
Melihat Rafa, membuat Amelia menghela nafasnya dalam. "Please lah jangan ngereog di sini," ucapnya memelas. Ia tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan keadaan di sekitarnya. Amelia takut dirinya dan Rafa menjadi pusat perhatian.
Lalu Amelia melihat kembali pada Rafa. Lelaki itu masih tersenyum lebar dengan dua alisnya yang bergerak naik turun. Amelia yakin hati suaminya itu tengah bergoyang Pantura di dalam sana. "Ya Tuhan... Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya yang sangat aneh dan ajaib itu ?" Batin Amelia dalam hatinya.
"Dan gilanya lagi, kamu rela tinggalkan semua agar bisa bersamanya," lanjut Amelia, ia masih berbicara dalam hati.
Melihat sang suami yang masih saja melayang di awang-awang membuat Amelia mendengus kesal. Ia pun berpikir sejenak untuk mencari akal. Amelia tersenyum penuh maksud saat ingat ada satu ancaman yang bisa membuat Rafa kembali ke alam sadarnya dengan cepat.
Amelia berjalan menuju Rafa dan membisikkan sesuatu di telinga suaminya itu. Membuat Rafa segera kembali ke alam sadarnya. "Aaahh sayangnya Rafa ancamannya kejam banget !!" Rajuk Rafa sembari mengikuti langkah Amelia menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana papi Amelia menempati ruangannya.
Di fakam lift, Amelia bisa melihat keadaan Rafa yang gugup. Suaminya itu beberapa kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. "Semuanya akan baik-baik saja," ucap Amelia seraya meraih jemari Rafa dalam genggamannya.
Rafa tolehkan kepalanya dan mengangguk pelan. "Selama ada kamu, aku berani untuk melakukan apapun," sahutnya sembari menarik genggaman tangan Amelia dan menciumnya. "Cinta banget sama sayangnya Rafa," ucapnya lagi. Rafa menatap dalam mata Amelia saat mengucapkan itu.
Amelia menggigit bibir bawahnya. Pernyataan cinta Rafa selalu membuatnya merasakan banyak kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Menggelitik dengan cara yang sangat menyenangkan dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ingin rasanya Amelia mengatakan jika dirinya pun sangat mencintai suaminya itu. Tapi Amelia tahu ini bukanlah saat yang tepat. Tak mungkin ia membuat Rafa kesurupan cinta di dalam lift.
'ting' terdengar suara pintu lift yang terbuka. Amelia pun menarik nafasnya lega.
"Kita sudah sampai, ayo !" Ajak Amelia sembari menggandeng tangan suaminya itu. Mereka berjalan berdampingan dengan jari jemari yang saling bertautan seolah sama-sama tak ingin kehilangan.
"Kamu udah siap ?" Tanya Amelia saat mereka tiba di depan pintu ruangan dokter Alan Wiguna, yang merupakan ayahnya itu.
"Aku siap," jawab Rafa tanpa ragu. Ia tersenyum pada istrinya sebelum mengetuk pintu.
"Masuk !" Sahut seseorang dari dalam ruangan itu.
Rafa pun memutar gagang pintu dengan perlahan. "Bismillah...," Gumamnya pelan seraya melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang bernuansa putih bersih itu.
Di belakangnya, Amelia mengikuti dengan tangannya yang tak lepas dari lengan Rafa.
"Oh kamu, Fa," ucap pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Rafa.
"Loh sama Amelia juga ?" Tanya sang ayah mertua. Ia mengernyitkan keningnya, sedikit terheran dengan apa yang sedang di lihatnya saat ini.
Baru kali ini Rafa dan Amelia datang untuk menemuinya secara bersamaan. Sebuah firasat melintas dalam perasaan papi Amelia saat ini.
"Papi apa kabar ?" Tanya Rafa sembari menyalami ayah mertuanya itu.
"Baik, kamu gimana ? Kapan pulang ? Ayo duduk !" Sahut sang mertua sembari mempersilahkan Rafa dan Amelia untuk duduk di dua kursi yang ada di hadapannya. Seperti seorang dokter dengan pasiennya.
"Baik Pi, Saya pulang kemarin. Maaf, baru menemui Papi hari ini," ucap Rafa.
Mereka pun terlibat dalam pembicaraan ringan seputar kabar dan beberapa obrolan lainnya. Hingga papi Amelia pun bertanya dengan maksud kedatangan keduanya.
Rafa tolehkan kepala, melihat pada sang istri sebelum menjawab pertanyaan ayah mertuanya itu. Amelia tersenyum, mengisyaratkan pada Rafa agar berani mengutarakan keinginannya.
