
Pada akhirnya Nayla memutuskan untuk membuka hati pada pemuda lain dengan harapan bisa melupakan Elang. Walaupun Nayla tahu jika itu pastilah sangat sulit untuk dilakukan. Nayla pun menarik nafas dalam.
"Cieeeeee," goda teman-temannya pada Nayla. Saat mereka mendengar rencana kencan Nayla dengan Maxi Minggu ini.
Maxi tersenyum lebar, sedangkan wajah Nayla terlihat datar-datar saja. Bila biasanya pipi gadis itu akan merona merah malu-malu tapi kali ini tidak. Perasaannya biasa-biasa saja. Nayla pun merasakan benci pada Elang karena laki-laki itu telah mencuri seluruh perasaannya hingga tak bersisa.
Teman-temannya itu terus menggoda. Dan saking senangnya Maxi, pemuda itu pun mentraktir semua yang ada satu bangku dengannya. Melihat Maxi yang begitu antusias, pada akhirnya Nayla pun ikut tersenyum walaupun sebenarnya dalam hati tidak. Ia tak ingin memperlihatkan perasaan yang sebenarnya pada siapapun apalagi Maxi. Pemuda itu terlalu baik untuk disakiti.
Nayla menarik nafas dalam seraya menatap pemuda yang duduk dihadapannya. Berharap kedekatan mereka bisa mengalihkan pikirannya dari Elang.
Elang...
Lagi-lagi nama dan bayangan wajah pemuda jangkung itu terlintas di kepala Nayla. Secara refleks Nayla menolehkan kepalanya melihat ke arah Elang dan sialnya pemuda itu pun melakukan hal yang sama. Elang tengah memperhatikan dirinya.
Cepat-cepat Nayla palingkan wajahnya, menghindari tatapan Elang karena debaran jantungnya langsung menggila dan jemari tangannya gemetar hanya karena ditatap seperti itu olehnya.
Tanpa Nayla sadari Rafa memperhatikan apa yang dirinya lakukan. Dalam hati Rafa, ia merasakan prihatin pada sang sahabat Elang dan juga Nayla yang sama-sama saling menyukai tapi tak bisa bersatu karena orang-orang jahat pada mereka.
"Kak, lo dioperasi kan kemarin ?" Tanya Maxi basa-basi karena Rafa masih berdiri di sana tanpa ada niat untuk duduk bergabung, tapi tak juga pergi.
" hu'um," jawab Rafa membenarkan.
"Papi Amelia yang operasi gue," lanjutnya lagi.
"Dan beliau sampai terkaget-kaget pas operasi gue," lanjut Rafa terdengar serius dengan ucapannya.
"Hah ? Kenapa ? Sakit lu parah ?" Tanya Maxi penasaran dan begitu pun yang lainnya. Mereka langsung memasang kuping untuk mendengarkan cerita Rafa. Termasuk Amelia yang juga terlihat begitu berkonsentrasi untuk mendengarkan cerita mendebarkan dari pemuda yang selalu menggodanya itu.
"Iya, pas papi Amelia operasi aku dia kaget ada nama anak gadisnya terukir di dalam hatiku," jawab Rafa kembali ke model gombalnya membuat Amelia mendengus kesal dam memelototkan matanya pada Rafa.
Sedangkan yang lain hanya cengengesan, menahan tawa karena Amelia sudah terlihat mulai bertanduk marah. Rafa benar-benar jauh dari tipe laki-laki idaman versi Amelia. Karena gadis itu sangatlah menyukai pria yang pendiam dan cool. Sangat bertolak belakang dengan Rafa yang selalu menggombal padanya.
Amelia sudah siap untuk mengeluarkan kata-kata makian dalam bahasa asing sang Oma, tapi Rafa lebih dulu berpamitan sebelum dirinya kena semprot.
"Gue, ke teman-teman gue dulu ya, Max," pamit Rafa. Tak lupa ia pun berpamitan pada Amelia dengan cara yang paling manis membuat Amelia pun mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan untaian kata untuk Rafa.
Rafa kembali ke teman-teman sekelasnya dan duduk bersama mereka. Ia memesan jajanan dan dirinya yang konyol terlihat berbeda. Tanpa Rafa sadari, dirinya tengah diperhatikan oleh gadis cantik berambut coklat yang tadi ia goda.
Amelia mengaduk-aduk minumannya tanpa ia minum. Perasaannya tiba-tiba menjadi melow saat sadar waktunya di sekolah itu semakin habis dan ia pasti akan ingat pada pemuda konyol itu. Amelia pun menatap pada Nayla cukup lama, ia akan sangat merindukan sahabatnya itu. Tak hanya pada Nayla, Amelia pun melihat pada teman-temannya yang lain yang pasti akan Amelia rindukan juga. Masa putih abu adalah masa paling berkesan bagi Amelia dan kini ia harus bersiap pergi untuk meninggalkan orang-orang yang disayanginya.
***
Rafa sengaja duduk di jajaran paling belakang bwrsama Elang saat jam pelajaran berikutnya. Bukan tanpa tujuan ia melakukan hal itu. Rafa akan mencari tahu tentang yang terjadi tadi di kantin saat Elang menggebrak meja dan membuat Vony menangis.
"El, lo kenapa tadi ?" Tanya Rafa.
Walaupun wajah Elang terlihat sangat tak bersahabat tapi Rafa dengan nekatnya tetap mendekati sang sahabat untuk mencari tahu apa yang telah terjadi.
" Lo udah dapat informasi tentang kejahatan Leo ?" Tanya Rafa lagi.
Elang tak banyak bicara, ia langsung memberikan ponselnya pada Rafa agar sahabatnya itu bisa mendengarkan apa yang Vony katakan dengan langsung dari hasil rekaman suara yang Elang buat secara diam-diam.
"Gue nanya soal kuda poni, bukannya mau dengerin lagu," ucap Rafa polos saat ia melihat Elang memberinya ponsel serta air bud milik pemuda itu.
Elang mendelikkan matanya kesal pada Rafa. "Dengerin rekamannya beg* !" Sahut Elang sedikit emosi.
Rafa nyengir kuda saat ia paham maksud Elang. Rafa perhatikan pak guru yang sedang menulis di papan tulis. Dengan hati-hati pemuda itu memakai air Bud milik Elang agar tak ketahuan.
Rekaman pertama tak terlalu jelas terdengar hingga Rafa sesuaikan lagi level volume suaranya.
"Le- Leo emang gak suka sama kamu El. Menurutnya kamu itu sengaja merebut pacarnya untuk menunjukkan pada dia bahwa kamu berada di atasnya dan Leo gak suka itu. Dia gak suka terkalahkan,"
"Tapi gue gak pernah ngerebut cewek dia !"
"A-aku kamu,El," ( suara Vony mulai terdengar bergetar)
"Leo ingin kamu kalah sekalah-kalahnya. Ia akan lakukan apapun untuk bisa mencapai tujuannya. Saat Leo lihat kamu di mall bersama adikmu dan gadis itu, menurut Leo kamu terlihat bahagia dan ia tak suka. Maka Leo pun ingin memberikan kamu sedikit hukuman dengan menjebakmu di rumah kosong dan...," ( Hening untuk sesaat )
"Dan apa ?"
"Dan... Dan... Mencelakai kamu," (jawab Vony diakhiri dengan sebuah isakkan tangis)
"Lalu apa lagi ?"
"Kebencian Leo semakin menjadi-jadi saat dia tahu kamu ganti mobil, El. Mobil yang jauh lebih keren dari miliknya. Tak hanya itu saja. Le-Leo juga tak suka karena kamu memiliki teman-teman yang loyal padamu,"
"Seperti Rafa ?"
Hening....
"Gue tanya, seperti Rafa ?"
"I-iya,"
"Jadi yang celakain Rafa itu orang suruhan sepupu lo yang gila itu ?"
"Di-dia gak suka kamu punya sahabat yang loyal, El"
"Gue tanya, sepupu lo yang nyuruh orang buat celakain Rafa temen gue ?"
Hening..
"Vony, aku tanya... Apakah Leo yang menyuruh orang-orang untuk mencelakai Rafa ?"
"I-iya El, dan niatnya gak seperti itu. Tadinya hanya ingin menakut-nakuti Rafa saja tanpa mencelakainya. Ta-tapi...,"
"Tapi apa ?"
Hening...
"Aku tanya... Tapi apa, Von ?"
"Rafa bukan mengorbankan dirinya buat gue, tapi buat tim basket. Pikiran sepupu lo aja yang emang jahat,"
"Terus kenapa Leo juga mengincar Nayla ? Dia itu temannya adek gue gak ada urusannya sama gue,"
"Karena Leo tahu kamu sebenarnya suka gadis culun itu,"
"Apa buktinya ?"
"A-ku tahu dari cara kamu mandang dia, El. Dan tak hanya kamu, Leo juga sepertinya tertarik pada gadis dekil itu,"
"Kalau Leo tertarik kenapa dia mau menjadikan Nayla sebagai sasaran berikutnya ?"
