The Unexpected Love

The Unexpected Love
selanjutnya



Elang berdiri sebentar tepat di pintu kelas Maxi. Senyum seringai muncul di wajahnya yang tampan. Ia tak akan pernah merelakan Nayla pada siapapun


***


Di kelas yang lain Amelia mulai merasakan resah gelisah. Hingga saat ini ia belum juga menceritakan perihal kepindahan sekolahnya kepada Nayla. Amelia beralasan ingin mencari waktu yang tepat padahal yang sesungguhnya terjadi ia tak sanggup untuk mengatakan itu.


Tak sanggup harus berpisah dengan sahabatnya itu, walaupun Amelia tahu meskipun nanti mereka terpaut jarak yang jauh Nayla akan tetap menjadi sahabatnya.


Amelia tidurkan kepalanya di pundak Nayla. "Kenapa Mel ?" Tanya Nayla.


"Nggak apa-apa, pengen gini aja. Eh Nay, kamu beneran mau pergi berdua sama Maxi ?"


"Mmm rencananya begitu," jawab Nayla.


"Kalau kamu gak mau jangan maksain Nay," ucap Amelia yang mengerti perasaan temannya itu.


Nayla tak menjawab ia hanya menganggukkan kepala. Nayla memang tak yakin, tapi dirinya akan tetap mencoba untuk membuka hati.


***


Sepulang sekolah, Vony sudah berdiri manis di depan pintu kelas Elang. Ia sengaja lakukan hal itu agar bisa pulang bareng Elang dan memastikan hubungan mereka baik-baik saja.


Gadis itu menunggu dan menanti Elang dalam rasa cemas. Tadi, sikap lembut Elang berubah 180 derajat setelah ia menceritakan semua.


Tak ada cara lain bagi Vony yang sedang dimabuk cinta itu selain menceritakan hal yang sebenarnya pada Elang. Vony berpikiran, dengan cara seperti itu dirinya akan mendapatkan hati Elang.


Elang akan percaya jika dirinya benar-benar mencintai Elang dan kekasihnya itu pun akan memaklumi segala tindak tanduknya karena ia lakukan semuanya atas nama cinta. Bukankah wajar jika seseorang bertindak diluar nalar jika itu karena cinta?


Pintu kelas Elang pun terbuka lebar dan para siswa pun satu-satu keluar. Terlihat Elang di barisan paling akhir dan pria itu tengah berbicara dengan Rafa juga Rendi yang merupakan teman satu tim basketnya.


Entah apa yang mereka bertiga bicarakan karena ketiganya terlihat sangat serius. Vony hanya berdiri di depan pintu tanpa berani masuk. Tatapan dingin Elang cukup membuat nyalinya menjadi ciut. Apalagi sekarang, ia rasakan cintanya semakin besar pada Elang hingga Vony akan lakukan apapun untuk Elang, termasuk jadi budak cintanya.


Elang melihat ke luar kelas dan ternyata ada Vony disana. Sebenarnya Elang sudah merasa sangat muak pada gadis yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. Tapi Elang berusaha untuk bersikap manis, membuat Vony percaya jika kejujuran gadis itu membuat Elang membalas rasa cintanya.


"El...," Sapa Vony sambil melambaikan tangannya.


Terpaksa Elang masih bersikap baik sebelum Vony dan Leo mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Ia berjalan menuju pintu dan menghampiri kekasihnya itu.


"Pulang bareng ya ?" Pinta Vony.


"Tapi...,"


"Sampai gerbang doang kok, please...,"


"Oke," Elang pun menyetujui.


Jika biasanya Vony akan membelit lengan Elang dengan manja, kali ini ia tidak berani melakukannya karena sikap Elang masih terasa lebih dingin dari sebelumnya.


"El.... Hubungan kita baik-baik saja kan ?" Tanya Vony takut-takut.


Elang tak menjawab ia hanya tersenyum masam menanggapinya.


Vony menelan salivanya sendiri dengan paksa, sungguh yang merasa takut akan kehilangan pemuda yang telah membuatnya jatuh cinta itu.


Mereka hanya berjalan berdampingan menuju pintu gerbang sekolah tanpa ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir keduanya. setelah sampai di pintu gerbang baik Vony ataupun Elang berjalan ke mobil mereka masing-masing.


***


Setiap Vony memakai hoodie hitam milik Elang, pemuda itu yang akan mencucinya sendiri dengan menggunakan deterjen yang berlebihan seolah ingin menghilangkan kuman-kuman.


