The Unexpected Love

The Unexpected Love
Sarapan Elang



Nayla pandangi cincin bermata berlian yang melingkar indah di jari manisnya. Ia masih tak percaya jika pada akhirnya dirinya dan Elang bersatu dalam satu ikatan. Tinggal hitungan bulan, keduanya akan segera menikah.


Cinta pertamanya di saat remaja kini akan menjadi suaminya. Masih terekam jelas dalam ingatan Nayla bagaimana ia diam-diam menunggu kedatangan Elang di sekolah.


Nayla akan sangat merasa senang walaupun hanya melihat Elang dari kejauhan. Melihat Elang sehat dan hadir di sekolah saja sudah lebih dari cukup bagi Nayla.


Tapi kini laki-laki yang nyaris sempurna di mata Nayla itu akan segera menjadi pendamping hidupnya. Nayla tak pernah menyangka jika Elang pun mempunyai perasaan yang sama dengannya.


" Mau menginap di rumah atau Kakak antarkan ke apartemen, Nay ?" Tanya Alex melalui kaca spion di atasnya. Saat ini Nayla, Nadia, dan Alex si kakak ipar tengah dalam perjalanan untuk kembali ke Jakarta.


Oh ya dan tak lupa si cantik dan bawel Nadine yang sedari tadi menidurkan kepalanya di atas paha Nayla. Gadis kecil itu sepertinya lupa jika dirinya lah yang membuat pernikahan Nayla dan Elang dipercepat.


" Aku pulang ke apartemen aja, Kak," jawab Nayla sembari menyisir rambut Nadine yang panjang dan hitam dengan jemarinya. Ia lakukan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang hingga tak menggangu tidur gadis kecil itu.


" Oke," sahut Alex singkat. Tak lupa ia mengacak puncak rambut Nadia yang sudah tertidur lelap di bangku sebelahnya. Padahal sang kakak sedang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka tapi Alex masih saja memperlakukannya dengan gemas.


" Nadine tidur juga ya, Nay ?" Tanya Alex.


" Iya, Kak,"


" Kamu juga tidur aja, nanti aku bangunkan kalau udah sampai. Tenang saja, aku gak bakalan ngantuk kok," kata Alex.


Saat ini jam menunjukkan pukul setengah 12 malam. Alex sengaja pulang ke Jakarta larut malam agar jalalan tak terlalu macet.


" Iya, Kak," sahut Nayla. Tapi berkali-kali Nayla pejamkan matanya, berkali-kali juga Nayla gagal untuk memasuki alam mimpinya. Padahal hari ini ia merasa lelah sekali. Kedatangan keluarga Elang yang tiba-tiba untuk melamar membuatnya terkejut luar biasa.


Nayla merogoh ponselnya yang berada di dalam tas dan tertera nama Elang di sana. "Jadi pulang ke Jakarta ?" Tanya Elang dalam pesan singkatnya.


" Jadi. Ini sudah di jalan," balas Nayla.


" Ya ampun, Yang... Kalau kamu mau pulang ke Jakarta kenapa gak tadi bareng aku ? jadi aku bisa habiskan waktu sama kamu lebih lama lagi," tulis Elang lagi dan sedetik kemudian laki-laki jangkung itu merubah panggilannya menjadi model video.


Susah payah Nayla mengenakan air buds di telinganya sebelum menerima panggilan itu


"Kangen kamu," itulah kata-kata yang Elang ucapkan pertama kali saat panggilan video itu terhubung.


Untungnya Nayla telah mengenakan air buds miliknya di telinga hingga Alex tak mendengar apa yang Elang katakan karena Nayla pasti akan sangat malu sekali.


" Aku bilang, aku kangen kamu," ulang Elang sembari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Rambutnya yang coklat terlihat berantakan. Kaos hitam polos yang dikenakannya terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang putih terang. Alih-alih menanggapi pernyataan rindu Elang, Nayla lebih suka untuk memperhatikan laki-laki tampan yang sedari dulu mendiami alam khayalnya.


" Yang, kamu bisa denger aku gak ?" Tanya Elang sembari berkerut alis dan Nayla pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Mata Elang menyorot tajam pada layar. " I said, I miss you so much, Sayang," ( aku bilang aku sangat merindukanmu). Elang mengulangi kata-kata rindunya karena sedari tadi Nayla tak menanggapinya.


" I miss you...," Jawab Nayla dan Alex pun menolehkan kepalanya ke arah belakang karena terheran Nayla bicara sendirian. Tapi ia pun tersenyum saat melihat sang adik ipar sedang melakukan panggilan telepon.


Di ponsel Nayla terlihat wajah Elang memenuhi layarnya. Laki-laki itu mengulum senyumnya karena kata-kata rindu yang Nayla ucapkan padanya. Dan ia sangat suka jika Nayla tak menambahkan kata "too" di belakang kata-kata rindunya. Karena menurut Elang dengan begitu Nayla benar-benar merasakan rindu bukan sekedar menanggapi pernyataannya.


" Amel udah pulang ?" Tanya Nayla tanpa bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


" Sudah, tadi jam 10 dan langsung masuk ke dalam kamarnya," jawab Elang.


" Dia masih marah sama aku ?" Tanya Nayla. Wajahnya kini berubah sendu. Nayla sangat merasa sedih karena Amelia yang terus mendiamkannya.


" Apa sebaiknya kita tak usah bertunangan saja ?"


" What ? Apa maksudmu, Yang ?" Tanya Elang sembari bangkit dari atas tempat tidurnya lalu ia pun berdiri. Wajahnya menegang saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kekasihnya. Apa yang Elang lakukan bisa Nayla lihat dengan jelas di layar ponselnya.


" Mungkin sebaiknya kita tak usah menikah saja. Aku tak ingin persahabatanku dengan Amelia menjadi hancur karena ini,"


"A-apa ?" Tanya Elang dengan paniknya.


" Ah f*ck !!!" Umpatnya pelan. Saking paniknya Elang mendengar kata-kata Nayla, membuat laki-laki jangkung itu kehilangan kendali atas ponselnya sendiri.


Benda pipih berlogo apel tergigit di bagian ujungnya itu terjatuh ke atas lantai hingga kini bukan wajah Elang yang memenuhi layar ponsel Nayla melainkan langit-langit kamar lelaki itulah yang kini dilihatnya.


"Kak El ?"


Nayla pun melihat ke arah depan, ia takut Alex mendengar percakapannya dengan Elang. Karena selama ini yang membantu Elang itu adalah Alex, hingga Nayla berpikir Elang dan kakak iparnya itu adalah komplotan yang sama.


Nayla menarik nafas lega saat melihat Alex tengah fokus pada jalanan sembari mendengarkan lagu. Nayla pun kembali fokus pada ponselnya yang kini sudah menampakkan wajah Elang lagi di layarnya.


" Yang... Kamu kok ngomong gitu ?" Tanya Elang tak suka. Raut wajah Elang yang tadinya bahagia kini terlihat kecewa.


"Aku nungguin kamu dari umur belasan tahun, Nay. Jauh-jauh aku pulang buat nikahin kamu, dan kini kamu mau kita mundur ? Aku gak mau," lanjut Elang.


" Jangan !! Biar besok pagi aja aku yang datang dan bicara langsung padanya. Tolong pastikan Amelia tak pergi kemana-mana sebelum aku datang,"


Elang yang hampir mencapai pintu, menghentikan langkahnya dengan sedikit ragu.


" Aku mohon... Biar aku yang bicara sama Amelia besok," ucap Nayla.


" Tapi tarik ucapanmu yang tadi, Yang... Katakan kamu tak serius dengan pembatalan pernikahan kita," wajah Elang terlihat memelas di sana.


"Please... Aku mohon, Yang.. katakan jika kamu tak serius tentang hal itu," mohon Elang karena Nayla tak juga berkata-kata.


" Aku mencintaimu, Nay. Tak mungkin lagi buat aku, lepasin kamu. Aku akan terus berusaha untuk selalu bisa denganmu, aku akan terus berjuang untukmu" ucap Elang frustasi.


"Aku mencintaimu..," jawab nayla pada akhirnya. Melihat kesungguhan Elang membuat Nayla semakin tak mau kehilangan laki-laki itu


"Let's make this thing work out together," ( mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama) lanjut Nayla dan wajah Elang yang murung pun berangsur ceria.


"Iya, kita akan menghadapi ini bersama. Aku tunggu kedatanganmu besok pagi. Aku akan menahan si galak itu untuk tidak pergi kemana-mana,"


" Hus !! Galak-galak juga dia sahabat aku !! Kamu gak boleh ngatain Amelia seperti itu!!" Nayla memelototkan matanya pada Elang penuh ancaman. Tak terima Elang mengatakan hal buruk tentang sahabatnya itu.


Hal yang sama yang sering Amelia lakukan dari dulu hingga sekarang. Amelia selalu membelanya tak peduli siapapun lawannya. Amelia akan membelanya baik itu terhadap Vony ataupun Rio.


Oleh karena itulah Nayla tak mau jika harus kehilangan sahabatnya itu.


Tapi Nayla pun mengerti mengapa Amelia marah padanya. Tentunya gadis itu merasa dikhianati karena selama ini Nayla tak memberitahunya tentang Elang. Padahal saat remaja Amelia hampir tak pernah terpisah darinya. Mereka selalu bersama-sama.


" Baiklah sayang... Kabari aku ketika kamu sudah sampai di apartemen," ucap Elang sebelum ia menutup panggilan videonya.


***


Pagi-pagi sekali Nayla sudah bangun, padahal jika hari Minggu seperti ini, ka akan bermalas-malasan di atas tempat tidur hingga siang.


Gadis itu akan membaringkan tubuhnya sembari menonton banyak film dan mandi ketika hari sudah sangat siang.


Tapi pagi ini Nayla sudah terlihat rapi. Ia kenakan celana straight jeans dan kemeja hitam lengan panjang yang sangat sempurna membelit tubuhnya yang langsing. Rambutnya yang panjang Nayla ikat tinggi-tinggi bagai ekor kuda. Tak lupa Nayla pun memberikan riasan natural di wajahnya.


Rencananya setelah menghabiskan sarapan, Nayla akan segera memesan taksi online dan pergi ke rumah Elang untuk bertemu Amelia.


Nayla duduk di meja dapur sambil mengunyah roti berisikan selai kacang dan coklat seperti kesukaan Elang. Namun belum juga rotinya habis, bel pintunya berbunyi.


Nayla tolehkan kepalanya ke arah jam dan melihat jam di dinding itu menunjukkan pukul delapan pagi. "Siapa yang bertamu sepagi ini ? Ah apa mungkin kiriman makanan dari Mbak Nadia ?" Nayla menebak-nebak siapa yang bertamu padanya sepagi ini. Ia pun meletakkan rotinya di atas piring dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Nayla mengintip dari lubang pintu untuk melihat siapa yang berada di luar pintu apartemennya saat ini. Tak terlihat wajah si tamu itu, tapi buket bunga mawar lah yang terlihat oleh Nayla. Dan dari tinggi badannya yang di atas rata-rata Nayla tahu jika tamunya itu adalah Elang.


Bibir Nayla langsung tersenyum, padahal mereka belum bertemu secara langsung. Dengan penuh semangat Nayla pun membuka pintu apartemennya dan benarlah Elang yang berada di sana.


" Selamat pagi, calon istri," ucap Elang seraya menyerahkan buket bunga mawar itu pada Nayla.


" Terimakasih, calon suami," sahut Nayla dan ia pun meraih buket bunga yang Elang berikan sembari menghirup wanginya dalam-dalam.


Elang menarik nafas dalam saat melihat yang sangat cantik di matanya. Tak bisa menahan diri lagi, Elang pun meraih buket bunga mawar itu dari tangan Nayla dan menyimpannya di atas meja. " Kok diambil lagi ? Bukannya buat aku ?" Tanya Nayla terheran.


Bukannya menjawab pertanyaan Nayla, laki-laki jangkung itu malah merengkuh tubuh Nayla agar mendekat padanya dan tanpa aba-aba ia mengkat Nayla pada pangkuannya.


" Aaawww," pekik Nayla karena terkejut. Dadanya berdetak menggila karena kini Elang tengah mengulum bibirnya rasa-rasa.


Mata Nayla membulat sempurna saat mendapat serangan bibir Elang yang tiba-tiba. "Balas ciumanku, Yang..," tuntut Elang dengan lirih.


Nayla yang mulai tersadar dari rasa terkejutnya mengalungkan tangannya di leher Elang dan melingkarkan kakinya di pinggang laki-laki jangkung itu.


Lalu Nayla pun membalas ciuman Elang dengan sama inginnya. Ia merema*-rem*s rambut Elang dengan jemarinya dan Elang pun memperdalam ciumannya dengan melesakkan lidahnya ke dalam mulut Nayla yang sedikit terbuka.


Susah payah Nayla membalas ciuman Elang yang semakin panas dan menuntut. Ia pun berusaha melepaskan diri karena pasokan udara yang berkurang ke dalam paru-parunya.


" Kak El... El... Hentikan...," Lirih Nayla.


Elang pun menghentikan ciumannya dengan nafas yang menderu terengah-engah. Keduanya saling pandang dengan wajah yang sama-sama merona merah dan Nayla masih berada dalam pangkuan Elang.


" Terimakasih sarapannya, selai coklat dan kacang adalah kesukaan aku," ucap Elang lirih.


Nayla menggigit bibir bawahnya saat ia sadar. Tadi sebelum berciuman, dirinya tengah menikmati sarapan roti berisikan kedua selai kesukaan Elang itu.


" Bolehkah aku menikmati sarapanku lagi ?" Tanya Elang dengan matanya yang sudah menatap sayu.