"Papi...," Ucap Rafa, memulai pembicaraan serius diantara mereka. Di bawah meja, Amelia menggenggam erat jemari Rafa. Berusaha untuk memberikan kekuatan pada suaminya itu. Ia tahu, apa yang mereka inginkan pastinya tak akan mudah untuk di kabulkan Papinya itu.
"Papi pasti tahu bagaimana Rafa sangat mencinta Amelia. Bukan hanya satu atau dua hari saja, tapi Rafa telah mencintai Amelia bertahun-tahun lamanya,"
Papi Amelia anggukan kepalanya sebagai jawaban dan ia pun melihat bagaimana Rafa menatap putri kesayangannya itu dengan penuh rasa cinta.
"Dan setelah menikah perasan cinta Rafa semakin kuat, juga semakin dalam pada Amelia. Membuat Rafa tak sanggup untuk hidup berjauhan dengannya. Sejauh apapun Rafa pergi dan selama apapun itu, dalam pikiran Rafa hanya ada Amelia seorang," lanjutnya lagi. Rafa tolehkan kepala dan menatap Amelia lembut saat mengatakannya.
"Rafa mendapatkan promosi untuk menempati jabatan yang baru. Tapi seiring promosi yang Rafa dapatkan tentu saja ada tanggung jawab besar yang mengikutinya," jelas Rafa.
Papi Amelia menganggukkan kepalanya paham, sedangkan Amelia melihat penuh selidik pada suaminya itu karena Rafa belum berbicara tentang promosi yang didapatkannya.
"Lalu ?" Tanya Papi Amelia.
"Jika Rafa bersedia, maka Rafa harus menetap tinggal di negara itu selama 2 tahun lamanya. Itulah yang tertulis di dalam kontrak kerjanya. Dan tak mungkin Rafa berpisah selama itu dengan Amelia. Karena pekerjaan itu dilakukan di belakang meja, seperti orang kantoran biasa. Tak seperti yang Rafa jalani sekarang ini. Banyak bekerja di lapangan hingga masih memungkinkan untuk bisa pulang pergi ke Indonesia. Setelah itu, Rafa akan dipindah tugaskan ke negara lainnya dalam waktu yang telah ditentukan,"
Papi Amelia mendengarkan dengan seksama, sedangkan Amelia menatap tak percaya pada suaminya itu.
"Papi, bolehkah Rafa membawa serta Amelia ? Rafa sangat mencintai putri Papi, dan tak bisa berjauhan dengannya. Rafa pun tak akan membatasi pekerjaan Amelia nanti. Jika ia ingin bekerja silahkan saja, tapi tentunya di tempat yang sama dengan Rafa,"
"Dimana itu ?" Tanya Papi Amelia.
"Ha- Hawai, Pi,"
"Hawai ???" Tanya Amelia dengan mata yang berbinar-binar bahagia. Bahkan senyumnya mengembang dengan sempurna di bibirnya yang berwarna merah muda.
"Iya.. Hawai, Sayang," sahut Rafa membenarkan.
"Ya Tuhan..," gumam Amelia penuh semangat.
Papi Amelia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia mulia berbicara. "Sejak kecil Amelia selalu menjadi anak yang penurut. Papi selalu mengatur apapun untuknya, hingga memaksakan kehendak agar Amelia menjadi seorang dokter. Walaupun Papi tahu Amelia tak menyukainya, tapi ia tak berani untuk menolak. Mungkin banyaknya tekanan yang Papi berikan membuat Amelia menjadi seorang gadis yang tidak ramah. Ia sangat judes dan juga galak. Papi cukup terkejut saat tahu ada seorang lelaki yang mencintainya tanpa syarat," mata papi Amelia mengembun saat mengatakan hal itu.
"Elang yang dulunya nakal, membuat Amelia ikut terkena imbasnya. Papi membuat peraturan yang keras di rumah. Hingga membuat Amelia jarang sekali melengkungkan senyumnya. Tapi semua itu berubah setelah ia menikah. Papi bisa melihat bagaimana Amelia begitu hidup dan bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Ia akan senyum-senyum sendiri saat melihat pada layar ponselnya dan Papi tahu jika Amelia tengah berhubungan denganmu melalui ponselnya itu. Amelia juga begitu bersemangat saat menunggu kamu pulang. Hal yang hampir tak pernah Papi lihat sebelumnya," lanjut sang Papi yang kini tak bisa membendung air bening dari matanya.
"Amelia begitu bahagia denganmu, tak mungkin bagi Papi melarangnya untuk bahagia. Bawalah Amelia kemanapun kamu pergi. Papi titipkan Amelia padamu. Cintai dan jagalah dia dengan sepenuh hatimu,"
Mata Amelia membulat sempurna saat mendengar pernyataan ayahnya itu. Air bening segera menganak sungai di pipinya. Rasa haru bahagia membuat Amelia tak bisa menahan tangisnya.
