The Unexpected Love

The Unexpected Love
Kalah



Dari tengah lapang Elang tolehkan kepala dan merasa lega saat sang adik mau menolong temannya itu, karena biasanya Amelia dan Rafa akan saling beradu mulut. Rafa akan menggoda, sedangkan Amelia akan mengeluarkan kata-kata makian dalam bahasa asing sang Oma agar pemuda itu tak mengerti yang diucapkannya.


Setelah melihat pada sahabatnya itu, Elang alihkan pandangannya pada Nayla yang memegang bendera bertuliskan namanya. Elang sangat menyukai gadis itu, tapi ia tak mampu untuk memilikinya karena Elang tak mau membuat Nayla dalam bahaya.


Walaupun begitu, Elang pun tak sanggup jika Nayla dimiliki oleh pria lain. Tak ada yang tahu jika Elang selalu menghalau siapapun yang berani mendekati gadis pujaannya itu. Tak hanya olehnya saja, tapi teman-temannya juga ikut membantu.


Di tepian lapang seorang pemuda menatap nyalang penuh kebencian pada Elang. Tadi dia diusir dari pertandingan disertai teriakan cemoohan dari para penonton. Leo merasa dipermalukan. Harga diri dan egonya yang tinggi seketika terluka.


"Go Elaaaang," teriak Nayla sembari mengibarkan bendera kecil bernamakan pemuda itu. Ia berdiri, berusaha memberikan dukungan sekuat terbaik sebisanya.


Suara Nayla terdengar jelas oleh Elang, mengalahkan riuh tepuk tangan para penonton lainnya. Elang tolehkan kepala dan layangkan senyum pada gadis itu.


Nayla langsung mendudukkan dirinya di atas kursi penonton dengan pipi merona merah hanya karena Elang tersenyum padanya. Tubuhnya melemah dengan detak jantung yang lebih kencang dari sebelumnya.


Baik Vony atau Leo bisa melihatnya dengan jelas.


Vony merasa kesal, begitu juga Leo yang entah kenapa tak suka jika Elang diberikan semangat oleh gadis lugu itu. Bila dulu Leo mengaggap Nayla sebagai gadis culun, tapi kini ia melihat Nayla sebagai gadis yang "berbeda" dari gadis lainnya.


Waktu pertandingan tersisa tinggal beberapa menit saja. Tim Elang memimpin skor dengan selisih angka yang cukup jauh. Bisa dipastikan jika tim Leo akan kalah telak. Pemuda itu duduk di kursi pemain cadangan, dengan wajah tertunduk. Sekali lagi ia kalah dari Elang.


"Priiiit," terdengar suara peluit panjang pertanda bahwa waktu tanding telah usai. Elang melompat tinggi melakukan selebrasi kemenangan, diikuti oleh anggota tim lainnya. Bahkan beberapa siawa turun ke tengah lapang mengelu-elukan nama Elang.


Leo menatap Elang penuh rasa iri bercampur benci. Entah ini kekalahan yang ke berapa kali baginya. Elang menatap sinis pada musuhnya itu sembari mengacungkan jari tengah. Leo benar-benar merasa sebagai pecundang saat ini.


Ingin Leo pergi melarikan diri tapi ia harus naik ke podium utama untuk menerima hadiah dan penghargaan sebagai juara 2 sedangkan Elang sang musuh besarnya di urutan 1. Kali ini seluruh dunia melihat kekalahannya.


Sebelum penyerahan hadiah digelar, tim pemandu sorak lebih dulu hadir untuk memberikan pertunjukan tari yang menghentak diiringi lagu yang sangat populer yaitu "Pink Venom" dari girlband Blackpink.


Tak hanya musiknya yang menghentak tapi seragam pemandu sorak yang sangat minim bahan pun digunakan sebagai cara untuk mencari perhatian para penonton. Atasan crop top biru metalik tanpa lengan di padukan rok lipit putih mengkilap dan terdapat nomor yang tertera di setiap seragamnya. Bisa ditebak dengan mudah jika Vonny mengenakan nomor yang sama dengan Elang.


Vony sebagai kapten tim, membuka gerakan tarinya dengan penuh semangat. Ia berusaha tampil maksimal untuk menarik perhatian Elang.


Jangankan menarik perhatian Elang, menarik perhatian penonton yang lain pun Vony gagal karena mereka masih dalam euforia bahagia tim yang dijagokannya menang.


Dibandingkan melihat Vony yang tengah meliukkan tubuhnya dengan maksimal, Elang lebih memilih untuk berbicara pada Nayla di pinggir lapangan.


"Selamat kak El," ucap Nayla tulus dan malu-malu.


"Terimakasih," sahut Elang singkat. Ingin Elang mengatakan jika ia bisa menang karena semangat dan dukungan yang diberikan oleh Nayla tapi ia tak berani mengucapkannya. Elang takut Nayla berpikiran lain dan menjauhinya.


Nayla menatap tak percaya tubuh tinggi tegap yang ada di hadapannya. Walaupun basah akan keringat tapi Nayla sangat menyukainya. Pipi Nayla terasa panas hanya karena ia menatapi tubuh belakang Elang. Dirinya yakin jika pipinya saat ini pasti sedang merona merah. Nayla pun tundukkan kepala agar tak seorang pun melihatnya.


Apa yang Elang lakukan tak luput dari perhatian Vony karena mata gadis itu selalu tertuju pada Elang seorang walaupun saat ini dirinya tengah meliukkan tubuhnya dengan maksimal di tengah lapang.


Sekali lagi Vony merasa kalah dari Nayla karena perhatian Elang lebih tertuju pada gadis culun itu dibandingkan padanya. Wajah Vonny menyunggingkan senyum, tapi dalam hatinya ia memaki-maki kesal.


Malam ini Vonny dan sang sepupu, Leo sama-sama kalah oleh orang-orang yang dibencinya. Leo kalah oleh Elang, sedangkan Vonny kalah oleh Nayla. Makin besarlah rasa benci keduanya.


Setelah pertunjukan tari yang dilakukan oleh tim pemandu sorak selesai maka acara selanjutnya adalah penyerahan hadiah dan penutupan acara "Bulan Prestasi" yang sudah digelar selama 10 hari ini.


Nama Elang dan Leo dipanggil untuk menerima hadiah. Sebelum Elang naik podium, ia menemui Rafa terlebih dahulu yang masih duduk di kursi cadangan pemain karena kakinya yang terkilir.


"Fa, lo mau naik podium ? Pertandingan ini menang karena elu," ucap Elang.


Rafa melirik Amelia yang tengah duduk di sebelahnya sejak tadi. Dibandingkan naik ke podium, Rafa memilih untuk tetap duduk di temani Amelia yang tak galak lagi.


"Gue di sini deh, El," jawab Rafa.


"Emang kaki Lo masih sakit ? Bukannya udah dikasih obat sama adek gue ?"


Sebenarnya keadaan kaki Rafa jauh lebih baik dari sebelumnya tapi ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berdekatan dengan Amel tanpa saling berdebat, jadi agar aman Rafa memilih untuk sedikit berbohong saja. "Masih sakit kalo dipake jalan, aku di sini ditemenin adek lo karena cuman dia yang bisa obatin gue,"


Elang menggelengkan kepalanya pelan, heran pada Rafa yang masih saja bisa bersikap seperti itu padahal dia tengah sakit.


"Oke, kalau gitu gue yang maju. Tapi kemenangan ini buat lo, Fa," ucap Elang dan ia pun berjalan menuju podium.


Elang berdiri di atas kotak kayu bernomor angka 1 sedangkan Leo di bawahnya sebagai juara 2. "Ini belum berakhir," desis Leo.


"Lo gak akan pernah menang dari gue, Leo. Lo akan selalu jadi nomor 2. Jangan ganggu gue, atau juga Nayla. Gue menang dengan cara fair. So back off !! Enyah dari hidup gue," ucap Elang pada musuh besarnya itu. Ia juga menyebutkan nama Nayla dengan jelas sebagai klaim kepemilikannya pada gadis pemalu itu.


To be continued ♥️


Thanks for reading 🥰


Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