The Unexpected Love

The Unexpected Love
Kangen



" Atas nama The Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan Anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!" Terdengar suara seorang pramugari memberikan pengumuman terakhirnya sebelum pintu pesawat dibuka.


Seorang lelaki dengan tinggi tubuh di atas rata-rata sudah duduk gelisah di bangkunya. Tak sabar ingin segera keluar dari pesawat yang ditumpanginya.


Bukan karena ia merasa lelah karena penerbangannya yang terbilang lama. Bukan juga karena ia bosan berada di dalamnya. Lelaki itu sudah tak sabaran untuk bertemu seseorang yang sangat dirindukanny. Seorang wanita yang belum lama ini dinikahinya.


Beberapa kali Elang melirik pada jam nya. Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Masih ada waktu untuk Elang pulang ke apartemen dan menyimpan koper serta yang lainnya. Lalu Elang akan memberinya kejutan dengan menjemput istrinya itu di jam pulang.


Elang mengatakan pada Nayla jika ia akan pulang besok malam ke indo, tapi sebenarnya ia menjadikannya satu hari lebih cepat. Elang sudah tak sabaran untuk melihat senyuman malu-malu Nayla yang selalu membuatnya candu.


"Nay, aku kangen," gumam Elang sembari melihat ke arah luar jendela. Nayla tak tahu jika Elang sangat sering memanggil namanya di mana saja saat ia mengingat istrinya itu.


"Nay...," Gumamnya lagi dengan pelan. Wajah manis Nayla terbayang-bayang di kepalanya.


Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang Elang rasakan. Sejauh apapun dia pergi, setinggi apapun ia terbang. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada Nayla seorang. Dan padanya lah Elang akan pulang. Sel


Pintu pesawat pun dibuka lebar. Satu demi satu para penumpang pun berdiri dan bersiap meninggalkan bangku mereka. Begitu juga dengan Elang. Lelaki jangkung berkulit putih dan berambut coklat alami itu menjadi pusat perhatian. Terutama bagi para kaum hawa.


Mereka akan melihat Elang dengan spontan, lalu memperhatikan lelaki jangkung dan tampan itu dengan tatapan mata terpesona. Elang terkadang sering merasa risih hingga ia harus mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.


Seperti sekarang ini. Elang sudah ikut berdiri mengantri bersama penumpang yang lain untuk keluar dari pesawat. Beberapa orang perempuan melihat padanya sambil berbisik-bisik pada temannya. Maka Elang segera mengenakan maskernya lagi. Menghindari tatapan mata para perempuan itu.


Sedari dulu Elang tak suka gadis yang agresif dan menunjukkan rasa suka mereka dengan kentara. Elang suka Nayla yang malu-malu dan polos. Nayla tak banyak bicara tapi mampu membuat jantung Elang berdebar kencang saat disisinya. Nayla akan palingkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu, tapi Elang ingin Nayla hanya melihat padanya saja. Elang tersenyum saat ingat itu semua. "Pasti karena hanya kamu yang aku cinta, Nay," gumam Elang. Menyebutkan nama istrinya lagi. Nayla menjadi alasan mengapa Elang tak akan menyukai perempuan lain. Karena hanya istrinya itulah yang paling sempurna di mata Elang.


***


Satu jam kemudian, Elang sudah sampai di apartemen miliknya. Ia menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara yang Nayla tempati. Membuat rasa rindu Elang sedikit terobati.


Ia edarkan pandangannya dan mendapati apartemennya yang nampak rapi seperti biasanya. Nayla selalu bisa membuat tempat itu menjadi nyaman padahal mereka tak punya asisten untuk membantu pekerjaan rumah.


Namun mata Elang menangkap sesuatu yang terlihat berantakan di atas meja makan. Anehnya itu bukanlah sisa-sisa makanan yang berada di sana. Elang pun berjalan untuk melihatnya.


Elang mengulum senyum saat melihatnya. Dadanya yang menghangat terasa penuh rasa haru bahagia saat ia mendapati mamanya "Elang" tersusun di permainan acak kata scrable milik Nadine keponakannya. Rupanya tak hanya Elang saja yang merasakan rindu tak terkira, tapi Nayla juga.


"Aku udah pulang, Sayang," ucap Elang sembari tersenyum menatapi namanya sendiri yang tertulis di sana. Elang tak ingin merapikannya. Ia ingin namanya tetap tertulis. Bahkan ia mengambil gambarnya dengan ponsel miliknya sebagai tanda bukti jika Nayla selalu ingat padanya dan selalu menunggunya pulang.


Setelah cukup puas melihatnya, Elang menyimpan koper tanpa membereskannya lebih dulu. Ia ingin beristirahat agara terlihat segar ketika nanti bertemu Nayla. Elang menyetel alarm di ponselnya agar tak terlambat bangun.


Elang baringkan tubuhnya di atas ranjang dengan senyuman yang sulit surut dari bibirnya. Hal sederhana yang Nayla lakukan mampu membuat hati Elang luluh lantak dibuatnya.


***


Masih ada 30 menit waktu untuk pulang kerja tapi Nayla sudah selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia ingin memberikan sebuah laporan pada bos besarnya, Alex. Tapi sayangnya si bos kini kembali 'sibuk' dengan istrinya.


Tanpa Nadia ketahui, Nayla selalu mendoakan keharmonisan rumah tangga kakaknya itu dalam setiap sujudnya. Dan Nayla kini berucap banyak kata syukur saat Tuhan mengabulkan doanya.


Kini Nayla bisa lebih fokus lagi dalam merindukan "Elang," gumam Nayla. Seringkali ia menyebutkan nama suaminya itu tanpa sadar karena saking rindunya. Bahkan tadi pagi, ia tak puas hanya dengan menyebutkan namanya saja. Nayla menuliskan nama 'Elang' di permainan scrable milik Nadine.


Nayla tersenyum, lalu ia membuka kembali layar laptopnya dan mencari ide kejutan yang romantis untuk kepulangan Elang besok malam.


Kejutan makan malam romantis adalah pilihan Nayla. Ia pun mulai menarikan jemarinya di atas keyboard untuk mencari ide tersebut. Hingga tak terasa waktunya untuk pulang pun tiba.


Nayla berjalan dengan sebuah map di tangannya. Ia tak langsung menuju lift, tapi melangkahkan kakinya lebih dulu ke ruangan Alex.


Terlihat Joy sang sekretaris Alex sudah tersenyum padanya dari kejauhan. Wanita itu tengah membereskan mejanya untuk pulang. " Pak Henry sudah pulang sama ibu dari 15 menit yang lalu," ucap Joy lebih dulu pada Nayla.


"Mereka sangat sibuk ya akhir-akhir ini," sahut Nayla sambil tersenyum penuh arti dan Joy menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dan ia pun tersenyum seperti halnya Nayla.


"Mbak, aku titip laporan ini aja ya. Takutnya Kak Alex memerlukannya pagi-pagi,"


"Oke," jawab Joy seraya meraih map yang Nayla berikan.


Nayla pun berpamitan untuk pulang. Ia berjalan sendirian menuju lift dengan pikirannya yang dipenuhi oleh Elang. Sebelum pulang Nayla berniat untuk berbelanja keperluan makan malam romantis besok saat Elang pulang. Sudah terbayang apa saja yang akan Nayla beli. Ia senyum-senyum sendiri.


Asyik dengan pikirannya sendiri hingga tak sadar jika lift sudah membawanya ke lantai bawah. "Oh," gumam Nayla sambil melangkahkan kakinya keluar dari benda itu bersama pegawai yang lainnya.


"OMG ganteng banget,"


Nayla mendengar beberapa gadis yang tengah membicarakan sesuatu. Tapi Nayla tak ambil pusing karena itu bukanlah urusannya.


Nayla malah sibuk dengan ponselnya. Ia berjalan sambil tundukkan kepalanya, fokus pada layar yang memperlihatkan gambar-gambar tentang makan malam romantis.


Sebisa mungkin Nayla menghindar dari orang-orang dengan instingnya. Tapi ada seorang lelaki yang sengaja menghalangi jalannya agar tertabrak.


"Ah sorry," gumam Nayla sambil mengangkat wajahnya, melihat tak percaya pada lelaki itu.


"Gak aku maafin," jawab Elang sambil tersenyum lebar, melihat geli pada istrinya yang membolakan mata.


Hampir saja Nayla menjatuhkan ponselnya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya mengembun tanpa diminta.


"Aku pulang... Aku kangen banget sama kamu, istriku...," Ucap Elang sembari menundukkan kepalanya dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri yang sangat dirindukannya itu. Tak peduli banyak mata yang melihatnya.


Desah kecewa dapat Nayla dengar dari para perempuan yang membicarakan lelaki ganteng tadi. Ah... Rupanya mereka tengah membicarakan Elang suaminya.