The Unexpected Love

The Unexpected Love
Suara Hati



Sudah satu Minggu ini Vony tidak menampakkan dirinya di sekolah. Menurut teman-temannya, gadis itu tengah terbaring sakit.


Tak sekalipun Elang menghubungi atau menanyakan kabar gadis yang berstatus pacarnya itu. Begitu juga Vony, tak pernah sekalipun ia mengirimkan kabar baik melalui panggilan telepon atau pesan singkat. Keduanya hilang kontak begitu saja.


Elang tak merasa bersalah, karena perjanjiannya dengan Leo hanya sebatas memacari sepupunya itu. Bukan memberikan perhatian apalagi hatinya.


Hati Elang sudah ada yang memiliki, walaupun gadis itu tak tahu bahwa dia pemiliknya.


Seperti saat ini, Elang sedang tatapi gadis si pemilik hatinya dari kejauhan. Gadis itu baru saja keluar dari kelasnya dan berjalan menuju kantin sekolah bersama Amelia si adik Elang dan beberapa teman lainnya.


Nayla mengenakan baju olahraga sekolah. Jika gadis lain berlomba-lomba mengecilkan ukuran seragam olahraga mereka agar bisa memperlihatkan lekuk tubuh mereka, maka Nayla tidak. Baju olahraganya tetap besar walaupun begitu, di mata Elang hanya Nayla yang terlihat paling menarik diantara semuanya.


Nayla juga menguncir rambutnya tinggi-tinggi, hingga lehernya yang jenjang dan dihiasi anak rambut terlihat jelas. Rambut Nayla yang di kuncir kuda akan bergerak-gerak seiring tubuhnya yang berjalan.


Gigi gingsulnya menambah manis senyuman Nayla. Pipinya akan merona merah jika ia merasa malu. Pembawaannya tenang namun tegas. Nayla bukan gadis yang banyak bicara apalagi dengan intonasi tinggi. Ia akan berbicara dengan lembut, namun tegas dalam pendiriannya.


"Ya Tuhan....," Gumam Elang. Dia sangat menyukai segala sesuatu yang ada pada gadis itu.


Sudah satu Minggu ini juga Maximilian atau yang biasa dipanggil Maxi begitu gencar mendekati Nayla. Walaupun mereka jarang terlihat berdua-duaan, tapi pemuda bernama Maxi itu akan selalu bergabung ketika Nayla istirahat makan siang di kantin.


Duduknya pun berjauhan. Nayla tidak agresif pada laki-laki manapun. Dia bukan gadis seperti itu. Cara bicaranya pada Maxi pun biasa-biasa tapi bisa membuat Maxi terpesona olehnya.


Elang sudah tidak tahan ! Bila saja ia tidak sedang dalam masa hukuman, pemuda bernama Maxi itu sudah dipastikan babak belur di tangannya. Ia akan mengatakan pada pemuda itu untuk menjauhi Nayla karena gadis itu hanya miliknya seorang.


"El, kantin yuk ?" Ajak Rendi, teman Elang.


Sedari tadi ia memperhatikan Elang yang tengah sibuk memperhatikan seseorang. Dan Rendi tahu siapa yang diperhatikan oleh Elang.


"Ke kantin yuk, biar lebih jelas lihatnya," ajak Rendi lagi.


"Siallaaan lu," sahut Elang sambil tertawa kesal. Kesal karena ketahuan sedang melihat Nayla dari kejauhan.


"Ayo cepetan ! Mumpung lo gak lagi ketempelan,"


"Ketempelan ?" Elang berkerut alis tak paham.


"Ketempelan setan Vony," jawab Rendi sambil tertawa.


Bukannya tersinggung, Elang malah tertawa keras hingga beberapa orang melihat ke arahnya.


" Dia sakit apa, El ?" Tanya Rendi. Saat ini keduanya sedang berjalan menuju kantin sekolah. Rendi ingin mengisi perutnya yang terasa lapar, sedangkan Elang ingin melihat Nayla karena hatinya yang terasa kosong.


"Gak tahu," jawab Elang singkat.


"Lo gak nengok ?"


"Kagak," jawab Elang lagi.


"Pacar durhalek ( durhaka)" sahut Rendi sambil tertawa.


"Gue gak peduli," ucap Elang lagi. Kali ini intonasi suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.


