The Unexpected Love

The Unexpected Love
Gak Mau



Amelia berjalan dan membawa alat-alat yang sekiranya diperlukan untuk menolong pasiennya itu.


" Di ranjang nomor 1 ?" Tanya Amelia seraya membuka tirai yang menutupinya.


Deg !


Jantung Amelia tiba-tiba berdebar lebih kencang ketika mendapati pasiennya yang ternyata seorang laki-laki muda yang terbaring di atas ranjang.


Amelia menarik nafas dalam karena ia masih belum terbiasa bila berhadapan dengan seorang pasien laki-laki. Biasanya mereka berujung meminta berkenalan lebih jauh dan Amelia tak suka itu.


"Huuufft," Amelia menarik nafas dalam sebelum memulai memeriksa pasiennya itu.


"Selamat malam, Pak. Dengan saya dokter Amelia Wiguna. Apa keluhan yang Bapak rasakan ? Apa masih sanggup untuk duduk ?" Tanya Amelia beruntun.


Rafa masih membaringkan tubuhnya dengan mata terpejam kuat. Mendengar Amelia berbicara membuat hati Rafa me-reog tak karuan di dalam sana. Dadanya berdebar menggila dan tiba-tiba saja tubuhnya gemetar tanpa diminta.


"Anda gemetar. Apa anda kedinginan ? Apa anda bisa mendengar suara saya dengan jelas ?" Tanya Amelia lagi.


Ia belum melihat siapa pasiennya yang tengah terbaring itu. Amelia hanya meliriknya saja dengan ujung mata seraya meletakkan nampan yang berisikan alat-alat medis dan juga obat yang sekiranya diperlukan di atas nakas.


Rafa tetap pejamkan mata dengan tak bersuara. Saat ini terdengar olehnya jika dokter cantik itu sedang mengenakan sarung tangan karet ditangannya sebelum melakukan pemeriksaan.


Setelah selesai mengenakan sarung tangannya, Amelia membawa senter kecil dan menyalakannya. Senter itu digunakan untuk membantu memeriksa keadaan pasien.


Rafa membuka matanya bersamaan dengan Amelia yang sudah siap untuk memeriksanya.


"Ya Tuhan....," Gumam Amelia seraya menjatuhkan senter kecil yang tadi dipegangnya. Ia melangkah mundur sebanyak dua langkah dan menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.


Debaran jantung Amelia tiba-tiba menggila seolah-olah dirinya sedang melihat penampakan hantu di hadapannya.


"Amel... Ini aku Rafa...," Ucap Rafa sama deg-degannya dengan sang gadis. Pelan-pelan Rafa bangkit dari ranjangnya karena kepalanya yang masih terasa sakit terkena pukulan Elang tadi.


"Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Rafa sudah menantikan pertemuan ini sejak lama." Tangan Rafa yang gemetar mencoba untuk menggapai tubuh gadis impiannya itu.


Susah payah Amelia menelan ludahnya paksa. Ia terdiam terpaku di tempatnya berdiri saat ini.


"Meell.. Rafa kangen kamu," ucap Rafa yang kini berdiri dan berjalan mendekati Amelia.


Wajah terkejut Amelia berubah menjadi marah. Ia katupkan bibirnya rapat-rapat dan menatap tajam pada Rafa.


Kini pemuda itulah yang menelan ludahnya paksa karena tatapan tajam gadis yang disukainya.


"Maaf, sepertinya anda salah orang. Karena saya tidak mengenali anda sama sekali," sahut Amelia dengan nada suara yang sangat dingin.


"Mel...ini aku... Aku Rafa...," Ucap Rafa frustasi.


"Sebaiknya Anda jangan banyak bicara dan duduklah agar pemeriksaan ini cepat selesai," potong Amelia cepat. Ia tak menanggapi ucapan Rafa sedikitpun.


Bagai terhipnotis, Rafa menuruti apa yang dikatakan Amelia. Ia dudukkan kembali tubuhnya di atas ranjang sedangkan Amelia bungkukkan tubuhnya untuk mengambil senter yang masih menyala di atas lantai.


