
Elang bersimpuh di atas kedua lututnya, Ia membawa kedua tangan Nayla dalam genggamannya. Menatap Gadis itu penuh rasa cinta dan bertanya " Nay... Nayla... Aku mencintaimu... Aku mohon menikahlah denganku,"
Bukannya menjawab tapi Nayla malah menatap Elang dengan tak percaya. "A-apa ka-kamu serius dengan apa yang kamu lakukan saat ini ?" Tanya Nayla terbata-bata.
" Apa kedatangan aku dan keluargaku tak cukup sebagai bukti jika aku sangat serius untuk menikahimu ?" Elang balik bertanya.
" Ta-tapi kita baru saja satu Minggu ini resmi bersama." sahut Nayla lirih. Ia tak mau orang lain mendengarnya. Ia tak mau keluarganya berpikir jika ia telah menyembunyikan sesuatu dari mereka yang memang benar adanya.
Elang tersenyum lembut, ia tahu Nayla masih sangat terkejut hingga gadis itu pun menjadi tak bisa berpikir jernih. "Tapi kita sudah saling menyukai sejak lama. Jika kisah kita hanya cinta monyet semata, tolong jelaskan padaku kenapa aku masih sangat menyukaimu hingga detik ini dan begitu pun kamu sama aku," mata Elang menatap dalam Nayla dengan penuh tuntutan.
" Jelaskan padaku kenapa perasaan ini tak juga hilang, malah semakin kuat setelah kita bertemu," tuntut Elang.
Nayla menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba saja ia tak mampu berucap kata. Ia tak bisa menjawabnya pertanyaan Elang karena ia pun merasakan hal yang sama. Cintanya pada Elang tak pernah hilang.
Gadis itu terisak, "a-aku tak bisa menjawab pertanyaan kamu, karena a-ku pun tak bisa berhenti mencintaimu semenjak pertama kali kita bertemu dulu. Sejak kita masih remaja dan hingga aku tumbuh dewasa, hanya kamu yang aku cinta," jawab Nayla dengan jelasnya. Ia mengungkapkan perasaan cintanya yang sedari dulu dipendam. Nayla katakan itu seolah-olah hanya ada Elang di sana.
" Jika begitu, menikahlah denganku... Aku tak bisa mengumbar janji manis, tapi aku akan buktikan padamu bahwa aku benar-benar mencintaimu," mohon Elang.
Nayla mengangguk pelan. Ia tersenyum dan menangis di saat yang bersamaan. " A-ku, aku mau, Elang. Aku mau menjadi istrimu" sahut Nayla lirih seraya menatap mata coklat karamel milik Elang.
Mata yang membuat Nayla tersesat dalam pesona laki-laki itu dan tak pernah menemukan jalan pulang.
" Jadi kamu mau menikah denganku ?" Tanya Elang untuk meyakinkan. Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bibirnya masih saja melengkungkan senyuman.
Nayla mengangguk tegas. " Ya, aku mau," jawabnya tanpa ragu.
Elang tersenyum, begitu juga Nayla. Keduanya berpelukan dengan eratnya. Meluapkan rasa bahagia yang tak terkira.
"Sabar... Sabar... Elang, lepasin dulu Nayla nya," ucap sang kakak, Bimo.
Nayla dan Elang pun tersentak. Keduanya baru saja tersadar jika di sana tak hanya ada mereka saja. Dengan malu-malu Elang uraikan pelukannya pada sang kekasih
Nadia mencebikkan bibirnya karena kesal pada laki-laki yang pernah jadi kekasihnya itu. " Apaan sih, Bim ? Ganggu momen haru aja," ucap Nadia sembari mengusap ujung matanya yang basah. Ia ikut terbawa perasaan karena lamaran sang adik.
" Lah... Aku cuma ingetin Elang buat tahan diri, biar gak kebablasan" sahut Bimo tanpa dosa l.
" Tapi kan tadi indah banget," Nadia masih merajuk kesal.
Sedangkan yang lain hanya tertawa ringan melihat perdebatan mereka.
Dikala semua tertawa-tawa, tapi tidak dengan Alex. Ia sadar tak pernah meminang Nadia dengan cara seperti itu. Karena mereka berdua menikah dengan cara perjodohan dan ketika awal menikah, Alex adalah seorang laki-laki yang menyebalkan.
