The Unexpected Love

The Unexpected Love
Kerjasama



"Kini giliran dia yang jadi sasaran selanjutnya," tulis nomor tak dikenal itu beserta foto-foto Nayla.


"Siaallllllll" Raung Elang seraya menundukkan kepalanya setara lutut. Air matanya tak juga mau surut. Saat ini diri Elang merasa takut, cemas, menyesal, dan bingung harus melakukan apa.


Melihat sang kakak yang meraung-raung membuat Amelia meninggalkan makan siangnya yang belum habis. gadis itu dudukan tubuhnya tepat di sebelah Elang dan mengusap punggung kakaknya itu dengan pelan.


" A- ada apa ?" Tanya Amelia takut-takut. Entah kenapa pikiran Gadis itu langsung terhubung pada Rafa.


"Ada apa, bang El ? Tolong cerita... A-apa Rafa??" Tanya Amelia terbata-bata bahkan dirinya tak sanggup untuk menyelesaikan pertanyaannya.


Elang mengangkat wajahnya yang sudah memerah dan sembab. " Kamu tahu juga?" Tanya elang sembari terisak-isak.


" Ta-tahu apa ? A-aku gak ngerti," jawab Amelia.


Elang kembali tundukkan kepalanya frustasi berpikir tentang apa yang harus dilakukannya. sedangkan sang adik langsung meraih ponsel Elang yang terjatuh di atas lantai dan membuka pesan tanpa seizin kakaknya itu.


"Ya Tuhan....," Gumam Amelia dengan air mata berhamburan. Gadis cantik itu tak bisa menahan laju air matanya.


Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dalam dirinya yang membuat Amelia menangis kencang melihat keadaan Rafa seperti itu.


"Kak Ra..fa... Kak Ra.. Fa...," Ucapnya berulang kali di sela-sela isakkan tangisnya yang semakin menjadi.


Amelia terus menggulir layar dan mendapati foto sang sahabat Nayla berada di sana. Cepat-cepat Amelia berlari ke kamar dan mengambil ponselnya sendiri lalu mencari kontak nama Nayla dan menghubunginya.


Amelia semakin panik saat nomor telepon sahabatnya itu tak bisa dihubungi. "HP Nayla mati !! HP Nayla mati !!" Jerit Amelia dan itu membuat Elang langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju kamar sang adik. Dengan kasar Elang merebut ponsel Amelia dan mencoba kembali menghubungi Nayla.


"Please angkat...please angkat...," Ucap Elang frustasi.


"Siapa dia, Bang El ? Kenapa mereka menyakiti orang-orang yang Amelia sayang," tanya Amelia masih dengan air mata yang berhamburan.


"Kamu bikin ulah apalagi di luar sana ??" Tanya Amelia lagi penuh emosi bahkan Gadis itu berteriak-teriak pada sang kakak.


"Diam Mel, diam !!!" Sahut Elang sama marahnya.


"Kamu tunggu di sini jangan ke mana-mana, kunci semua pintu dan jangan terima tamu siapapun. Aku keluar sebentar," titah Elang.


"Aku ikut !!"


"Mel, aku mohon sekali ini aja nurut sama aku !!" Ucap Elang seraya melangkahkan kakinya dengan tergesa keluar dari kamar sang adik.


"Bang El mau kemana ? Ingat kamu masih dikurung,"


Elang hentikan langkahnya untuk sesaat dan menolehkan kepala pada sang adik. "Aku mau lihat orang-orang yang kamu sayang," jawab Elang dan Amelia pun kembali menumpahkan air matanya.


"Sayang ? Apa benar aku sayang Rafa ?" Tanya Amelia dalam hatinya. gadis yang tengah menangis hebat itu belum merasa yakin dengan perasaannya sendiri.


Elang berjalan setengah berlari menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Bertepatan dengan ponsel Amelia yang bergetar dan berbunyi menandakan seseorang tengah menghubunginya dan ternyata seseorang itu adalah ayah mereka.


"Jangan biarkan Elang pergi ke luar !!!" Terdengar suara papi Elang yang menggelegar saat panggilan itu terhubung.


"Kamu juga Amelia !! Diam di rumah !! Tunggu sampai Mami dan Papi pulang," lanjut papi Elang tanpa memberikan Amelia kesempatan untuk berbicara.


"Papi ?" Tanya Amelia dengan suara yang bergetar.


"Papi tahu tentang perkara Rafa, tadi orang tuanya menghubungi Papi untuk menolong anak mereka tapi Papi sedang berada di luar kota jadi papi titipkan mereka ke dokter lain. Kamu tahu apa yang terjadi pada sahabat kakakmu itu ? Dia tak sadarkan diri setelah dikeroyok beberapa orang tak dikenal. Entah mengapa tapi perasaan Papi mengatakan ini ada sangkut pautnya dengan Elang,"


"Jadi pastikan Elang tetap berada di rumah begitu juga kamu !! Papi akan kembali ke rumah dalam beberapa jam lagi," lanjut papi Elang tanpa memberikan kesempatan Amelia untuk berbicara dan Ia pun segera mematikan hubungan telepon tersebut secara sepihak meninggalkan Amelia yang masih menangis karena merasa tak percaya.


Elang sudah berada di lantai bawah dengan celana jeans hitam dan hoodie hitam yang sering digunakannya.


"Bang El gak boleh kemana-mana," ucap Amelia.


"Tapi Mel... Aku gak bisa diam saja," sahut Elang frustasi.


Tak lama sopir pribadi mereka dan juga merupakan orang kepercayaan Papi Elang datang memasuki rumah. "Den Elang mau kemana ? Kata bapak tak ada yang boleh pergi," ucapnya.


Sepertinya Mami papi Elang sudah memperingatkan orang-orang yang bekerja di rumahnya untuk memastikan agar anak mereka tak pergi kemana-mana.


"Aku mau keluar sebentar," desak Elang.


"Saya mohon, Den... Bapak akan sangat marah. Beliau akan segera pulang dari Bandung karena beliau sudah membatalkan untuk mengikuti acara seminar,"


"Hah ?" Elang merasa tak percaya. Ia pun tolehkan kepala kepada Amelia dan adiknya itu memberi anggukan membenarkan.


"Jadi saya mohon sebaiknya Den Elang dan Non Amelia tinggal di rumah, sebentar lagi ada Om Denny ( adik papi Elang) yang akan datang untuk membantu menjaga kalian berdua," lanjut Pak Ujang sopir pribadi mereka.


Amelia dan Elang langsung beradu pandang, sama-sama bingung harus melakukan apa padahal keadaan sedang genting.


Terlebih lagi Elang dia tak bisa diam begitu saja saat gadis yang sangat disukainya sedang dalam bahaya besar. Kemudian sahabatnya yang babak belur juga menjadi beban pikiran Elang.


"Baiklah Pak, kami akan tinggal di dalam rumah Bapak tidak usah khawatir," jawab Amelia pada akhirnya.


"Lagian Elang juga nggak bisa ke mana-mana karena kunci mobil dan motornya telah disita oleh Papi," lanjut Amelia meyakinkan sopir pribadinya itu bahwa mereka akan menuruti perintah.


Wajah Pak Ujang yang sedari tadi tegang kini berangsur lega. " Baiklah Non kalau begitu, non Amelia dan den Elang silakan beristirahat. Saya akan berjaga-jaga di luar seperti yang diperintahkan oleh Bapak."


"Iya terimakasih, kami akan beristirahat tidur siang," ucap Amelia seraya memberikan tatapan mata penuh arti pada Elang. Amelia mengisyaratkan agar kakaknya itu mau menuruti apa yang diucapkannya.


Amelia kembali ke kamarnya dan Elang pun kembali menaiki tangga menuju lantai 2 di mana kamarnya berada. Setelah yakin kedua anak majikannya itu menurut apa yang diperintahkan, Pak Ujang si supir pribadi langsung meninggalkan tempat tersebut dan berjaga-jaga di luar rumah seperti apa yang diperintahkan oleh majikannya.


Amelia mengintip dari balik pintu kepergian sopir pribadinya itu. Setelah yakin jika laki-laki paruh baya itu sudah tak ada di sana Amelia keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap dan melangkahkan kakinya menuju kamar orang tua mereka.


Sedangkan di dalam kamar Elang terlihat mondar-mandir frustasi. Mencari jalan untuk melarikan diri. Dirinya terkejut saat mendapati sang adik memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.


"Ini, cepat pergi !! Aku akan berusaha mengecoh perhatian Pak Ujang dan Bang El cari jalan untuk keluar dari sini," ucap Amelia seraya menyerahkan kunci motor punya Elang. Gadis itu mengambil resiko besar hanya untuk bisa membantu sang kakak bisa keluar rumah dan melihat keadaan sahabatnya Nayla dan juga pemuda yang sedari tadi menghantui pikirannya yaitu Rafa.


Tanpa banyak kata Elang langsung menyambar kunci motor miliknya dari tangan Amelia. Keduanya sama-sama berjalan dengan tergesa menuju lantai 1 dan menjalankan rencana.


"Tolong pastikan Nayla baik-baik saja," pesan Amelia pada kakaknya itu sebelum mereka berpisah di tengah rumah.


"Dan tolong lihat keadaan Rafa," lanjut Amelia tanpa menyembunyikan rasa khawatirnya. Elang menatap penuh arti pada sang adik. Ia cukup paham jika Amelia ternyata memiliki rasa yang sama dengan sahabatnya itu.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


Jangan lupa like komen vote dan hadiah


Ayo kita kreji up sampai kreji 🤣