Tanpa banyak bicara, Amelia memeriksa lebam dan luka lecet di wajah Rafa. Ia juga memeriksa sobekan kecil di ujung bibir laki-laki itu. Amelia melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti agar laki-laki itu cepat diobati. Dengan begitu laki-laki itu akan segera pergi dan tak usah kembali lagi.


Rafa terus menatap mata Amelia tanpa jeda dan teralihkan sekalipun. Sedangkan Amelia, ia memasang wajah judes seperti biasanya. Jarak mereka begitu dekat hingga Rafa bisa rasakan hembusan nafas Amelia yang beraroma mint menerpa wajahnya dan itu sangat-sangat menyiksanya.


Amelia mengambil sebuah kapas bulat yang sudah dibubuhi obat dan mengaplikasikannya pada luka Rafa.


"Aawwww !! Sakit, Yang... Pelan-pelan," Ucap Rafa dan Amelia pun memelototkan matanya dengan tatapan mata horor.


"Eh.. sa-sakit,Bu dokter," Rafa meralat ucapannya.


"Tahan sedikit !! Anda mau cepat sembuh atau tidak ?" Tanya Amelia dengan galak.


Rafa pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu Amelia melanjutkan pekerjaannya, yaitu mengobati luka-luka pada wajah laki-laki itu.


"Aawww, aawww, awww !!! perih ini beneran," keluh Rafa saat Amelia dengan sengaja mengobati luka-luka pemuda itu tanpa belas kasihan.


Ia melakukannya dengan menekan kasar kapas pada permukaan luka-luka itu. Amelia lakukan itu berulang kali dan sekuat tenaga.


Rafa meringis menahan perih luka-lukanya yang sedang diobati.


"Selesai !!! Ini hanya luka ringan saja. Anda boleh pulang dan tak usah datang ke rumah sakit ini untuk selamanya," ketus Amelia seraya membereskan peralatannya dan melepaskan sarung tangan karet yang digunakannya.


"Amel... Rafa kangen kamu," ucap Rafa tak menyerah. Ia tak tahan lagi memendam perasaannya. Laki-laki itu menahan lengan Amelia agar tak pergi meninggalkannya.


"Lepas !!" Titah Amelia tanpa melihat pada wajah Rafa yang tengah memelas padanya.


"Beri Rafa kesempatan untuk berbicara. Rafa masih cinta kamu seperti dulu," lanjutnya lagi terdengar frustasi. "Please....,".


Amelia terdiam dengan bibir terkatup rapat. Mendengar kata-kata cinta Rafa membuat darahnya mendidih seketika.


Amelia urungkan niatnya untuk pergi. Ia menyimpan kembali nampan yang berisikan banyak alat juga obat itu di atas nakas yang terletak tepat di sebelah ranjang pasien.


Rafa pun dudukkan kembali tubuhnya di atas ranjang sambil tersenyum-senyum bahagia.


"Dasar laki-laki menyebalkan !!" Ucap Amelia sembari memukuli rafa dengan sarung tangan karet yang tadi digunakannya. Ia melakukannya dengan membabi buta.


"Aw ! Aw ! Aw ! Ampuuun Mel," Rafa melindungi dirinya dengan kedua tangan.


"Kenapa kamu harus kembali, huh ?" Amelia masih memukuli pemuda itu dengan sarung tangan miliknya.


"Dasar pembohong !!! Aku benci kamu ! Benci kamu !" Desis Amelia sambil terus memukuli hingga tirai yang menutupi ranjang itu bergerak tak karuan membuat para perawat yang berada di ruang gawat darurat saling beradu pandang kebingungan. Untungnya saja hanya Rafa yang berada di sana sebagai pasien.


"Mel, Sayang... Hentikan....mata Rafa tuing-tuing lagi," ucap Rafa saat ia merasakan pening kepalanya akibat pukulan sarung tangan Amelia


"Jangan panggil aku sayang !! Aku gak mau !! aku bukan sayang kamu !!!" Desis Amelia tak suka.


"D-dok ? Apa semua baik-baik saja ?" Tanya seorang perawat dari balik tirai. Ia merasa khawatir karena tirai itu terus bergerak-gerak tak karuan.


"Hah... hah... hah...," Amelia hentikan pukulan sarung tangannya.


Nafas Amelia menderu terengah-engah karena ia baru saja memukuli pasiennya sendiri dengan sarung tangan.


Rafa pun menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi melindungi kepalanya dari serangan sarung tangan Amelia yang membabi buta.


"Ka-kami baik-baik saja," Rafa yang menjawab pertanyaan itu hingga sang perawat pun semakin curiga.


Ia segera menyingkap tirai itu untuk memastikan bahwa Amelia baik-baik saja. Mata perawat itu membola saat ia melihat wajah Amelia memerah dengan nafas tersengal dan rambut acak-acakan.


Dihadapannya duduk seorang laki-laki yang masih terlihat tampan walaupun wajahnya berhiaskan lebam dan rambut yang sama acak-acakannya dengan Amelia seperti dua orang yang habis bergulat di atas ranjang.


" O-orangnya susah banget diobatin," ucap Amelia seolah menjawab pertanyaan yang ada dalam kepala perawat itu.


"A-apa anda perlu bantuan, dok ?" Tanya perawat itu lagi.


"Tak usah, saya bisa atasi sendiri," jawab Amelia penuh percaya diri.


"Baiklah jika begitu, silakan lanjutkan pekerjaan Anda," perawat itu segera pergi meninggalkan Amelia dan menutup rapat-rapat tirai itu kembali.


Rafa segera merebut sarung tangan karet itu dari tangan Amelia dan melemparkannya asal. Lalu ia meraih kedua tangan Amelia dengan satu tangannya dan tangan yang lain memeluk erat gadis itu agar Amelia tak marah dengan histeris lagi.


"Maafin Rafa, Mel... Maafin Rafa....," Ucap pemuda itu sembari memeluk tubuh Amelia dengan eratnya hingga gadis itu tak mampu lagi untuk memberontak. Tubuh Amelia kini berada dalam kuasa Rafa.


"Pukuli aku lagi, jika itu membuatmu bisa memaafkan aku, tapi jangan lakukan disini," ucap Rafa lagi tapi Amelia diam tak menanggapi.


"Aku akan terima apapun yang ingin kamu lakuin sama aku, tapi please maafin Rafa dulu,"


"Hu..hu... hu....," Akhirnya Amelia tumpahkan tangisnya sedari tadi ia tahan. Ia menangis di atas dada bidang laki-laki yang tak lagi remaja itu.


"Kenapa kamu kembali, pembohong ? Kenapa kamu temui aku lagi ??" Tanya Amelia diantara isakkan tangisnya.


"Kenapa tak pergi saja untuk selamanya ? Aku benci kamu... Aku benci kamu....,hu...hu..hu..," lanjut Amelia dan Rafa semakin eratkan pelukannya.


"Maafin Rafa..," gumam pemuda itu sembari mencium puncak kepala Amelia dengan lama.


"Rafa kembali karena Rafa gak bisa berhenti untuk cinta kamu," ucapnya lirih.


"Bohong !!!" Sahut Amelia sama lirihnya.


"Demi Tuhan... Rafa cuma cinta kamu, Mel... Sejak ciuman pertama kita, Rafa gak pernah berhubungan dengan perempuan manapun karena Rafa maunya cuma sama kamu seorang,"


"Hu..hu...hu... bohong... Kamu pembohong..." Amelia semakin menangis tersedu-sedu di dada bidang pemuda itu.


"Mari kita bicara. Akan Rafa jelaskan bagaimana susahnya Rafa nyari kamu,"


"Gak mau ! Aku gak mau tau !!" Sahut Amelia sembari menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda penolakan.


"Harus mau ! Pokoknya kamu harus mau !" Rafa sama kerasnya dengan gadis itu.


"Nggak !!"


"Harus mau !! Kamu harus belajar nurut sama aku. Karena aku ini calon suami kamu, Mel,"


To be continued


Thanks for reading


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa..


Terimakasih atas segala sogokannya.