The Unexpected Love

The Unexpected Love
Yang Selanjutnya Terjadi



POV Elang


Aku terima keputusan Papi dengan lapang dada, walaupun sebenarnya akan sangat berat berpisah dengan teman-teman baikku dan juga.. Nayla.


Setelah itu Papi masih berbicara panjang lebar tentang track record kenakalan yang pernah aku lakukan dan akibatnya. Aku tertunduk tanpa melawan. Karena memang seperti itu, aku tak pernah berani meninggikan suaraku pada kedua orangtuaku. Ku lihat mami dengan ujung mata. Beliau tengah memandangku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan. Sedih dan kecewa pastinya yang Mami rasakan dan itu membuatku semakin merasa bersalah.


"Tak ada yang bisa menolong kamu selain diri kamu sendiri ! Masa depanmu, kamu yang tentukan. Bukan kami !!" Ucap papi dan aku hanya terus tundukkan kepala, tak berani untuk menatap matanya yang masih diliputi rasa marah.


"Kamu boleh kembali ke rumah ini setelah berhasil menjadi seseorang yang berguna, Elang ! Kamu gak boleh pulang kalau belum sukses !! "


Mendengar perkataan itu, membuatku mengangkat wajahku melihat pada Papi. Ia berbicara dengan sungguh-sungguh, dan sangat serius dengan apa yang diucapkannya.


Bahkan beliau mengatakan jika dirinyalah yang akan menemui ku jika ada sesuatu keperluan. Pada intinya, aku hanya boleh kembali jika aku sudah bisa membanggakan mereka.


Aku pasrah dan tak membantah. Aku anggukan kepala sebagai tanda setuju. Setelah itu Papi kembali memberikan nasehat-nasehat tapi aku sudah tak bisa mendengarnya lagi. Pikiranku sudah penuh dengan kata-kata "gak boleh pulang". Aku pun menarik nafas dalam. Sepertinya aku memang tak ditakdirkan untuk bersama dengan gadis yang menjadi cinta pertamaku, gadis yang sudah menjadi ciuman pertamaku.


Setelah papi puas mengeluarkan unek-uneknya, aku pun diperintahkan untuk segera memasuki kamarku dan setelah itu aku melihat papi mulai menelepon beberapa orang kenalannya yang aku yakin ada kaitannya dengan masalah ini.


Aku berjalan dengan gontai menuju kamarku, aku tatap nanar pintu kamar Amelia yang tertutup rapat. Rasa bersalah kembali menyelimutiku. Adikku harus mendapatkan hukuman karenaku dan aku benar-benar tak kuasa untuk membelanya.


Ku ketuk pelan pintu kamar Amelia tapi tak ada jawaban. Entah Amelia sudah tidur atau ia tak mau berbicara padaku. "Nayla baik-baik saja dan Rafa sudah ditangani medis tapi sayangnya belum sadarkan diri," ucapku pelan dari balik pintu tanpa tanggapan apapun dari Amelia.


Setelah menunggu beberapa saat, Amelia tak juga bereaksi. Akhirnya aku putuskan untuk memasuki kamar dan berganti baju. Aku peluk hoodie hitam yang tadi dipakai Nayla. Aroma cologne bayi masih menempel dan aku suka itu. Aku tidur meringkuk sambil memeluknya tapi mataku tak bisa terpejam.


Tak lama, ku dengar suara deru mesin mobil yang menyala. Ku intip melalui celah-celah tirai jendela ternyata Papi yang pergi keluar rumah. Sepertinya beliau akan kembali ke rumah sakit untuk menangani sahabatku, Rafa.


Aku benar-benar merasa hancur dan tak berguna. Yang bisa aku lakukan hanya menyesalinya. Seandainya aku tak salah pergaulan, seandainya aku selalu menurut perkataan Mami, ah seandainya....


Aku terjaga semalaman masih dengan hoodie hitam dalam pelukan dan bayangan ciuman pertamaku dengan gadis yang pipinya merona merah. Hanya dia yang aku pikirkan... Dan juga Rafa. Tak henti-hentinya aku memohon agar Tuhan menyelamatkannya. Bahkan aku tak memikirkan akan kemana Papi mengirimku, aku tak peduli.


Entah berapa lama sisa waktu yang ku punya sebelum pergi tapi pastinya tak banyak. Aku tersenyum karena masih diberikan kesempatan untuk bisa melihat Nayla sebentar lagi.


