
Bel istirahat pertama berbunyi tepat pukul 10.00 pagi. Semua siswa membereskan buku mereka dan bersiap untuk keluar kelas guna mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar.
"Fa, ayo !" Ucap Elang pada sahabatnya itu yang terlihat aneh sejak jam pertama pelajaran dimulai.
"Hah ? Bentar El," sahut Rafa yang tersadar dari lamunannya.
Lagi-lagi Elang terheran melihat Rafa yang tak fokus dengan apa yang dikerjakannya. "Lo kenapa ? Ada masalah ?" Tanya Elang seraya mendukung bokongnya tepat sebelah Rafa.
"Kagak !!" Jawab Rafa cepat.
"Baek banget punya kakak ipar," lanjut Rafa sambil cengengesan dan Elang memukul pelan bahu sahabatnya itu setelah mendapati Rafa ke model aslinya.
Rafa bisa berbohong pada Elang tapi tidak pada hatinya. Sejak melihat Amelia tadi pagi, ia begitu merasakan resah hati. Senyuman Rafa meredup tanpa Elang ketahui.
Keduanya berjalan menuju kantin sekolah. Di mana banyak jenis jajanan yang tersaji dengan bangku-bangku yang disediakan untuk diduduki.
Rafa dan Elang beserta teman-temannya yang lain duduk berkumpul di salah satu bangku sambil menikmati makanan mereka. Seketika kehadiran mereka menjadi pusat perhatian karena mereka adalah sekumpulan anak populer sekolah. Baik siswa senior ataupun siswa junior merasa segan pada Elang dan gerombolannya walaupun sebenarnya Elang dan Rafa tak merasa menjadi seseorang yang istimewa.
Seperti saat ini, tak ada seorangpun yang berani menegur kebisingan yang mereka buat. Semua siswa seolah maklum dan menerima saja.
Entah apa yang dibicarakan, tapi Elang, Rafa dan teman-temannya sedang tertawa terbahak-bahak. Sepertinya mereka sedang mentertawakan kekonyolan Rafa yang sudah dalam tahap akut.
Tapi tawa Rafa langsung surut saat ia melihat gadis yang disukainya melintas begitu saja. Sungguh pemandangan indah yang menyilaukan mata Rafa hingga ia tak bisa berkata-kata saking terpesona.
"Adek Lo makin hari makin cantik ya, El," ucap Rafa tanpa ada nada bercanda seperti biasanya. Pemuda itu berkata dengan serius kali ini.
Elang yang sedang terlibat pembicaraan dengan temannya Langsung berhenti dan melihat ke arah sang adik yang tadi dikomentari Rafa.
" she's such an angel," ( dia terlihat seperti malaikat) ucap Rafa seraya menelan salivanya.
"Lo ini kenapa sih, Fa ? Salah minum obat atau gimana ?" Tanya Elang.
Rafa yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung tersenyum canggung. Bila biasanya Rafa akan mengumbar gombalan ketika bertemu Amelia, tapi kini tidak lagi. Pemuda itu menikmati kecantikan gadis pujaannya dalam diam.
Rafa sangat suka dengan netra coklat karamel gadis pujaannya itu. Menurut Rafa itu adalah mata terindah yang pernah dirinya lihat. Rafa akan rela untuk tenggelam dan kemudian tersesat dalam tatapan mata Amelia.
Merasa diperhatikan Amelia pun tolehkan kepala dan ia dapati Rafa telah menatap intens padanya. Bila biasanya Amelia merasa emosi, tapi kini ia merasa resah hati. Tatapan mata Rafa sangat berbeda dari biasanya. Pemuda itu melihatnya penuh puja dan penuh damba, hingga membuat tubuh Amelia gemetar dengan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya.
Amelia alihkan pandangannya, ia lebih dulu mengakhiri momen saling tatap itu karena dadanya seolah akan meledak saking kencangnya debaran jantung yang Amelia rasakan.
"Gue pengen first kiss gue sama adek lo, El," gumam Rafa tanpa sadar. Tapi perkataannya itu terdengar jelas oleh Elang.
"Lo jangan macam-macam deh, Fa. Walaupun lo temen gue, tapi gue gak akan tinggal diam kalau lo apa-apain adek gue," Sahut Elang dengan sedikit tersulut emosi karena nada bicara Rafa yang tidak terdengar bercanda.
Rafa langsung tolehkan kepala melihat pada Elang. Ia tahu jika sahabatnya itu marah saat mendengar dirinya ingin menjadikan sang adik menjadi ciuman pertama.
"Gue suka adek lo, El," ucap Rafa terdengar sangat serius.
"Fa, lo kenapa sih ? Bikin gue takut aja !" Sahut Elang.
"El, mungkin gue emang suka bercanda tapi tentang adek lo, gue serius," ucap Rafa.
