
"Rafa gak sanggup jauh-jauh dari kamu... Ikut Rafa kemana pun Rafa pergi, yuk ? Kita akan hidup bersama dalam suka dan duka. Rafa janji bakal jagain Amelia sepenuh hati,"
Mata Amelia membola saat mendengar permintaan suaminya itu. Ia tak dapat menahan senyumnya. Amelia bangkit dari tempat duduknya, " mau, mau, mau !!!" Soraknya sembari melompat-lompat. Amelia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia berjalan mendekati Rafa dan mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan suaminya itu.
"Kamu yakin aku boleh ikut ke mana pun kamu pergi ?" Tanya Amelia sembari mengalunkan tangannya di leher Rafa. Ia bertanya dengan manjanya sehingga membuat Rafa semakin gemas saja.
"Boleh banget, malah harus ! Rafa tuh gak bisa jauh-jauh dari kamu," jawab Rafa dengan menatap penuh cinta pada isterinya itu.
"Hidup Rafa serasa hampa kalau jauh dari Amelia. Bagaikan gurun tanpa hujan... Bagaikan mmmpphhhhh," belum juga Rafa menyelesaikan gombalannya, Amelia sudah membekap mulut suaminya itu dengan bibirnya.
Ini kali pertama Amelia mencium Rafa lebih dulu hingga membuat mata lelaki itu membola karena tak percaya. Rafa balas ciuman Amelia dengan sama inginnya. Bahkan ia menahan kepala sang istri karena tak ingin cepat-cepat menyudahinya.
Rasanya sungguh luar biasa. Dadanya menghangat dan perutnya seperti tergelitik banyak kupu-kupu beterbangan di dalamnya. Hal yang tak pernah Rafa bayangkan sebelumnya. Mengingat Amelia yang sangat judes dan galak padanya. Sungguh Rafa sedang dalam euforia bahagia.
Nafa keduanya menderu terengah-engah saat tautan bibir mereka terpisah. Dahi mereka menempel satu sama lain dengan ujung hidung keduanya yang saling bersentuhan pelan.
"Tapi bagaimana kata Papi nanti ?" Tanya Amelia takut-takut. Tentunya sang Papi sudah susah payah untuk menyekolahkan nya hingga menjadi seorang dokter yang sangat diimpikannya.
Rafa tersenyum menatap wajah istrinya itu. "Nanti biar Rafa yang bicara sama Papi untuk meminta izin pada beliau. Sayangnya Rafa juga masih boleh kerja kok nanti atau mau jadi apapun boleh asal jangan jauh-jauh dari Rafa ya," pintanya sambil menatap Amelia penuh puja.
Amelia anggukan kepalanya tanda setuju. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Rafa, suaminya. Hidup berjauhan selama satu Minggu yang lalu sungguh membuatnya sangat tersiksa.
Tanpa Rafa tahu, Amelia merasakan rindu dengan hebatnya pada suaminya itu. Bagai hidup segan mati tak mau, Amelia menjalani hari-harinya.
Hidupnya terasa sepi dan hampa tanpa kehadiran Rafa. Tapi, ia pun belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Maklum Rafa akan langsung me-reog tak karuan jika Amelia menunjukkan rasa cintanya.
Cinta ?
Amelia mengulum senyumnya. Ya ! Amelia sangat mencintai lelaki itu sepenuh hati. Rafa adalah cinta pertamanya walaupun cara ia jatuh cinta tak seindah cerita orang pada umumnya.
Pikiran Amelia melayang pada masa remajanya dulu. Di mana Rafa sering mengganggunya dan itu membuatnya kesal. Tapi, lama-lama rasa kesal itu berganti sebuah rasa yang tak bisa Amelia ungkapkan dengan kata-kata.
Jika pada awalnya Amelia kesal karena Rafa selalu menggodanya, tapi ia juga akan merasa kehilangan jika tak mendengar gombalan receh lelaki itu.
Ah... Cinta sangat membingungkan ! Tapi Amelia sangat sadar jika saat ini dirinya sangat mencintai Rafa. Tak hanya saat ini saja, tapi sejak ia remaja. Amelia pun tersenyum saat memikirkan itu semua.
Rafa melihat heran pada sang istri yang senyum-senyum sendiri. "Kok ketawa ?" Tanya Rafa penasaran. Ia masih menempelkan dahinya dengan dahi Amelia. Jara mereka begitu dekat dan Amelia masih mengalunkan tangannya di leher Rafa.
"Aku tuh cinta sama kamu," jawab Amelia dengan jelasnya hingga membuat Rafa langsung terdiam terpaku saat mendengarnya.
Rafa tercengang, matanya membola dengan kedua bibirnya yang sedikit terbuka. Bahkan kedua tangannya yang memeluk erat tubuh sang istri terlepas begitu saja karena terkulai lemas seolah tak bertenaga.
"Ra- Rafa ?" Tanya Amelia seraya menepuk-nepuk pipi suaminya itu.
"Please jangan bikin aku takut deh ?" Rengek Amelia karena jiwa Rafa sepertinya tidak ada pada tempatnya lelaki itu menatap kosong me depan.
"Ra- Rafa ? Tuh kan kumat lagi !!!" Rengekan Amelia semakin menjadi-jadi. Ia kembali menepuk-nepuk pipi Rafa agar kesadaran suaminya itu kembali.
Sedangkan Rafa...
Jiwanya sedang melayang ke nirwana, kata-kata cinta yang Amelia ucapkan telah membuatnya mabuk kepayang. Sudah lama Rafa menunggu kata-kata sakral itu keluar dari mulut sang istri.
Dan ketika Amelia mengatakannya, Rafa merasa tak percaya. "Aku tuh cinta sama kamu, Aku tuh cinta sama kamu, Aku tuh cinta sama kamu,
Aku tuh cinta sama kamu," kepala dan telinga Rafa dipenuhi oleh kata-kata cinta Amelia hingga ia tak bisa mendengarkan rengekan sang istri.
To be continued