"Saya akan menjaga dan mencintai Amelia dengan segenap hati. Tak hanya dalam ucapan, tapi Rafa juga akan membuktikannya," sahut Rafa tanpa ragu.
"Kapan rencana promosi itu ?" Tanya sang Papi.
"Beberapa Minggu lagi,Pi. Setelah Rafa, Amelia juga Elang dan istrinya pergi ke Eropa," jawab Rafa.
"Oh iya... Hadiah dari Oma ya ? Hati-hati, jaga kesehatanmu,"
"Tentu saja Pi... Dan terimakasih banyak atas izin dan kepercayaan yang Papi berikan pada Rafa. Rafa akan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab,"
Papi Amelia tersenyum penuh arti saat mendengarnya. Ia yakin jika sang putri berada di tangan yang benar. Lalu keduanya pun berpamitan karena Papi Amelia harus melakukan kunjungan pasien.
Tanpa Papi Amelia sangka, anak gadisnya itu kembali dan berhambur pada pelukannya. Amelia melingkarkan keduanya tangannya dengan erat. "Terimakasih Pi," ucapnya sembari terisak.
Papi Amelia merasa tersentak, sudah bertahun-tahun lamanya ia tak pernah mendapatkan pelukan hangat dari anak gadisnya itu. Matanya pun kembali meneteskan air bening haru bahagia. "Berbahagialah, Nak..," ucapnya sembari mencium puncak kepala putri kesayangannya itu dengan penuh rasa sayang.
***
"Pesan apalagi, Sayang ?" Tanya Elang pada istrinya Nayla.
"Itu aja dulu, yang lainnya aku mau coba dari Amelia," jawab Nayla sembari menyikut Amelia pelan.
"Iyaaa, setelah yang ini habis kita cobain yang rasa greenta ini Nay," sahut Amelia penuh semangat.
"Sayangnya Rafa boleh pesan apa saja karena malam ini Elang yang bayar. Jangan lupa pesan untuk bawa pulang juga, Yang," kata Rafa. Dan Elang yang mendengar itu hanya mendengus kesal.
Saat ini ke empatnya tengah makan malam bersama di sebuah restoran favorit mereka. Merayakan hal baik yang baru saja mereka terima. Yaitu sama-sama mendapatkan izin untuk membawa serta orang-orang yang mereka cinta.
Selain itu, mereka juga sedang membicarakan tentang rencana bulan madu ke Eropa. Binar-binar bahagia terpancar dari kedua pasangan muda itu.
Semuanya terlihat begitu bersemangat dengan impian besar mereka.
"Ayo kita mulai petualangan ini !" Ke empatnya mengumpulkan tangan mereka di tengah meja. Sebagai tanda jika mereka akan terus saling memberikan dukungan satu sama lainnya.
Baik Elang maupun Rafa sudah tak sabar untuk melakukan petualangan hidup yang sesungguhnya. Yaitu mengarungi kehidupan bersama wanita yang sangat dicintainya.
Begitu juga Nayla dan Amelia, keduanya sangat bersemangat dan merasakan bahagia yang luar biasa karena bisa bersama dengan cinta pertama dan terakhir mereka.
"Love you banget, Nay," bisik Elang seraya melingkarkan tangannya posesif di pinggang Nayla. Lalu ia memberikan banyak ciuman di puncak kepala istrinya itu.
Sedangkan Rafa, ia menggenggam tangan Amelia dengan eratnya. "Rafa sayang banget sama Amelia," bisiknya pelan. Dan Rafa pun mencium punggung tangan istrinya itu dengan penuh perasaan.
Tak ada seorangpun yang menyangka jika cinta pertama yang mereka rasakan akan berakhir menjadi cinta sejati yang sebenarnya. Sungguh sebuah cinta yang tak terduga
What an Unexpected Love !
-tamat-
Terimakasih banyak untuk para reader yang setia membaca novel ini hingga akhir cerita.
Terimakasih atas semua dukungan kalian ♥️
Semoga Allah SWT membalasnya dengan segala kebaikan yang berlimpah berkah.
Mohon maaf jika ada kata, kalimat, atau episode yang kurang berkenan di hati para pembaca semuanya. Maaf juga untuk setiap komentar yang belum aku balas.
Mohon maaf juga karena updatenya yang sangat-sangat terlambat karena aku sedang ada masalah di RL.
Sampai ketemu di novel aku yang lain yaaa 🥰😚
Kalian sangat luar biasa ♥️
Love you, Genks...
Salam sayang dari Elang dan Nayla juga Rafa dan Amelia ♥️
Insyaallah ada bonus chapter jadi jangan di hapus dulu dari daftar favorit yaaa.