
"Harus banyak bersabar jika ingin bersama Amelia. Sesungguhnya ia gadis yang sangat baik dan penurut. Perlakukan ia dengan lembut dan penuh kasih sayang jika kelak kamu menjadi suaminya," ucap Papi Elang. Ia memberikan lampu hijau pada pemuda yang kini tersenyum lebar karena rasa bahagia.
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan lagi ?" tanya Papi Elang.
Rafa pun menggelengkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban. Ia merasa sudah cukup panjang lebar menjelaskan dirinya pada sang bakal calon mertua. "Terimakasih banyak karena Om sudah memberikan saya kesempatan untuk berbicara. Hingga menyita waktu istirahat makan siang, Om" ucap Rafa.
"Tak apa, dengan begitu saya bisa lebih mengenal kamu," sahut Papi Elang.
"Besar harapan saya, agar Om mau untuk mempertimbangkan dan menerima lamaran saya ini," lanjutnya lagi penuh harap.
"Tentu, akan saya pikirkan," Papi Elang tersenyum saat mengatakannya.
Rafa pun berdiri untuk berpamitan pergi. Sebagai penyempurna kesannya, Rafa pun mencium punggung tangan lelaki yang merupakan ayah dari gadis idamannya itu. "Rafa pamit pulang ya, Om. Sekali lagi terimakasih banyak atas kesempatan ini," ucapnya sembari berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan Papi Elang.
Sesampainya di luar ruangan, Rafa sandarkan tubuhnya di dinding sambil mengatur nafasnya yang memburu tak beraturan. "Huuufffft, leganya....," des*h Rafa seolah-olah telah melepaskan beban yang teramat sangat berat.
"Berasa sidang skripsi,Ya Allah...," gumamnya pelan sembari meraba dadanya yang masih berdetak tak karuan. Ternyata selama wawancara itu berlangsung, Rafa merasakan gugup yang luar biasa tapi mati-matian ia menahannya dan bersikap setenang mungkin untuk meyakinkan bakal calon mertuanya itu.
Rafa melirik jam tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit. Tak terasa, Rafa melakukan wawancara selama satu jam lebih. Ia pun segera berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 1.
Ting... terdengar suara pintu lift yang terbuka dan keluar lah Rafa beserta orang-orang yang berada di dalamnya. Pemuda itu akan segera pulang dan berkemas untuk kembali bekerja di esok hari.
Rafa tolehkan kepala saat ia melihat Amelia tengah berdiri dengan seorang perawat. Keduanya tengah terlibat dalam pembicaraan yang serius.
Merasa diperhatikan, Amelia mengangkat wajahnya dan melihat pada Rafa. Seperti biasa, wajahnya yang cantik tak menyunggingkan senyum sama sekali. Meskipun begitu Rafa tetap menyukainya.
Terbukti dengan tak gentarnya lelaki itu untuk mendapatkannya. Bahkan saat ini Rafa berjalan mendekati gadis yang menatapnya horor itu.
"heran deh kenapa harus ketemu kamu melulu," ucap Amelia dengan judesnya padahal Rafa belum juga sampai ke padanya.
Rafa menanggapinya dengan sebuah senyuman. "Karena kita berjodoh, Mel," sahut rafa dengan entengnya.
Amelia memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan lelaki itu. "Ingat, aku udah dijodohkan oleh Papi," ucapnya. Berharap lelaki itu tak lagi mendekatinya. Amelia memutuskan untuk move on dari cinta di masa remajanya.
"Seandainya kita berjodoh, Tuhan akan menyatukan kita. Tak perduli jika kamu berlari atau menolak sekeras apapun," sahut Rafa.
Sang perawat yang sedari tadi berbicara dengan Amelia hanya bisa melihat pada Amelia dan Rafa secara bergantian. Menyaksikannya perseteruan di antara keduanya.
"Itu mimpimu !" Amelia pun hendak beranjak pergi tapi tangan kekar Rafa menahan lengannya.
"besok aku mulai kerja lagi. Mungkin gak akan pulang selama 2 bulan. Gak akan menelpon karena kamu pasti tak akan menjawabnya. Gak akan kirim pesan juga karena kamu pun tak akan membalasnya," ucap Rafa.
