The Unexpected Love

The Unexpected Love
Selanjutnya



"Masa malam pertama ini, kita lalui dengan kamu yang kesurupan ?? Aku gak mau !!!" Lanjut Amelia sembari terus berusaha untuk menyadarkan suaminya yang sedang mabuk kepayang.


"Huaaaaa, Rafa sadar !!" Rengek Amelia. Tapi Rafa masih baringkan tubuhnya terlentang sembari menatap langit-langit hotel dengan senyuman yang tak juga surut dari bibirnya.


Sikap manis dan kata-kata mesra dari mulut Amelia membuatnya melayang-layang diantara awan putih.


Padahal hanya sebatas kata sayang karena selama ini Amelia belum pernah mengatakan kata-kata cinta padanya. Jika itu terjadi mungkin Rafa bisa langsung pingsan karena tenggelam dalam rasa bahagia yang luar biasa.


Kata cinta itu memang belum terucap dari mulut sang istri tapi Rafa yakin jika Amelia merasakan hal yang sama. Elang pernah bercerita jika selama ini sang adik tak pernah dekat dengan lelaki manapun. Bahkan ia menolak beberapa diantaranya karena Amelia tak ingin berhubungan dengan lelaki manapun.


Rafa yakin jika Amelia mwnjaga cintanya hanya untuk dia, seperti yang Rafa sendiri lakukan yaitu menjaga hati dan pikirannya hanya untuk Amelia seorang.


"Haaaahhhhhhhh," desah nafas lega terdengar dari mulut Rafa yang tak henti-hentinya tersenyum itu.


Amelia bangkit dari atas ranjang. Gadis itu mengenakan kaos putih polos Rafa untuk menutupi gaun malamnya yang kurang bahan. Ia berjalan dan mengambil segelas air putih lalu kembali pada suaminya yang masih senyum-senyum sendiri.


Amelia berdiri tak jauh dari Rafa yang terbaring dengan segelas air putih di tangannya. "Bismillah....," Amelia mulai membacakan beberapa do'a yang dia hapal. Setelah itu meminum ait putih yang ada di dalam gelas untuk menyemburkannya pada Rafa.


Mulut Amelia dipenuhi oleh air hingga bentuknya terlihat seperti balon yang siap untuk meledak.


Ia segera naik ke atas tubuh sang suami untuk menyadarkannya.


Melihat sang istri dengan pipinya yang mengembung membuat Rafa membulatkan matanya. "Sayangnya Rafa mau apa ?" Tanya nya panik ? Ia langsung bangkit dengan paniknya tepat sebelum Amelia menyemburkan air do'a dari mulutnya.


Melihat Rafa bangkit dari mabuknya membuat Amelia mengurungkan niatnya untuk menyembur sang suami. Susah payah ia telan air minum yang memenuhi rongga mulutnya itu.


Amelia tersenyum hingga rona merah menghiasi ke dua tulang pipinya. Ia langsung berhambur pada pelukan suaminya itu. "Aku takut banget !" Ucapnya sembari memeluk Rafa dengan erat.


Mendapat serangan manis yang bertubi-tubi dari Amelia membuat jantung Rafa tidak aman. Detaknya lebih cepat dan menggila. Rafa bagai orang linglung saat Amelia memeluknya erat. "Kamu takut kenapa, Sayang ?" Tanya Rafa sembari menikmati pelukan erat istrinya itu.


"Takut kamu kesurupan," jawab Amelia dengan polosnya hingga membuat tawa Rafa pun pecah.


"Ih aku serius !!" Amelia uraikan pelukannya hingga tercipta jarak diantara keduanya.


Padahal sang istri masih ada di hadapan Rafa. Tapi lelaki itu sudah merasakan kehilangannya. Rafa pun menarik kembali tubuh Amelia pada pelukannya. "Makasih udah khawatir sama aku," bisik Rafa penuh arti.


Amelia memang belum pernah mengatakan kata-kata cinta padanya tapi sikapnya yang seperti ini membuat Rafa yakin jika gadis itu mempunyai rasa cinta yang sama besarnya dengan dirinya.


"Jangan bikin aku takut," lirih Amelia disela-sela isakan tangisnya.


"Kamu nangis ?" Rafa menguraikan pelukannya agar ia bisa melihat wajah istrinya itu dan memastikan apakah benar Amelia menangis.


