
Rafa menunggu dengan cemas kelanjutan dari kalimat yang hendak Amelia katakan. "apa?" tanya Rafa tak sabaran.
"lagian aku sudah dijodohkan dengan lelaki lain pilihan Papi,"
Rafa tercengang. Kunci mobil yang ia pegang pun jatuh dari tangannya ke atas. Ia menatap lurus pada Amelia tanpa jeda. Bibirnya terkatup rapat dan rahangnya menegang.
Ditatap seperti itu membuat Amelia tundukkan kepala. Ia hampir tak pernah mendapati Rafa yang terlihat serius seperti ini. Biasanya Rafa selalu bertindak konyol dan menggelikan.
Rafa bungkukkan tubuhnya dan meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas lantai. "Kamu dijodohkan dengan siapa ?" Tanya Rafa masih dengan tatapan dinginnya yang menusuk hingga ke hati Amelia.
"A-anak teman Papi,"
"Siapa namanya ?" Desak Rafa.
"Mmmhh... A-aku belum bertemu,"
"Belum bertemu ?" Rafa mengangkat sebelah alisnya terheran.
"Kalian sudah dijodohkan ? Atau bagaimana ?" Desak Rafa lagi. Suaranya terdengar sangat serius tak seperti biasanya.
"A-aku yang meminta dijodohkan," Amelia selalu terbata-bata saat menjawab pertanyaan lelaki itu. Sungguh hanya Rafa yang bisa membuatnya lemah.
Tadi malam, setelah Rafa memeluknya erat dan mengatakan jika ia akan menjadi calon suaminya. Amelia tak bisa mengenyahkan lelaki itu dari kepalanya. Dan Amelia tak suka itu.
Cukup 8 tahun bagi Amelia bergelut dengan perasaannya sendiri. Selama ini kepalanya selalu mengatakan untuk melupakan Rafa karena lelaki itu tak akan pernah mencarinya tapi hatinya selalu berkata tunggu Rafa sebentar lagi.
Sehingga ketika lelaki itu datang, Amelia sangat ketakutan. Ia takut mengalami semua itu lagi sendirian. Menurut Amelia, berbohong pada Rafa adalah cara paling cepat untuk melepaskan jerat cinta lelaki itu.
"Jadi... Kamu baru minta untuk dijodohkan ?" Tanya Rafa memastikan.
"Mmm i-iya, tapi Papi sudah mencarikannya untukku," jawab Amelia.
"Bod*h banget sih, Mel !!! Bilang aja kamu udah dijodohkan dengan lelaki yang namanya tinggal kamu asal sebut aja. Rafa gak akan tahu !" Amelia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena ia tak bisa berbohong dengan benar pada lelaki itu.
Wajah Rafa yang sejak tadi menegang kini sedikit mencair. Ia tersenyum walaupun samar-samar. Ia sadar Amelia tengah berbohong tentang perjodohannya hanya karena untuk mengusir dirinya.
Ya, perempuan galak dan judes itu sampai harus mengarang cerita hanya untuk menghindari dirinya. "Oke, baiklah kalau kamu ingin dijodohkan," batin Rafa dalam hati.
"Seandainya kamu dijodohkan, apa kamu akan menolaknya demi aku ?" Tanya Rafa.
"Tentu tidak ! A-aku akan menerima siapapun yang dijodohkan Papi untukku," jawab Amelia tanpa ragu.
"Hmm baiklah, semoga perjodohanmu lancar. Tapi tak apa-apa kan kalau aku mengajakmu sarapan dan mengantarmu pulang ?"
" Mmmhhh... Elang yang jemput aku,"
"Please, Mel.. untuk pertama dan yang terakhir. Setelah ini mungkin kamu akan dijodohkan dan kita tak akan bisa seperti ini lagi,"
"Please...," Rafa memohon karena Amelia hanya terdiam tak menanggapinya.
"Setelah ini aku tak akan menemui kamu lagi," janji Rafa.
"Mmhhh baiklah....," Akhirnya Amelia mengizinkan lelaki itu untuk mengantarnya pulang.
***
Ini pertama kali Amelia dan Rafa berada dalam satu mobil yang sama dan hanya berdua saja. Lelaki yang sedang mengemudi itu sudah banyak berubah.
"nggak bisa lebih mahal lagi, Mel ?"
"Kata bunda, Rafa gak boleh pulang kalau uang jajannya belum habis..,"
"Maksudnya Rafa, takut hati kamu yang tersesat sama yang lain padahal hati Rafa adalah tempat Amelia pulang,"
" Rafa gak akan titip tas lagi, tapi titip hati aja sama Amel,"
"Mel, kamu gak tahu sih gimana Rafa inget kamu terus sampai-sampai pagi gak bisa makan karena kebayang wajahnya Amel. Siang juga begitu, gak bisa makan karena ingat judesnya Amel, dan malam juga gak bisa tidur,"
"Karena teringat Amelia juga ?" Tebak Nayla, memotong ucapan pemuda itu.
"Kalau malam gak bisa tidur karena kelaparan, Nay. Kan pagi sama siangnya aku gak makan," jawab Rafa dan itu membuat Nayla tertawa terbahak-bahak.
"Maxi, lu ngapain duduk di sini sama Amelgue, eh Amelia ??"
Amelia buang pandangannya keluar jendela sambil mengulum senyumnya. kata-kata absurd Rafa waktu masih SMA masih teringat jelas di kepalanya. Kata-kata menyebalkan yang dipakai pemuda itu untuk merayu dirinya dan sialnya lagi tanpa Rafa ketahui Amelia sangat terbawa perasaan karenanya.
"Aku mungkin laki-laki yang suka bercanda, tapi perasaan suka Rafa sama kamu bukan main-main,"
"Rafa suka kamu, hanya kamu,"
"Kamu baik-baik ya di manapun kamu berada. Suatu hari nanti Rafa akan datang buat cari kamu,"
Amelia mengusap ujung matanya yang sedikit basah. Ia ingat kejadian di malam ulangtahunnya dulu, di mana Rafa menyatakan perasaannya lalu mencuri ciuman pertama dari bibirnya. Setelah itu mereka terpisah dan membuat Amelia terjebak dalam perasaan cintanya sendiri yang tak tentu arah delapan tahun lamanya.
Bahkan Amelia banyak menolak pria yang mendekatinya karena ia tak bisa melanjutkan hidupnya dari cerita masa lalu.
Tapi kini... Saat lelaki datang dan duduk tepat disebelahnya, Amelia menjadi sangat takut.
Takut Rafa melakukan hal yang sama, menjebaknya dalam rasa cinta lalu terpisah lagi tanpa lelaki itu mencarinya.
"Mau makan apa ? Nasi uduk, bubur ayam ? Atau apa ?" Tanya Rafa. Ia melirik pada Amelia yang sedari tadi diam melamun dan Rafa tak tahu jika gadis itu tengah melamunkan dirinya.
"Nasi uduk ?" Tanya Rafa tapi Amelia menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.
"Bubur ayam ?" Tanya Rafa.
Lagi-lagi Amelia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lontong sayur ?"
Untuk ketiga kalinya Amelia menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah...," Gumam Rafa frustasi.
"Lalu maunya apa ,Sayang ?" Tanya Rafa tak sadar.
Cepat-cepat Amelia palingkan wajahnya. Ia tak mau Rafa melihat pipi pucatnya yang berubah merah
"Terserah," jawab Amelia.
Rafa menepikan mobilnya dan memberhentikannya dengan sempurna.
"Amelgue... mau sarapan apa ?" Tanya Rafa sembari melihat pada Amelia dengan lekat.
Amelia menelan ludahnya paksa. Belum lama tadi, ia mengingat bagaimana Rafa memanggilnya dengan panggilan "Amelgue" karena hanya Rafa seorang yang memanggilnya seperti itu.
See...
Rafa selalu bisa membuatnya terbawa perasaan. Tapi lelaki itu sulit untuk ditebak, apakah ia pun melibatkan perasaannya di sana atau hanya bertingkah konyol saja.
"Namaku Amelia !" Jawab Amelia judes. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Ya udah mau sarapan apa ?" Tanya Rafa dengan tenangnya.
"Aku mau pulang aja ! Aku mau tidur di rumah, gak mau sarapan dulu !!" Jawab Amelia ketus
"Oke, baiklah karena aku juga akan sangat-sangat sibuk setelah ini," Sahut Rafa sambil tersenyum penuh arti dan ia pun lajukan mobilnya kembali.
***
Amelia cepat-cepat keluar dari mobil Rafa dan berjalan tergesa-gesa ke dalam rumahnya. Meninggalkan Rafa begitu saja.
Rafa pun tak ikut turun untuk mengantarkan gadis itu karena banyak yang harus diurusnya. Jadi ia biarkan Amelia pergi begitu saja tanpa berniat menyusulnya.
Sesampainya di dalam rumah ternyata Mami dan Papinya Amelia tengah menikmati sarapan pagi bersama.
Amelia yang melihat itu langsung duduk di kusri kosong yang letaknya tepat di sebelah Papinya itu.
"Mau sarapan ?" Tanya Maminya tapi segera Amelia gelengkan kepalanya sebagai jawaban "nggak Mi, aku belum lapar," jawabnya.
" Aku cuma mau bilang sesuatu sama Papi," ucapnya tergesa-gesa.
Sang Papi menghentikan kunyahan makannya dan menyimpan kembali sepotong roti isi di atas piringnya. "Ada apa ?" Tanya nya sembari berkerut alis.
"Aku ingin menikah !!" Jawab Amelia.
Sontak itu membuat Mami dan Papinya Amelia terkejut luar biasa. Mereka saling beradu pandang dengan seolah saling bertanya ada apa dengan anak mereka.
"Tentu saja boleh tapi dengan siapa ? Mami dan Papi harus tahu dulu siapa orangnya. bagaimana bibit, bebet dan bobotnya lelaki yang akan menjadi suamimu," sahut sang Mami.
" Nah ! Oleh karena itu agar standarnya sesuai keinginan Papi, aku minta dijodohkan saja !" Potong Amelia cepat.
"Hah dijodohkan ?" Papi Amelia berkerut alis tak paham.
"Boleh ! Nanti Mami dan Papi Carikan !" Sahut Maminya cepat. Ia tak mau anak gadisnya itu berubah pikiran.
"Secepatnya ya Pi, Mi !!" Desak Amelia.
"Tapi siapapun yang kami jodohkan kamu harus mau !" Sahut sang Mami.
"Oke ! Aku setuju," Amelia tersenyum lebar. Yang penting saat ini adalah ia bisa menghindari Rafa dulu, soal jadi tak jadinya ia menikah itu urusan belakangan.
Di lain tempat, Rafa baru saja turun dari mobilnya dan berjalan ke sebuah rumah yang mewah. "Sudah pulang ?" Tanya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun tak lagi muda.
"Hu'um. Bun, bisa buatkan Rafa sarapan yang bisa dibawa pergi ?" Tanya Rafa pada ibunya.
"Bukannya tadi kamu berpamitan karena mau sarapan di luar ?" Tanya bundanya terheran.
"Gak jadi, soalnya Rafa mau bikin CV, terus mau medical check up, sama ngurusin berkas ijazah dan lainnya," jawab Rafa.
"Fa, kamu mau ngelamar kerja lagi ? Bukannya pekerjaan ini impianmu ?" Tanya sang bunda dengan sedikit cemas.
"Bukan mau lamar kerja, Bun ! Tapi mau lamar anak orang !!" Jawab Rafa dengan mata berbinar dan senyuman lebar.
to be continued
thanks for reading
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya...