
Telah berlalu 5 hari sejak penutupan acara "Bulan Prestasi" di sekolah Elang. Kegiatan belajar mengajar pun sudah berjalan dengan normal seperti biasanya. Tapi ada satu siswa yang belum bisa mengikuti kegiatan itu, siapa lagi jika bukan Rafa karena cedera kaki yang di deritanya.
Menurut sang pemuda, ia belum bisa berjalan normal. Masih harus dibantu oleh tongkat penyangga. Sebenarnya Rafa sudah ingin masuk sekolah. Ia bisa saja diantar jemput supir pribadi keluarganya tapi berhubung Rafa anak tunggal, ibunya memperlakukan Rafa berlebihan. Beliau tak memberikan izin anak kesayangannya itu masuk sekolah sampai Rafa benar-benar sembuh total dan berjalan dengan normal
"Akhirnya gue percaya kalau emak gue ternyata sayang sama gue kaya dia sayang sama botol taperwernya," ucap Rafa pada Elang dan teman-temannya saat mereka menjenguk pemuda itu 2 hari yang lalu di kediamannya yang mewah. Elang dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rafa saat itu
"Dasar si Rafa gila," ucap Rendi salah satu teman mereka.
Tentu saja Rafa berbohong tentang botol taperwer itu. Melihat keadaan Rafa yang cukup berada tak akan mungkin ibunya mempermasalahkan sebuah botol taperwer yang hilang tapi memang karena pemuda itu senang bercanda malah cenderung ke arah konyol.
Ayah Rafa adalah seorang duta besar, sering berpindah-pindah dari negara yang satu ke negara lainnya dalam kurun waktu yang ditentukan. Usianya masih tergolong sangat muda tapi prestasinya luar biasa. Demi anak tunggal kesayangannya itu, sang ayah rela pulang hanya untuk memastikan Rafa baik-baik saja.
Sayangnya Elang tak bisa lama-lama melihat keadaan sahabatnya yang sudah mengorbankan diri untuk dirinya itu. Walaupun Elang terlihat biasa-biasa saja tapi dalam hatinya yang paling dalam Elang sangat merasakan berhutang budi pada Rafa. Ia pun akan melakukan hal yang sama, akan Elang lakukan apapun untuk sahabatnya itu.
Hari itu Elang pulang lebih dulu karena mobil jemputannya sudah tiba. Semenjak kejadian Elang celaka di rumah kosong beberapa minggu yang lalu, orang tua Elang masih memberikan batasan "jam keluar" pada pemuda jangkung itu . Bahkan Elang akan diantar jemput oleh supir pribadi keluarga kemana pun pemuda itu pergi.
"Fa, tar gue balik lagi lihat elo. Cepat sembuh ya," janji Elang dua hari yang lalu. Dan sekarang ia akan menepati janjinya itu, dengan kembali melihat keadaan Rafa.
Kali ini ia akan ditemani oleh Amelia sang adik. Agar bisa menjenguk Rafa Elang harus memohon-mohon dulu kepada kedua orang tuanya. Pada akhirnya Elang diijinkan untuk pergi dengan syarat Amelia ikut menemani dan itu pun hanya diberi waktu sebentar saja.
"Kak El, beneran gak pa-pa Amel iku? " Tanya Amelia sedikit ragu. Setelah ia merawat Rafa yang terjatuh beberapa hari lalu, dan gombalan Rafa yang diberikan padanya, membuat hati Amelia tidak baik-baik saja terlebih lagi Rafa dengan berani mengorbankan diri untuk sang kakak.
"Beneran gak apa-apa," jawab Elang meyakinkan adiknya itu.
Tadinya Amelia ingin mengajak Nayla ikut serta tapi sayangnya sahabatnya itu harus mengikuti les matematika yang sudah hampir 2 minggu kemarin diliburkan karena ada kegiatan "bulan prestasi".
Elang dan Amelia datang tidak dengan tangan kosong tentu saja. Keduanya membawa parcel buah dan juga kue brownies yang tanpa sepengetahuan Elang adalah buatan sang adik Amelia.
Tadi malam Amelia dengan susah payah membuat kue itu di dapur bahkan ia harus menonton cara pembuatan kue itu melalui aplikasi berwarna merah yang di dalamnya terdapat jutaan video dengan berbagai macam jenisnya.
Mungkin hasilnya tidak sempurna tapi Amelia membuatnya dengan sepenuh hati. Tak ada yang tahu tentang ini semua, Amelia memang membuatnya dalam jumlah yang cukup banyak sehingga keluarganya tak ada yang curiga Jika ia menyembunyikan satu yang spesial dibawa untuk Rafa.
" Eh Elang, ayo masuk," ucap Ibu Rafa saat beliau membukakan pintu. " Ini adiknya Elang ? Masyaallah cantik banget. Impian Ibu banget punya mantu cantik seperti begini," lanjutnya lagi dan itu membuat pipi Amelia yang putih pucat berhiaskan semburat merah.
Elang dan Amelia menyalami Ibu Rafa dengan mencium punggung tangannya. "Ayo langsung ke dalam, Rafa lagi beristirahat di ruang keluarga. Tadi juga ada temannya yang datang ke sini dan masih belum pulang menemani Rafa," ucap ibu Rafa.
"Teman? Rendi ?" Tanya Elang.
" Bukan Rendy, perempuan kok. Namanya siapa ya ? Ibu lupa... Kayak nama game kucing di ponsel ponakan ibu gitu," jawab ibu Rafa.
"Game kucing ?" Katanya Amelia berkerut alis tak paham.
" Itu loh temennya si Tom. Kalau si Tom kan warna hitam belang-belang, nah ini kucingnya yang putih itu," jelas ibu Rafa lagi.
"Angela ?" Tanya Amelia, dan raut wajah
gadis itu seketika berubah dingin.
"Nah iya itu ! Kalian kenal ? temenan juga ?" Tanya ibu Rafa beruntun.
"Nggak kenal dekat, tapi cuma tahu aja," jawab Amelia.
Ibu Rafa berjalan lebih dulu dari keduanya. Di belakang beliau Elang segera menyeret tubuh sang adik untuk lebih dekat dengannya. " Mel, please jangan macam-macam. Jangan sampai bikin keributan di sini. Nanti Bang El yang nggak enak sama ibunya Rafa," ucap Elang pada adiknya itu. Ia tahu perseteruan antara Amelia dan Vony beserta genk-nya yang di dalamnya ada Angela.
"Aku nggak bisa jamin," jawab Amelia pada kakaknya itu.
Entah gen siapa yang diwarisi dari kedua orang tua Elang dan Amelia hingga keduanya memiliki sifat yang keras dan pemberani.
"Fa, ada Elang dan adiknya tuh," ucap Ibu Rafa pada anaknya yang sedang duduk bersandar di sofa besar. Di sebelah Rafa duduk Angela sembari memegang mangkuk dan sendoknya.
"Tante Rafa nya masih nggak mau makan, padahal udah Angel bujuk untuk disuapi," ucap gadis itu dengan intonasi suara manja dan tak lupa Ia pun mendelikkan matanya pada Amelia.
Wajah pucat Rafa makin pias saja saat ia melihat kedatangan Amelia. "Lu, ngapain sih Njel ?" Buru-buru Rafa merebut mangkok dan sendok itu dari tangan Angela dan kemudian menyimpannya di atas meja.
"Udah gua bilangin gue bisa makan sendiri, yang cedera itu kaki bukan tangan kan lu bisa lihat," ucap Rafa judes, tidak seperti biasanya pemuda itu suka mengumbar gombalan.
"Ayo duduk Elang, Amelia. Mau minum apa ?" Tanya ibunya Rafa.
"Gak usah Bu, kita nggak akan lama," Amelia yang menjawab pertanyaan ibunya Rafa itu. Ia berbicara pada sang ibu tapi matanya menatap tajam pada Rafa hingga membuat pemuda itu menelan ludahnya paksa.
