
Nayla POV.
Aku menanti dan tunggu seseorang yang sedang membacakan ikrarnya. Dia adalah seorang lelaki yang akan menghabiskan sisa hidupnya denganku.
Dadaku berdebar cemas dan kedua telapak tanganku yang dingin saling meremas di atas pangkuanku.
Ku lihat pantulan diriku sendiri di dalam cermin. Aku terlihat begitu berbeda dengan kebaya putih penuh payet dan polesan make up natural. Tak lupa rangkaian bunga melati yang menjuntai di bahuku. "Ya ampun... Aku seorang pengantin," batinku dalam hati yang masih tak percaya jika hari ini benar-benar terjadi.
Rasanya baru kemarin aku bercermin dengan mengenakan pakaian seragam putih abu-abu. Rambut panjang dengan poni yang menutupi dahi dan tas gendong yang tersampir di bahu.
Rasanya baru kemarin aku berusia 16 tahun dan mengalami cinta pertama. Pergi ke sekolah dengan penuh semangat hanya untuk bisa melihat Elang dari kejauhan karena ia sangat sulit untuk diraih. Hati ini akan berdebar menggila saat pandangan mata kami bertemu dengan tak sengaja.
Rasanya baru kemarin semua itu terjadi tapi hari ini aku duduk di sini, di hadapan cermin sebagai pengantin dari lelaki yang menjadi cinta pertamaku. Dan sudah dapat dipastikan jika ia akan menjadi cinta terakhirku.
Aku bukan berusia 16 tahun lagi, umurku sudah menginjak 24 tahun tapi rasa cintaku masih berlabuh pada orang yang sama yaitu...
"Elang," ucap Nadia dengan tangis harunya. Ia terus mengusap ujung matanya dengan selembar tisu.
Aku pun tolehkan kepala dan melihat pada kakak perempuanku itu yang baru saja memasuki kamar di mana aku telah menunggunya.
"Elang mengucapkan ijab kabulnya dengan jelas dan dalam satu tarikan nafas. Elang sudah sah menjadi suamimu, Nay," ucap kakakku, Nadia. Lagi-lagi ia menitikkan air mata bahagianya.
"Selamat sayang... Kini kamu sudah menyandang gelar sebagai istri dari Elang Edgar Wiguna. Semoga kamu dan Elang selalu bahagia, Nay," lanjut mbak Nadia.
Mendengar itu, aku pun berdiri dan memeluk kakak perempuanku itu. "Terimakasih, Mbak," ucapku sembari menahan buram di mataku karena air bening telah menggenang di pelupuk mata.
"Ayo, kini waktunya kamu bertemu dengan suami kamu," Mbak Nadia menguraikan pelukannya dan menggandeng tanganku untuk ikut dengannya dan menemui Elang yang kini sudah sah menjadi suamiku.
Aku berjalan ditemani kedua kakakku. Tatapan mata kagum dilayangkan padaku oleh orang-orang yang hadir dalam acara pernikahan ini.
Termasuk tatapan mata Elang... Suamiku...
Tiba-tiba pipiku terasa panas saat mendapati lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku tengah memandangku dengan penuh puja dan juga penuh damba.
Lelaki itu tersenyum juga menitikkan air matanya di saat yang bersamaan. Bisa aku lihat dengan jelas pancaran sinar bahagia dari wajah lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku itu.
" Aku mencintaimu, istriku," Elang bergumam pelan namun pergerakan bibir suamiku itu bisa aku lihat dengan jelasnya. Membuat debaran jantungku semakin menggila dan aku rasakan bagai banyak kupu-kupu berterbangan di perutku.
Itu adalah kata-kata cinta yang pertama kalinya Elang katakan padaku setelah kami resmi mejadi pasangan suami isteri. Aku tersenyum menanggapi pernyataan cinta lelaki itu.
Pov author
Nayla di dudukan tepat di sebelah Elang yang kini telah resmi mejadi suaminya. Elang tak bisa alihkan pandangan mata memujanya dari Nayla.
Ia langsung menggenggam tangan Nayla di bawah meja. Dada Elang berdebar tak karuan begitu juga Nayla.
"Kamu cantik banget, Nay," bisik Elang. "Apa kamu merasa bahagia ?" Lanjutnya lagi.
Nayla tolehkan kepalanya dan mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan lelaki itu.
Elang pun tersenyum dan ia kembali fokus mendengarkan hak dan kewajibannya sebagai suami yang kini tengah di bacakan seorang petugas dari Kantor Urusan Agama.
Tak hanya Elang, tapi Nayla pun mendengarkan semuanya dengan seksama. Ia mendengarkan segala nasihat pernikahan untuknya juga Elang.
Setelah selesai dengan segala nasihat dan petuah, kini tiba saatnya bagi Elang dan Nayla untuk saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis mereka masing-masing.
Elang sematkan cincin bermatakan berlian yang ia beli beberapa tahun lalu dengan menggunakan gaji pertamanya. Ia telah menginginkan Nayla untuk menjadi istrinya sedari dulu.
Nayla mencium punggung tangan Elang sebagai tanda patuhnya ia menjadi seorang istri dan Elang mencium dahi Nayla dengan dalam sebagai tanda kasih sayangnya sebagai suami.
"Ya... Cukup sebentar saja menciumnya, tak usah lama-lama dulu karena acara hari ini masih banyak untuk dilalui," ucap pembawa acara karena Elang mencium dahi Nayla dengan lama dan lelaki itu memejamkan matanya meresapi rasa cintanya yang kian membuncah.
Rasanya baru kemarin Elang melihat Nayla dengan seragam putih abu-abunya.
Rasanya baru kemarin Elang pergi ke kantin sekolah dan mencari keberadaan gadis pemalu itu hanya untuk bisa melihatnya dari jauh karena Elang tahu ia tak bisa memilikinya.
Rasanya baru kemarin Elang menunggu Nayla pulang les di lapangan basket sekolah dan berpura-pura apa yang dilakukannya itu hanya kebetulan belaka.
Rasanya baru kemarin Elang memberikan hoodie hitam kesayangannya pada Nayla dan ia tak akan mencuci hoodie hitamnya itu agar bisa menikmati aroma wangi khas bayi saat Nayla mengembalikannya.
Rasanya baru kemarin Elang berusia 18 tahun dan mencuri ciuman pertama dari gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.
Tapi kini Elang telah berusia 26 tahun dan sudah mewujudkan mimpinya untuk menikahi gadis yang menjadi cinta pertamanya dan Elang yakin jika gadis itu akan menjadi cinta terakhirnya.
Wajah Elang yang putih pucat kini merona merah saat pembawa acara meminta untuk menghentikan ciumannya di dahi istrinya itu.
"sekarang sabar, El. Ntar malam hajar....," Bisik Rafa yang berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu sengaja mendekatkan tubuhnya pada Elang hanya untuk membisikkan kata-kata itu.
Elang yang mendengar itu hanya tersenyum malu dengan wajahnya yang terasa panas dan semburat merah menghiasi ke dua pipinya.
***
Acara resepsi pernikahan Elang dan Nayla pun di mulai. Pesta pernikahan itu diadakan di sebuah hotel mewah yang berada di kota Bogor, kota di mana Nayla dilahirkan dan juga dibesarkan.
Banyak sekali tamu yang datang ke pesta itu termasuk teman-teman mereka semasa SMA.
Maximilian yang dulu pernah menaruh hati pada Nayla pun hadir di sana. Ia tercengang saat melihat Elang bersanding dengan Nayla.
Maxi ingat saat itu ia ditawari menjadi kapten tim basket sekolah. Sebuah posisi yang sangat bergengsi dan diperebutkan oleh hampir semua anggota tim basket.
Tapi tentunya tawaran itu tak gratis. Sebagai imbalannya ia harus menjauhi Nayla karena menurut Elang Nayla itu sudah seperti adik kandungnya sendiri dan ibu Nayla sudah menitipkan gadis itu padanya. Tapi nyatanya kini Elang lah yang menjadi suaminya.
Arya teman satu ekstrakurikuler perpustakaan Nayla pun hadir di sana. Ia terkejut saat melihat Elang bersanding dengan gadis yang pernah disukainya di masa sekolah dulu.
Kala itu teman Elang, yang tak lain adalah Rafa menyuruhnya untuk menjauhi Nayla dengan penuh ancaman dan tanpa alasan yang jelas. Namun kini Arya menemukan jawabannya dari itu semua.
Tak hanya Maxi dan Arya saja yang merasa terkejut tapi juga Rio yang merupakan mantan kekasih singkatnya Nayla.
Ia terkejut saat melihat Elang bersanding dengan Nayla. Karena seingatnya beberapa kali ia melihat lelaki itu di apartemen Nayla dan mengira jika lelaki jangkung itu adalah salah satu penghuni apartemen.
Zia, Raisha, Naura dan para gadis lainnya yang merupakan teman sekelas Nayla juga melihat tak percaya pada Elang dan Nayla.
Mereka tak menyangka jika Nayla si gadis pemalu kini menjadi istri dari si anak populer sekolah. Kapten tim basket yang selalu menjadi incaran para gadis remaja di waktu itu.
Rasanya baru kemarin mereka masih berusia remaj. Membicarakan tentang cinta monyet mereka di kantin sekolah. Tapi kini semuanya berkumpul bersama sebagai orang-orang dewasa dengan kisah cinta yang mereka yang sebenarnya.
To be continued
Thanks for reading
Hayooo siapa aja yang jadi inget sama cinta pertamanya di masa sekolah dulu ?
Yuk ramaikan di kolom komentar.