Yang Alex lakukan saat ini adalah melihat pada Nadia dengan perasaan salah dan overthingking yang luar biasa. Berpikir jika sang istri pun pasti ingin mendapatkan lamaran pernikahan seperti itu.
Sedangkan Nayla baru sadar jika di sana tak ada Amelia sang sahabat. Terlalu fokus pada Elang membuat Nayla sedikit melupakan sahabatnya itu.
" Amelia mana ?" Tanya nayla. "Apa dia tahu kalau kamu mau melamar aku ?"
" Tentu saja dia tahu. Amelia sangat terkejut tentang kita," jawab Elang.
"Hu'um, aku bercerita padanya bahwa kita telah saling jatuh cinta 10 tahun lamanya tapi Tuhan baru mentakdirkan kita untuk bersama sekarang,"
Mendengar itu membuat Nayla semakin panik saja. " Apa dia marah?" Tanya Nayla dengan perasaan hati resah.
" Tidak, marah kenapa ?" Tanya Elang berkerut alis tak paham.
" karena aku tak pernah bercerita tentangmu padanya. Pasti dia menganggap aku adalah seorang sahabat yang buruk." Mata Nayla kembali berkaca-kaca.
Elang hanya terdiam melihat Nayla yang sedang kebingungan dan juga sedang merasa cemas itu.
" Kenapa Amelia tak datang ? " Tanya Nayla lagi.
" Karena hari ini ia harus masuk kerja. Kamu tahu kan kalau di rumah sakit itu waktu liburnya tak menentu," jawab Elang.
Nayla menggigit bibir bawahnya karena gugup, kedua tangannya yang basah akan keringat saling bermas satu sama lain di atas pangkuannya. Nayla tengah membayangkan bagaimana kecewanya Amelia karena dirinya yang telah lancang menyembunyikan cerita darinya.
Elang pun sadar jika Nayla sedang merasakan rasa hati dengan hebatnya. Pasti Nayla merasa takut jika Amelia akan marah besar padanya.
" Aku rasa dia akan mengerti jadi kamu tenang saja." Elang berusaha menenangkan gadis yang akan menjadi istrinya itu.
Nayla masih diliputi rasa cemas dan bersalah cemas dan bersalah saat Mami Elang mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna merah tua. "Ya ampun, sampai lupa," ucapnya.
" Saking senangnya Nayla menerima lamaran elang, Mami sampai lupa jika Elang telah menyediakan sebuah cincin untuk mengikat Nayla." Mami Elang pun menyerahkan kotak beludru itu kepada Elang.
" Ayo berdiri, El ! Kita ambil foto dulu," ucap Bimo pada adiknya itu. Secara tak langsung ini adalah hari pertunangan bagi keduanya.
" Seandainya kamu bilang akan melamar Nayla dari jauh-jauh hari, tentunya aku akan mempersiapkan semuanya. Termasuk juga jasa fotografer untuk mengabadikan acara hari ini," ucap Nadia.
"Gak apa-apa dadakan yang penting niat baiknya sudah terlaksana "kali ini ibunya Nayla yang membuka suara.
Elang pun bangkit dari tempat duduknya dan meraih tangan Nayla agar menyusulnya berdiri. " Dengan cincin ini, hubungan kita semakin serius. Aku terikat padamu, dan kamu pun terikat padaku," ucap Ella sembari menyematkan cincin bermata berlian itu dan bertuliskan namanya di jari manis Nayla
Momen manis itu menjadi pusat perhatian seluruh keluarga yang hadir di sana.
Setelah itu mereka pun berbaur dan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh Ibu Nayla.
Sedangkan Nayla walaupun saat ini dirinya merasa sangat bahagia, tapi di hatinya yang paling dalam dia takut telah menyakiti hati sang sahabat yaitu Amel.
Di saat semuanya sedang membaur satu sama lain, diam-diam Nayla pergi ke dalam kamarnya dan menekan nomor Amelia berulang kali pada ponselnya. Iya berusaha menghubungi Nayla berulang kali.
Tapi sayangnya gadis galak itu tak juga menjawab panggilan telepon dari Nayla. Nayla lakukan itu berulang kali, berusaha untuk mendekati Amelia lagi.
" Ya Tuhan...... Lembutkanlah hati Amelia agar dia tidak marah padaku," ucap Nayla frustasi. Tak terbayangkan apa yang terjadi saat ia bertemu sahabatnya itu nanti.
to be continued ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa