The Unexpected Love

The Unexpected Love
Bingkisan



Sudah berlalu 6 hari sejak kejadian naas yang menimpa Elang. Pemuda itupun sudah berpindah ke rumah sakit di mana Papinya bekerja. Elang pun izin tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolahnya dengan alasan baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas.


Tak ada seorangpun yang tahu tentang kejadian sebenarnya yang terjadi pada Elang kecuali kedua orangtuanya dan sang kakak juga beberapa warga yang menemukan Elang yang telah ditutup mulutnya dengan banyak rupiah oleh papi Elang agar mereka tak melaporkan kejadian tersebut pada pihak kepolisian.


Demi menjaga citra Elang agar tak semakin buruk, sang ayah rela merogoh kantong dalam-dalam dan mengeluarkan banyak uang untuk menutupi semuanya. Ia lakukan semua karena Elang tak mau juga mengakui alasan di balik kejadian mengerikan itu. Mereka juga tak punya bukti apapun untuk menjerat para pelaku karena di sekitar gedung terbengkalai itu tidak ada kamera cctv.


Hari ini hari Minggu, ibu Nayla sedang membuat kue talam yang dibantu anak gadisnya itu. Kemarin, Amelia mengajak Nayla untuk menengok Elang. Tentu saja Nayla pun antusias untuk menyetujuinya tapi sebelum ia mengiyakan pada Amelia, gadis lugu itu terlebih dahulu meminta izin pada ayah ibunya untuk menemani Amelia pergi ke rumah sakit.


Ya, Nayla meminta izin dengan alasan menemani Amelia bukan untuk melihat keadaan Elang walaupun sebenarnya adalah ia sangat melihat keadaan pemuda itu dan beruntung bagi Nayla karena ibunya memberikan izin bahkan beliau membuat kue tradisional untuk di bawa Nayla ke rumah sakit.


Beberapa hari terakhir ini Nayla begitu tersiksa dengan rindu yang menggebu. Tak ada yang tahu jika setiap malam-menjelang tidur, Nayla melantunkan banyak do'a untuk Elang dengan bercucuran air mata hingga membasahi permukaan bantalnya.


Nayla kadang mentertawakan dirinya sendiri karena bersikap seperti itu padahal Elang bukanlah kekasihnya. Tapi hatinya dengan lancang terus saja merindukan dan juga mengkhawatirkan lelaki jangkung itu.


Nayla juga selalu menunggu informasi dari Amelia tentang keadaan kakaknya itu tanpa berani bertanya lebih dulu. Bukan tanpa alasan Nayla melakukan hal itu. Ia dan Amelia sudah berteman lama. Nayla takut jika perasaan yang dimilikinya untuk Elang bisa merusak persahabatannya dengan Amelia.


Nayla bersenandung lagu Asmalibrasi dengan ceria, saat ini ia tengah menata kue talam dan puding coklat buatannya pada wadah plastik untuk dibawa kepada pujaan hatinya. Nayla tahu sekali jika Elang sangat menyukai puding coklat oleh karena itu ia sengaja membuatnya.


"Udah Nay, kamu siap-siap dulu. Nanti Amel keburu datang," ucap ibu Nayla sembari mengambil alih apa yang sedang Nayla kerjakan.


Nayla berlalu pergi ke kamarnya, ia segera membuka pintu lemari dan memilih baju yang akan dikenakannya. Nayla mengambil beberapa gantungan baju dari dalam lemari dan mencobanya di depan cermin. Ia amati dengan serius tiap baju yang dipilihnya, Nayla ingin terlihat cantik di mata Elang walaupun menurutnya mungkin lelaki itu tak akan peduli.


Setelah memilih apa yang akan dikenakannya, Nayla segera melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


"Naaay... Amel udah datang nih," ucap Ibu Nayla dengan volume suara yang meninggi.


Nayla yang masih mematut dirinya di depan cermin segera mengambil tas selempang yang berada di atas meja belajarnya. Namun sebelum ia pergi meninggalkan kamarnya, Nayla kembali melihat bayangan dirinya di dalam cermin entah untuk yang ke berapa kalinya. Memastikan jika dirinya sudah terlihat sempurna.


"Ini," ibu Nayla memberikan paper bag berisikan 2 macam kue di dalamnya yang telah di kemas dalam kotak-kotak kardus agar terlihat rapi.


"Hati-hati bawanya," lanjut sang ibu pada anak gadisnya itu.


Nayla pun meraih paper bag itu dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda paham atas perkataan Ibunya.


"Nayla pergi ya, Bu" pamit Nayla sembari mencium punggung tangan ibunya.


"Nanti biar kakakmu yang jemput," ucap Ibu.


