang tadi Rafa berikan padanya. Lalu ia sandarkan tubuhnya di kursi dan menatap lurus pada Rafa. "Kenapa kamu ingin menikahi Amelia?"
"Karena saya mencintainya dan ingin menghabiskan sisa hidup saya dengannya," jawab Rafa tanpa ragu.
"Amelia sangat galak dan judes. Apakah kamu masih menyukainya ?"
"Saya tahu. Sudah lebih dari 8 tahun saya mencintainya tanpa pernah berpaling pada perempuan lain. Apakah itu tak cukup sebagai bukti keseriusan rasa cinta saya pada Amelia ?"
"8 tahun ?" Tanya Papi Elang sambil berkerut dahi.
"Saya jatuh cinta pada Amelia sejak duduk di bangku SMA. Selama Amelia menghilang saya terus mencarinya dengan kemampuan terbatas tentu saja karena usia saya yang masih remaja. Salah satu alasan saya bekerja di departemen luar negeri agar saya bisa bepergian sembari mencarinya, tapi Tuhan mempertemukan kami kembali di sini dan saya sangat bersyukur karenanya," jawab Rafa dan ia jujur dengan apa yang dikatakannya.
"Amelia bekerja sebagai dokter, dan kamu sering bepergian. Bagaimana cara mengatasinya nanti ?"
"Saya tak akan membatasi Amelia untuk berkarir tapi ia juga harus tahu kewajibannya sebagai isteri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan selama saya pergi karena saya akan kembali padanya dengan setia. Tapi.. jika Amelia ingin ikut dengan saya, maksudnya menemani saya bekerja. Maka saya akan dengan senang hati mengajaknya ikut serta,"
Papi Elang tersenyum dan ia merasa cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh pemuda itu. "Baiklah, akan saya pertimbangkan dengan serius lamaran ini, tapi saat ini saya sangat disibukkan dengan rencana pernikahan Bimo juga Elang. Tentunya kamu tahu bukan ?"
"Ya, Om saya mengetahuinya," jawab Rafa.
"Mungkin, setelah semuanya selesai saya akan memberikan jawaban mengenai lamaran ini,"
"Terimakasih karenan Om sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengajukan lamaran dan saya harap jawaban yang om berikan nanti sesuai harapan saya," sahut Rafa.
" Semoga saja," kata Papi Elang.
"Kapan kamu mulai bekerja lagi ?"
"Besok om, saya akan kembali saat Kak Bimo menikah," jawab Rafa.
"Apa Amelia tahu kamu akan pergi ?"
"Belum om, saya belum diberi kesempatan untuk berbicara dengannya," jawab Rafa.
"Harus banyak bersabar jika ingin bersama Amelia. Sesungguhnya ia gadis yang sangat baik dan penurut. Perlakukan ia dengan lembut dan penuh kasih sayang jika kelak kamu menjadi suaminya," ucap Papi Elang. Ia memberikan lampu hijau pada pemuda yang kini tersenyum lebar karena rasa bahagia.
to be continued
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa