
Selamat membaca ♥️
Nayla mendesaah frustasi saat sadar Elang 'tetap hadir' bersamanya padahal ini adalah kencan pertama Nayla yang tak gagal.
"Kenapa ? Takut ? Filmnya juga belum dimulai," ucap Rio sambil tersenyum geli juga gemas. "Kalau takut, kamu bisa berlindung di pundak ku," lanjutnya sembari menepuk-nepuk bahunya pertanda Nayla boleh bersandar di sana.
Nayla melihatnya sambil tersenyum. Baru kali ini seorang pria menawarkan bahu padanya tapi kenapa ia sama sekali tak terkesan ? "Thanks, but i'll be oke," ( terimakasih tapi aku akan baik-baik saja) tolak Nayla secara halus. Dibandingkan hantu dirinya lebih takut dengan para pria yang mendekati terus pergi.
Ya, Nayla lebih takut dengan para pria yang kerjaannya hanya meng-ghosting saja. Seperti yang selama ini para pria lakukan padanya termasuk Elang.
"Ck !" Nayla berdecak kesal karena lagi-lagi Elang terlintas lagi di kepalanya.
"Kamu gak takut hantu ?" Tanya Rio dan Nayla menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lalu apa yang bikin kamu takut ?" Tanya Rio lagi sembari menikmati minuman dingin miliknya.
"Aku paling takut sama tukang ghosting," jawab Nayla.
Mendengar jawaban Nayla membuat Rio tersedak minumannya sendiri hingga terbatuk-batuk.
"Kenapa ? Kamu tukang ghosting ? Jangan khawatir, aku udah kebal dengan begituan," sahut Nayla enteng.
"Bu-bukan begitu, aku cuma gak percaya. Masa cewek cantik kaya kamu jadi korban ghosting,"
Nayla hanya tersenyum saja menanggapinya. Tak membenarkan ataupun menampiknya "Seandainya dia tahu apa yang terjadi padaku," batin Nayla dalam hatinya.
"Im not kind of that man," ( aku bukan tipe pria seperti itu) ucap Rio penuh keyakinan.
"Syukurlah, karena kasihan dengan para perempuan yang telah menunggumu,"
Apa yang Nayla ucapkan membuat pria itu tersenyum canggung.
Tak lama lampu studio pun dimatikan dan film pun akan segera dimulai. Keduanya duduk dengan bersandar di kursi, tapi Rio lebih mencondongkan tubuhnya mendekati Nayla.
Ini adalah kencan pertama Nayla, walaupun ia telah berusia 23 tahun tapi dirinya sangat minim pengalaman soal kencan dan percintaan.
"Apa begini bersikap dalam kencan pertama ?" Tanya Nayla dalam hatinya. Ia berusaha bersikap biasa tapi tubuhnya berkata lain. Dengan refleks ia memajukan tubuhnya itu agar tak berdekatan dengan Rio.
Pria itu menatap punggung Nayla di dalam temaramnya cahaya. Ia tahu jika gadis itu menghindarinya. "Sepertinya dia agak sulit untuk ditaklukkan," batin Rio dalam hatinya.
Sepanjang film, Nayla tak sekalipun berlindung pada tubuh Rio. Saat merasa takut, ia akan menutup matanya dengan kedua tangan. Atau memejamkan matanya sembari menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Padahal beberapa gadis terdengar berteriak ketakutan saat film itu menyajikan adegan menyeramkan di layar.
Sedangkan Rio, ia tak berkonsentrasi pada film yang sedang diputar. Perhatiannya tertuju pada Nayla yang terkesan sangat membatasi diri dengannya.
Padahal tak jarang Rio langsung bersikap mesra dengan para gadis yang dikencaninya walaupun itu pertama kalinya mereka bertemu. Bahkan ada diantaranya yang langsung berciuman di kencan pertama mereka.
Tapi Nayla berbeda, gadis itu terkesan kaku dan jual mahal. Dan sialnya lagi Rio malah suka.