Rendi tak meneruskan pembicaraannya mengenai Vony. Ia tahu jika Elang tak nyaman membicarakan gadis yang dipacarinya dengan terpaksa itu. Rendi juga tahu alasan kenapa Elang mau menjadi kekasih Vony. Kadang ia merasa kasihan pada Elang, tapi ia pun tak bisa membantu apa-apa.


Apa yang terjadi pada Rafa membuat teman-teman Elang waspada dan tak berani untuk ikut campur dalam masalah Elang karena tak mau berakhir di rumah sakit seperti Rafa.


Elang POV.


Membahas tentang Vony adalah salah satu hal yang paling tak aku inginkan. Bayangkan, harus membahas sesuatu yang kita benci, belum apa-apa perutku sudah terasa mual.


Satu Minggu ini mungkin hari-hari terbaik


Setelah aku memacari gadis itu. Keputusan yang aku sangat sesali sebenarnya, karena dengan begitu Nayla menjauh dariku.


Gadis itu terang-terangan menjaga jaraknya denganku. Minggu lalu, ia dengan berani menolak tawaranku untuk mengantarkannya pulang. Nayla lebih memilih untuk diantarkan oleh Maxi dan semenjak itu Nayla pun selalu menghindari tatapan mataku.


"Nay, apa kamu ingat ciuman pertama kita ?kalau aku, iya !!" Raung batinku.


"Ciuman itu selalu terbayang di setiap malam ku. Dan percayalah Nay, aku akan melakukannya lagi padamu. Jika saat itu terjadi, aku akan melakukan lebih dari sekedar menempelkan bibir saja. Aku akan melakukannya seperti di film-film, hingga membuatmu akan susah untuk melupakannya,"


"Woi El, beli apaan ngelamun mulu,"


Aku tersadar dari lamunan saat Rendi menepuk bahuku. Ternyata kita telah sampai di kantin, dan yang aku lakukan hanya melihat padamu Nay.


Bagaimana bisa kamu terlihat begitu cantik walaupun dari kejauhan. Kamu duduk di ujung ruangan dengan Maxi di hadapanmu. "Aku benar-benar cemburu, Nay" batinku meraung-raung tak karuan.


"Aku cemburu saat laki-laki lain mendapatkan perhatian darimu. Aku tak mau laki-laki lain sadar dengan segala pesona yang kamu punya hingga mereka pun menginginkan kamu, seperti halnya aku. Aku tak ingin kehilangan kamu,Nay,"


"Aku tak ingin laki-laki lain mengambil kesempatan untuk mendapatkan hatimu. Aku tak ingin seseorang membuatmu tertawa, karena akulah yang seharusnya melakukan hal itu padamu. Hatiku akan terbakar sampai tak bersisa jika kamu tersenyum, tapi bukanlah aku yang menjadi alasan senyummu itu,"


"Woi El !" Sentak Rendi.


"Ah sorry !" Ucapku sambil nyengir kuda.


Aku sibuk dengan pikiranku sendiri hingga kehadiran temanku pun terabaikan.


"Lihatlah Nay ! Ketika ada kamu maka hanya kamu yang jadi duniaku," mataku masih tak bisa melepaskan pandangannya pada gadis yang duduk di ujung ruangan itu.


Sepertinya Nayla tahu jika aku memperhatikannya, karena gadis itu melihat ke arahku dan tatapan mata kami terkunci untuk beberapa saat, tapi seperti hari-hari sebelumnya Nayla memalingkan wajahnya lebih dulu daripada aku. Gadis itu masih menghindariku.


Yang bisa aku lakukan hanya menarik nafas dalam dan berusaha untuk tidak memperhatikannya lagi saat ini. Aku tak ingin Nayla jadi takut padaku. Ingat ! Aku akan menjadi ciuman kedua bagi Nayla dan seterusnya, hanya aku yang boleh mencintai dan mencium gadis cantik itu!


Nayla POV


Sudah 15 menit aku duduk di kantin bersama teman-teman dan juga Maxi yang satu Minggu terakhir ini selalu bergabung dengan kami. Tentu saja aku tahu jika Maxi berusaha mendekati aku.


Seperti saat ini, ia bercerita tentang banyak hal dan tak sedikit yang membuatku tertawa. Tapi walaupun Maxi berada di depanku, jiwaku terasa tak ada di sini. Aku merasa hampa. Hatiku menolak kehadirannya.


