
Cepat-cepat Elang membacanya. "El, bilang sama adek lu yang judes itu angkat telepon gue. Please...,"
Elang langsung melihat pada Amelia yang duduk di seberang Nayla. Wajah Amelia terlihat sangat horor setelah mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal itu.
Gadis berkulit putih pucat itu tengah menekuk muka, bahkan ia hanya melirik Elang dengan ujung mata.
"Lagi makan," balas Elang singkat dengan sebelah tangannya karena tangan yang lain tengah sibuk berpegangan tangan dengan Nayla di bawah meja. Ia berharap si penelepon mau mengerti dan bersabar menunggu.
Cepat-cepat Elang masukan benda pipih itu ke dalam saku celananya. Sebelum Maminya memergoki Elang memainkan ponselnya.
"Yang, aku mau sambal goreng kentangnya," ucap Elang lirih tapi ternyata masih bisa terdengar.
Di seberang sana, Amelia mengangkat sebelah bibir atasnya tanda tak suka "Ayang-ayang ! Temen aku itu !!" Ucap Amelia dengan judesnya. Dirinya merasa cemburu karena sang sahabat kini dikuasai oleh Elang.
"Tapi dia calon istri aku," sahut Elang tak ingin kalah.
Amelia langsung memelototkan matanya pada Elang. Elang hendak membalas adiknya itu, namun ia mendapatkan sentuhan lembut di atas pahanya oleh Nayla. Mengisyaratkan agar Elang untuk mengalah. Elang pun menahan diri untuk tak membalas adiknya.
"Makanya Mel, kamu juga harus cepat-cepat punya 'Ayang' jadinya kan enak ada yang manjain dan perhatian sama kamu," ucap Maminya seraya melihat pada anak gadisnya.
"Nope ! Aku gak mau punya 'ayang', Aku mau kerja, kerja, kerja, terus jadi aunty rich buat anak-anaknya Nayla," jawab Amelia
"Anak-anak Nayla, anak-anak aku juga !" Protes Elang. Lagi-lagi Nayla menyentuh Elang di bawah meja untuk menenangkannya, walaupun perasaan Nayla sendiri menjadi tak karuan karena perkataan Elang.
Dan Elang merasa senang jika Nayla melakukan itu. Menyentuh dirinya untuk menenangkan. Karena dengan begitu ia tahu Nayla peduli padanya.
"Jangan galak-galak, Mel. Nanti kamu gak ada yang naksir," lagi-lagi Mami Elang yang berbicara.
"Biarin Mi... Karena aku memang memutuskan untuk tidak menikah ," jawab Amelia.
" Bohong ! Kemarin-kemarin dia bilang pengen dijodohin sama anak temen Papi yang kaya biar gak usah kerja," ceplos Elang.
Mendengar pernyataan Elang, sontak membuat Amelia memberikan tatapan horor pada kakaknya itu. "Dasar cepu !" Desisnya tajam.
"Sudah-sudah ! Kaliaannnnn....," Desis Mami Elang kesal.
"Kamu Elang, ada calon istri aja masih berantem sama adikmu. Dan kamu Amelia, coba galak dan judesnya dikurangi sedikit saja ! Gemes Mami tuh," lanjut Mami Elang seraya mendelikkan mata pada kedua anaknya itu.
Keduanya langsung tundukkan kepala.
Seperti dulu, Elang dan dan Amelia tak pernah berani menjawab omelan Mami mereka.
Kali ini Elang menyentuh paha Nayla untuk meminta pertolongan tapi Nayla malah menepisnya. Nayla kesal karena Elang masih saja menyahuti Amelia yang sedang sensitif itu.
Semua kembali fokus pada makan siang mereka, kecuali sang Papi yang sedari tadi memperhatikan anak gadisnya. Dalam sudut hatinya, ia merasa takut jika Amelia serius dengan rencananya yang tak ingin menikah.
Papi Elang takut jika anak gadisnya itu memutuskan untuk hidup menyendiri tanpa seorang pendamping. Dan sepanjang yang dirinya tahu, Amelia tak pernah mempunyai seorang kekasih.
***
Setelah selesai makan siang. Nayla dan Amelia memutuskan untuk menonton film di bioskop. Jika dahulu Elang dipaksa ikut karena untuk dijadikan supir tapi kali ini ia sendiri yang memaksa untuk ikut. Tentu saja karena ia ingin terus berdekatan dengan Nayla.
