
Bunga yang Elang letakan secara khusus di sana untuk Nayla. " kali ini bunganya jangan dibuang ya, Sayang," ucap Elang pada Nayla yang pipinya sudah merona merah.
" Sayang ?" Tanya Nayla dalam hatinya. Ia melihat pada Elang dan mengulum senyumnya samar.
Mati-matian Nayla berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja di hadapan Elang. Padahal di dalam sana hatinya sudah me-reog tak karuan saking senangnya.
Buket bunga mawar dan kata "sayang" yang diucapkan oleh Elang telah membuat hatinya meleleh seketika. Bagaikan lilin yang terkena api.
" Ayo kita pulang," ajak Elang.
Nayla pun meraih bunga itu sebelum ia dudukkan tubuhnya di atas kursi penumpang. Ia letakkan buket bunga mawar merah itu dalam pangkuannya. Wanginya yang lembut menguar dan memanjakan indra penciuman Nayla. Sedangkan rangkaian bunga mawar merah muda itu terlihat indah dan memanjakan indra penglihatannya. Membuat Nayla tak bisa berhenti memperhatikannya.
Elang segera berlari kecil menuju bagian pintu yang lain setelah ia memastikan Nayla telah masuk mobilnya dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang yang berada di sebelahnya.
Nayla masih berusaha untuk mengontrol dirinya agar terlihat baik-baik saja padahal hatinya masih saja merasakan euforia bahagia yang luar biasa. Rasa marahnya pada Elang menguap sudah, hanya karena sikap manis Elang saat ini
Nayla berusaha menyembunyikan wajah bahagianya dengan cara melihat ke luar jendela. Ia menghindari untuk bersitatap dengan Elang agar laki-laki itu tak tahu perasaannya yang sebenarnya. Namun sayang pantulan wajah Nayla yang sedang senyum-senyum sendiri terlihat di kaca jendelanya.
Elang meliriknya dan ikut tersenyum. Ia senang telah meluluhkan hati Nayla yang satu Minggu terakhir ini merajuk marah.
" Sayang," ucap Elang sembari tolehkan kepalanya pada Nayla.
Nayla yang mendengar itu masih melihat ke luar jendela dengan menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Ia duduk dengan gelisah di tempatnya. Pipinya yang terasa panas sudah merona merah dan itu membuat Elang semakin gemas saja.
Itulah yang Elang rindukan dari Nayla, pipinya yang merona dan senyumnya yang malu-malu.
" Sayang, kamu suka bunganya ?" Tanya Elang seraya menolehkan kembali kepalanya untuk melihat pada Nayla.
Nayla berdehem, berusaha untuk menetralkan suaranya. Dadanya berdegup kencang dan telapak tangannya berkeringat karena rasa gugup yang tengah meliputi dirinya saat ini. " Ehem ! Su-suka. Bunganya indah," jawab Nayla pada akhirnya.
Rasa terkejutnya Nayla karena kejutan Elang membuat gadis itu tak sadar dengan apa yang tadi laki-laki itu katakan. " Jangan dibuang lagi," Nayla masih tak sadar bagaimana bisa Elang tahu jika dirinya memang selalu membuang kiriman buket bunga darinya.
" Makan malam dulu, mau ya ?" Tanya Elang lembut. Susah payah Elang menahan diri untuk tak meraih jemari Nayla dalam genggamannya. Ia tak mau terlalu agresif pada gadis yang sangat dicintainya itu. Padahal inginnya Elang merengkuh tubuh Nayla dalam dekapannya dan memberinya ciuman manis yang memabukkan.
Nayla melipat kedua bibirnya pertanda bingung juga ragu. Sejujurnya Nayla belum siap untuk berduaan saja dengan Elang. Mengingat statusnya yang sudah memiliki kekasih walaupun dirinya tak mencintainya, dan juga karena akan sangat berbahaya jika menghabiskan waktu dengan Elang. Ia takut melakukan hal yang diinginkan oleh para pria dan perempuan dewasa.
" Hanya makan malam dan aku akan langsung mengantarmu pulang setelahnya," ucap Elang meyakinkan Nayla.
" Tanpa mampir dulu," sahut Nayla
" Oke baiklah, hanya mengantar kamu pulang tanpa mampir," Elang menyetujui.
Setelah itu keduanya tak saling berbicara lagi. Yang terdengar hanya suara musik diputar oleh oleh pemutar lagu di dalam mobil Elang.
Jika biasanya Elang mendengarkan lagu-lagu rock favoritnya tapi kini laki-laki berambut cokelat itu memutar lagu-lagu cinta yang seolah-olah menyuarakan isi hatinya.
"Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Ku harus milikimu,"
" Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa,"
"Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk
Kenali aku dulu,"
Elang menarik nafas dalam saat lirik lagu itu sangat sesuai keadaan dirinya saat ini. Elang begitu frustasi karena menginginkan cinta Nayla. " Ku harus milikimu," ucap Elang dalam hatinya. Ia mencengkram erat setir mobilnya, berusaha menahan rasa cinta yang kian menggebu pada Nayla yang duduk di sebelahnya.
Sedangkan Nayla, hatinya menjadi gundah gulana saat mendengarnya. Ia pun sadar tak bisa untuk tidak mencintai Elang. Nayla tundukkan kepalanya untuk menyembunyikan perasaannya. Ia pandangi buket bunga mawar yang diberikan Elang padanya.
Setelah berkendara selama beberapa puluh menit akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju untuk makan malam.
Keduanya berjalan berdampingan tanpa jemari tangan yang saling bertautan. Elang masih tak berani untuk melakukan hal itu. Ia tak mau Nayla menjadi ketakutan padanya.
Keduanya memilih tempat duduk tepat di tengah ruangan. Hingga banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Ponsel Nayla berbunyi saat ia baru saja duduk di kursinya. Segera Nayla merogoh tas dan mencarinya. Tertera nama Rio saat Nayla mendapatkannya.
Pandangan mata Elang dan Nayla beradu. Nayla ragu untuk menerima panggilan itu karena Elang berada di hadapannya.
Elang pun mengerti, walaupun enggan ia bangkit dari tempat duduknya. " Aku ke toilet dulu," ucap Elang. Ia memberikan ruang dan waktu bagi Nayla untuk menerima panggilannya.
" Sayang, kamu udah sampai apartemen?" Tanya Rio ketika panggilan itu terhubung.
" Mmh.. belum... Aku lagi beli makan malam dulu," jawab Nayla sejujurnya. Hanya saja ia tak bercerita dengan siapa ia membeli makan malamnya itu.
" Ooh... Di warung tenda dekat apartemen?" Tanya Rio.
" Bukan,"
" Kamu dimana ? Beli makan malam di mana ?" Potong Rio terdengar panik.
" Aku beli di food court yang tempatnya searah dengan apartemen aku,"
" Kamu tahu sekarang jam berapa ? Seharusnya pulang kerja itu, kamu langsung pulang ke apartemen dan jangan kemana-mana lagi," ucap Rio dengan volume suara meninggi.
" Setelah ini aku...,"
" Pulang Nayla ! Aku akan pesankan makan malam untuk kamu agar kamu gak kemana-mana," potong Rio terdengar kian panik saja. Bahkan ia tak lagi menyebut Nayla dengan panggilan sayang.
" Kamu di daerah mana sekarang ?" Tanya Rio lagi dan Nayla pun menyebutkan tempat yang sedang dikunjunginya saat ini.
" Setelah ini kamu pulang ya dan diam di apartemen. Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu, aku gak mau kamu pergi kemana-mana,"
Nayla yang mendengar itu menjadi terheran. Apa Rio kini mulai posesif padanya ?
Rio terus berbicara, meyakinkan Nayla untuk segera pulang dan meminta gadis itu tinggal di apartemen saja. Setelah beberapa menit berbicara akhirnya mereka menyudahi pembicaraan.
Tapi setelahnya Rio kembali menelepon Nayla dan menanyakan keberadaanya. Seperti tadi, Rio meminta Nayla untuk tinggal di apartemennya.
" Kenapa ?" Tanya Elang yang mulai terganggu karena Rio terus-terusan menghubungi Nayla. Elang ingin marah tapi di sini, posisi Elang lah yang salah.
" Rio nyuruh aku pulang dan tetap tinggal di apartemen," jawab Nayla sejujurnya.
" Kenapa ? Dia tahu kamu pergi sama aku ?" Tanya Elang lagi.
" Kayanya sih nggak, dia lagi ke luar kota," jawab Nayla.
Dibandingkan dengan rasa khawatir pada Nayla, nada suara Rio lebih terdengar seperti ketakutan.
" Nay sampai kapan kamu mau sama dia ? aku bisa mencintai kamu lebih dari yang dia lakukan," Elang tak dapat lagi menahan perasaannya.
" aku akan mencintai kamu dengan setia. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Nay," lanjut Elang seraya menatap dalam mata Nayla.
Namum belum juga Nayla menjawab, ponselnya kembali berbunyi. Ia pun meraih ponselnya lagi dengan gemas karena terdengar nada pesan yang masuk. Nayla kira Rio yang kembali menghubunginya.
Nayla pun menggulir layar dan mendapatkan sebuah nomor tak dikenal di sana. Dengan sedikit ragu Nayla mengklik nomor itu dan membaca isi pesannya.
" Nayla sayang... Aku kembali.... Apa kamu masih ingat aku ? Besok ketemuan yu ?"
Nayla berkerut alis kebingungan, ia pun kembali menekan nomor telepon asing itu untuk melihat foto yang tertera di profilnya.
Nayla amati dengan mata berkaca-kaca, seorang gadis cantik berambut cokelat dan sedang mengenakan jas putih khas seorang dokter yang menjadi foto profilnya.
Gadis yang menjadi sahabatnya dulu. "Amelia...," Gumam Nayla tak percaya.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
kalau Amelia kembali, kira-kira siapa yang akan kembali juga ???
Nah loh kenapa si Rio ketakutan ?
terus ikutin ceritanya yaaa