Nayla....


Ah.. mengingatnya membuat ku sadar jika keberadaan Nayla belum 100 persen aman. Tepat pukul 02.00 pagi aku mengirimkan pesan pada Leo untuk meminta nomor kontak Vony.


Butuh waktu lebih dari 4 jam hingga pesan itu berbalas. Leo pun mengirimkan nomor ponsel sepupunya itu.


Cukup lama aku menatap enggan nomor ponsel gadis itu dan dengan berat hati aku tuliskan sebuah pesan untuknya. "Von, ini gue Elang. Gue mau jadi pacar lo," Dengan penuh pergulatan batin aku mengirimkan pesan itu karena wajah Nayla lah yang terlintas di kepalaku. Setelah pesan itu terkirim aku segera membersihkan diri dan bersiap untuk sekolah.


Masih dengan handuk yang melilit di pinggangku, ku lihat ponselku bergetar di atas meja. Tertera nomor yang tadi ku kirimi pesan beberapa belas menit tadi. Kubiarkan tetap menyala tanpa ku jawab hingga getarannya berhenti dengan sendirinya.


Terlihat banyak panggilan tak terjawab juga pesan yang dikirimkan oleh nomor itu.


+ 62821xxxx


"Ini beneran kamu, El ?"


+ 62821xxxx


"Elang, aku telepon kok gak diangkat ?"


+ 62821xxxx


"Elang kamu gak bercanda kan ?


+ 62821xxxx


"Please angkat telepon aku !"


+ 62821xxxx


"Oke, aku tahu ini beneran kamu dari Leo. Aku terima kamu jadi cowok aku 🥰,"


+ 62821xxxx


"Rule ke satu : gak boleh panggil Lo-Gue. Tapi aku-kamu. Lebih bagus lagi ada panggilan sayang.


Rule ke dua : harus kelihatan mesra di sekolah.


Rule ke tiga : harus makan bareng waktu istirahat.


Rule ke empat: selalu ngabarin aku.


Rule....


Aku berdecak kesal sambil melemparkan ponsel ku asal tanpa membalasnya terlebih dulu, bahkan tak semua pesan aku baca.


Ponsel ku bergetar lagi menandakan seseorang menghubungi dan aku tahu siapa yang melakukannya. Malas-malas aku melihatnya dan ternyata gadis itu lagi.


Karena aku tak juga menjawab panggilannya, vony mengirim pesan bahwa aku harus membawa jaket hoodie hitam kesayanganku karena semua jaketnya kotor.


Tak ingin berdebat panjang aku pun hanya membalas "ok"


Untungnya hampir semua bajuku berwarna hitam begitu juga dengan jaket hoodie hitam yang ku punya lebih dari satu itu.


Tak akan kuberikan yang ada jejak Nayla di sana. Tak akan pernah, karena itu hanya untukku seorang.


Pagi itu aku bertemu Amelia di meja makan, ia tak banyak bicara seperti biasanya. Aku dudukkan tubuhku tepat di sebelahnya. "Maafin Bang El," ucapku pelan dan Amelia hanya tersenyum samar. Matanya sembab, sepertinya dia menangis semalaman.


"Nayla baik-baik saja," ucapku padanya dan Amelia pun tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.


"Kalau Rafa...,"


"Rafa udah sadar," kata Papi memotong ucapanku. "Masa kritisnya sudah lewat tapi ia masih dalam masa pemulihan dan harus diawasi dengan ketat," lanjut Papi sembari mendudukkan tubuhnya di hadapan ku. Sumpah demi apapun aku benar-benar merasa lega luar biasa, begitu juga Amelia yang terlihat lebih bernyawa dari saat pertama aku melihatnya tadi.


"Tapi karena ini sudah masuk ke tindakan kriminal, Papi meminta kenalan Papi yang berada di kepolisian untuk menyelidikinya,"


Aku hanya bisa tertunduk mendengarkan segala ucapan Papi. Ingin rasanya aku berdiri dan memeluknya sambil mengucapkan kata terimakasih, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya.


"Terimakasih, Pi," ucapku pelan dengan kepala tertunduk.


***


Tak banyak kata yang keluar dari mulutku juga adikku Amelia saat kami berada di dalam mobil menuju ke sekolah. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.