Bukannya aku ke-GR an dan kepedean Maxi akan menyatakan perasaannya, tapi sebelum itu terjadi aku sudah memberikan sinyal-sinyal penolakan secara halus.


Seperti menolak ajakan dia yang katanya ingin pulang bareng setiap hari, aku juga menolak jika Maxi ingin membayarkan jajananku, aku juga menolak jika ia ingin makan berdua saja denganku. Tapi tentunya semua itu aku lakukan dengan cara yang halus. Bagaimanapun Maxi seorang pemuda yang baik hati. Aku tak ingin menyakiti hatinya.


Aku merasa bingung dengan diriku sendiri. Di mataku Maxi terlihat sempurna. Tampan, bertubuh tinggi, baik hati, tidak sombong, tidak kasar, menghargai aku banget tapi sayangnya dia bukan... Elang...


"See... Seandainya kamu tahu Kak El... Aku bahkan masih memikirkan kamu walaupun aku sedang berbicara dengan orang lain," aku tersenyum saat memikirkan itu. Maxi berbicara panjang lebar, sedangkan aku tersenyum karena memikirkan laki-laki lain.


"Ya Tuhan...," Gumamku pelan.


Deg !!


Tiba-tiba saja mataku bersitatap dengan mata laki-laki yang sedang aku pikirkan. Secara refleks aku palingkan wajahku karena tubuhku menjadi gemetar seketika. Pandangan mata Elang selalu membuatku tak berdaya.


Author POV.


Elang dan Nayla duduk di kantin dengan jarak yang terpaut cukup jauh. Walaupun mereka tak duduk di satu meja dan keduanya tengah asik berbincang dengan lawan bicara mereka masing-masing, tapi sebenarnya antara Elang dan Nayla sedang saling memikirkan.


Ketenangan Elang terganggu saat seorang guru dengan sengaja mendatanginya ke kantin. "Elang, kamu di tunggu di ruang guru," ucap guru magang yang masih berusia muda itu.


"Saya Bu ? Ada apa ?" Tanya Elang terheran karena selama 2 Minggu ini dirinya tak melakukan kenakalan apapun. Elang hanya sibuk memikirkan Nayla. Apa itu merupakan sesuatu yang dilarang hingga kini ia dipanggil ke ruang guru.


"Ada tamu yang pengen ketemu kamu," jawab guru muda itu.


"Sebentar kok," bujuknya lagi.


"Saya gak melakukan apapun loh, Bu," Elang membela diri karena memang itulah yang terjadi.


"Ayo El, gue temenin biar jadi saksi," ucap Rendy yang siap-siap berdiri.


"Gak usah, yang dipanggil cuma Elang saja,"


Elang melihat pada Rendi dan meminta temannya itu untuk tetap tinggal. Elang akan hadapi sendirian. Elang juga tak mau lagi membawa teman-temannya ke dalam masalahnya. Cukup kejadian Rafa membuat Elang jera.


Dengan kepala penuh tanda tanya Elang menuruti kemauan ibu guru muda itu, pergi ke ruang guru dan menemui seseorang yang katanya ingin bertemu Elang.


Elang mengetuk pintu sebelum ia masuk. Di ruang guru sudah menunggu bapak kepala sekolah dan ditemani oleh dua guru lainnya. Selain itu juga duduk seorang perempuan paruh baya dengan dandanan ala sosialita.


"Ayo masuk, El," ucap bapak kepala sekolah mempersilakan Elang untuk masuk ke dalam ruang guru.


"Ini yang namanya Elang?" Tanya tamu itu.


Elang hanya menganggukkan kepalanya.


"El, ini Ibu Maisaroh,"


"Cukup panggil saya Ibu Mey !!" protes tamu itu.


"Oh maaf, Bu Mey," bapak kepala sekolah meralat ucapannya.


"Beliau ini ibunya Vony," lanjut bapak kepala sekolah memperkenalkan tamunya itu pada Elang.


kata bergaris miring berarti pengucapannya dalam hati ya.


To be continued ♥️


Terima kasih banyak yang sudah vote, i love you so much !!!


Seperti yang aku janjikan, ayo kita crazy up sampai crazy 😚😚😚