The Unexpected Love

The Unexpected Love
Maaf



Happy reading


Amelia berjalan dengan Menjinjing dua tas. Satu miliknya dan satu lagi adalah milik Rafa. Ia berjalan dengan wajahnya yang cantik namun judes luar biasa, diikuti oleh Elang sang kakak di belakangnya. Saat ini keduanya menjadi pusat perhatian bagi mereka yang berada di sana. Dengan tinggi badan yang diatas rata-rata teman sebayanya, kulit putih pucat dan rambut coklat alami tanpa di cat.


Amelia berjalan penuh percaya diri dengan dagu terangkat dan bibir terkatup rapat. Sorot matanya dingin nan tajam tertuju pada seorang pemuda yang tengah tersenyum-senyum di tengah lapang. Bagaikan hewan predator pada buruannya.


"bugh" Amelia melemparkan tas hitam bertanda ceklis putih itu dengan kasar pada Rafa si pemiliknya. Tanpa kata-kata apapun dari mulutnya, Amelia hanya melemparkan sekeras yang ia bisa. Refleks Rafa menangkap tas miliknya dengan rasa terkejut.


"Amel !!" teriak Elang karena kali ini tindakan Amelia benar-benar di luar batas kesopanan. Elang tahu jika sang adik yang sering menyebutnya 'Es Balok' itu mempunyai sifat galak dan pemarah tapi kali ini tindakannya sudah keterlaluan.


"Kamu ini kenapa ?" tanya Elang masih dengan nada marah.


Amelia menjawab pertanyaan Elang dengan bahasa asing sang oma sambil mengangkat kedua tangannya seolah-olah memeragakan sesuatu. Dia menjawab dengan intonasi suara meninggi. Tak ada seorangpun yang mengerti kecuali Elang, tapi orang-orang di sekitarnya cukup paham jika gadis cantik itu tengah marah.


Amelia mengatakan jika dirinya bukanlah tempat penitipan barang dimana seseorang bisa dengan seenaknya untuk menitipkan tas padanya sedangkan si pemilik bersenang-senang di tempat lain. Amelia bukan gadis yang bisa diperlakukan dengan seenaknya apalagi dimanfaatkan. Itulah kira-kira yang gadis cantik itu katakan pada sang Kakak.


"Arschloch !!" ("bajingan") Amelia mengakhiri rentetan kata-kata yang sudah terucap dari mulutnya.


Elang menarik nafas dalam. Ia cukup paham mengapa sang adik marah, "tenanglah," ucap Elang. Kini mereka tengah menjadi pusat perhatian. Tapi sepertinya Amelia tak perduli karena ia tak mau merendahkan intonasi suaranya.


Rafa hanya terbengong melihatnya, ia sama sekali tak mengerti arti setiap kata yang diucapkan oleh Amelia. "Maaf, maafin kak Rafa ya Mel....," ucap Rafa penuh sesal walaupun ia tak paham apa kesalahan yang telah dibuatnya hingga Amelia marah besar.


Amelia masih merutuki dalam bahasa asing yang tak dimengerti Rafa. Membuat pemuda itu hanya terdiam terpaku di tempatnya berdiri sedangkan 2 anak perempuan yang tengah berfoto-foto dengan Rafa diam-diam pergi menarik diri karena Amelia memberikan tatapan membunuh pada keduanya.


"Rafa serius, Mel. Maafin Rafa...," ucapnya terdengar serius tak seperti biasanya.


Gadis yang dimintai maaf tak menggubrisnya, ia berjalan begitu saja meninggalkan Rafa. "Udah-udah, gak pa-pa kok," kata Elang seraya menepuk halus bahu sahabatnya itu. "Gue balik duluan ya, nyokap gue udah nelepon terus," lanjut Elang kemudian.


"El, Amelia ngomong apa ?" tanya Rafa menahan kepergian temannya itu.


"Gak ada ngomong apa-apa, dia cuma pengen pulang," jawab Elang bohong.