Rio suka saat Nayla menjauhkan tangannya yang dengan tak sengaja saling bersentuhan. Rio suka dengan Nayla yang mati-matian meredam rasa takutnya sendiri tanpa berusaha untuk bersembunyi di balik tubuhnya. Hasrat untuk menaklukkan Nayla sungguh menggelora dalam dada Rio.
Setelah kurang lebih 100 menit lamanya film itu diputar, akhirnya sampai juga di bagian akhir. Lampu studio pun dinyalakan kembali. Kini semua bisa bernafas dengan lega.
Nayla pun segera merapikan tasnya dan bersiap untuk pergi. Ia tolehkan kepala pada Rio dengan niat mengajak pria itu segera keluar dari studio karena Nayla ingin pergi ke toilet.
"Aku takut kok, banyak tutup mata juga," sahut Nayla sambil tertawa, mencoba m
Rio hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Keluar yuk ? Aku pengen ke toilet," ajak Nayla.
Rio segera menghabiskan meminumnya yang masih sedikit tersisa, lalu ia pun meninggalkan gelas kosong itu di sana sebelum bangkit dari tempatnya duduk.
Ia berjalan mengekori Nayla yang berjalan lebih dulu karena dirinya benar-benar ingin segera ke toilet.
Mereka berjalan berdampingan, membicarakan tentang film yang baru saja ditonton. Rio hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia terus memperhatikan Nayla hampir selama film diputar.
"Nanti ketemu di sini ya," ucap Rio sesaat sebelum mereka berpisah menuju toilet yang berbeda.
Di dalam toilet antrian buku panjang. Kebanyakan dari mereka adalah gadis remaja yang datang bergerombolan dan memperbaiki riasan mereka.
Setelah mengantri beberapa menit lamanya, Nayla pun memasuki salah satu biliknya.
Tak lama, Nayla keluar dan mencuci tangan di wastafel yang di depannya terdapat banyak kaca besar.
Ia pandangi wajahnya di dalam cermin sembari menarik nafasnya dalam.
"Aku akan kembali, jadi tunggu aku," kata-kata Elang kembali terngiang di telinganya.
"Oh come on, Nay ! Kamu masih 15 tahun dan Elang 17 tahun !! Tak ada yang serius tentang itu !! Mungkin saat ini Elang sudah menemukan cinta baru atau mungkin dia sudah menikah dan memiliki banyak anak !!" Ucap Nayla pada dirinya sendiri.
"Tapi... Kenapa perasaan cinta itu terasa sangat nyata hingga sekarang. Dan tahukah kamu Elang ? Aku pikir dengan bersama seseorang yang baru aku akan menjadi lebih baik tapi nyatanya ketika aku menyentuhnya, aku merasa aku selingkuhin kamu," Nayla menatap nanar bayangannya sendiri. Ia mengatur nafasnya dan melihat takut ke arah pintu toilet.
Takut jika bertemu Rio, perasaan itu muncul lagi. Perasaan mengkhianati Elang yang tak kunjung datang.
"Mbak ?" Tanya seorang gadis di belakang Nayla yang sama-sama akan menggunakan wastafel yang terhalang Nayla.
"Ah sorry," sahut Nayla sambil tersenyum. Mau tak mau ia harus keluar dari toilet itu, tak mungkin ia lama-lama sembunyi di sana.
Meski ragu, Nayla pun keluar dan langsung mencari keberadaan Rio di tempat yang telah ditentukan tadi.
Dari kejauhan Nayla bisa melihat pemuda bernama Rio itu tengah asik duduk dengan ponsel di tangannya. Ia pun berjalan mendekatinya.
"Maaf ya udah bikin kamu lama nunggu," ucap Nayla.
Mendengar suara Nayla membuat Rio menjatuhkan ponselnya dengan tidak sengaja karena saking terkejutnya. "Eh... Oh... Its oke.. gak lama kok," ucapnya gugup.
Cepat-cepat Rio memungut ponselnya yang terjatuh dan langsung memasukkannya ke dalam saku celana.
"Ayo kita makan," ajak Rio dan Nayla pun tersenyum menyetujuinya.
to be continued ♥️
thanks for reading
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