Elang berdecak kesal, walaupun dia tak suka Rafa berkata seperti itu tapi ia pun mengerti jika perasaan dan hati tak bisa kita atur untuk menyukai siapa.
Seperti Elang, kadang ia berharap untuk tidak menaruh hati pada Nayla karena itu sangat membuat dirinya tersiksa juga membuat posisi Nayla dalam bahaya.
Jika saja hati dan perasaannya bisa Elang kendalikan, ia akan menaruh hatinya pada Vony agar tak ada seorangpun yang tersiksa karena dirinya.
Nayla palingkan wajahnya agar Elang tak melihat pipinya yang bersemu merah. Tapi usaha Nayla sia-sia karena Elang sudah lebih dulu melihatnya.
Elang telan ludahnya paksa. Seperti halnya Rafa, Elang juga ingin Nayla yang menjadi ciuman pertamanya karena pemuda itu benar-benar menyukai Nayla.
Seandainya Elang sudah dalam usia dewasa, mungkin apa yang Elang rasakan saat ini adalah sebuah rasa cinta karena laki-laki itu tak menginginkan gadis lainnya selain Nayla.
Mungkin bagi banyak orang Nayla hanya seorang gadis biasa. Tak ada yang istimewa darinya. Tapi bagi Elang, Nayla adalah segalanya. Hanya gadis itu yang terlihat jelas di mata Elang walaupun Nayla berada di tengah keramaian. Bahkan Elang bisa mendengar dan mengenali suara Nayla diantara riuhnya suara siswa lain.
Kini Rafa dan Elang hanya duduk mematung menatapi gadis impian mereka.
***
Bel tanda pulang telah berbunyi. Para siswa dengan semangat membereskan meja mereka dan bersiap untuk pulang.
"Fa, gue balik duluan ya. Bokap ma nyokap gue mau ke Bandung dan Lo tau kalau gue masih dalam pengawasan ketat," pamit Elang.
"Iya, oke !" Sahut Rafa.
Di luar pintu kelas Elang, Amelia sang adik sudah berdiri menunggu kakaknya untuk keluar. Dan entah untuk yang ke berapa kalinya Rafa terjebak dalam pesona gadis itu.
Ia terus perhatikan Amelia seraya membereskan mejanya. Sempat beradu pandang untuk sesaat, namun Amelia segera pergi dengan sang kakak.
Rafa pun keluar dengan tas ransel yang tersampir di bahunya. Ia bertegur sapa dengan beberapa temannya yang bertemu di lorong sekolah. Rafa memang seorang yang ramah dan mudah bergaul. Bahkan tak segan-segan Rafa akan menyapa lebih dulu pada siapapun yang berpapasan dengannya.
Tepat saat Rafa akan keluar dari gerbang sekolah, seseorang memanggilnya dan ternyata itu adalah pelatih basketnya. Rafa pun kembali memasuki kawasan gedung sekolah.
Rafa menghabiskan waktu kurang lebih 40 menit berbicara dengan pelatihnya itu. Membahas pertandingan yang akan digelar salah satu universitas ternama di kota Bogor dan akan diselenggarakan dalam waktu beberapa hari lagi.
Pelatihnya itu bertanya soal kesiapan Rafa dan pemuda itu menyanggupinya. Ia merasa telah sembuh dengan total hingga menyatakan siap untuk ikut dalam pertandingan.
Setelah pembicaraan itu selesai, Rafa pun berpamitan untuk pulang. Suasana sekolah telah sepi karena hampir seluruh siswanya telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Ia melihat hanya tinggal mobilnya saja yang terparkir di pelataran. Rafa pun berjalan dengan gontai menuju ke mobilnya.
Rafa tundukkan kepala untuk mencari kunci mobilnya dari dalam saku celana seragamnya. "Elu yang namanya Rafa ?" Tanya seseorang sembari menepuk kasar bahu Rafa.
Belum juga Rafa menjawab, tiba-tiba saja ia rasakan kepalan tangan yang mengenai wajahnya.
"Bugh !"
"Bugh !"
"Bugh!"
"Aarrrggggghhhh," erang Rafa yang tak sanggup melawan karena mendapatkan pukulan yang bertubi-tubi pada tubuhnya yang dilakukan oleh lebih dari dua orang itu.
Rafa jatuhkan tubuhnya di atas lantai pelataran parkir dengan posisi tubuh meringkuk dan kedua tangan melindungi wajah dan bagian perutnya.
Sedangkan para pemuda yang tak Rafa lihat wajahnya itu terus memberikan tendangan pada sekujur tubuhnya. Mereka tak peduli meskipun Rafa merintih sakit dan memohon ampun.
Tiba-tiba saja pandangan Rafa menjadi gelap. "Ampuni Rafa yaa Allah..., Bunda, Rafa sayang banget sama bunda," batin Rafa dalam hatinya sebelum ia kehilangan kesadarannya.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
mumpung Senin vote yuuu 😚😚