"Gue emang gak ngerti bahasa lo berdua, tapi gue tahu dia marah ma gue. Ayolah El, dia ngomong apa ? gue gak jadi minta traktir di hanamasa deh, asal translate-in apa yang diomongin adek lo tadi" desak Rafa.


"Besok aja, gue harus cepet balik," jawab Elang.


"Oke deh, sampai ketemu besok," ucap Rafa pasrah. Ia pun melihat ke arah Amelia yang sudah mencapai pintu keluar. Gadis itu membalikkan tubuhnya untuk memanggil Elang agar lebih cepat melangkahkan kakinya.


Sesampainya di mobil, Amelia langsung melemparkan tasnya di jok belakang, menyusul dirinya yang kemudian menutup pintu mobil dengan sangat keras hingga membuat Elang dan sang sopir melonjak karena rasa terkejut dan keduanya oun saling bertatapan.


"Maaf," ucap Elang mewakili sang adik pada sopir pribadi ayahnya itu. I meminta maaf atas tindakan Amelia yang kasar.


"Langsung pulang ya, Den ? Ibu dan Bapak sudah menghubungi saya berulang kali," ucap sopir itu dan Elang menganggukkan kepalanya memberikan persetujuan.


Di bangku belakang, Amelia membuang mukanya ke arah jendela. Wajah cantiknya masih nampak tak bersahabat. Sebenarnya Amelia pun tak mengerti kenapa ia bisa begitu merasa marah.


Dalam hati kecilnya ia menyesal karena telah bertindak dengan berlebihan tapi ia benar-benar tak bisa menahan diri. " what you did to me ?" ( apa yang telah kamu lakukan padaku? ) tanya Amelia dalam hati sembari membayangkan wajah seseorang yang sangat ia benci.


***


Pukul 5 sore Nayla telah sampai di rumahnya dengan membawa 2 kantong plastik berisi banyak roti tawar dalam kemasan, dan beberapa jenis selai. Besok rencananya ia, Amelia dan teman-temannya yang lain akan berjualan roti isi.


Nayla memasuki rumah masih dengan hoodie hitam milik Elang yang menempel di tubuhnya. Ibu Nayla melihatnya dengan terheran. "Jaketnya Kak El, dia minjemin aku karena mau hujan," jelas Nayla seolah-olah paham apa yang dipikirkan oleh ibunya itu.


"Ooohhh.... kalau begitu cepat cuci dan keringkan," perintah ibu Nayla.


"Iya sebentar, aku ganti baju dulu,"


Sebenarnya Nayla masih ingin mengenakan jaket itu lebih lama lagi tapi seperti kata Elang tadi jika di luar sudah mendung dan benar saja tak lama setelah Elang pulang hujan turun dengan derasnya.


Udara berubah dingin, Nayla pun tak melepaskan jaket Elang hingga tanpa sadar dirinya menjadi pusat perhatian dan bahan gibahan para siswi perempuan di sekolahnya.


Hanya karena jaket Elang, Nayla tak lagi peka terhadap sekelilingnya. Ia bagai hidup dalam dunianya sendiri. Sungguh ini adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.


Setelah berganti baju, Nayla segera memasukan jaket Elang ke dalam mesin cuci dan memperhatikan gerakan hoodie hitam itu berputar-putar dalam mesin.


Tak sekalipun Nayla beranjak dari sana, seolah tak bosan melakukan itu. Menunggui mesin cuci yang didalamnya hanya terdapat hoodie hitam milik Elang.


Nayla masih berdiri di depan mesin cuci yang suara mesinnya menderu karena hoodie hitam Elang kini sedang dikeringkan. Ibunya yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, tak biasanya Nayla serajin itu menunggu mesin cuci bekerja.


Ponsel Nayla berbunyi, dan ia pun segera memeriksanya. Nayla menggulir layar dan memijit icon aplikasi pesan berwarna hijau dengan gambar telepon. Tertera nama 'Amelia Bestie' di sana dan Nayla pun kembali menyentuh layarnya.


Amelia : "Nay, maafin tadi aku pulang duluan yaa... kamu pulang jam berapa ? kehujanan gak ? terus jadinya besok kita jualan apa ?"


