
" Rio ???" Tanya Nayla sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya. Mata Nayla pun ikut membola sempurna saat melihat kekasihnya lah yang berada di sana dengan seorang wanita.
Laki-laki yang tengah mengendusi ceruk leher pasangannya itu sontak mengangkat muka dan menolehkan kepala pada seseorang yang memanggil namanya.
Sedangkan sang wanita menatap sayu dengan wajah memerah pada Nayla.
" Lu ngapain di sini ?" Tanya Rio panik. ia langsung bergerak menjauh dari wanita yang sedari tadi dicumbunya. Tak hanya itu, Rio juga langsung berdiri dan menatap geram pada Nayla. Ia marah karena telah tertangkap basah.
" Udah gue bilang kan ? Diam di apartemen !! Apa kurang semua makanan yang udah gue kirimin ?" Tanya Rio dengan suara mendesis karena tak ingin seorang pun mendengarnya. Ia edarkan pandangannya, takut dirinya menjadi pusat perhatian. Saking emosinya membuat Rio lupa menggunakan kata aku-kamu pada Nayla.
" Jangan sentuh gue !" Ucap Nayla dengan sama mendesisnya. Ia menepis kasar tangan Rio yang berusaha mencengkeram lengannya. Nayla merasa jijik pada laki-laki yang melakukan tindakan amoral di tempat umum itu.
Sikap Rio melunak, ia tak mau Nayla meledak marah di tempat ini karena takut namanya tercemar. " Ayo kita pulang, Sayang. Kita bicara baik-baik, ini tak seperti yang kamu kira," bujuk Rio dan ia kembali berusaha menyentuh lengan Nayla namun lagi-lagi gadis itu menepisnya kasar.
" Rio, apa yang kamu lakukan ? Kamu mau ninggalin aku?" Tanya teman wanitanya. Terlihat rasa khawatir yang tak bisa disembunyikan dari wajah wanita itu.
Bukannya menanggapi perkataan teman wanitanya itu, Rio malah merasa marah karena penolakan Nayla." Jangan sok suci kamu, Nay ! Wanita seperti kamu di hotel mewah seperti ini pasti untuk menunggu laki-laki tua yang akan memberimu banyak uang. Pantas saja kamu selalu menolak untuk aku sentuh. Cih !!" desis Rio penuh sindiran.
" Plak !!!" Belum juga Nayla menjawab, tangan Amelia lebih dulu sampai di pipi laki-laki yang masih berstatus sebagai kekasi Nayla itu.
Mata Rio membulat sembari mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan Amelia yang dilakukannya dengan sekuat tenaga. Entah kapan Amelia ikut berdiri. Seingat Nayla, sahabatnya itu tadi masih menikmati makan siangnya.
" Jaga omongan Lo, tol*l !!! Jangan pernah ngomong jelek soal temen gue !!" Amelia berbicara dengan suara meninggi. Ia tak peduli jika kini dirinya menjadi pusat perhatian.
Beberapa pasang mata sontak melihat pada mereka. Tapi karena sibuknya jam makan siang membuat tak ada pegawai hotel yang berusaha melerai pertikaian mereka.
" Siapa Lo ?" Tanya Rio tak suka. Walaupun dalam hatinya ia merasa terkejut karena melihat wajah Amelia yang sangat cantik itu.
" Gak penting, gue siapa. Yang pasti Lo jangan rendahin temen gue !! Ngerti lo ? asal lo tau, Nayla bukan cewek murah*n yang seperti tadi lo bilang. Lo nya aja yang cowok bajinga*n" Amelia berkata kasar dengan suara meninggi dan berkacak pinggang.
" Lo sebaiknya pergi sama cewek Lo ! Nayla gak pantes buat sampah macam Lo !" Lanjut Amelia masih diliputi rasa emosi.
Nayla yang terkejut hanya bisa melihatnya dalam diam. Ia ingat sedari dulu Amelia selalu membelanya. Nayla memang gadis pemalu yang jarang bicara sedangkan Amelia adalah gadis judes nan galak dengan emosi yang meledak-ledak.
" Jangan salahin gue, karena gue nyari kesenangan di luar. Temen lo itu... Cewek gak guna ! Dia selalu menolak untuk gue sentuh !" Desis Rio tepat di wajah Amelia.
" Iya Nay ! Semua ini salah kamu !!! Salah kamu yang tak pernah mengizinkan aku untuk mengekspresikan rasa cinta aku sama kamu," kini Rio beralih pada Nayla. Ia berusaha untuk menumpahkan segala kesalahannya pada Nayla.
" Hah ? Apa ?" Tanya Nayla berkerut alis tak paham.
" Seandainya kamu biarin aku untuk mencintai kamu dengan caraku, pastinya aku tak akan seperti ini. Ini semua salah kamu, Nay. Kamu yang buat aku melakukan hal ini,"
" Bukan salah kamu, Nay !! Jangan dengerin orang gila ini !" Potong Amelia cepat.
" Kalau cowok benar-benar cinta, dia akan menghormati batasan kita. Dia akan menjaga kita, bukan menjerumuskan kita ke hal-hal yang akan bikin kita menyesal karena melakukannya m," lanjut Amelia lagi.
" Aku tahu....," Ucap Nayla menimpali ucapan sahabatnya itu.
" kalau kamu benar-benar cinta aku... Seharusnya kamu menghormati aku dan memperlakukan aku dengan penuh kasih sayang bukan naf*u," ucap Nayla pada Rio.
Sang wanita yang merupakan teman mesra Rio masih duduk di kursinya. Ia sibuk menutupi lehernya karena banyak tanda kemerahan di sana. Tapi sedari tadi ia pun memperhatikan Rio yang sedang tertangkap basah.
Sebenarnya si wanita tahu jika Rio telah mempunyai seorang kekasih. Ia merasa tak bersalah karena Rio lah yang datang padanya.
Rio edarkan pandangannya dan melihat makin banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya. "Ayo kita pulang, Nay. Kita bicarakan ini baik-baik di apartemen kamu... Ah lupa.... Aku saja gak boleh masuk ke apartment kamu ya... Jadi jangan salahin aku datangnya ke apartemen yang lain," Rio masih saja berusaha untuk memojokkan Nayla. Ia melampiaskan rasa kesal pada Nayla yang sudah menumpuk itu.
" Gak heran, teman gue ngelarang Lo datang ke apartemennya... Yang Nayla lakukan hanya melindungi dirinya dari predator segs kaya Lo," Amelia tersenyum miring penuh ledekan pada Rio dan membuat laki-laki itu kesal karenanya.
" Diem Lo ! Jangan ikut campur !" Hardik Rio.
" Ayo Nayla... Kita pulang dan perbaiki semua," bujuk Rio pada Nayla yang tengah melihatnya dengan jijik.
" Rio !! Terus aku bagaimana ?" Rengek teman wanita Rio.
" Tak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita berdua. Hubungan kita berakhir sampai di sini," ucap Nayla dengan sangat jelasnya. Ia memutuskan hubungan cintanya dengan Rio saat ini juga.
Rio yang mendengar kata-kata perpisahan dari mulut Nayla merasa tak percaya. " Kamu bercanda kan Nay ?" Tanya Rio tak terima.
" Aku tak pernah bicara se-serius sekarang ini. Mulai detik ini kita sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi," jawab Nayla tanpa ragu.
" Oke-oke.. aku yang salah... Aku minta maaf, tapi ku mohon berikan aku kesempatan ke dua, Nay. Setelah ini hanya ada kamu... aku janji tak akan berpaling pada wanita manapun lagi," bujuk Rio yang masih tak terima saat Nayla memutuskan hubungan cinta mereka.
"Rio !! Apa yang kamu lakukan ? Bagaimana kalau aku hamil gara-gara kamu semalam?" Tanya wanita itu. Ia berdiri tepat di samping Rio dan mencengkeram erat lengan laki-laki itu.
" Diam !!" Geram Rio. "Kalaupun kamu hamil pun, itu pasti buka anakku !! Lo pikir gue gak tau, Lo tidur sama siapa aja ?" Lanjut Rio dan lagi-lagi Rio mendapatkan sebuah tamparan. Namun kali ini bukan Amelia yang melayangkannya.
" Jahat kamu, Rio !!!" Ucap wanita itu dengan air mata berhamburan.
" Sebaiknya mas dan mbaknya membereskan masalah di luar hotel," ucap seorang laki-laki yang mengenakan seragam pekerja hotel tersebut.
" Saya sudah tak ada urusan apa-apa lagi," ucap Nayla sambil tersenyum dan ia pun hendak kembali ke mejanya untuk melanjutkan makan siang yang tadi sempat tertunda.
" Nayla jangan begini !! Aku seperti ini karena kamu !! Ayo kita bicara dan berbaikan ! semuanya gak salah aku aja" Rio masih ingin membuat Nayla merasa bersalah hingga dirinya diberi kesempatan lainnya oleh gadis itu.
" Rio !! Terus aku gimana ?" Tanya wanita yang terus menggelayut di lengan laki-laki itu.
" Kamu bisa diam gak sih ?" Tanya Rio dengan suara meninggi. " Dasar jal*ng penggoda," maki Rio dan lagi-lagi wanita itu menamparnya dengan sekuat tenaga.
Rio pun tersulut emosi, ia pun melayangkan tangannya untuk membalas tapi seketika seorang petugas keamanan mencegahnya untuk melakukan itu.
Pasangan selingkuh itu digiring keluar oleh petugas keamanan. Mereka menurut untuk pergi karena pihak hotel mengancam keduanya akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib karena menganggu ketenangan.
" Nay... please....," Rio masih tolehkan kepalanya berusaha untuk berbicara pada Nayla padahal tubuhnya sedang diseret paksa untuk pergi keluar.
Nayla diam tak bergeming, ia menatap nanar punggung Rio yang kian menjauh.
"Sabar ya Nay... Mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu," ucap Amelia sembari menepuk halus pundak sahabatnya itu. seolah-olah memberikan kekuatan untuk sang sahabat dari tepukkannya itu.
"Its oke, aku gak apa-apa kok," sahut Nayla dan ia pun mengajak Amelia untuk kembali ke mejanya dan melanjutkan makan siang mereka.
Nayla terdiam di atas tempat duduknya. Memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia tak merasa sedih atau kehilangan karena pada dasarnya ia tak mencintai laki-laki itu. Nayla hanya merasa syok saja. Ia terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.
" Nay....udah dong jangan dipikirin...,"
Nayla pun mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Amelia. " Aku gak apa-apa kok... Beneran...,"
" Kita mungkin ditakdirkan untuk gak punya pacar Nay, tapi langsung punya suami aja," ucap Amelia sambil tertawa.
Nayla yang mendengar itu pun ikut tertawa. Kisah cintanya kembali kandas dengan atau tanpa bantuan Elang.
" Ya Tuhan..," gumam Nayla.
" Dan yang cowok tadi bilang.. jangan kamu pikirin ya, Nay. Itu semua bukan salah kamu. Dianya aja yang breng-sek,"
" Hu'um dia yang salah ketahuan selingkuh, malah nyalahin aku...," Sahut Nayla menyetujui.
" Ya gitulah, Nay. Namanya juga cowok kadang salah kadang gak bener," ucap Amelia yang sama sekali tak berpengalaman tentang hubungan asmara itu. Ia mengatakannya hanya untuk menghibur sang sahabat yang baru putus cinta.
Tawa Nayla meledak seketika saat mendengar ucapan Amelia.
To be continued ♥️
Thanks for reading 🥰
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya..
Kata-kata diatas hanya sebatas candaan yaa jangan dimasukkan ke hati apalagi ke lambung.
maaciw zheyeenk 😚