
Waktu terus berlalu dengan cepat. Tak terasa pesta ulang tahun Amelia akan digelar beberapa hari lagi di rumahnya.
Urusan Elang pun sedikit demi sedikit telah terselesaikan. Papi Elang kini sudah bisa menjerat Leo ke jalur hukum. Tak hanya Leo juga, tapi Vony ikut di dalamnya.
Jeratan kasus Leo bersamaan dengan kasus ayahnya yang tertangkap tangan menerima suap. Sehingga kali ini ayah Leo tak bisa menolong anaknya karena ia sendiri pun terjerat hukum.
Vony meraung-raung saat dirinya ikut terseret, sedangkan Leo terus memaki-maki gadis itu karena telah bertindak sangat bodoh. Memberitahukan Elang tentang kelakuan jahat mereka.
"El... Sayang... Kenapa jadi begini ? Bukannya kita akan terus bersama ?" Raung Vony saat Elang menemuinya di kantor polisi.
"El... Lepaskan aku dari kasus ini. Aku hanya terbawa pengaruh buruk Leo," raungnya lagi karena Elang tak bergeming.
"El.. apakah kamu cinta aku ? Jika iya please jangan kaitkan aku dengan masalah ini,"
Elang terdiam dan menatap tajam pada gadis yang ia benci itu. "pikir sendiri, apa lo pernah cinta sama kotoran yang ada di atas sepatu lo ?" Itulah kata-kata terakhir yang Elang ucapkan pada mantan kekasihnya Vony.
Vony meluruhkan tubuhnya di atas lantai saat ia mendengar apa yang Elang katakan padanya. itulah pertemuan terakhir Vony dengan laki-laki pujaannya.
***
Waktu bagai berlari, berlalu begitu cepatnya hingga pesta ulangtahun Amelia pun tiba. Ini adalah pesta ulangtahun Amelia yang ke 16. Nayla memberikan hadiah berupa sweater hoodie berwarna pink juga buku agenda yang berisikan banyak photo mereka yang menurut Nayla memiliki nilai sejarah persahabatan mereka di dalamnya.
Nayla bersiap dengan mengenakan dres selutut berwarna navy, jaket jeans crop top dan sepatu flat. Baru kali ini nayla berpenampilan beda dari biasanya. Meskipun begitu, pakaian Nayla masih terlihat sopan.
Pesta itu diadakan pada malam hari. Dari sore hari Nayla sudah berada di rumah Amelia untuk membantu juga menemani sahabatnya itu. Selama Nayla berada di sana, sebisa mungkin ia menghindari Elang.
Tak hanya Nayla, Rafa juga berada di sana. Sama-sama membantu persiapan pesta Amelia. Pemuda yang biasa menggombal itu terlihat lebih kalem dari biasanya. Mungkin Rafa merasa sedih karena akan berpisah dengan gadis yang disukainya itu.
Amelia pun begitu, gadis galak itu sangat menghindari Rafa. Ia akan pergi jika Rafa datang mendekati. Nayla tersenyum dalam hati. Ternyata tak hanya dirinya saja yang main kucing-kucingan.
Halaman belakang rumah Amelia disulap menjadi tempat pesta. Di sana terdapat banyak stand makanan dan minuman kekinian. Bahkan ada sebuah panggung yang nantinya akan diisi pertunjukan band lokal yang sedang digandrungi oleh para remaja di kota itu.
Satu persatu para tamu undangan datang dengan membawa banyak hadiah. Termasuk Maxi yang tercengang saat melihat penampilan Nayla. Saking terpesonanya Maxi, hingga ia terbata-bata saat berbicara. "Na-Nayla, ka-kamu cant...," Ucapan Maxi terputus saat ia melihat Elang berdiri tepat di belakang Nayla dan memberikan tatapan membunuh pada pemuda itu.
Nayla yang merupakan sahabat Amelia menjadi salah satu tuan rumah dalam acara tersebut dan dengan Elang tentu saja. Setiap Elang ada, Nayla akan berusaha menjauh. Seperti yang dilakukannya sekarang. Nayla langsung pergi ketika ada Maxi juga Elang.
Amelia terlihat sangat cantik mengenakan gaun hitam off shoulder yang kontras dengan kuli putihnya. Malam ini Amelia benar-benar menjadi pusat perhatian. Apalagi bagi Rafa.
