The Unexpected Love

The Unexpected Love
Best Gift Ever



"Amelia...," Gumam Nayla tak percaya. Bibir Nayla tersenyum lebar, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sampai-sampai dengan tak sadarnya Nayla goyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri sembari menatapi layar ponselnya.


Elang yang melihat itu tersenyum gemas. " Si judes juga pulang, pada akhirnya kami bisa pulang dan 2 tahun lebih cepat dari yang direncanakan," ucap Elang.


" Hah ?" Nayla mengangkat wajahnya dan menatap Elang penuh tanda tanya.


Elang anggukan kepala, " seharusnya kami pergi menghilang 10 tahun lamanya," sahut Elang. " Mungkin kamu sudah menikah dengan pria lain ya Nay jika itu terjadi. Ini aja aku pulang lebih cepat, tapi ternyata kamu sudah memiliki kekasih," lanjut Elang. Matanya meredup sendu, memperlihatkan rasa sedih dan kecewanya.


Nayla tundukkan kepala, rasa bahagianya karena akan bertemu Amelia kini berubah melow karena ucapan Elang. " Aku kan nggak tahu kalau kamu beneran mau pulang," lirih Nayla hampir tak terdengar. Elang pun tak menyatakan perasaannya sebelum ia pergi, membuat Nayla menanti dalam ketidakpastian.


" Ayo makan, Nay," ajak Elang saat pesanan makan malam mereka telah datang dan memenuhi meja. Elang memesan banyak makanan. Tapi selera makannya sedikit berkurang seiring Rio yang terus menghubungi Nayla. Rasa cemburu Elang mengalahkan nafsu makannya.


Raut sendu Elang tak juga hilang saat walaupun kini keduanya telah berada dalam mobil dan menuju pulang. Seperti sebelumnya, Nayla memangku buket bunga dari Elang. Keduanya tak banyak bicara karena sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Elang fokus pada jalanan sedangkan Nayla berbalas pesan dengan Amelia dan sesekali ia melihat pada Elang. Nayla menarik nafas dalam karena Elang yang terus diam sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya hanya tertuju pada jalanan dan tak sekalipun melirik Nayla. Entah apa yang dipikirkan Elang, tapi laki-laki itu kini jauh lebih diam dari sebelumnya. Elang kembali ke setelan pabrik yaitu es balok.


Sesampainya di apartemen Nayla, Elang mengantarkan gadis itu hanya sebatas sampai lobi. Seperti yang Nayla katakan tadi bahwa laki-laki itu tak boleh mampir dulu dan Elang pun menurutinya.


" Beristirahatlah," ucap Elang. Ia tersenyum sembari mengacak puncak rambut Nayla. Pada akhirnya Elang memperlihatkan senyumnya yang tadi sempat hilang.


Puncak kepala Nayla yang diacak, tapi hati Nayla yang berantakan. Rasa marahnya pada Elang kian berkurang. Elang selalu saja bisa membuat cinta Nayla yang layu kembali bermekaran dengan suburnya.


" Terimakasih, bunganya indah sekali," Nayla tersenyum dan menghirup wanginya buket mawar itu saat mengatakannya.


Elang pun tersenyum membalas Nayla "Syukurlah kalau kamu suka," Sahut Elang.


Kemudian hening untuk beberapa saat, keduanya saling menatap dalam diam seolah sama-sama berat untuk saling meninggalkan.


" Ayo, cepat naik ! Aku akan menunggumu di sini sampai kamu naik ke dalam lift,"


Sebenarnya berat bagi Nayla untuk meninggalkan Elang. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan laki-laki jangkung itu.


Fakta bahwa Elang yang menjadi biang keladi kandasnya semua cerita cinta Nayla tak menjadikan gadis itu membencinya. Nayla memang marah dan kecewa, tapi rasa cintanya pada Elang mengalahkan segalanya.


" Ya udah, aku naik ya," ucap Nayla dan Elang pun mengangguk pelan.


Nayla memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Elang yang terus memperhatikannya. Hati Nayla masih tak tenang. Ia merasa Elang sedang marah, atau kesal atau apa lah namanya. Dan sungguh Nayla tak menyukainya.


Nayla hentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya pada Elang yang masih melihat ke arahnya. Laki-laki jangkung itu tersenyum samar tapi tidak dengan matanya.


Cepat-cepat Nayla memutar tubuhnya dan berjalan kembali pada Elang. Membuat Elang terkejut melihatnya. " Apa ada yang ketinggalan ?" Tanya Elang.


" Bisakah kamu sedikit menunduk?" Bukannya menjawab, Nayla malah balik bertanya pada pemuda itu.


Elang berkerut alis tak paham " hah ?" Tanyanya pelan.


