The Unexpected Love

The Unexpected Love
Main Mata



Selamat membaca ♥️


Amelia merasa lega bercampur kecewa saat Rafa menyimpan tasnya bersama teman-temannya yang lain tidak pada gadis itu lagi. Sepertinya Rafa tak mau membuat Amelia marah lagi.


"Mel, kamu gak pa-pa kan ?" Tanya Nayla. Sahabatnya ini memang paling peka terhadap perasaan Amelia.


Melihat Amelia melamun sembari menopang dagu membuat Nayla bertanya akan keadaan sahabatnya itu. Jika Nayla adalah seorang gadis yang pendiam dan pemalu dan Nayla selalu bisa menyembunyikan perasaannya, maka Amelia adalah kebalikannya. Gadis berambut coklat itu penuh energi, bawel dan ekspresif. Melihat Amelia terdiam seperti ini, Nayla yakin jika sahabatnya itu sedang tak baik-baik saja.


"Aku kok kesel ya, Nay," desah Amelia seraya menyandarkan kepalanya di pundak Nayla.


"Kesel kenapa ? Kak Rafa ? Kesel gak digangguin ya ?" Tanya Nayla beruntun menggoda temannya yang tengah galau itu.


"Nggak ih !! Aku bersyukur banget dia gak gangguin aku lagi," sangkal Amelia.


Nayla tersenyum, dirinya tahu jika sang sahabat merasa resah hati karena pemuda bernama Rafa yang kini sedang membuka sweater abu-abunya dan menyisakan kaus tim basketnya yang berwarna biru tua dan kuning.


Entah apa yang pemuda itu ceritakan pada teman-temannya hingga hampir semua anggota tim basket tertawa terbahak-bahak kecuali...


Elang...


Laki-laki jangkung itu menatap dingin pada Nayla dengan bibir terkatup rapat dan sorot mata tajam. Elang langsung memalingkan muka saat pandangannya beradu dengan Nayla.


Tubuh Nayla meremang hanya karena Elang bersikap seperti itu.


Elang memilih pergi ke tengah lapang, memisahkan diri dari temannya yang sedang tertawa karena lelucon Rafa. Ia melakukan pemanasan dengan menembak bola ke arah ring beberapa kali.


Saat ini Elang tengah memantul-mantulkan bola sebelum melemparkannya ke dalam keranjang 'tring' terdengar suara bola yang masuk dengan sempurna diiringi tepukan tangan. Elang tolehkan kepala dan ternyata Nayla yang melakukan itu.


Hanya Nayla yang memperhatikan Elang. Laki-laki jangkung yang tadi menekuk muka kini menyunggingkan senyumnya walau samar-samar. Ia lakukan itu sekali lagi, memantul-mantulkan bola sebelum melemparkannya ke dalam keranjang. Dan seperti tadi, lemparan Elang tepat pada sasaran dan lagi-lagi hanya Nayla yang bertepuk tangan.


Elang tundukkan kepala, menyembunyikan senyumannya yang kian melebar. Ia senang jika Nayla hanya memperhatikannya saja. Bisa dikatakan jika tadi Elang merasa cemburu.


Sedangkan Nayla, ia tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Elang. Walaupun tadi, laki-laki itu sempat melihatnya dengan tatapan mata sinis tapi tetap Nayla tak bisa pura-pura tak melihat Elang. Bahkan dengan tanpa sadar dirinya bertepuk tangan saat Elang berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.


Mata Elang beradu pandang dengannya saat Nayla bertepuk tangan. Hanya dilihat seperti itu saja membuat jantung Nayla berdebar dengan menggila.


Elang kembali ke tepian lapang, bergabung lagi dengan teman-temannya dan wajahnya sudah tak se-cemberut tadi.


Amelia lah yang masih cemberut tanpa sebab yang pasti. Gadis cantik berkulit putih pucat itu nampak tak bersemangat sama sekali. "Nay, pulang yu... Aku pengen tidur aja rasanya," ucap Amelia terdengar lirih.


"Mau pulang sekarang ? Tapi sebentar lagi mau mulai," ucap Nayla. Yang ia katakan benar adanya. Gedung tempat diadakannya pertandingan itu mulai dipadati para siswa yang akan menonton termasuk Vony dan gengnya yang memilih tempat duduk di atas Nayla dan teman-temannya.