Si bibik yang bekerja di rumah Elang pun hanya geleng-geleng kepala karena tingkah laku anak majikannya itu. Biasanya setelah ini dirinya lah yang bertugas melanjutkan pekerjaan Elang.


"Bik, tolong lanjutkan ya.. kalau bisa deterjenya tambahin lagi yang banyak," kata Elang dan pemuda itu pun bergegas masuk ke dalam rumah dengan masih menggendong tas ranselnya.


"Baru pulang, El ? Kenapa gak bareng adikmu ?" Tanya Papi elang yang ternyata sudah ada di rumah karena beliau tidak ada jadwal untuk melakukan pemeriksaan pasien.


"Sama Amelia kok, Pi. Tadi Elang cuci baju dulu," jawabnya.


Elang hendak menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai 2 di mana kamarnya berada, tapi Elang urungkan niatnya saat ia ingat rekaman pengakuan Vony yang berada di ponselnya. Ia pun mengeluarkan ponsel itu dari saku celananya dan memberikannya pada sang Papi.


" Apa ini ?" tanya Papi Elang.


"Coba Papi dengarkan saja sendiri,"


Papi Elang mendengarkan rekaman itu satu persatu dengan teliti dan seksama. Tak ada satupun yang terlewati. Rahangnya mengeras menahan emosi saat ia telah selesai mendengarkan semua pengakuan Vony.


" Kamu pacaran sama dia, El ?" Tanya sang papi karena ia tidak suka Elang masih sempat berpacaran padahal anaknya itu sedang ada dalam masa hukuman.


" Elang mendekatinya untuk mendapatkan bukti-bukti ini, "jawab Elang beralasan.


" Baguslah, akan segera Papi tindaklanjuti agar semua masalah cepat selesai. Dan begitu semua ini selesai kamu bisa langsung pergi. Mungkin hanya akan memakan waktu satu minggu lagi,"


Elang menganggukkan kepala tanpa protes. Ia tersenyum kecut saat ingat waktunya hanya tinggal satu minggu lagi berada di kota ini.


"Pi, bolehkah aku mengadakan pesta ulang tahunku sebelum pergi? Sebagai pesta perpisahan dengan teman-temanku juga " tanya Amelia yang ternyata sudah menguping sedari tadi.


Papi Elang terdiam untuk beberapa saat dan berpikir. " Baiklah, " jawab Papi Elang pada akhirnya.


Amelia pun tersenyum dan ia menabrakkan tubuhnya kepada sang Papi dan memeluknya erat. "terimakasih," ucap Amelia.


Masih jadi bahan pikiran untuk Elang, mengapa Papinya juga meminta Amelia untuk ikut pindah. bahkan rencananya sang Mami pun akan ikut pindah dan menemani anak-anaknya. Menyisakan hanya Papi Elang saja di kota itu karena Papinya itu sudah memiliki banyak pasien setia juga beliau tengah memimpin salah satu rumah sakit yang cukup ternama.


***


"cie yang besok mau pergi kencan" ledek Amelia pada sahabatnya.


Nayla tak bergeming saat dirinya digoda. ia masih sibuk menulis catatan di atas buku. saat ini keduanya tengah mengikuti pelajaran di dalam kelas. berhubung guru yang bertugas hari itu berhalangan hadir maka keduanya hanya diberikan tugas yaitu mencatat rangkuman materi pelajaran yang didiktekan oleh ketua kelas.


Amelia sudah memutuskan bahwa hari ini ia akan menceritakan perihal kepindahannya pada Nayla. Sedari pagi saat Amelia baru saja tiba di sekolah, gadis itu sudah merasakan resah yang luar biasa. ia mencari jalan dan juga kata-kata yang akan digunakan untuk menjelaskan kepergiannya pada Nayla.


" Nay..." rengek Amelia karena sahabatnya itu sama sekali tidak terpengaruh tentang Amelia yang terus menggodanya soal Maxi.


" Nay... aku mau pindah sekolah Minggu depan," ucap Amelia.


" bohong banget," ucap Nayla tanpa menghentikan kegiatan menulisnya.


Amelia pun menarik nafas dalam, " demi Tuhan beneran Nay....," ucapnya sungguh-sungguh.


Nayla yang mendengar itu dengan refleks melepaskan bolpoin dari tangannya dan melihat pada Amelia dengan tatapan mata tak percaya.


to be continued ♥️