Amelia tak berkata-kata, yang ia lakukan hanya memandang lelaki itu dengan tatapan mata yang tak dapat Rafa artikan.
"Jangan nakal selama aku pergi. Tetap jaga diri dan jaga kesehatan," lanjut Rafa lagi.
"a-aku tahu! kamu gak usah repot mengingatkan," sahut Amelia sedikit terbata.
"Tetap setia sama Rafa ya, karena Rafa juga akan setia sama kamu," ucap Rafa sembari tersenyum.
blush !
Amelia rasakan panas di pipinya dan ia yakin wajahnya yang putih itu telah merona merah.
"Rafa pamit ya," Lelaki itu pergi meninggalkan Amelia dengan wajah merona merah dan dada berdebar kencang tak karuan.
"Siaalll," maki Amelia. Ia benci pada Rafa yang selalu meninggalkannya dalam keadaan galau karena perilakunya yang membuat Amelia selalu terbawa perasaan. Sehebat apapun dirinya menolak dan berusaha untuk menjauh, tapi Rafa selalu bisa mempengaruhi hati dan pikirannya lagi.
***
Waktu bagai berlari, berlalu dengan cepatnya. Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan. Tak terasa hari pernikahan Bimo si Kaka Elang dan Amelia hanya menghitung hari. Tak lama setelah pernikahan Bimo, maka Elang dan Nayla pun akan segera naik ke pelaminan.
Telah berlalu hampir 2 bulan dari semenjak Amelia meminta dijodohkan guna menghindari Rafa. Dan selama itu juga lelaki itu pergi tanpa pernah memberikan kabar.
Rafa benar-benar membuktikan ucapannya. Tak sekalipun ia menghubungi Amelia. Gadis itu hanya mendengar kabar tentang lelaki itu melalui sang kakak, Elang. Karena ternyata keduanya hampir setiap hari saling bertukar kabar.
Sejauh ini Papi juga belum memberikan kabar terbaru seputar perjodohan. Beliau hanya mengatakan jika semuanya akan dilakukan setelah Elang dan Nayla resmi menikah.
Papi Elang ingin menyelesaikan semua urusannya satu persatu. Beliau cukup pusing karena ke tiga anaknya minta dinikahkan dalam waktu yang hampir bersamaan.
***
Hari pernikahan Bimo pun tiba. Amelia, Nayla dan kakak tertua Bimo yang bernama Sofi mengenakan kebaya dengan warna yang sama. Nayla yang belum resmi menjadi istri Elang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga.
Nayla berpasangan dengan Elang, Sofi dengan suaminya, Nadia dengan Alex tentu saja dan Amelia yang hanya seorang diri.
Gadis berperawakan tinggi dan langsing itu terlihat sangat cantik dalam balutan kebayanya. Ia berjalan seorang diri karena yang lainnya telah bersama pasangan mereka.
Saat ini semuanya tengah berjalan menuju hotel di mana acara pernikahan Bimo akan digelar.
Sesekali Nayla menolehkan kepalanya pada gadis yang berjalan tepat di belakangnya. Hanya untuk memastikan jika Amelia baik-baik saja. Nayla ingin sekali berjalan bersama Amelia tapi Elang tak sekalipun melepaskan genggaman tangannya.
Sekali saja Nayla berusaha untuk melepaskan diri, maka Elang akan semakin erat menggenggam tangannya. Atau dengan tanpa malu-malu, pemuda jangkung itu akan melingkarkan tangannya di pundak Nayla dan menarik tubuh gadis itu untuk lebih mendekat padanya. Hingga ruang gerak Nayla kian terbatas saja. "Jangan jauh-jauh dari aku, Yang," itulah kata-kata yang selalu Elang ucapkan padanya hingga Nayla tak bisa pergi untuk menemani Amelia.
Amelia akan mengacungkan kedua jempol nya pada Nayla sebagai pertanda ia baik-baik saja dan agar gadis itu tak usah mengkhawatirkannya.
Acara adat tengah di mulai. Iring-iringan rombongan pengantin pun berdiri menunggu tepat di depan pintu hotel. Semuanya berdiri dengan berbaris rapi.