Hening...
"Von, aku lagi bertanya sama kamu,"
"Karena.....,"
Hening....
"Von ?"
"Karena a-aku yang menyuruh Leo untuk melakukan itu,"
"BRAAAAAAKKKKKKK !!!!!"
Terdengar bunyi meja yang digebrak dengan keras.
"El.. duduk.... El biar aku jelasin... Please El...,"
Hening.... Yang terdengar hanya hembusan nafas yang menderu tak beraturan.
"El sayang.... El... Ku mohon duduk dulu... El sayang.... Hiks hiks,"
Terdengar suara Vony yang telah bercampur isakkan tangisnya.
"Maafin aku, El... Aku lakukan itu karena aku suka banget sama kamu. Aku lakukan itu karena aku sayang sama kamu dan pengen kamu jadi milik aku, hiks...hiks"
"Lo jahat banget jadi orang, gue gak nyangka,"
"Tapi semua bukan 100 persen ideku, El,"
"Lalu apa ?"
"Ternyata Le-Leo juga tak menyukai si cupu itu karena ia pernah di tolak oleh gadis itu saat ingin berkenalan lebih jauh dengannya,"
"Ditolak ?" Tanya Rafa dengan volume suara tinggi. Pemuda itu tak sadar saat mengatakannya karena keberadaan pengeras suara yang ada di kedua sisi telinganya.
Apa yang Rafa katakan membuat pak guru yang sedang mencatat di papan tulis menolehkan kepalanya pada Rafa. Tak hanya pak guru tapi juga hampir semua teman sekelasnya, kini mereka menolehkan kepala padanya.
Bukan Rafa namanya jika ia tak bisa ngeles. " I- itu baris ke 4 tulisannya 'ditolak' ya, Pak ?" Tanya Rafa. Untungnya di baris ke 4 di atas papan tulis memang ada kata-kata yang Rafa tanyakan.
Pak guru pun kembali melihat ke papan tulis. "oh ini...di tempat, Rafa ! Apa kurang jelas ? Sepertinya mata kamu harus diperiksa," ucap pak guru dan Rafa hanya nyengir kuda menanggapinya.
Lalu semuanya pun kembali fokus pada pelajaran. "Lu ngomongnya pelan-pelan kek," bisik Elang dan Rafa hanya manggut-manggut saja. Lalu ia pun mendengarkan kembali pengakuan Vony dari ponsel Elang.
"Ternyata Le-Leo juga tak menyukai si cupu itu karena ia pernah di tolak oleh gadis itu saat ingin berkenalan lebih jauh dengannya,"
"Sedangkan aku tak suka si dekil itu karena dia bisa mencuri perhatian kamu. Sedangkan kamu terus mengabaikan aku yang cantik ini,"
"Berhenti mengatainya ! Dan jangan bandingkan diri lo sama dia !! Lo dan Leo emang benar-benar jahat,"
"Mengertilah Elang... Aku lakukan ini karena aku sangat menyukaimu... Percayalah....,"
Hening....
"Dan aku juga yang membuat Leo tidak jadi mencelakai Nayla karena ju-jur... A-ku takut dengan kejadian yang menimpa Rafa,"
Hening....
"A-ku bilang sama Leo satu-satunya cara membalas kamu adalah dengan membuatmu menderita yaitu membuatmu jauh dari gadis yang kamu suka. Aku bilang jika kamu mau menjadi pacar aku, maka kamu dan si cupu itu... Maksud aku Nayla akan sama-sama tersiksa dan Leo pun menyetujuinya,"
Hening....
"Jahat banget lo berdua, otak kalian udah geser,"
"A-aku gak jahat El... Buk-buktinya a-aku yang menyelamatkan gadis itu dari niat jahat Leo,"
" Kedok lo, selamatin Nayla padahal biar dapat gue kan ?"
Suara Elang terdengar sangat muak saat mengucapkan kata-kata itu.
"Shame on you ( sungguh memalukan ), Von... Lo benar-benar sakit jadi cewek,"
"Itu semua karena aku suka kamu, El. Dan aku yakin aku bisa bikin kamu suka sama aku juga,"
"Teettttttt," terdengar bel tanda masuk kelas pun berbunyi.
"El... Sayang.. kita baik-baik saja kan ?"
"El... Sayang... A-aku benar-benar sayang kamu,"
Terdengar derit suara kursi yang bergeser karena dipaksa dan rekaman suara pun berakhir.
To be continued ♥️
Thanks for reading 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa...