The Unexpected Love

The Unexpected Love
Sasaran Selanjutnya



selamat membaca ♥️


Setelah berganti baju sekolah, Elang memainkan peralatan musiknya yang berada di lantai 3. Bila biasanya Sang Mami akan cerewet agar anak kesayangannya itu segera makan siang dan kemudian menayangkan apa saja yang dilakukannya di sekolah, maka siang ini semuanya terasa lebih sunyi karena Mami Elang menemani Papi nya yang tengah mengikuti seminar kesehatan di kota Bandung.


Seminar dadakan yang mengundang papi Elang sebagai narasumber. Oleh karena itulah tadi pagi Amelia datang ke kelasnya untuk memberitahu. Dan semenjak kedatangan Amelia ke kelas Elang, perilaku Rafa berubah total.


Rafa...


Sedari tadi Elang memang sedikit memikirkan sahabatnya itu. Entah mengapa tapi Elang menjadi khawatir. Rafa tidak seperti biasanya, pemuda itu jauh lebih serius dalam berbicara dan secara terang-terangan mengakui jika dirinya menyukai Amelia dengan sungguh-sungguh.


Elang tersenyum kecut. Setidaknya Rafa lebih beruntung dibandingkan dengan dirinya. Rafa bisa lebih bebas untuk mengekspresikan perasaannya pada sang adik tanpa khawatir membahayakannya.


Rafa bisa menggombal dengan bebas, bisa mendekati Amelia di mana saja dan kapan saja, bisa datang ke rumah Elang untuk meminta maaf sambil membawa boneka, Amelia juga bisa datang ke rumahnya untuk menjenguk tanpa ada perasaan takut.


Jauh jika dibandingkan dengan dirinya. Elang tak bisa dengan bebas menyukai Nayla apalagi menunjukkan perasaannya. Tapi bodohnya ia, selalu saja tak bisa menahan diri jika berdekatan dengan gadis pemalu itu.


Naluri Elang sebagai seorang pemuda yang sedang jatuh cinta selalu ingin berdekatan dengan gadis itu, selalu ingin melihat ke arah Nayla dan memastikan tak ada pemuda lain yang mendekati gadis pujaannya, selalu ingin melindungi Nayla di mana pun ia berada. Tak ada yang tahu jika perasaan yang Elang miliki sungguh-sungguh menyiksa dirinya.


"Bang El, makan !!!"


Teriakan sang adik dari lantai bawah menyadarkan Elang dari lamunannya sendiri. Elang beristighfar karena telah merasa iri dan membandingkan dirinya sendiri dengan sang sahabat yang jelas-jelas telah berlaku sangat baik padanya.


"Bang Elang, makan !!!"


Teriakan Amelia lebih nyaring dari yang sebelumnya. Elang menggelengkan kepalanya pelan. Menyadari sang adik sama cerewetnya dengan Mami. Malas-malas Elang pun turun ke lantai 1 untuk makan siang yang terlambat.


Di dapur Amelia tengah mempraktekkan sebuah resep masakan yang ia tonton dari aplikasi yang mempunyai icon berwarna merah dan digandrungi jutaan orang. Dan Elang adalah kelinci percobaan dari sang adik.


Amelia meletakkan sepiring nasi beserta lauknya di atas meja saat Elang sudah mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Apaan ini, Mel ?" Tanya Elang melihat potongan-potongan daging beserta sausnya yang berwarna kehitaman.


"Chicken steak barbeque," jawab Amelia pendek.


Elang belum menyentuh makanannya, ia masih memperhatikan makanannya dari segala arah. Dirinya sedikit tak yakin untuk memakan makanan buatan sang adik.


"Enak kok, gak beracun cuma sedikit gosong aja sausnya," jawab Amelia sambil menundukkan kepala.


"Pahit gak ?" Tanya Elang.


"Cepet makan ! Jangan banyak tanya!" Kata Amelia sambil melotot pada Elang, hingga pemuda jangkung itu hanya tersenyum kecut saja.


"Si Rafa, beneran suka ma nih makhluk galak ?" Tanya elang dalam hatinya. Lagi-lagi ia teringat pada sahabatnya itu entah untuk yang ke berapa kalinya.


Tanpa banyak tanya lagi akhirnya Elang menyerah, ia mulai menyantap makan siangnya dalam diam karena pikirannya tentang Rafa membuat sedikit tak nyaman.