"Maaf terlambat," ucap seorang laki-laki yang langsung mengisi barisan tepat di sebelah Amelia. Hingga kini Amelia tak lagi sendirian. "You look very beautiful," (kamu terlihat sangat cantik) bisiknya tepat di telinga Amelia.
Amelia terkesiap. Tubuh gadis itu gemetar dan darahnya berdesir karena ia tak menyangka jika lelaki itu benar-benar datang.
"aku tak pernah ingkar janji, aku pasti datang untukmu," ucapnya lagi.
Amelia ingin protes dan marah tapi sayangnya tak bisa ia lakukan karena ia tak mau membuat kacau di acara pernikahan kakaknya. Mau tak mau ia menerima kehadiran Rafa di sisinya dengan cara berdiam diri dan membisu seolah-olah Rafa tak ada di sana.
"lo baru datang ? langsung dari bandara ?" tanya Elang pada lelaki yang berdiri tepat di belakangnya.
"Iya," sahut Rafa.
Mendengar suara Rafa, Nayla pun tolehkan kepalanya dan tersenyum lega melihat pemuda itu di sana. Meskipun Amelia mengatakan tak suka dan juga benci pada Rafa tapi Nayla tahu jika sahabatnya itu sangat mencintai pemuda itu tapi ia berusaha terus menyangkalnya.
"Cantik Nay, aku sampai pangling," puji Rafa tulus.
"Calon bini gue ini," protes Elang seraya merangkul pundak Nayla, memperlihatkan kepemilikannya.
" gue muji bukan berarti naksir ! Rafa udah punya gebetan sendiri," ucapnya seraya menyenggol lengan Amelia dan dibalas delikkan mata judes oleh gadis itu.
***
Acara demi acara pun telah dilalui dengan lancar. Tiba saatnya bagi pengantin perempuan untuk melemparkan buket bunga pada para gadis yang masih berstatus single. Konon katanya si gadis yang mendapatkan bunga tersebut akan segera menyusul menikah.
Tapi selain mendapatkan bunga, juga ada hadiah spesial dari pengantin bagi gadis yang mendapatkan buket bunga tersebut.
Hampir semua gadis yang masih berstatus single telah bersiap untuk memperebutkan buket bunga itu. Nadia yang ingin ikut serta memeriahkan suasana sedang beradu argument dengan Alex yang melarangnya.
Lelaki itu takut Nadia yang mendapatkannya dan jika sesuai mitos maka Nadia akan segera menikah lagi. dan Alex sangat tak mau itu terjadi.
"itu cuma mitos, Alex !" protes Nadia.
"Tatap bersamaku atau ku seret pulang !" ancam Alex. Membuat Nadia terpaksa tetap bersama Alex. Ia menekuk mukanya karena merasa kesal pada suaminya itu.
Sedangkan di sudut lain, Amelia nampak tak tertarik untuk ikut serta. Ia memilih duduk di kursi VIP dan menikmati minumannya. Gadis itu hanya menonton saja.
"satu... dua... tigaaaa !!!" pasangan pengantin itu pun melemparkan buket bunga pada para gadis yang sudah menunggu.
"Dapat !!" seorang lelaki dengan keahliannya bermain basket dengan sangat mudah mendapatkan buket bunga itu. Ia melompat tinggi-tinggi untuk mendapatkannya.
Para gadis single pun terlihat kecewa saat Rafa yang mendapatkannya dan tak sedikit yang protes pada pemuda itu.
"iiissshhh Rafa juga kan single dan pengen cepet-cepet nikah," kilahnya tak ingin mengalah.
Amelia yang tengah duduk sendirian melihatnya dengan tak percaya.
Rafa menatapnya dari kejauhan. pandangan matanya beradu dengan Amelia, ia langsung mengacungkan 2 jari tangannya dan menunjukkan pada matanya sendiri namun sedetik kemudian 2 jari tangan itu menunjuk pada Amelia.
Rafa mengisyaratkan bahwa buket bunga itu ditujukan untuk Amelia dan mereka lah yang akan menikah selanjutnya.
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
mumpung Senin vote yuuu
terimakasih banyak