
Amelia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Ia pun memberanikan diri untuk mengucapkannya. "A-aku baru saja datang bulan...," Wajah Amelia menunjukkan rasa bersalah saat mengatakannya.
"Hah ?" Gumam Rafa. Mendengar apa yang Amelia katakan membuat tubuh Rafa tiba-tiba saja menjadi kaku. Lelaki itu berdiri membeku dengan mata membola dan tatapan kosong. Di atas kepalanya petir tak kasat mata sedang menggelegar saling bersahutan.
"Rafa ?" Tanya Amelia seraya menggoyang-goyangkan tangan sang suami agar kembali sadar ke alam nyata.
"Maaf... Aku tak tahu jika mau datang bulan karena memang tanggalnya tak tentu. Seringnya maju gitu," jelas Amelia. Terdengar rasa bersalah dari nada bicaranya.
"Fa...," Rengek Amelia karena Rafa masih belum sadarkan diri dari rasa terkejutnya. Ia kembali menggoyang-goyangkan tangan sang suami agar merespon ucapannya.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Rafa mengerjapkan matanya berulang kali. "Hah ? Ah maaf !" Sahut Rafa saat kesadarannya mulai kembali.
"Rafa udah nunggu Amel bertahun-tahun lamanya, masa iya nungguin beberapa hari aja gak tahan," sahut Rafa sambil tertawa hambar. Ia tak mau membuat Amelia manjadi tak enak hati karenanya.
"Kalau bisa nahan, terus ini yang mengganjal di atas perut aku apaan ?" Tanya Amelia malu-malu. Saat ini ia merasakan benda panjang lonjong dan mengeras terasa mengganjal di atas perut datarnya.
Rupanya inti tubuh Rafa sudah menggeliat hidup karena melihat penampilan sang istri dengan gaun malam yang minim bahan itu.
"Ini lah yang disebut dengan kata menonjol tapi bukan bakat, tegak tapi bukan keadilan, keras tapi bukan tekad dan berdiri tapi bukan tiang, " jawab Rafa terdengar nelangsa.
Amelia mencebikkan bibirnya karena kesal. Rafa masih saja bercanda di keadaan seperti itu. "Kamu tuh...," Amelia mencubit perut telanjang Rafa yang ternyata terasa begitu liat hingga menimbulkan gelenyar aneh pada tubuhnya. Tiba-tiba saja darah Amelia berdesir hangat.
"Aaww, sakit Yang...," Keluh Rafa manja. Sebenarnya tak sesakit itu tapi Rafa hanya ingin merajuk saja.
"Maaf...," Ucap Amelia terdengar ambigu karena wajahnya masih memperlihatkan rasa bersalahnya. Bahkan kedua matanya telah mengembun menahan air bening yang telah siap untuk dijatuhkan.
"Its Ok... Aku ngerti... Harus gimana lagi kan ? Ya udah bobo aja yuk ? Kamu juga pasti cape kan ?" Tanya Rafa beruntun dan setengah membujuk. Ia tak ingin istrinya itu menangis karena merasa bersalah. Hal yang terjadi pada Amelia adalah sesuatu yang alami dan sudah kodratnya ia mendapatkan itu sebagai wanita yang normal.
Amelia mengangguk pelan sembari mengusap pipinya yang sedikit basah. "Jangan nangis, Sayang," Rafa mengangkat wajah Amelia yang tertunduk dengan kedua telapak tangannya.
Wajah Amelia dengan puncak hidungnya yang merah terlihat menggemaskan dalam genggaman kedua tangan Rafa. "Tapi kalau ini boleh kan ya ?" Rafa tundukkan kepalanya dan membenamkan bibirnya di atas bibir Amelia dengan sempurna.
Ia pejamkan matanya menikmati ciuman pertama mereka sebagai suami istri. Semua terasa berbeda bagi Rafa dan Amelia. Keduanya merasa ciuman itu terasa lebih indah dan syarat akan rasa cinta.
Rafa mengulum bibir Amelia rasa- rasa dan Amelia pun membalasnya dengan cara yang sama.
Rafa memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka. Lidahnya mendesak untuk masuk ke dalam celah bibir Amelia yang sedikit terbuka.
Amelia pun membiarkan lidah Rafa untuk melesak masuk dan menjelajahi mulutnya. Keduanya berpagutan bibir dengan lidah yang saling membelai satu sama lain. Sesekali keduanya berhenti sesaat untuk menarik nafas sebelum melanjutkan kembali ciuman mereka.
Ini adalah waktu terbaik dan masa-masa paling membahagiakan bagi pasangan yang saling mencintai sejak lama itu. Amelia adalah satu-satunya cinta dalam hidup Rafa dan begitu pun sebaliknya.
Saat mereka berciuman, dunia terasa hanya milik mereka berdua saja dan waktu pun terasa berjalan dalam gerakan lambat. Ciuman itu tak hanya sebagai cara melepaskan hasrat tapi juga sebagai cara menunjukkan rasa cinta yang besar yang dimiliki oleh keduanya.
Mata Rafa menatap sayu penuh puja pada gadis dengan pipinya yang merona merah karena ciuman mereka.
Amelia menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa ringan. Ia tak mengerti maksud perkataan suaminya itu.
" Apa kamu tahu ? Kamu adalah satu-satunya cinta dalam hidupnya Rafa. Rafa cinta kamu sejak dulu, dan kini semakin cinta sama kamu," ucap Rafa menjawab pertanyaannya sendiri dan ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
Amelia tertunduk malu, pipinya terasa panas karena kata-kata cinta dari suaminya.
"Jangan tundukkan kepala kamu... Rafa pengen kamu mendengarnya dengan jelas," pinta Rafa. Ia mengangkat dagu Amelia dengan jempolnya agar gadis itu melihat ke arahnya. Rafa tak menyangka jika gadis judes dan galak itu ternyata seseorang yang lembut dan malu-malu.
"Kamu adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat Rafa atuh cinta hingga Rafa tak bisa berpaling pada yang lainnya. Di mata Rafa, cuma Amelia yang paling cantik dan itu tak pernah berubah," lanjut Rafa mengungkapkan perasaan cintanya yang sangat mendalam pada istrinya itu.
Susah payah Amelia meredam debaran jantungnya yang menggila karena kata-kata cinta yang Rafa ucapkan. Sungguh ia sedang merasakan terharu bahagia karena kata-kata cinta itu. Amelia menatap mata Rafa dengan dalam dan dengan rasa cinta yang sama besarnya.
"Im the luckiest and the happiest man alive," ( aku adalah pria paling beruntung dan paling bahagia yang masih hidup) gumam Rafa. Dan itu membuat Amelia merasa tinggi di awan karena ungkapan cinta Rafa yang terdengar indah tak gombal recehan seperti biasanya.
"Pokoknya... Rafa gak bisa tanpa kamu...," Lanjutnya lagi masih dengan matanya menatap sayu penuh damba. Amelia mendengarkannya dengan rasa bahagia tak terkira dan hati berbunga-bunga.
"Pokonya kalau Rafa tanpa kamu tuh bagaikan ambulan tanpa uwiw uwiw, bagai Dora tanpa petanya karena ia akan rersesat, bagai...,"
Belum juga Rafa menyelesaikan kalimatnya, Amelia telah menatap horor padanya. Gadis yang tadi sempat malu-malu karena terbawa perasaan oleh ungkapan cinta suaminya kini kembali ke setelan pabriknya yaitu judes dan galak.
"A-apa ?" Tanya Rafa terbata saat ia melihat Amelia memicingkan mata padanya. Bibirnya yang berwarna merah muda terkatup rapat.
"Kamu memang nyebelin !!" Ucap Amelia ketus seraya mendorong tubuh Rafa hingga belitan tangan suaminya itu terlepas dari tubuhnya. Ingin Amelia memaki dalam bahasa asing sang Oma tapi kini Rafa sudah mengerti dan juga paham apa yang dikatakannya.
"Sayang, kenapa marah sama Rafa ?" Tanya Rafa kebingungan.
"Pikir aja sendiri !" Jawab Amelia sembari berjalan diantara kelopak- kelopak bunga mawar yang berserakan di atas lantai. Lalu ia naik ke atas ranjang dan menenggelamkan dirinya ke dalam bedcover tebal agar Rafa tak bisa melihat tubuhnya yang yang terbalut gaun tidur minim bahan. Amelia baringkan tubuhnya dengan cara memunggungi sisi kosong ranjang untuk Rafa tiduri.
Rafa mengikuti pergerakan Amelia dengan matanya. Ia memperhatikan istrinya itu dengan terheran sambil berdiri tegak dengan bukti gairahnya yang juga belum mereda sepenuhnya.
"Yang... Salah Rafa apa ?" Tanyanya Frustasi tapi Amelia tak mau menjawabnya.
"yaang...," rengek Rafa.
"pikir aja sendiri !!" jawab Amelia dengan ketusnya.
"Yaa Allah... Rafa salah apa lagi ?" Ucapnya sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.
To be continued
Thanks for reading
Jangan lupa tinggalkan jejak ya