Tak hanya elang yang merasa jika Rafa berbeda hari ini. Bila pada hari-hari biasanya pemuda itu selalu bertingkah konyol dengan gombalan-gombalan maut yang ia utarakan untuk Amelia tapi hari ini Rafa hanya menatapnya dari jauh tanpa berkata-kata.


Amelia ingin menghindar dari tatapan pemuda itu, tapi ia tak sanggup karena Rafa terus melihatnya dengan penuh damba. Jangan salahkan Amelia jika jantungnya bekerja ekstra. Dadanya berdegup kencang tak karuan, ada gelenyar aneh dalam hatinya saat mendapatkan Rafa menatapnya seperti itu.


Meskipun dirinya terus menyangkal, tapi nyata nya Amelia peduli pada pemuda konyol itu.


Ponsel Elang yang terletak di atas meja bergetar dan berbunyi secara bersamaan. Pemuda itu melihat dengan ujung mata pada layar ponselnya dan terdapat nomor tak dikenal mengirimkan pesan.


Elang tak langsung membuka pesan itu, is lebih memilih melanjutkan makan siangnya yang ternyata terasa nikmat. Masakan sang adik memang sedikit gosong tapi itu tidak mengurangi cita rasa pada makanannya.


"Pesan dari siapa?" Tanya Amelia.


"Kepo !!" Sahut Elang tak ingin memberitahukan kepada adiknya dan itu membuat Amelia memutar bola matanya jengah.


Sudah berlalu beberapa menit tapi Elang belum juga membuka pesannya. Ia berpikiran bahwa pesan yang dikirimkan nomor tak dikenal itu hanya sekedar pesan iseng atau pesan penipuan yang sedang marak di kalangan masyarakat.


Tapi ternyata nomor tak dikenal itu kembali mengirimkan pesan. Elang pun melihatnya dengan terheran. Ia selesaikan makan siangnya lebih cepat dari sang adik dan segera bangkit dari tempatnya duduk.


Dengan ponsel di tangannya, Elang berjalan ke arah mesin dispenser untuk mengambil air minum. Lalu ia kembali meletakkan ponsel itu di atas meja, sementara ia meminum air putih satu gelas dan langsung di habiskan.


Untuk ketiga kalinya nomor tak dikenal itu kembali mengirim pesan pada Elang. Pada akhirnya Elang mengusap layar dan memeriksa pesan itu sambil berjalan menuju ruang keluarga untuk beristirahat dan menonton TV. Elang masih dalam pengawasan ketat dari orang tuanya. Dirinya akan terus dimonitor dari jauh. Orang tua Elang selalu memastikan bahwa anaknya itu tidak pergi ke mana-mana. Hal itu dilakukan setelah Elang ditemukan tak sadarkan diri beberapa waktu lalu.


Mata Elang langsung membola, secara refleks tangannya yang gemetar langsung memegang dahinya karena rasa terkejut yang luar biasa saat ia melihat foto-foto sang sahabat yang terbaring tak berdaya di atas lantai beton pelataran parkir sekolah.


Elang menjatuhkan tubuhnya yang lemas di atas kursi sofa. " Ini akibatnya jika berani-berani melawan gue dan membela lu," terdapat sebuah pesan yang menyertai foto-foto mengerikan itu.


Elang langsung melakukan foto layar ponsel untuk menyimpan foto-foto mengerikan itu sebagai bukti jika suatu saat dibutuhkan.


Tanpa terasa air mata membasahi pipinya. Elang bener-bener merasa bersalah karena telah melibatkan Rafa dalam urusannya. Rafa adalah pemuda yang baik ia tak mempunyai salah apapun. Satu-satunya kesalahan Rafa adalah menjadi sahabat Elang.


Tangis Elang semakin menjadi dan ia pun menjambak rambutnya frustasi berulang kali. Menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada sahabatnya.


Siksaan bagi Elang tak cukup sampai di situ saja. Nomor tak dikenal itu kembali mengirimkan pesan yang di dalamnya terdapat foto Nayla di antara kerumunan orang yang tengah histeris melihat Rafa yang tidak berdaya. Dalam foto itu sosok Nayla dilingkari agar Elang paham dengan maksudnya.


"Kini giliran dia yang jadi sasaran selanjutnya," tulis nomor tak dikenal itu beserta foto-foto Nayla.


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚


banyak sogokan banyak update an kwkwkwk


maaciw zheyeenk 😚♥️