Pandangan mata Rafa terus tertuju padanya, ia akan berdecak kesal jika ada laki-laki lain yang memuji gadis pujaannya itu.
Waktu terus berlalu, acara tiup lilin dan pemotongan kue sudah dilaksanakan. Kini para tamu undangan sedang menikmati hidangan diiringi lagu dari grup band yang membawakan lagu-lagu hits.
Amelia banyak tertawa juga menangis membuat makeup nya sedikit berantakan. Ia pun meninggalkan pesta itu untuk merapikan diri di kamarnya yang berada di lantai 2.
Menghabiskan waktu sekitar 10 menit Amelia merapikan riasannya dan ia segera keluar setelah selesai. Baru beberapa langkah Amelia keluar dari kamarnya, sebuah tangan kekar mencekal lengannya dan memenjarakan tubuh Amelia di dinding.
Gadis itu berontak, tapi tangan kekar itu meraih tangan Amelia yang lain dan menahannya di atas kepala gadis itu. Amelia seperti seorang tawanan saat ini.
" Kenapa selalu ngehindarin aku ?" Tanyanya lagi, ia menatap sayu penuh damba pada Amelia yang saat ini mati-matian menahan debaran jantungnya.
"Apa kamu mau ninggalin aku dalam keadaan kaya gini ? Mau ninggalin aku dengan cara memusuhi aku ?"
"Apa ini salah satu leluconmu ?" Tanya Amelia dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Aku mungkin laki-laki yang suka bercanda, tapi perasaan suka Rafa sama kamu bukan main-main," ucap laki-laki itu. Tak pernah Rafa bicara seserius ini pada Amelia.
Amelia yang mendengar itu menelan ludahnya paksa. Debaran jantungnya kian menggila.
"Rafa suka kamu, hanya kamu," ucap Rafa yang kemudian menundukkan kepalanya dan membenamkan bibirnya di atas bibir Amelia dengan sempurna.
Rafa memejamkan matanya, sedangkan Amelia membolakan mata karena tak percaya. Mereka hanya saling menempelkan bibir saja karena ini yang pertama kali untuk keduanya. Mereka tak tahu harus melakukan apa.
Cukup lama Rafa lakukan itu, menjadikan Amelia sebagai ciuman pertamanya dan snag gadis pun tak menolaknya walaupun ia tak membalas ciumannya.
"Kamu baik-baik ya di manapun kamu berada. Suatu hari nanti Rafa akan datang buat cari kamu," bisik Rafa seraya menarik Amelia dalam pelukannya.
***
Di lain tempat, Nayla tengah berbicara dengan teman-temannya dan apa yang Nayla lakukan selalu diperhatikan Elang. Bahkan saat Nayla hendak pergi ke toilet pun lelaki itu mengikutinya diam-diam.
Nayla tak tahu jika ada seseorang yang telah menunggunya di depan pintu toilet. Dirinya sangat terkejut saat tangan Elang membawanya paksa ke salah satu ruang yang taka ada siapapun disana.
Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Jantung Nayla berdegup kencang, begitu juga Elang.
Tak tahan lagi Elang pun tundukkan wajahnya perlahan hendak menyatukan bibirnya dengan bibir Nayla seperti waktu lalu.
Nayla tercengang dengan mata membola. Secara refleks ia menutup bibirnya dengan telapak tangan agar Elang tak menciumnya lagi.
Melihat reaksi gadis di hadapannya, tak mengurungkan niat Elang untuk menciumnya. Elang tersenyum lembut dan mencium bibir Nayla meski terhalang oleh tangan gadis itu.
Nayla membulatkan kedua matanya, terkejut saat Elang menempelkan bibirnya di atas tangannya yang membatasi bibir keduanya.
"Hanya Aku yang akan selalu menjadi ciuman pertamamu dan ciuman mu yang selanjutnya. Karena kamu gadis yang aku suka dan selamanya akan seperti itu. Aku akan kembali untuk kamu, jadi tunggu aku," ucap Elang tepat di wajah gadis yang menjadi cinta pertamanya.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
Alhamdulillah berakhir sudah masa remaja mereka....
Sampai jumpa Senin yaaa ketika mereka dewasa... Insyaallah...
kecuali sogokannya banyak mungkin aku up lagi wkwkkwkwkwm