The Unexpected Love

The Unexpected Love
ikut yuk



"Kita akan selalu bersama...," Ucap keduanya secara bersamaan dengan dahi saling menempel dan ujung hidung mereka yang bersentuhan pelan. Mata Elang menatap penuh rasa cinta begitu juga Nayla.


Elang kembangkan senyumnya dan Nayla pun melakukan hal yang sama. Mata mereka masih menatap satu sama lain. Hati keduanya dipenuhi rasa cinta yang sama besarnya. Hanya karena bisa saling berdekatan membuat Elang dan Nayla merasakan bahagia yang luar biasa.


"Apa yang akan kamu katakan pada orangtuamu dan juga Mbak Nadia ? Pastinya kamu harus berhenti bekerja kan ?" Tanya Elang dengan wajahnya terlihat cemas.


"Aku akan katakan pada mereka bahwa aku ingin berada dengan orang yang aku cinta. Aku rasa mereka akan mengerti," jawab Nayla.


"Terimakasih," sahut Elang.


"Terimakasih karena sudah mau ikut dengan aku," lanjutnya lagi seraya menarik wajah Nayla dengan kedua telapak tangannya dan memberikan ciuman mesra di bibir istrinya.


"Terimakasih juga karena telah mengizinkan aku untuk selalu berada di sisimu," sahut Nayla tepat di atas bibir Elang.


"Bukan hanya mengizinkan tapi mengharuskan," ralat Elang dan keduanya pun tertawa pelan bersamaan.


"Eemmhh, aku juga harus segera mengatakannya pada Amelia," ucap Nayla.


Elang menghela nafasnya dalam saat nama sang adik disebutkan. "Ku harap si galak itu gak drama," gumam Elang pelan tapi Nayla bisa mendengarnya dengan jelas.


"Iiishhh galak-galak juga, dia itu adikmu dan juga sahabat aku !" Nayla menampar halus lengan Elang sebagai tanda tak terima dengan apa yang baru saja Elang ucapkan baru saja.


Elang pun nyengir kuda. Nayla akan selalu membela adiknya itu, oleh karena itu Elang mengatakannya dengan pelan tapi ternyata sang istri masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ayo kita ajak Amelia makan siang. Aku juga kangen sama dia," ajak Elang.


"Mmmhhhh....," Nayla terlihat ragu untuk mengeluarkan kata-kata.


Melihat itu membuat Elang mengerutkan keningnya tak paham. "Kenapa Amelia ?" Tanya Elang penasaran.


"Sudah berhari-hari aku gak ketemu dia,"


"Hah ? Kenapa? Dia sakit ?" Potong Elang.


"Hu'um, Amelia sakit flu," jawab Nayla membenarkan.


"Pasti karena cuaca, padahal dia tuh rutin minum vitamin,"


"Mmmhhh sepertinya bukan hanya karena cuaca," ucap Nayla.


"Hah ? Lalu kenapa ?" Tanya Elang terlihat kebingungan.


"Karena Rafa pulang. Udah satu Minggu ini, Rafa berada di Indonesia. Jadi....,"


"Sshhhh dasar brengs*k !" Maki Elang.


"Loh kenapa ?" Tanya Nayla sembari mengerutkan keningnya.


"Dia pasti memforsir Amelia hingga sakit. Kan Rafa selalu bilang 'sekarang sabar nanti hajaaarrrrr' tuh buktinya adik ku sampai sakit," jawab Elang sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. sedari dulu ia sudah terbiasa untuk melindungi adiknya yang galak dan manja itu hingga setelah dewasa pun Elang masih terbawa perasaan.


Nayla memutar bola matanya malas. Lalu ia menangkup wajah Elang dengan kedua tangannya. "Terus... Yang dulu sampai bikin aku gak bisa jalan siapa, huh ? Sampai-sampai harus menambah hari di hotel tempat kita menikah," tanya Nayla gemas. Ia mengingatkan jika Elang pun sebenarnya sama saja dengan Rafa.


Lagi-lagi Elang nyengir kuda, merasa malu saat sang istri mengingatkannya akan malam pertama mereka. Dimana Elang yang tak bisa menahan diri untuk menerkam istrinya.


"Jadi sebenarnya... Kalian itu sama saja !" Ucap Nayla. "Jangan nyalahin Rafa aja tapi.. mmmhhhhhh," belum juga Nayla menyelesaikan kalimatnya, Elang sudah membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.


Keduanya benar-benar sedang dimabuk cinta. Saling jatuh cinta lagi seperti saat mereka masih remaja. Cinta pertama yang terus bergelora dan berubah menjadi cinta yang sebenarnya.


Elang memeluk erat tubuh Nayla saat ciuman mereka berakhir dan Nayla pun membalas dengan sama eratnya. "You are the love of my life," ( Kamu adalah cinta dalam hidupku) bisik Elang membuat Nayla meneteskan air mata haru bahagia.


***


Rafa berdiri di depan kompor, menunggu teko air berbunyi. Ia sedang membuatkan Amelia minuman hangat. Hujan sejak pagi, ditambah Amelia yang sedang terserang sakit flu membuatnya melakukan itu.


Selain itu juga sebagai penebus dosanya pada Amelia. Karena dirinya lah salah satu penyebab Amelia terserang sakit hingga sang istri harus mengambil cuti dari tempatnya bekerja.


Rafa yang sedang dimabuk cinta dan baru saja mendapatkan 'malam pertamanya' beberapa hari lalu, menerkamnya Amelia tanpa ampun.


Maklum saja, Rafa sudah jatuh cinta pada Amelia sejak lama. Sejak ia masih remaja dan kini setelah ia dewasa, Rafa semakin mencintai Amelia.


Mendapatkan Amelia sebagai istrinya adalah mimpi Rafa yang menjadi kenyataan. Ia akan selalu memikirkan dan merindukan istrinya itu.


Semua terasa semakin menyiksa saat Rafa harus berjauhan dengan sang istri beberapa waktu lalu.


Rafa hampir tak bisa berkonsentrasi dalam bekerja karena kepalanya dipenuhi oleh istrinya itu. Bahkan ia akan menghubungi sang istri berulang kali hanya untuk memastikan Amelia baik-baik saja.


Dan kini melihat Amelia sakit membuat Rafa semakin mengkhawatirkannya walaupun istrinya itu hanya sekedar flu biasa. Rafa berdiri menatapi teko air yang belum juga berbunyi. Pikirannya dipenuhi oleh Amelia seorang.


"Mikirin apa ?" Tanya Amelia yang kini mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di ruang makan sederhana mereka.


"Sayangnya Rafa kok bangun ? Udah Rafa bilang tunggu aja di kamar," jawab Rafa.


"Aku udah gak apa-apa kok. Lagian gak enak sendirian di dalam kamar. Pengennya... Ditemenin," ucap Amelia malu-malu.


Mendengar ucapan istrinya membuat bibir Rafa tersenyum lebar. Ia segera menghampiri istrinya itu dan membungkukkan tubuhnya agar bisa mencium pipi sang istri. "Makin sayang sama Amelia," bisik Rafa.


"Dengerin deh, Yang. Jantung Rafa rampak gendang pas Amelia ngomong begitu," lanjutnya lagi dan Amelia memutar bola matanya malas saat mendengarnya.


Rafa ingin mencium pipi Amelia lagi, tapi ia urungkan niatnya karena teko air yang berada di atas kompor telah berbunyi.


Rafa pun berjalan dan mematikan kompor. Lalu ia menuangkan air yang berada dalam teko itu ke dalam dua buah cangkir yang masing-masing berisi kopi dan teh.


Kopi untuk Rafa dan teh lemon untuk sang istri. Setelah siap, ia pun meletakkannya di atas meja.


"Terimakasih," ucap Amelia seraya menghirup wangi yang menguar dari dalam cangkir.


Rafa tatapi wajah sang istri dengan seksama. Mereka memang belum lama menikah, tapi Rafa sudah mencintai istrinya itu sejak remaja. Amelia adalah cinta pertamanya dan Rafa yakini akan menjadi cinta terakhirnya.


Semakin lama menatap wajah Amelia, perasaan Rafa semakin gundah dibuatnya. Ia pun menarik tangan Amelia dalam genggamannya.


"Rafa sayang banget sama Amelia. Kamu pasti tahu kan ?" Tanya Rafa dan Amelia pun anggukan kepalanya.


"Ikut Rafa yuk ?"


"Hah ?" Amelia berkerut alis tak paham.


"Rafa gak sanggup jauh-jauh dari kamu... Ikut Rafa kemana pun Rafa pergi, yuk ? Kita akan hidup bersama dalam suka dan duka. Rafa janji bakal jagain Amelia sepenuh hati,"


to be continued