Amelia : " Oh bagus !! nanti aku tambahin deh buat olesannya."


"selai coklat dan selai kacang" tebak Nayla dalam hatinya padahal Amelia masih belum menyelesaikan kalimatnya, karena itu adalah selai kesukaan Elang dan Maminya selalu menyetok kedua rasa selai tersebut dalam jumlah yang cukup banyak.


Amelia : "aku bawa satu toples selai cokelat dan satu toples selai kacang sebagai tambahan."


Nayla tersenyum saat tebakannya tepat sasaran.


Nayla : " oghey"


Amelia : " besok aku jemput ya Nay."


Nayla : "kamu baik-baik aja kan Mel ?"


Nayla bertanya itu karena ia melihat bagaimana sahabatnya itu mengamuk di tengah lapang sebelum ia pulang tadi.


Amelia : "aku lagi kesel Nay, besok aku ceritanya ya... aku lagi sibuk bikin hiasan buat disimpan di atas stand kita besok."


Nayla : "hiasan apa ?"


Amelia pun mengirimkan sebuah gambar dan Nayla tertawa terbahak-bahak melihatnya. Nayla tahu hiasan itu diperuntukkan bagi siapa.


Amelia : "udah dulu ya Nay. sampai ketemu besok."


Nayla : " oghey bestie."


Keduanya pun mengakhiri chat berbalas mereka. Nayla kembali memerhatikan mesin pengering yang belum berhenti berputar, sedangkan di tempat lain Amelia tengah disibukkan dengan kertas karton, spidol dan lem di dalam kamarnya.


Amelia menghentikan pekerjaannya saat ia mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan kamarnya. Letak kamar Amelia memang di bagian paling depan rumah itu.


Amelia berdiri dan menyingkap kain tirai yang menutupi kaca jendelanya. Ia ingin tahu siapa yang datang karena setahunya semua anggota keluarganya telah berada di rumah.


Sebuah mobil BMW putih seri X1 keluaran terbaru yang harganya hampir mencapai satu M itu terparkir sempurna di depan kamarnya. Amelia tahu mobil siapa itu. Mobil yang menjadikan pemiliknya sebagai salah satu siswa populer di sekolah. Pemuda bermulut manis dan sering mengobral gombalan.


"Ciih," decak Amelia kesal lalu ia kembali berjibaku dengan pekerjaannya yang belum selesai.


Beberapa menit kemudian pintu kamarnya diketuk dari arah luar dan terdengar suara Elang beberapa kali memanggil namanya tapi Amelia acuhkan.


Hening untuk sesaat hingga pintu bercat putih itu kembali diketuk dan kali ini suara sang Mami yang memanggil-manggil namanya.


Malas-malas Amelia bangkit menuju pintu untuk membukanya padahal ia sangat malas untuk melakukan itu, karena tak mau bertemu pemuda yang menurut Amelia sangat menyebalkan itu.


Seorang pemuda berdiri dengan boneka beruang coklat yang di depannya terdapat tulisan kata "Sorry" berbentuk hati.


Pemuda itu terdiam terpaku sembari menelan ludahnya paksa. "Kuatin iman Rafa yaa Allah...," ucapnya sangat jelas, dengan mata membola saat ia melihat Amelia membukakan pintu untuknya hanya dengan mengenakan tank top dan celana yang panjangnya hanya sejengkal telapak tangan hingga memperlihatkan kulit tubuhnya yang mulus tanpa cela.


Mendengar ucapan Rafa membuat darah Amelia kembali mendidih karena kesal. Ia pun membanting pintu kamarnya dengan keras hingga tertutup sempurna.


"Maaf... maksud Rafa, maafin Rafa, Mel... yang tadi salah ucap beneran...," ucapnya sembari mengetuk kembali pintu kamar gadis itu.


Sedangkan Elang hanya meraup wajahnya frustasi melihat tingkah laku temannya itu.


To be continued ♥️


thanks for Reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚😚😚


kalau suka ceritanya panjang bantu promosi dong...


yang nanya kapan dewasa tolong bersabarlah.... 🥲


visual versi otor yaa


Amelia



Rafa