The Unexpected Love

The Unexpected Love
Masih Meminta Izin



Alex yang sedang sibuk membicarakan tentang suatu pekerjaan dengan Nadia harus menghentikan itu semua karena ia kedatangan dua orang tamu yang sangat ingin bertemu dengannya.


"Untung kita lagi rapat beneran ya, Yang. Bukan agenda rapat nengok dedek bayi," ucap Alex seraya tersenyum mesoom pada istrinya. Ia menaik turunkan alisnya saat mengatakan itu.


Nadia yang mendengar itu langsung memelototkan matanya pada Alex. Tapi pada yang Alex ucapkan benar adanya. Tak terbayangkan jika ia dan Alex tengah melakukan olahraga panas di atas ranjang. Pastinya mereka harus menyudahi kegiatan itu tanpa pelepasan. Karena tamunya pasti akan sangat curiga pada Alex dan Nadia yang terlalu lama membuat mereka menunggu.


"Selamat pagi," ucap Nayla yang masuk lebih dulu, disusul oleh Elang dibelakangnya.


"Loh kalian ? Aku kira siapa," sahut Nadia sembari berdiri dan berjalan menyambut kedatangan adik dan juga adik iparnya itu.


Sedangkan Alex tetap duduk di bangku kebesarannya. Ia layangkan senyum pada keduanya, tapi di dalam hatinya Alex merasakan ada sesuatu yang tak beres. Instingnya mengatakan jika kedatangan Elang pasti ada kaitannya dengan pekerjaan Nayla.


Alex pun bangkit dan beralih pada sofa. Ia duduk bersebelahan dengan sang istri, Nadia. Bahasa cinta Alex pada Nadia adalah melalui sentuhan fisik. Tak heran jika ia meletakkan salah satu tangannya di atas paha sang istri. Seolah-olah tak ingin berjauhan.


Dan itu bukan hal yang baru bagi Nayla. Ia sudah hapal benar bagaimana dalamnya cinta Alex pada Nadia. Padahal keduanya menikah melalui sebuah perjodohan. ( Kisah selengkapnya bisa baca di novel In Love. Tinggal klik profil aku aja. Maaf konten mengandung iklan :) )


Sebelum ke inti tujuan kedatangannya, Elang lebih dulu bercerita tentang pekerjaannya dan hal-hal lain yang menghibur. Setelah suasana menjadi lebih hangat, Elang pun mengutarakan maksudnya.


Alex dan Nadia mendengarkan dengan seksama. Keduanya mengerti apa yang Elang rasakan juga inginkan. Sebagai pasangan yang saling mencintai tentunya selalu ingin berdekatan karena Alex dan Nadia pun merasakan hal yang sama.


"Berjauhan dengan wanita yang kita cintai rasanya hampir gila," ucap Alex menimpali perkataan Elang. Dan ia mencengkram paha Nadia sedikit lebih kencang.


"Benar !" Sahut Elang.


"Apapun yang aku lakukan dan dimanapun aku berada, pikiranku hanya tertuju pada Nayla. Aku ingin Nayla selalu berada di dekatku," lanjut Elang sembari melayangkan tatapan penuh cinta pada Nayla.


"Sebenarnya sangat berat kehilangan seseorang yang mempunyai kinerja luar biasa dalam perusahaan. Tapi, aku juga sangat mengerti apa yang kamu rasakan, El," ucap Alex. Ia pun melihat pada Nadia yang matanya sudah memburam karena air mata. Kehamilannya membuat perasaan Nadia lebih sensitif.


"Walaupun berat hati... Tentu saja akan kami izinkan, karena kebahagiaan kalian lebih utama dari pekerjaan Nayla," lanjut Alex.


"Ah Nay... Belum apa-apa, Mbak sudah merasa kehilangan kamu," ucap Nadia tanpa bisa menahan laju air matanya.


"Nayla akan hubungi Mbak Nadia setiap hari. Dan Mbak bisa bisa telepon aku kapanpun Mbak mau," sahut Nayla.


"Kita akan mengunjungi Nayla jika Nadine libur sekolah. Kamu jangan khawatir kita masih bisa bertemu dengannya," ucap Alex menenangkan istrinya itu.


Nadia anggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Ia pun mengerti bagaimana perasaan sang adik yang tentunya selalu ingin dekat dengan lelaki yang dicintainya. "Semoga kalian selalu bahagia," ucap Nadia tulus.