Ada lagi hal yang berbeda lainnya. Jika dulu Amelia duduk di depan menemani Elang menyetir mobil, sekarang Nayla lah yang melakukannya dan sepanjang jalan Elang tak segan-segan untuk menggenggam jemari tangan Nayla.
Hal berbeda lainnya, jika dulu Elang selalu membeli 4 tiket bioskop agar tak seorangpun duduk di sebelah Nayla. Kini ia hanya perlu membeli 3 saja karena ia sendiri yang akan duduk di sebelah gadisnya itu.
"Benarkah kamu lakukan itu ? Membeli 4 tiket ?" Tanya Nayla dan Elang pun menganggukkan kepalanya sebagai pembenaran.
"Pantas saja tak ada seorangpun yang duduk di sebelah aku jika kita nonton film bersama," ucap Nayla. Ia tak percaya jika dirinya dan Elang memiliki rasa yang sama sejak lama.
Amelia tersenyum mendengarnya. Ia merasa senang karena Elang mendapatkan gadis yang sangat baik yaitu sahabatnya sendiri dan ia juga ikut merasa senang untuk Nayla karena gadis itu mendapatkan balasan cinta dari lelaki yang sangat dicintainya itu.
Terbersit rasa iri dari Amelia yang ingin merasakan hal seperti itu. Tapi cepat-cepat ia menepisnya saat mengingat bagaimana sakitnya menunggu dan menahan rindu yang tak berkesudahan.
Lamunan Amelia berakhir karena ponselnya yang kembali berbunyi. Kesal karena si penelepon tak mau menyerah ia pun mematikan daya ponselnya.
Apa yang Amelia lakukan tentu saja terlihat oleh Elang dan ia tahu siapa yang menghubungi adiknya itu.
Beberapa hari lalu, Papi Elang tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta setelah mengikuti seminar kesehatan di luar negeri. Beliau pulang lebih awal karena anak lelakinya yang ingin segera pergi menemui orang tua sang kekasih dan mengikat gadis itu untuknya.
Sebagai seorang ayah yang mendukung kebahagiaan sang anak, Papi Elang yang lebih dikenal sebagai dokter Alan itu pun memutuskan untuk pulang.
Siang itu keadaan bandara cukup sibuk. Papi Elang masih memantau pertemuan melalui MacBook miliknya sembari menunggu jemputan Elang yang sedikit terlambat. Ia duduk di sebuah bangku ditemani secangkir kopi.
Perhatiannya teralihkan saat seorang pemuda yang sedang berjalan tergesa-gesa tak sengaja menabrak kopernya.
"Maaf, " kata pemuda itu sembari membetulkan kembali koper yang ia tabrak.
Bukannya pergi tapi pemuda itu malah berdiri dihadapannya. "Om Alan ? dok-dokter Alan ?" Tanya pemuda itu ragu-ragu.
Papi Elang pun mengangkat wajahnya dan melihat pada pemuda yang bertubuh tinggi tegap itu. Walaupun pemuda itu tak setinggi anak lelakinya, Elang.
Papi Elang menatapnya lekat-lekat, ia berpikir mungkin pemuda ini adalah salah satu pasiennya. Maklum Papi Elang adalah dokter senior yang cukup ternama dan memiliki banyak pasien. "Ya saya," sahut Papi Elang singkat.
"Om ingat dengan saya ?" Tanya pemuda yang langsung mendudukkan tubuhnya tepat dihadapan papi Elang padahal ia belum dipersilakan.
Wajah pemuda itu terlihat senang dan juga antusias membuat Papi Elang tak enak untuk memintanya pergi, padahal ia sedang melakukan teleconference.
"Ya ?" Papi Elang berusaha mengingat-ingatnya. "Apa kamu teman Elang ?" Tebak nya. Karena ia perhatikan pemuda itu pastinya seusia dengan Elang.
"Ya, Om ! Aku Rafa. Teman Elang yang dulu om rawat waktu di SMA. Saat Rafa dikeroyok orang sampai tak sadarkan diri berhari-hari," jawabnya.
"Aaahhh ya ! Om ingat.. bagaimana kabar ayah ibumu ?" Tanya Papi Elang.
Dulu, selama merawat Rafa, hubungannya menjadi dekat dengan orang tua pemuda itu karena kedua orangtua Rafa tak pernah meninggalkan rumah sakit tempat anaknya dirawat. Bahkan sang ayah yang merupakan duta besar, mengajukan cuti kerja untuk menemani anak semata wayangnya.
"Mama dan Papa alhamdulilah baik, Om," jawab Rafa.
"Bagaimana kabar Amelia, Om ? Dimana Amelia sekarang ? Apa sudah menikah ?" Tanya pemuda itu beruntun. Tanpa bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.
Papi Elang mengernyitkan dahi saat mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia sedikit terheran. "Loh bukannya kamu ini temanya Elang ?" Tanya Papi Elang.
"I-iya om, saya teman Elang," jawab pemuda itu sembari menundukkan kepalanya malu-malu.
"Ta-tapi saya kenal dengan Amelia juga," lanjutnya lagi.
Dan itu cukup masuk akal. Tentu saja ia akan kenal Amelia karena ia berteman dengan Elang.
"Amelia baik, Elang juga baik. Keduanya sedang di Jakarta," jawab Papi Elang.
"Apa saya boleh menghubungi Amelia ? Eh maksudnya minta nomor ponsel Amelia? Eh Elang ! Ya Tuhan belibet... Maafin Rafa, om," Rafa nyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
Papi Elang tersenyum melihatnya. "Elang mau jemput Om, kamu bisa bertemu dengannya nanti," jawab Papi Elang.
"Ta-tapi saya lagi terburu-buru, Om. Lagi ngejar pesawat. Bila om berkenan, saya minta nomor ponsel Elang. Dan bolehkah kami bertemu ?"
Papi Elang ingat jika Rafa anak yang sangat baik, dan pemuda itu selalu berada di pihak Elang dan membelanya. Tentu saja papi Elang memberikan nomor kontak anaknya itu pada Rafa.
"Kamu bekerja dimana ?" Tanya Papi Elang.
"Departemen luar negeri, Om... Rafa banyak bertugas ke luar negeri dan ini kebetulan sedang berada di Indonesia. Tapi beberapa hari lagi Rafa pulang lagi ke sini. Bolehkah Rafa ketemu Amelia, Om ?"
Lagi-lagi Papi Elang mengernyitkan keningnya.
"Elang ! Astaghfirullah ini lidah... Amelia terus ! maksud Rafa, Elang," ucapnya salah tingkah.
Papi Elang tersenyum melihatnya. Ia menatap wajah panik pemuda di hadapannya. Tentu saja dirinya tahu jika pemuda itu memiliki"sesuatu" pada anak gadisnya.
Mengingat Rafa adalah pemuda yang baik hati, Papi Elang pun memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Amelia. "Ini nomor Amelia," ucapnya dan Rafa menatapnya tak percaya.
Pemuda itu menatap wajah Papi Elang dengan tak berkedip untuk beberapa detik.
"Kamu gak mau ?" Tanya papi Elang seraya berniat mengambil ponselnya kembali.
"Ma-mau, Om !" Panik Rafa saat ia melihat Papi Elang hendak memasukkan lagi ponselnya itu ke dalam saku.
Cepat-cepat Rafa mencatat nomor telepon Amelia dan juga Elang karena ia harus segera pergi. Setelah itu ia berpamitan pada Papi Elang dan tak lupa untuk mencium punggung tangannya sebagai tanda penghormatan.
Pemuda bernama Rafa itu menghubungi Elang keesokan harinya dan ia juga mencoba untuk menghubungi Amelia.
Sayang sekali waktu yang dipilihnya tidak tepat karena saat itu Amelia dalam keadaan yang sangat emosional setelah mengetahui jika sang kakak berhubungan dengan Nayla dan ingin menikahinya. Amelia merasa selama ini dirinya dibohongi oleh dua orang terdekatnya.
Hingga Amelia pun berpikiran buruk pada Rafa dan terus-terusan menolak panggilan telepon dari pemuda itu. Amelia mengira Rafa pun sengaja mempermainkan perasaannya selama ini.
Amelia memutuskan untuk melepaskan rasa cintanya pada Rafa tepat di saat pemuda itu mencoba kembali memasuki hidupnya.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