"Iya," sahut Nayla menyetujui.


Nayla berjalan menuju ruang depan dimana Amelia sang sahabat telah menunggu, diikuti oleh ibunya dari arah belakang.


Amelia langsung berdiri saat Nayla muncul dari dalam rumah. "Cakep banget, Nay," puji Amel pada sahabatnya itu.


Nayla terlihat cantik dengan skini jeans warna hitam, kaos putih dan dipadukan cardigan hitam yang panjangnya mencapai lutut. Seperti biasa, Nayla selalu berpakaian serba panjang.


"Bagus kah ? ini baru dibelikan oleh Mbak Nadia," sahut Nayla sembari tersenyum bangga.


"Ayo segera pergi ! salam buat Mami ya, Mel. katakan maaf ibu belum sempat menengok Elang lagi. Semoga lekas sembuh ya," Ucap ibu Nayla. Beliau sudah lebih dulu melihat keadaan Elang di rumah sakit tanpa ditemani Nayla.


"Iya bu, Nanti Amel sampaikan," sahut Amel sambil berpamitan.


***


Dada Nayla berdebar lebih kencang saat mobil yang ditumpanginya telah berbelok memasuki area rumah sakit di mana Elang dirawat. Kedua telapak tangannya yang basah karena keringat saling meremas di atas pangkuannya karena ia benar-benar tengah merasa gugup.


Untung Amelia tak menyadarinya karena gadis itu duduk di bangku depan bersama sepupunya yang sedang menyetir mobil.


"Nay, ayo turun," ajak Amelia saat mobil yang mereka tumpangi telah berhenti dengan sempurna.


Nayla segera meraih paper bag yang ia bawa dan ia langsung merapikan bajunya saat turun dari mobil.


Ia melongok, melihat isi paper bagnya dan tersenyum saat ingat bagaimana susah payahnya ia membuat puding susu coklat beserta vla vanila nya. Walaupun begitu, Nayla merasa sangat senang karena itu ditujukan untuk sang kekasih hati.


"Nay, Ayo !" ajak Amelia dan Nayla pun mengikutinya.


Keduanya berjalan berdampingan memasuki lobby utama rumah sakit. Sepupu Amelia tak ikut karena ia ingin membakar benda bernikotin terlebih dahulu di coffee shop yang letaknya tak jauh dari rumah sakit itu.


Saat ini Nayla tengah berdiri di depan pintu lift sembari mengamati angka-angka yang terus berganti dan dadanya kembali berdetak kencang saat pintu lift itu terbuka dan ia pun memasuki benda berbentuk balok itu yang akan segera membawanya ke lantai yang dituju.


Debaran jantungnya kian menggila ketika hampir sampai di ruang rawat inap Elang. "3..0..7.. oh itu kamar Elang, aku juga baru hari ini nengok dia soalnya gak boleh sama Mami," ucap Amel sembari menunjuk sebuah pintu bernomor kan angka yang tadi Amelia sebutkan.


"nggak tahu kenapa katanya Bang El kangen banget aku tengokin" lanjutnya lagi sambil tertawa heran.


sedangkan Nayla hanya diam saja sambil mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda paham apa yang diucapkan oleh Amelia.


Nayla kian gugup saja saat Amelia mulai meraih gagang pintu itu dan dengan perlahan membukanya.


keduanya melangkahkan kaki dengan perlahan memasuki ruang rawat Elang.


Jantung Nayla serasa teremas saat matanya bersitatap dengan netra Elang yang berwarna coklat terang itu. Ada banyak rasa kerinduan yang saling terpancar dari mata keduanya tanpa mampu untuk terucapkan. Elang dan Nayla sama-sama membisu dengan tatapan mata yang saling terkunci. seolah waktu membeku untuk beberapa saat.


"kata Mami, kamu kangen aku ya ?" goda Amelia pada kakaknya itu hingga Elang Dan Nayla pun kembali ke dunia nyata.


"hah ?" gumam Elang seperti orang linglung.


Amelia mencerdikan bibirnya karena kesal, "gimana sih kata mami kamu kangen aku, sampai minta ditengokin. Aku ajak Nayla karena bang El tahu kan aku ma dia kaya kembar yang tak terpisahkan," Amelia terkekeh geli ketika mengatakan itu.


"i-ini dari ibu...,"


Ucapan Nayla terhenti saat seorang gadis cantik datang memasuki ruangan itu dengan membawa banyak bingkisan di tangannya. Bahkan ia membawa sebuah balon berwarna biru bertuliskan"Get well soon Elang" dengan banyak pita yang menjuntai.


Melihat hal itu Nayla segera menyembunyikan paper bag yang dibawanya dibalik tubuhnya.


to be continued ♥️