The Unexpected Love

The Unexpected Love
Love You



" Jadi... Bolehkah aku menciummu sebagai seorang kekasih ? Aku tak ingin mencuri ciumanmu lagi," lirih Elang.


Nayla tak menjawab pertanyaan Elang, namun bisa Elang rasakan tubuh Nayla yang menegang dalam pelukannya.


Elang pun tersenyum samar, gadisnya itu pasti merasa takut hal itu terjadi lagi. Nayla pasti takut Elang akan menciumnya dengan panas lagi.


Elang pun uraikan pelukan mereka. Ia tatapi wajah Nayla yang sembab dengan hidung merah. Gadisnya itu baru saja menangis haru karena pada akhirnya cinta mereka bisa bersatu.


" Aku mencintaimu, Nayla...," Ucap Elang dengan begitu jelasnya.


" Aku tak akan menyakitimu," lanjut Elang lagi. Nayla yang menatap manik Elang pun mengangguk pelan. Ia tahu Elang tak akan menyakitinya karena laki-laki itu mencintainya.


" Jadi... Bolehkah aku menciummu ?" tanya Elang memastikan.


Nayla mengulum senyumnya, dan kembali menganggukkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban pada Elang.


Mendapatkan jawaban dari Nayla membuat Elang melengkungkan senyum di bibirnya. Matanya pun meredup sayu penuh damba pada gadis yang duduk tepat di hadapannya.


Dengan sangat perlahan Elang tundukkan kepalanya dan mengangkat dagu Nayla dengan jempolnya agar wajah gadis yang malu-malu itu melihat ke arahnya.


Pandangan mata keduanya saling terkunci dan saling memandang satu sama lainnya. Kedua pasang mata itu memancarkan rasa cinta yang sama besarnya.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


" Aku mencintaimu, Nayla... Dari dulu dan selalu...," Ucap Elang lirih dan ia pun membenamkan bibirnya di atas bibir Nayla dengan sempurna.


Keduanya memejamkan mata, meresapi rasa cinta yang membuncah dan sudah tertahan dalam waktu yang lama.


Elang menahan tengkuk Nayla dengan kedua tangannya agar kepala gadis itu tak menjauh darinya. Sesuai janjinya tadi, Elang mengulum bibir Nayla dengan lembut dan penuh perasaan. Ia memagut bibir kekasihnya itu rasa-rasa secara bergantian.


Nayla meremas kain kemeja yang Elang kenakan. Ia memerlukan itu untuk berpegangan karena tubuhnya melemah seiring debaran jantungnya yang semakin menggila tak karuan. Ia balas ciuman Elang sama dengan cara yang sama.


Tak ada hasrat berlebihan, hanya sebuah ciuman manis penuh rasa cinta di dalamnya. Ini adalah ciuman pertama bagi Elang dan Nayla setelah resmi sebagai pasangan kekasih.


Cukup lama mereka lakukan itu, saling melu-mat bibir satu sama lainnya dengan penuh kelembutan.


Dengan sangat perlahan Elang pisahkan tautan bibir mereka berdua. Ia tersenyum pada Nayla dan menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya.


Nayla sandarkan kepalanya tepat di dada Elang yang bidang. Bisa ia dengar dengan jelasnya debaran jantung Elang yang sama-sama menggila seperti dirinya.


Tak hanya Nayla saja yang merasakan gugup, tapi ternyata Elang juga merasakan hal yang sama. Nayla tersenyum, ia senang karena Elang menepati janjinya. Kekasihnya itu menciumnya dengan sangat lembut tanpa tuntutan. Nayla pun lingkarkan kedua tangannya membalas pelukan di tubuh Elang dengan sama eratnya.


Hening...


Keduanya tak berucap kata-kata, hanya saling berpelukan dengan eratnya. Menikmati rasa cinta juga rindu yang akhirnya tersampaikan.


" Sayang... Aku sayang banget sama kamu, Nay," ucap Elang seraya mencium puncak kepala Nayla dengan gemas.


" Aku juga, aku juga sayang sama kamu," jawab Nayla.


