The Unexpected Love

The Unexpected Love
Hoodie Hitam



Selamat Membaca ♥️


"Elang, senyum kek ! muka lo kaya baju belum setrika, "protes sang fotografer yang merupakan salah satu siswa penonton di pertandingan itu.


Karena ucapan fotografer dadakan itu beberapa orang tertawa dan melihat ke arah Elang. mereka cukup terkejut melihat Vony yang tengah melingkarkan tangannya di pinggang lelaki jangkung itu.


Elang menepis halus tangan Vony yang bertengger di pinggangnya dan ia pun memilih untuk berjongkok bersama teman-temannya yang lain. Elang lakukan itu agar dia tidak lagi berdekatan dengan Vony.


Gadis itu menghentakkan kakinya di atas lantai karena kesal. Merasa malu karena Elang dengan telak menolaknya di depan banyak orang. Vony mengumbar senyuman manis di wajahnya. Ia berusaha menutupi rasa kecewanya. Dalam hati kecilnya Ia terus memaki dan mengutuk Elang.


Sebelum berjongkok, Elang sempatkan diri untuk melihat ke arah Nayla. Terbersit rasa bersalah dalam hatinya karena telah membiarkan Vony memeluknya untuk sesaat.


Elang merasa tenang karena Nayla sedang tidak melihat ke arahnya. Gadis itu tengah mengobrol dengan sang adik, Amelia. Lalu Elang mengulum senyumnya, merasa sangat bodoh karena khawatir akan perasaan Nayla padahal ia bukan kekasihnya.


"Elaaang fokus woi !!" teriak si fotografer.


"Ah sorry..." Elang langsung memalingkan wajahnya dan melihat ke arah kamera. Walaupun Elang tidak tersenyum, tapi kini ia tak lagi menekuk muka.


Pengambilan foto itu berlangsung beberapa lama dengan berbagai gaya. Selama itu berlangsung Elang berusaha untuk tetap tenang, walaupun dalam hati dan pikirannya begitu merasa cemas tentang apa yang dikatakan Vony tadi.


Elang memang sudah tahu rencana jahat Leo ketika ia pingsan waktu lalu, tapi ia tak menyangka jika musuhnya itu sampai mencari informasi tentang Nayla sejauh itu. Sampai-sampai dia tahu di mana tempat Nayla tinggal.


"Oke, semangat untuk pertandingan lusa !" ucap pelatih mereka seraya membubarkan para pemainnya.


Ada yang kembali melakukan foto bersama, ada yang duduk-duduk untuk menonton pertandingan berikutnya ada juga yang langsung mojok dengan para kekasih mereka. Sedangkan Elang, dia langsung berjalan menuju sang adik dan juga gadis yang sedang disukainya berada.


Sebenarnya Elang masih ingin berada disana, duduk sebelah Nayla dan menonton pertandingan berikutnya tapi ia tak bisa melakukan itu karena kedua orangtuanya masih memberikan batasan waktu untuk Elang melakukan kegiatan di luar rumah. Bahkan lelaki itu tak bisa mengikuti latihan padahal dirinya adalah seorang kapten tim basket.


"El...," langkah Elang terhenti saat tangan mulus bercat kuku merah muda menahan langkahnya.


Elang pun tolehkan kepalanya melihat pada sang gadis. "Apa yang aku omongin tadi benar adanya," ucap Vony tak ingin menyerah.


"Kalau kamu memang suka gadis itu, pasti kamu akan menjauhkannya dari masalah bukan ?" tanya Vony.


"Semua bukan urusan Lo," jawab Elang dingin.


Untuk kedua kalinya Elang menepis tangan gadis itu.


"terserah... tapi aku cuma pengen bilang yang sebenarnya sama kamu. Padahal aku lebih memilih untuk memberitahu mu dan mengkhianati Leo karena aku tak ingin kamu celaka. Aku suka kamu, Elang...," ucapnya lirih.


Elang melihat ke sekelilingnya, ia takut ada yang mendengar pernyataan cinta dari Vony karena saat ini keduanya berada di tengah lapang dan masih banyak sekali orang yang berlalu lalang.


"Von...,"


"Jangan katakan apapun," potong Vony.


"Aku tak ingin jadi gadis menyedihkan yang pernyataan cintanya ditolak," ucapnya sembari menahan panas dan buram di matanya karena air bening yang telah tergenang banyak dan siap untuk ditumpahkan. Gadis itu segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Elang.


Elang pun membalikkan tubuhnya dan akan meneruskan langkahnya menuju sang gadis pujaannya. Tatapan mata Nayla dan Elang bertemu begitu Elang tolehkan kepala.


Nayla segera membuang muka saat Elang tahu dirinya tengah memperhatikan lelaki itu berbicara dengan gadis paling populer di sekolah.


"Kamu udah selesai ? sebaiknya kita cepat-cepat pulang karena Mami sudah meneleponku berulang kali menanyakan kapan kita pulang," ucap Amelia.


"Udah," jawab Elang singkat.


"Nay, maafin aku gak bisa nemenin kamu ya... dan gak bisa anterin kamu pulang. Soalnya dia ( Elang) masih dibatasi waktu keluarnya," jelas Amelia sembari menunjuk Elang.


"Oh oke... gak pa-pa... lagian aku mau ngobrolin buat jualan besok sama Zia dan Naura," jawab Nayla.


"Aku ikutan aja lah, terserah kalian mau jualan apa. Asal jangan hiasan dreamcatcher lagi," desis Amelia dengan memicingkan matanya penuh emosi melihat ke tengah lapang di mana seorang pemuda yang tadi merayunya tengah asik berfoto-foto dengan para gadis yang memintanya untuk foto bersama.


Siapa lagi, jika bukan Rafa. Pemuda yang ada manis-manisnya di wajahnya itu memang salah satu siswa populer di kalangan para siswa perempuan. Rafa adalah seorang anggota inti dari tim basket sekolah membuatnya menjadi populer.


Ditambah sikapnya yang ramah pada semua orang dan juga berasal dari keluarga yang cukup berada hingga ia dan Elang sering membawa kendaraan roda empat ke sekolah sebagai tunggangannya. Tentu saja hal ini menyilaukan mata para gadis remaja di sekolahnya. Belum lagi segala barang branded yang menempel di tubuhnya membuat Rafa semakin populer saja.


"Ayo pulang !" desis Amelia sembari meremas tas Rafa dengan sekuat tenaga dan matanya menatap tajam pada laki-laki yang sedang mengumbar senyumannya pada kamera dan diapit 2 orang gadis yang sama-sama melihat ke arah kamera dengan mengangkat telunjuk mereka dan membentuk angka dua.


"Tas aku, Nay," ucap Elang karena Nayla masih saja memeluk erat tas miliknya.


"Eh maaf," ucap Nayla dengan wajah memerah menahan rasa malu. Ia pun segera melepaskan tas Elang dari dekapannya dan memberikan pada laki-laki jangkung itu.


Elang meraih tas itu sambil tersenyum. "Terimakasih," ucap Elang tulus dan Nayla hanya anggukan kepala sebagai bentuk jawaban karena ia tak sanggup untuk berkata-kata.


"Ayo !" ajak Amelia pada kakaknya itu sembari berdiri untuk pergi.


Nayla duduk terdiam membeku di tempat duduknya karena Elang masih saja berdiri menjulang tepat di hadapannya. "Bruk," tiba-tiba pandangan Nayla menjadi gelap karena kain hitam yang jatuh menutupi kepala hingga ke wajahnya. Dengan perlahan Nayla meraih kain hitam itu yang Nayla tahu itu adalah sebuah jaket hoodie hitam milik Elang karena hampir setiap waktu Elang mengenakan jaket kesayangannya itu.


"Pakailah, di luar sudah mendung. Maaf gak bisa nganterin kamu pulang," ucap Elang dan ia pun langsung pergi menyusul langkah sang adik tanpa memberikan Nayla kesempatan untuk mengucapkan kata..


"terimakasih," gumam Nayla lirih padahal Elang sudah berjalan menjauh.


Tangan Nayla gemetar saat menyentuh jaket milik Elang. Ia mengulum senyumnya, tak percaya jika ini benar-benar terjadi. Masih dengan tersenyum bahagia, Nayla segera mengenakan hoodie hitam milik Elang.


Nayla masih dalam euforia bahagia. Saking senangnya Nayla, ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan berselfie ria sembari mengenakan hoodie hitam milik Elang.




Di seberang lapang seorang gadis memperhatikan Nayla dengan tatapan dingin karena rasa cemburu yang luar biasa.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah 😚


bonus foto Elang dan Hoodie Hitamnya