" Tolongin Baim ya Allah... Eh maksudnya tolongin Rafa," ucap Rafa saat dia mendapatkan pelototan mata dari Amelia.
"Mel...," Bisik Elang agar adiknya itu tidak berbuat sesuatu yang tak diinginkan.
"Lo gak balik ? Entar emak lu nyariin, " ucap Rafa pada Angela. Dirinya berusaha mengusir halus gadis itu.
"Oh iya benar... Kamu kok perhatian banget sih sama aku, Fa ?" Jawab Angela manja.
Rafa meringis nyeri saat ia sadar telah salah mengucapkan kata.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya, besok mau dibawain apa lagi ?" Tanya gadis itu sembari membenahi tas sekolahnya.
"Gak usah !! Besok juga gue udah sembuh, mau ikutan lomba lari di kelurahan. Jadi lo nggak usah datang," jawab Rafa.
"Kamu gemesin deh Fa, kalau lagi kaya gini," ucap Angela dan Rafa bisa melihat gerak bibir Amelia yang meledek ucapan gadis itu.
"Aku pulang ya, nanti aku telepon begitu sampai rumah," kali ini Angela benar-benar berpamitan untuk pergi.
Gadis itu berpamitan pada ibu Rafa dan juga Elang dengan senyum manis yang dibuat-buat tapi ia tidak menyapa Amelia sama sekali.
Setelah kepergian gadis itu Elang memberikan parcel buah yang dibawanya kepada Ibu Rafa, sedangkan Amelia tetap memegang erat kue brownies yang dibawanya.
"Mel, kuenya ?" Tanya Elang agar sang adik memberikan kue itu pada ibu Rafa.
"Wah... Maminya Elang emang rajin banget bikin kue dan biasanya rasanya sangat enak," ucap Ibunya Rafa yang pernah beberapa kali dikirimi kue oleh Mami Elang dan itu merupakan hasil buatan Mami Elang sendiri.
"Oh ini bukan buatan Mami, tapi aku sendiri yang membuatnya," ceplos Amelia tanpa sadar. Gadis itu langsung menutup mulutnya dengan tangan. Menahan malu dari apa yang diucapkannya.
"Ta-tapi, gak enak rasanya," ucap Amelia terbata-bata.
Tanpa ba bi bu lagi Rafa langsung merebut kue itu dari tangan Amelia. "Buat Rafa," ucapnya gemas.
"Kalau buatan Amel, Rafa yakin rasanya pasti enak. Karena ada rasa cinta di setiap gigitannya," gombal Rafa.
Mendengar ucapan sang anak membuat Ibu Rafa melayangkan bantal kursi ke wajah pemuda itu.
"Cinta cinta ! Makan aja masih disuapin," ucapnya dengan tatapan mata horor.
"Si Rafa gak mau makan kalau gak ibu suapin, udah gitu tiap malam harus diusapin punggungnya biar dia bisa tidur. Padahal kan yang cedera kakinya ya? Tapi yang harus dipijitin punggungnya," jelas Ibu Rafa mengumbar aib anaknya itu
"Oh pantas saja tadi Angela mau suapin kak Rafa segala, ternyata karena kak Rafa emang manja ya ?" ucap Amelia seraya menata sinis pemuda itu.
Lagi-lagi Rafa menelan ludahnya paksa karena tatapan horor yang diberikan Amelia.
"Ya Allah... Perasaan Rafa lagi nggak benerin jalan deh, tapi kok ada aja tukang ungkit," keluhnya frustasi.
Di tempat lain duduklah dua orang remaja yang sedang berbicara dengan intonasi suara meninggi. Sang pemuda menekuk muka saat sang gadis yang menjadi lawan bicaranya terus mengomel tak karuan. Mereka adalah Vony dan Leo yang sama-sama telah menelan kekalahan. Kali ini keduanya akan membuat rencana untuk benar-benar menjatuhkan Elang juga Nayla.
To be continued ♥️
Insyaallah mau kreji up Elang Ampe kreji semoga gak bosan yaa...
Detik-detik menuju dewasa.. jadi mohon bersabar...
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