"Mbak juga ya...," Nayla menimpali.


"Kapan Nayla akan ikut bersamamu ?" Tanya Alex pada Elang.


"Setelah semuanya memberi izin, aku akan segera menguruskan kepindahannya. Tapi sebelumnya kami akan melakukan bulan madu lebih dulu bersama Amelia dan suaminya," jawab Elang.


"Aahhhh ya... Kalian mau ke Eropa ya ?" Tanya Alex lagi.


"Hu'um, kami akan pergi dalam beberapa hari lagi," sahut Elang membenarkan. Selama Elang berbicara, Nayla selalu menatap suaminya itu dengan penuh rasa cinta. Ia tak sadar jika Nadia terus memperhatikannya sambil tersenyum. Nadia ikut merasakan senang karena kebahagiaan sang adik.


Di tempat lain, pada jam yang sama. Seorang pemuda tengah berdiri di depan pintu masuk sebuah rumah sakit ternama di kota Jakarta.


Pemuda itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Ini adalah kali kedua ia datang seorang diri untuk menemui lelaki yang kini menjadi mertuanya. Jika dulu ia datang untuk melamar anak gadisnya. Kali ini ia datang untuk meminta izin membawa pergi gadis yang sudah menjadi istrinya itu.


Ia adalah Rafa yang saat ini tengah merasakan gugup karena akan berbicara dengan ayah Amelia. "Bismillah... Kamu pasti bisa !" Ucap Rafa sembari mengepalkan tangannya. ia menyemangati dirinya sendiri.


Dengan langkah pasti, ia pun memasuki rumah sakit itu. Ia sengaja tak menemui sang istri lebih dulu karena Rafa ingin menemui ayah mertuanya itu seorang diri.


Rafa tahu jika Papi Amelia sangat menginginkan salah satu anaknya menjadi seorang dokter. Dan keinginannya itu tercapai saat Amelia berhasil meraih gelar dokternya.


Tapi kini setelah Amelia berhasil, Rafa malah akan membawanya pergi. Tentu itu akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk papi Amelia. Dan kemungkinan buruk yang terjadi adalah ia akan meledak marah dan menolak permintaan Rafa mentah-mentah. Oleh karena itulah Rafa memutuskan untuk menemuinya sendirian. Ia tak mau Amelia yang kena getahnya.


Tapi sepertinya rencana Rafa gagal total karena seorang wanita dengan pakaian khas dokternya sudah berdiri di depan lobi rumah sakit. Ia tersenyum pada Rafa, seolah-olah sudah menunggu kedatangannya.


"Sa- sayangnya Rafa lagi ngapain di sini ?" Tanya Rafa terbata-bata. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Amelia tertawa. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu sama kamu. Lagi ngapain di sini?" Amelia pun balik bertanya.


Rafa nyengir kuda sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal. Tiba-tiba saja lidahnya menjadi kelu, tak bisa berkata-kata.


"Mau ketemu Papi kan ?" Tebak Amelia.


Rafa yang tak bisa berbohong pada istrinya itu hanya bisa anggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalau begitu, ayo kita temui sama-sama," ajak Amelia.


"Ja- jangan," tolak Rafa.


"Rafa gak mau kalau nanti Papi marah yang kenanya malah kamu," lanjutnya lagi seraya menahan lengan Amelia untuk tak ikut dengannya.


Amelia tatap wajah lelaki yang menjadi suaminya itu dengan lembut. Lalu ia lengkungkan sebuah senyuman di bibirnya. "Bukannya kamu ingin selalu dekat denganku ?" Tanya Amelia.


"Tentu saja ! Aku ingin selalu dekat denganmu," jawab Rafa tanpa ragu.


"Jika benar begitu, ayo kita belajar untuk menghadapi apapun berdua," sahut Amelia.


Deg !


Perkataan Amelia membuat perasaan Rafa melambung tinggi di udara. Sungguh ia merasa terbuai oleh ucapan manis dari istri yang sangat dicintainya itu. Rafa pun tersenyum lebar di tempat dirinya berdiri.


Melihat reaksi Rafa membuat Amelia menghela nafasnya dalam. "Please lah jangan ngereog di sini," ucapnya memelas.


To be continued