Vony dan gengnya kembali bermuka dua dengan mengumbar senyum ramah seolah tadi tak terjadi apa-apa. Nayla dan Amelia pun berusaha untuk mengabaikan kehadiran mereka.


Tak hanya siswa dari sekolah Nayla, tapi juga para siswa sekolah lain yang datang untuk memberikan semangat pada tim basketnya.


Di seberang sana tim lawan sudah mulai bersiap-siap, begitu juga tim Elang yang mulai berdiri sambil merapikan diri mereka sebelum memulai pertandingan.


Tapi...


Saat satu-persatu anggota tim berjalan menuju lapangan. Ada satu orang yang malah pergi ke tepi. Siapa lagi jika bukan Rafa. Laki-laki yang mempunyai wajah manis itu sengaja mendatangi seorang gadis yang sedari selalu membuang muka jika pandangan mereka bertemu dengan tak sengaja.


"Buat Amel," ucap Rafa sembari memberikan 2 batang coklat pada gadis yang memasang wajah galak itu.


"Rafa gak akan titip tas lagi, tapi titip hati aja sama Amel," lanjutnya lagi dengan senyuman lebar di wajahnya hingga Nayla tak bisa menahan tawanya.


"Apaan sih," ucap Amel judes seperti biasanya.


"Dan Rafa juga mau ambil hatinya Amel biar gak merhatiin cowok lain apalagi sampai perhatiin tim lawan, awas aja !" Rafa memasang wajah galak tapi sepertinya tak cocok karena itu membuat Nayla kembali tertawa.


Amelia segera merebut coklat dari tangan Rafa agar pemuda itu segera pergi dari hadapannya.


"Nah yang ini buat Nayla dan teman-teman ya." Rafa merogoh saku dan mengeluarkan coklat yang berbeda dengan milik Amelia. 2 bungkus coklat dengan bentuk bulat-bulat kecil dan berwarna-warni yang Rafa berikan untuk Nayla dan teman-temannya.


"Wooii Faaaa !!!" Terdengar teriak seseorang memanggil nama Rafa agar segera memasuki lapangan.


"Maka...,"


"Gak usah bilang makasih, apalagi muji Rafa" Rafa memotong ucapan Nayla.


"Rafa emang baik dan tidak sombong orangnya. Tapi jangan sampai naksir Rafa ya, soalnya hati rafa udah dititipin sama cewek yang paling galak di sekolah," ceplos Rafa dan itu membuat Amelia membelalakkan matanya.


"Eh paling cantik maksudnya," ralat Rafa sebelum ia kabur ke tengah lapangan meninggalkan Amelia dengan kata-kata mutiara yang sedang diucapkannya dengan bahasa asing sang Oma.


Elang dan Rafa berjabat tangan ala mereka sebelum pertandingan dimulai. Keduanya melihat ke arah dua orang gadis yang membuat mereka bersemangat untuk berlomba.


Elang melihat pada Nayla, sedangkan Rafa melihat pada Amelia dari kejauhan. Pandangan mata Rafa beradu dengan gadis itu, ia langsung mengacungkan 2 jari tangannya dan menunjukkan pada matanya sendiri namun sedetik kemudian 2 jari tangan itu menunjuk pada Amelia.


Rafa mengisyaratkan bahwa dirinya tengah mengawasi Amelia dari kejauhan agar gadis itu tak memperhatikan laki-laki lain selain dirinya saja.


Dan Amelia pun kembali merangkai kata dalam bahasa asing yang hanya dirinya dan Elang yang mengerti. Nayla dan teman-temannya yang melihat itu tertawa terbahak-bahak.


"Elu, suka nyari gara-gara mulu," bisik Elang pada temannya itu.


"Adek lo makin cakep kalau lagi ngomel-ngomel," sahut Rafa sembari terkekeh geli. Tak lama setelah itu peluit panjang dibunyikan oleh wasit pertanda lomba sudah dimulai.


Tak jauh dari tempat Nayla dan Amelia serta teman-temannya duduk. Vony dan tim pemandu soraknya duduk berkumpul sambil berbisik-bisik. Hati Vony dan Angel terbakar api cemburu saat ia melihat apa yang Elang dan Rafa lakukan.


Vony segera mengeluarkan benda pipih dari tasnya dan menghubungi seseorang agar datang ke pertandingan.