Puncak hidung gadis itu berubah merah muda menandakan ia benar-benar telah menangis karena khawatir pada suaminya dan itu membuat Rafa semakin yakin jika sang istri mencintai dirinya.


" Rafa gak apa-apa, Rafa cuma terlalu bahagia karena sayangnya Rafa cium pipi terus bilang kata-kata sayang segala," jelas Rafa.


Amelia yang mendengar itu membolakan matanya tak percaya.


"Hati Rafa tuh lemah kalau digituin. Sayangnya Rafa gak tahu sih... Hati Rafa langsung hajatan di dalam sana pas Amelia bilang kata 'sayang'. Swear deh !" Rafa mengangkat kedua jarinya menandakan jika ia serius dengan apa yang diucapkannya.


"Kok gombal sih, Yang ? Rafa serius ini. Dan pas Amelia peluk Rafa kaya tadi, jantung Rafa hampir loncat dari tempatnya karena terlalu seneng,"


"Tuh kan gombal lagi !" Sahut Amelia salah tingkah.


"Sumpah beneran, Yang," ucap Rafa sungguh-sungguh.


Amelia mengigit bibir bawahnya karena gugup dan tundukkan kepalanya untuk menyembunyikan panas dan merah di pipinya karena pandangan mata Rafa yang terus melihatnya penuh damba.


"Rafa cium kamu, boleh ya ?" Tanya Rafa yang merasa semakin gemas pada istrinya itu. Rafa tak menyangka jika Amelia yang judes dan galak itu bisa begitu menggemaskan seperti sekarang ini.


Amelia tak menjawab, yang ia lakukan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Rafa tersenyum dan mengangkat pelan dagu sang istri dengan jempolnya. Pandangan mata mereka pun bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Tak tahan lagi, Rafa pun tundukkan kepalanya dan membenamkan bibirnya di atas bibir Amelia dengan sempurna. Ia mengulumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Amelia pun membalasnya dengan caranya yang sama.


Tak ada pagutan lidah berlebihan. Keduanya berciuman dengan lembut seolah menyatakan perasaan cinta masing-masing. "Rafa cinta banget sama kamu," ucap Rafa lirih di atas bibir istrinya yang basah.


Amelia tak menjawabnya, yang ia lakukan adalah memeluk lelaki yang kini menjadi suaminya dengan erat. Rafa pun tak menuntut Amelia untuk mengatakannya. Walaupun dalam hatinya yang paling dalam ia ingin mendengarkan kata-kata cinta dari istrinya itu.


"Tidur yuk ? Sayangnya Rafa pasti cape kan ?" Amelia mengangguk. Rafa pun tersenyum dan mengajak sang istri untuk berbaring di atas ranjang pengantin mereka. Keduanya menghabiskan malam pertama dengan tidur saling berpelukan.


***


Pukul setengah sembilan pagi Elang dan dan Nayla datang ke hotel di mana Rafa menginap. Ia ingin mengajak pasangan pengantin baru itu untuk sarapan bersama.


Kedatangan Elang berbarengan dengan Rafa yang baru saja kembali dari mini market untuk membeli sesuatu.


"El ?" Tanya Rafa


"Eh kebetulan ketemu disini. Amelia mana ? Sarapan bareng yuk ?" Nayla lah yang menjawab pertanyaan Rafa.


"Amelia masih di kamar. Dia mengalami pendarahan," jawab Rafa dengan polosnya.


Elang yang mendengar itu langsung naik pitam, ia menarik tubuh Rafa ke lorong yang sepi dan memojokkannya di dinding. "Lo apain adek gue hah ? Apa lo gak bisa sabar dan pelan-pelan ?" Tanya Elang dengan matanya yang menatap nyalang.


"A-apaan sih kakak ipar ? Kenapa lo marah-marah ?" Tanya Rafa tak terima.


"Lo apain Amelia sampai dia mengalami pendarahan ? Jangan kasarin adek gue, Fa. Tahan nafsu lo !" Jawab Elang.


Rafa mencerna ucapan Elang baik-baik, dan ia pun paham. "Gak sabar dan pelan-pelan apaan ? Adek lo datang bulan dan tadi pagi sampai tembus ke sprei. Neh gue baru beli pembalut buat dia !!" Rafa menunjukkan kantung kertas yang berisikan pembalut pesanan istrinya itu.


"Amelia datang bulan ?" Tanya Nayla sambil tertawa.


to be continued


Jangan lupa vote yaaaa