" A-Aku ingin ngomong sesuatu," ucap Nayla sedikit ragu.


Elang pun menurutinya, ia bungkukkan tubuhnya, agar tingginya sejajar dengan Nayla. " Mau ngomong apa ?" Tanya elang.


Deg !


Dunia seolah berhenti berputar untuk sesaat bagi Nayla juga Elang.


Spontan Elang menyentuh pipinya yang baru saja dicium Nayla. Mulutnya sedikit terbuka seolah-olah tak percaya dan matanya Elang pun membola.


Tanpa banyak bicara lagi Nayla berjalan menjauhi Elang dengan debaran jantung yang sudah menggila dan tubuhnya gemetar hanya karena mencium pipi Elang. Wajah Nayla terasa panas, " Ya Tuhan... Ya Tuhan... Ya Tuhan..," gumam Nayla. Ia sendiri pun tak percaya dengan yang baru saja dilakukannya.


Sedangkan Elang, ia kembali tegakkan tubuhnya. Kini jantungnya bekerja ekstra hanya karena dicium oleh Nayla. Ia berdiri sembari menyentuh pipinya yang sedikit basah karena ciuman Nayla. Elang masih bisa merasakan bibir Nayla menempel di sana.


" Ya Tuhan... Ya Tuhan... Ya Tuhan....," Elang bergumam pelan. Padahal baru dicium Nayla di pipi saja tapi Elang sudah membayangkan pesta pernikahannya nanti. Senyum Elang kian melebar, sorot matanya tak lagi sendu. wajahnya kini terlihat sumringah, ia meninggalkan lobi apartemen Nayla setelah yakin gadisnya itu telah benar-benar pergi menaiki lift.


Di dalam mobilnya, Elang masih saja melengkungkan senyumnya. Ia pandangi bangku kosong yang tadi diduduki Nayla. " love you, Nay," gumam Elang pelan.


***


Setibanya di apartemen, Nayla meletakkan buket bunga dari Elang di kamarnya. Ia tatapi bunga itu lama-lama. Nayla kembali teringat bagaimana dirinya mencium pipi Elang tadi.


Ia ingat bagaimana Elang terdiam terpaku seolah berhenti bernafas.


" Ya Tuhan, apa yang Elang pikirkan tentang aku ? Pasti ia pikir, aku ini gadis yang sangat agresif," gumam Nayla seraya meraup wajahnya frustasi. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah berani berbuat sesuatu yang ia sendiri pun tak percaya bisa melakukannya.


Segera Nayla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia butuh mandi air hangat di bawah guyuran air agar kepalanya kembali jernih.


Cukup lama Nayla berdiri di bawah shower yang memancarkan air hangat dengan derasnya, dan selama itu juga bayangan wajah terkejut Elang selalu terbayang dalam kepala Nayla.


Setelah dirasa cukup, Nayla pun segera mengakhiri acara mandinya. Masih dengan berbalut handuk Nayla memeriksa ponselnya. Tadi.. saat mandi, samar-samar Nayla mendengar benda pipih itu berbunyi.


Apa yang Nayla dengar memang benar adanya. Ada beberapa panggilan di sana. Nama Rio dan Elang mengisi data panggilan yang tak terjawab miliknya.


Mata Nayla hanya tertuju pada nama Elang.


Nayla pun menggulir layar dan masuk ke dalam aplikasi pesannya. Terdapat beberapa nama yang mengirimkan pesan dan lagi-lagi nama Rio dan Elang terdapat di sana.


Nayla memilih nama Elang lebih dulu untuk di baca. Laki-laki jangkung itu ternyata mengirimkan cukup banyak pesan untuknya.


" Sayang, terimakasih... Your kiss is the best gift I've ever had," ( ciumanmu adalah hadiah terbaik yang pernah aku miliki )" tulis Elang dan itu membuat pipi Nayla merona merah.


"Aku mencintaimu, Nayla. Cinta yang berusaha kusembunyikan dalam setiap sikap dinginku dulu, tapi percayalah aku tak pernah berhenti mencintaimu," tulis Elang di pesan ke duanya.


" Orang-orang bilang kalau jatuh cinta hanya terjadi sekali, tapi mereka tidak benar. Setiap aku melihatmu, aku selalu jatuh cinta, lagi dan lagi. Anehnya lagi, aku hanya jatuh cinta padamu seorang saja," lagi-lagi kata cinta Elang membuat dada Nayla berdebar menggila.


" Tinggalkan laki-laki itu demi aku, Nay... Aku janji akan mencintaimu lebih besar, lebih dalam, lebih segalanya dari dia. please 🥺...," Tulis Elang di pesan terakhirnya.


To be continued ♥️


Thanks for reading 🥰