Aku memikirkan Nayla. Jantungku berdetak cepat saat ingat ciuman pertama kami kemarin. Bagaimana Nayla melihatku sekarang ? Apa masih melihatku hanya sebatas kakak sahabatnya saja ? Atau melihat ku sebagai laki-laki yang menyukainya. Wajahnya yang menegang saat bibir kami bersentuhan selalu terbayang dengan jelasnya di kepalaku.


Khayalanku harus pergi saat ku lihat Vony sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Aku pun menarik nafas dalam.


"Mel, kamu duluan aja ya," ucapku pada Amelia dan adikku itu menuruti ucapanku. Ia berjalan sendiri ke kelasnya.


Aku segera bicara dengan Vony di tempat yang sedikit tersembunyi setelah adikku pergi. Banyak yang Vony ucapkan tapi tak satupun yang tertangkap oleh kepalaku. Aku benar-benar tidak bisa fokus, yang kudengar jelas hanya ia meminta hoodie hitam ku. Vony langsung mengenakannya saat jaket itu ku berikan.


Gadis itu juga langsung menggenggam tanganku saat kami keluar dari tempat persembunyian. Ia berjalan di sampingku dengan jemari saling bertautan. Beberapa siswa melihat kami tak percaya.


Ingin rasanya aku menghilang ke dasar bumi daripada berada di sini. Sialnya lagi Vony sengaja berjalan dengan santai untuk memamerkan hubungan kami.


Setelah berjalan beberapa waktu, aku melihat Amelia tengah berdiri di depan kelasnya dengan seorang gadis yang selalu memenuhi pikiranku.


Mata Amelia membulat saat melihatku dengan Vony bergandengan tangan. Dari gerakan bibirnya, aku tahu jika Amelia sedang memaki, adikku itu langsung masuk ke dalam kelasnya seolah-olah tak ingin melihatku.


Sesuai dengan dugaanku, keputusanku untuk memacari Vony akan menyebabkan diriku dibenci banyak orang. Termasuk diriku dan juga para netijen yang membaca kisah ini.


Gadis yang tadi bicara dengan adikku pun memutar tubuhnya hingga kini ia melihat ke arahku.


Deg !


Pandangan mata kami bertemu. Nayla melihatku tanpa ekspresi, pandangan matanya menurun melihat pada genggaman tanganku yang bertautan dengan jemari Vony.


"Maafkan aku Nay," ucapku dalam hati.


"Kuharap suatu hari nanti kamu mengerti bahwa aku melakukan ini karena aku cinta kamu. Ah ya... Aku cinta kamu, Nayla," raung batinku.


Tak kuasa lagi, aku alihkan pandanganku saat berpapasan dengannya. Sedangkan Vony mengumbar senyum puas sembari menarik lenganku untuk melingkar di pundaknya tepat di hadapan Nayla.


Dan di sinilah aku sekarang, duduk di bangku paling belakang dengan pikiran melayang-layang. Apa yang bu guru jelaskan tak ada satupun yang tertangkap oleh kepalaku. Dan itu berlangsung selama jam pelajaran.


Bel istirahat berbunyi, aku segera keluar untuk menemui pelatih basketku dan mengatakan bahwa aku mengundurkan diri sebagai kapten tim, bahkan aku nyatakan keluar dari klub.


Pak Yosef selaku pelatih berusaha menahan keputusanku. Kami berbicara cukup lama karena beliau terus membujukku untuk tetap tinggal, tapi keputusanku sudah bulat.


Aku tinggalkan semua yang hal-hal yang aku cintai agar orang-orang yang ku sayang tidak terkena imbas dari kenakalanku. Sungguh aku menyesal karena telah salah dalam bergaul.


Vony, sudah memasang wajah cemberut saat aku keluar dari ruang pelatih ku. Sepertinya Vony marah karena aku tak langsung datang ke kelasnya saat bel istirahat tadi.


Vony terus mengomel kesal, sedangkan aku diam saja tak berkata apapun. Aku malas berdebat tentang sesuatu yang tak penting.


Aku hanya kembali pasrah saat Vony kembali menggandeng tanganku menuju kantin.


Di kantin ku lihat Amelia, duduk bersama teman-temannya tanpa ada Nayla di sana. Aku tahu Nayla pasti sakit hati dengan apa yang aku lakukan.


Tapi percayalah hatiku terasa lebih sakit lagi karena menyebabkan orang yang ku cinta menderita.


"Ya.. Tuhan... Ku mohon segera pindahkan aku dari sekolah ini..." Mohonku dalam hati.


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