" Jangan gunakan kata 'juga', itu seperti kamu hanya terbawa-bawa perkataan ku saja," protes Elang. Dan Nayla terkekeh geli mendengarnya.


Elang uraikan pelukan mereka dan menatap mata Nayla dengan dalam " tell me those magical words," ( katakan padaku kata-kata sakral itu) pinta Elang dengan penuh tuntutan.


"What ?" Guman Nayla pelan. Ia pun menatap manik Elang sama dalamnya.


" Tell me.... Please tell me that you love me," ( katakan padaku, ku mohon katakan padaku bahwa kamu cinta aku ) Elang kembali memohon dengan matanya.


Nayla memberikan senyuman terbaiknya, "Aku mencintaimu, Elang Edgar Wiguna... Dari dulu dan selalu mencintaimu. Aku tak pernah berhenti mencintaimu walaupun sebentar saja. aku tetap mencintaimu meskipun aku pernah bersama yang lain. Percayalah Elang... hanya kamu yang aku cinta di sepanjang hidupku," Nayla menitikkan air matanya saat ia mengungkapkan perasaannya yang telah ia tahan bertahun-tahun lamanya.


Ia menarik nafas dalam dan merasa lega luar biasa seolah telah melepaskan beban berat dari pundaknya.


Elang kembali melengkungkan senyum bahagia di wajahnya. Ia mengusap air mata Nayla dengan jempolnya. Elang merasa luar biasa bahagia ketika mendengar kata-kata cinta dari gadis yang selama ini dicintainya.


Mimpi Elang pun menjadi kenyataan.


Tak hanya mimpi Elang, tapi ini merupakan mimpi Nayla juga.


Keduanya tertawa malu-malu, dengan wajah merona merah. Bagai remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta.


" Ma-mau aku buatkan kopinya ? Tapi sepertinya airnya harus dipanaskan lagi," ucap Nayla. Ia lakukan itu untuk memecah kecanggungan di antara mereka.


Elang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sumpah demi apapun Elang masih ingin tinggal lebih lama, tapi sayangnya ia tak bisa lakukan itu karena malam sudah mulai larut.


Ia tak mau mengganggu waktu istirahat gadisnya itu. Elang juga takut tak bisa menahan diri dari godaan. Ia sadar betul jika dirinya selalu menginginkan tubuh Nayla dalam dekapannya.


" Benarkah harus pulang ? Kan baru jam...,"


" Sudah jam setengah sebelas malam, Sayang," potong Elang.


" Besok kita akan bertemu lagi," lanjut Elang. Ia katakan itu agar gadisnya tak merasa sedih. Wajah Nayla meredup sendu saat Elang katakan akan pulang, seolah takut untuk ditinggalkan.


" Kita akan bertemu lagi besok, aku janji," kata Elang.


" Aku tak akan pergi atau berpaling pada gadis lain , Nay...," Ucap Elang lagi seolah bisa membaca pikiran Nayla.


Nayla yang mendengar itu, mengulum senyumnya dan menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa malunya.


Elang pun berdiri dan Nayla pun mengantarkannya hingga pintu. " Pulang kerja, aku jemput ya... Maaf aku tak bisa mengantarkan mu kerja karena paginya aku ada pekerjaan yang harus dilakukan," ucap Elang sebelum ia pulang.


" Baiklah, aku tunggu sepulang kerja," jawab Nayla. Laki-laki jangkung itu harus menjemputnya atau Nayla bisa gila karena perasaannya sendiri.


" Iya Sayang... Pasti aku jemput," sahut Elang sambil tertawa. Elang tundukkan kepalanya dan mencium dahi Nayla dalam waktu yang cukup lama. Dengan berat hati ia pun berpamitan pada kekasihnya itu.


***


" Sayang, aku sudah sampai di rumah," tulis Elang pada pesan singkat yang dikirimkannya pada Nayla. Sebenarnya Elang ingin melakukan panggilan telepon pada gadis itu tapi ia takut mengganggu Nayla yang mungkin sudah tidur.


" Syukurlah... Sleep tight, Love," balas Nayla yang masih terjaga karena menunggu kabar dari sang pujaan hati.


Membaca pesan Nayla yang memanggilnya dengan kata "love" membuat Elang langsung mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Ia baca pesan itu berulang-ulang. Dirinya masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


Elang masih tak percaya jika cinta Nayla sudah menjadi miliknya.


" I love you," balas Elang singkat dan ia pun meletakkan ponselnya di atas nakas.


Elang baringkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua lengan sebagai bantalannya. Ia tatapi langit-langit dengan senyum bahagia di wajahnya. Tak lupa ia mengucapkan banyak kata syukur dalam hatinya karena Tuhan yang telah mengabulkan do'nya.


Ingin Elang langsung melamar Nayla tapi ia takut gadisnya itu terkejut. Ia akan lakukan pelan-pelan. Menjalani hubungan ini dengan serius dan pernikahan adalah tujuan utamanya.


Di tempat lain, Nayla baringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi menyamping. Sedari tadi tak henti-hentinya Nayla membaca pesan singkat yang dikirimkan Elang untuknya. " I love you," tulis Elang di sana.


Cepat-cepat Nayla memberikan tanda bintang pada pesan itu agar pesan singkat itu tak hilang.


Nayla pejamkan matanya untuk tidur tapi bibirnya tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Ia masih merasakan euforia bahagia karena jatuh cinta.


Cinta pertama yang kini menjadi kenyataan untuknya.


Dalam hatinya, Nayla mengucapkan banyak kata syukur dan memohon pada Tuhan agar Elang memang laki-laki pilihan terbaik Tuhan untuknya.


***


" Pagi, Mbak Nayla," ucap seorang petugas cleaning servis yang baru saja membersihkan ruang bilik kerjanya.


" Pagi," Nayla membalas sapaan petugas itu dengan sangat ramah. Suasana hati Nayla sedang sangat baik pagi ini.


Nayla pun tersenyum lebar saat mendapati sebuah buket bunga mawar di atas meja kerjanya. Ia pun mengambil sebuah kartu di atasnya. Jika biasanya kartu itu bertuliskan kata-kata " I'm sorry," maka hari ini tulisannya berganti.


" I love you, now and forever," ( aku mencintaimu, sekarang dan selamanya)


- Elang-


Cepat-cepat Nayla masukkan kartu itu ke dalam tasnya. Ia tak mau Nadia membacanya karena pasti kakaknya itu akan menginterogasinya dengan banyak pertanyaan. Nayla masih ingin menikmati euforia bahagianya untuk dirinya sendiri dulu.


" Mbak Nay, dipanggil ibu ke ruangannya," ucap salah seorang teman Nayla.


Nayla pun membawa beberapa berkas yang memang Nadia minta sejak hari Jum'at yang lalu. Untungnya semua pekerjaan Nayla telah selesai hingga ia bisa menyerahkan pada sang kakak.


Nayla berjalan menuju ruang kerja sang kakak sambil bersenandung kecil lagu cinta. Dengan perlahan Nayla membuka pintu ruang kerja Nadia.


" Ya Tuhan, Maaf...," Kata Nayla yang dengan tak sengaja menjatuhkan berkasnya ke atas lantai dan cepat-cepat ia memungutinya. Sedangkan di dalam sana Nadia langsung melompat dari pangkuan sang suami, Alex.


Nadia memelototkan matanya pada Alex sedangkan Nayla hanya bisa menahan tawanya karena ini bukanlah yang pertama baginya melihat kemesraan sang kakak dan suaminya itu.


" Alex, bisakah kamu pergi sekarang ? Aku sudah turuti semua maumu. Aku benar-benar sedang banyak kerjaan," usir Nadia.


Alex pun berdiri sembari merapikan setelan jasnya yang terlihat sedikit berantakan. "Jangan lupa, katakan pada Nayla," titah Alex pada istrinya dan tanpa malu-malu ia mencuri ciuman dari bibir istrinya sebelum pergi.


"Katakan apa ?" Tanya Nayla saat Alex sudah berlalu pergi.


" Mmm...itu... Akhir pekan ini kamu kosongkan jadwalmu, Nay. Kita akan pulang ke Bogor. Tadi malam ayah telepon dan menyuruh kita pulang," jawab Nadia.


To be continued ♥️


Thanks for reading


Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa