
" Bolehkah aku menikmati sarapanku lagi ?" Tanya Elang dengan matanya yang menatap sayu.
Nayla ingin turun dari pangkuan Elang, tapi semakin Nayla berontak semakin Elang eratkan cengkraman tangannya di bok*ng gadis itu.
"Aku ingin turun," cicit Nayla terdengar takut-takut.
Elang yang melihat itu bukannya merasa kasihan, tapi ia malah semakin gemas. "Please..,"cicit Nayla memohon. Ia memberikan tatapan mata "puppy eyes" ( sayu minta dikasihani) agar Elang mau menurunkannya.
" Baiklah, tapi aku ingin melanjutkan sarapanku," ucap Elang terdengar ambigu.
Nayla menelan salivanya yang terasa kelat. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu hingga ia tergagap saat berbicara. "A-Aku tak mau, a-aku takut... A-aku...,"
"Memangnya kamu pikir, aku mau sarapan apa ?" Goda Elang. Mati-matian ia tahan tawanya agar tak meledak.
"A-aku ?" Nayla balik bertanya. Pipinya terasa sangat panas. Ia yakin saat ini wajahnya sudah semerah tomat.
" Iya kamu....," Jawab Elang masih terdengar ambigu.
Nayla menggelengkan kepalanya pelan. "Kita gak bo-boleh begini. Belum waktunya," ucapnya takut-takut.
Elang terkekeh geli mendengarnya. Nayla mulai terasa berat tapi ia tetap menahannya agar Nayla tetap berada di atas pangkuannya lebih lama lagi.
Wajah Nayla yang merona merah karena malu-malu adalah sesuatu yang sangat disukai Elang dari dulu hingga sekarang.
"Kak El, Nayla mohon...," Nayla menggigit bibir bawahnya salah tingkah. Kakinya yang tadi membelit pinggang Elang kini bergerak bebas menendang-nendang karena ingin diturunkan. Nayla pun terheran bagaimana Elang bisa kuat menahan bobot tubuhnya yang terbilang berat.
" Bilang... Sayang, aku ingin turun," titah Elang menggoda kekasihnya itu.
"Kak...,"
Greb ! Elang mencengkeram b*kong Nayla lebih erat dari sebelumnya.
" Sayang !!!" Pekik Nayla meralat sebutannya pada Elang.
"Hhmm ? Lalu apa ?" Goda Elang.
"Sa-sayang aku ingin turun dari pangkuanmu dan menyiapkan sarapan pagi untukmu," cicit Nayla tanpa berani menatap manik mata Elang.
Nayla sadar betul jika dirinya akan melemah saat bersitatap dengan mata Elang.
Elang tertawa dalam hatinya.
Sungguh wajah Nayla yang polos dan malu-malu membuatnya hampir kehilangan kendali. Jika tadi Nayla tak menyuruhnya untuk berhenti, sudah dipastikan kejadian di atas sofa akan terulang lagi.
" Kita harus segera menikah," ucap Elang dengan sangat jelasnya.
Nayla mengangguk membenarkan. Akan sangat berbahaya jika setiap bertemu akan seperti ini terus.
Dengan perlahan Elang turunkan Nayla. Ia tak tahu jika tubuh sang kekasih telah lemah bagaikan jelly. Nayla meluruhkan tubuhnya di atas lantai begitu Elang menurunkannya.
"Sayang !!" Panik Elang. Ia segera berjongkok untuk memastikan keadaan Nayla. " Kamu gak apa-apa ?" Tanya Elang dengan wajah cemasnya.
Merasa sudah dalam keadaan aman, Nayla pun mengangkat wajahnya dan menatap sengit pada Elang. " Awas ya !! Gak boleh kaya tadi !! Atau kamu gak akan aku izinkan lagi datang ke sini sampai hari pernikahan kita !!" Ancam Nayla.
Elang tercengang. Gadis yang tadi lemah saat dalam kuasanya itu kini berubah ketus saat Elang melepaskannya.
"Na- Nay ?"
" Aku tuh takut sama ayah dan ibu, takut buat mereka kecewa dan yang utama aku takut sekali lagi kita tak bisa menahan diri hingga berbuat dosa," ucap Nayla dengan jelasnya.
"Na-Nayla...,"
" Lagian ngapain ke sini pagi-pagi ? Kan udah aku bilang jagain Amelia jangan sampai pergi !" Ucap Nayla sambil berusaha berdiri di atas kakinya yang sedari tadi tak berhenti bergetar.
Elang berusaha untuk menolongnya tapi Nayla menepisnya. Tatapan mata gadis itu curiga pada Elang. Nayla takut jika Elang akan memangkunya lagi seperti tadi.
"Maaf..," cicit Elang.
"Suruh siapa kamu dandan cantik seperti ini. Kan udah aku bilang jangan ikat rambutmu tinggi-tinggi. Aku gak tahan lihatnya," keluh Elang tapi ia malah mendapatkan tatapan mata sengit dari Nayla karena gadis itu tak mau disalahkan.
"Aku ini laki-laki normal, Nay ! Dan seperti yang kamu ketahui aku sudah memendam rasa sama kamu bertahun-tahun lamanya," jelas Elang.
"Lalu ?"
"Rasa itu semakin hari semakin bertumpuk dan setiap bertemu aku ingin meluapkannya padamu," cicit Elang.
"Tuhan memang menyatukan kita di waktu yang terbaik. Tak terbayangkan apa yang terjadi jika kita telah bersama sejak masa SMA. Mungkin aku udah habis dilahap sama kamu !" Ketus Nayla.
"Maaf...," Cicit Elang lagi. Ia tak berani untuk melihat wajah Nayla karena memang dirinya lah yang bersalah.
"Nanti-nanti, harus izin dulu aku sebelum kamu mau cium atau peluk aku,"
Walaupun kata-kata Nayla masih terdengar ketus tapi kali ini Elang mengangkat wajahnya dan melihat pada Nayla. "Jadi masih boleh cium dan peluk kamu ?" Tanya Elang terdengar nakal di telinga Nayla.
Mata Nayla membola, ia sadar telah salah berbicara. " Eh bu-bukan !! Maksud aku, kamu gak boleh lagi....,"
"Telat !!" Potong Elang sambil tersenyum lebar. "Syarat yang tadi kamu ajukan sudah terekam sempurna di sini." Elang menunjuk kepalanya sendiri.
Nayla yang melihat itu mencebikkan bibirnya kesal.
Kesal pada dirinya sendiri yang telah salah mengambil langkah.
Elang pun tertawa. "Mulai sekarang... Aku akan selalu meminta izin dulu untuk mencium dan juga memelukmu," ucap Elang dengan jelasnya dan itu membuat Nayla menelan saliva.
"Ayo calon istri ! Buatkan aku sarapan !" Titah Elang.
" Hah ?" Gumam Nayla. Pikirannya masih melayang-layang entah kemana.
"Buatkan aku sarapan seperti rasa bibirmu tadi. Atau.... Aku harus minta izin untuk merasakannya lagi di...,"
"A-aku buatkan dulu roti isinya," potong Nayla cepat. Sungguh ia tak mengira jika Elang yang katanya 'sedingin es balok' itu ternyata sangatlah 'panas' jika hanya berduaan saja dengannya.
Nayla melirik Elang dengan ujung mata, dan bertanya-tanya apakah Elang juga begitu dengan para mantan kekasihnya ? Apa Elang sama panasnya ? Dan selama ini ia tak pernah bercerita. Apakah selama tinggal di luar negeri, Elang pernah berhubungan dengan wanita lain ?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berputar dalam benak Nayla. Ia pun menarik nafas dalam karena rasa cemas yang kini melandanya.
Bukan tanpa alasan Nayla berpikiran seperti itu. Laki-laki tampan seperti Elang pastinya disukai banyak wanita. Termasuk dirinya yang selama bertahun-tahun mencintai Elang.
Nayla pun menyerahkan 2 tangkup roti isi selai coklat dan kacang yang sudah dipanggang pada Elang. Sebagai pelengkapnya Nayla memberikan Elang segelas jus jeruk instan.
"Terimakasih, sayang," ucap Elang seraya memberikan senyuman terbaiknya untuk Nayla sang calon istri.
Dengan lahapnya Elang memakan roti isi buatan Nayla. Dari cara makan Elang, terlihat ia sangat menikmatinya. Sampai-sampai ia menjil*ti jemarinya sendiri yang terkena lelehkan selai. Ia tak sadar jika Nayla yang duduk tepat di hadapannya terus saja memperhatikannya.
Pada akhirnya Elang dan Nayla pun beradu pandang. "Kak El, udah berapa kali Kak El pacaran ? Dan ngapain aja selama pacaran ?" Tanya Nayla tanpa basa-basi.
Pertanyaan Nayla sontak membuat Elang menghentikan acara makannya. "Hah ?" Elang berkerut alis tak paham.
"Kakak pasti ngerti apa yang aku tanyakan," tuntut Nayla.
Elang tersenyum tipis. Ia melanjutkan memakan roti isinya tanpa rasa cemas atau takut akan pertanyaan yang diberikan oleh Nayla.
"Aku punya hubungan yang khusus cuma sama kamu aja," jawab Elang.
" Bohong...," Nayla memicingkan matanya saat mengatakan itu. Menatap curiga pada Elang.
" Hmm oke-oke... Baiklah... Pernah sekali dengan...," Elang menjeda ucapannya karena di hadapannya, Nayla sudah memberikan tatapan mata horor.
"Pernah sekali dengan Vony. Kamu ingat kan ?" Tanya Elang.
" Tapi apakah itu bisa disebut berpacaran ? Aku dan Vony hanya berhubungan selama 2 Minggu saja dan kami hanya berpegangan tangan tak lebih dari itu," jelas Elang.
" Dan itupun karena dia yang memaksanya," lanjut Elang lagi.
" Selama di luar negeri ?" Tanya Nayla penuh selidik.
" Tak pernah dekat dengan perempuan manapun. Boleh tanya kak Bimo kalau tak percaya. Aku bekerja bagai kuda di sana agar bisa cepat-cepat pulang dan menikahimu. Aku sibuk bekerja dan juga sibuk mengawasi kamu dari jauh," jawab Elang.
" Aku nekat pulang karena kak Bimo bilang, dia udah gak bisa ngawasin kamu lagi. Dan kamu tahu alasan aku pulang pada bosku ?"
Nayla menggelengkan kepalanya pelan.
" Aku katakan pada mereka jika aku harus pulang ke tanah air untuk menikah. Dan itu denganmu, Nay," lanjut Elang.
Nayla menatapnya tanpa berkata-kata. Elang tahu jika gadisnya itu masih meragu.
"Demi Tuhan, Yang... Aku tak pernah sekalipun, melakukan apa yang aku lakukan denganmu bersama gadis lain. Percayalah...,"
"Awas saja kalau kamu melakukannya dengan yang lain," ancam Nayla dengan memelototkan matanya pada Elang.
Elang tersenyum gemas melihatnya. "Tak akan, aku hanya mau sama kamu aja," ucap Elang. Dan ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.
Elang menghabiskan roti isinya tanpa tersisa. Lalu ia meminum jus jeruk yang telah disediakan Nayla untuknya. Melap bibirnya dengan selembar tisu sebelum ia berbicara dengan serius. "Bagaimana bisa aku dengan gadis lain jika hati ini hanya menginginkan kamu seorang saja ?" Ucap Elang sungguh-sungguh.
" Asal kamu tahu, Sayang. Berhubungan dengan Vony adalah hal yang paling aku benci. Betapa tersiksanya aku saat menjalaninya dan aku tak mau mengalaminya lagi," ucapan Elang tentang Vony mengakhiri pembicaraan mereka di atas meja makan.
***
"Ayo kita pergi," ajak Nayla seraya meraih tas selempangnya dari atas meja.
Elang menahan lengan Nayla sebelum gadis itu melangkahkan kakinya. "Ada apa?" Tanya Nayla.
"Rambutmu... Jangan diikat terlalu tinggi. Lehermu terlihat menggoda dan aku tak suka," jawab Elang tanpa mampu menyembunyikan rasa posesifnya.
"Oh," gumam Nayla. Dengan perlahan ia melepaskan ikatannya dan merapikan kembali rambutnya.
" Ayo !" Ajak Nayla lagi saat dirinya sudah kembali rapi. Tapi, lagi-lagi tangan Elang menahan lengannya.
" Apa lagi ?" Tanya Nayla terheran.
" Mmm bolehkah aku memeluk dan juga mencium mu ? Sebentar saja, di rumah mama aku gak akan bisa melakukannya. Please...," Mohon Elang dengan mata 'puppy eyes' nya.
Nayla pun mengangguk pelan mengizinkannya.
Elang raih tubuh Nayla dalam pelukannya, ia tundukkan kepala dan mencium dahi Nayla lama-lama. "I love you, Sayang. And its always you," gumam Elang tanpa melepaskan ciumannya.
***
Nayla menarik nafas dalam saat ia tiba di rumah baru keluarga Elang. Tiba-tiba saja rasa takut menyelimuti dirinya. Nayla takut Amelia tak menyetujui hubungannya dengan Elang. Nayla takut Amelia sudah terlalu kecewa padanya.
" Ayo... Semua akan baik-baik saja," Elang mengulurkan tangannya untuk Nayla raih. Uluran tangan itu mengisyaratkan semua akan berjalan baik jika mereka selalu bersama.
Nayla tersenyum dan meraih uluran tangan Elang. Mereka berjalan berdampingan sembari berpegangan tangan menuju rumah.
Masuknya Nayla ke dalam rumah bersamaan dengan Amelia yang baru saja turun dari kamarnya yang berada di lantai 2. Pertemuan itu tak terhindari lagi.
Mata Nayla sudah berkaca-kaca, sedangkan Amelia menatapnya sengit dan tak suka.
"A-amel...," Gumam Nayla seraya melepaskan tautan jemarinya dari tangan genggaman tangan Elang dan ia berjalan mendekati Amelia yang masih berada di tengah-tengah tangga.
Amelia melihat itu semua, ia melihat Nayla melepaskan genggaman tangannya agar bisa mendekatinya.
Amelia berlari kecil menuruni tangga dan mendatangi Nayla masih dengan wajahnya yang terlihat gusar
'Bruk !"
Amelia menubruk tubuh Nayla dan membawa gadis itu dalam pelukannya. "Aku marah, aku kesal, aku kecewa sama kamu, Nay !" Ucap Amelia tanpa melepaskan pelukannya.
" Tapi walaupun begitu aku gak akan pernah bisa benci kamu," ucapnya lagi seraya mengeratkan pelukannya dan Nayla pun membalasnya dengan cara yang sama.
*Puppy eyes itu tatapan sayu penuh mohon seolah ingin dikasihani.