The Unexpected Love

The Unexpected Love
Amelia



Pada akhirnya Elang dan Nayla memaksakan diri untuk pulang ke Jakarta di hari yang telah dijanjikan. Tapi, karena Nayla sedang dalam keadaan yang tak baik-baik saja membuat keduanya terpaksa kembali pada malam hari.


Elang mengulur waktu, mengurusi istrinya itu dengan membiarkannya untuk beristirahat lebih lama dan juga memberikan Nayla makanan bergizi agar istrinya itu bisa pulih lebih cepat.


"Ayo sayang, minum madunya," ucap Elang sembari memperhatikan Nayla yang sedang meminum air madu hangat. Dan ia tetap di sana untuk memastikan Nayla menghabiskan minumannya.


"Aku rasa aku sudah merasa lebih baik, sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Nayla setelah ia menghabiskan satu cangkir minuman madu hangat.


"Kamu yakin ?" Tanya Elang memastikan.


Nayla mengangguk kan kepalanya kuat pertanda jika ia sangat yakin dengan ucapannya. "Tapi please, malam ini kita hanya tidur biasa saja,"


"Mmm akan aku usahakan," jawab Elang.


"El ! Aku gak mau ya bangun pagi dalam keadaan kedua kaki tremor. Apa nanti kata keluargamu?" Rengek Nayla terdengar manja.


Elang pun melengkungkan senyumnya. "Asal kamunya jangan gemesin kaya gini. Dan jangan panggil aku ' Kak El' atau 'El' panggil aku 'sayang'," pinta Elang.


"Mmm, aku sedang berusaha untuk membiasakannya," cicit Nayla yang selalu mendapatkan protes dari Elang jika ia tak memanggil lelaki itu dengan panggilan mesra.


"Setiap kamu lupa, aku akan menghukummu," ucap Elang penuh maksud.


Nayla bergidik ngeri. Ia paham sekali apa hukuman yang Elang maksudkan.


"Dan aku sangat serius tentangnya," lanjut Elang. Sambil memicingkan matanya.


'glek' Nayla menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Ia tahu jika Elang berbicara tentang urusan ranjang, lelaki itu tak main-main.


"I-iya, baiklah...," Sahut Nayla menyetujui.


***


Nayla dan Elang tiba di Jakarta pukul sebelas malam padahal Elang berjanji pada Maminya itu untuk pulang di jam makan siang.


Akhirnya Elang memutar otaknya untuk bekerja keras. Ia mengulur waktu dengan mendatangi rumah orangtua Nayla sebelum pulang dengan alasan ingin berpamitan dulu pada kedua mertuanya. Padahal yang sebenarnya terjadi, ia mengistirahatkan istrinya itu.


Selama bertamu di rumah mertuanya, Nayla lebih banyak berbaring dengan alasan mengantuk. Tapi sepertinya ibu Nayla pun paham dengan kedua pengantin baru itu. Ia tak banyak bertanya walaupun yang Nayla lakukan hanya tidur-tiduran saja.


"Apakah jalannya macet ?" Tanya Mami Elang yang sudah menunggu mereka di pintu gerbang.


"Enggak, Mi. Sengaja pulang malam biar gak kena macet," ucap Elang beralasan.


Mami Elang tak menghiraukan anak lelakinya itu, ia lebih menyambut kedatangan Nayla. "Kamu sehat, Nak ? " Tanyanya dengan nada rasa khawatir yang begitu kentara.


Nayla tersenyum, ia senang karena ibu mertuanya begitu perhatian. "Aku sehat-sehat kok, Mih," jawab Nayla.


"Elang gak maksa-maksa kamu kan ?"


"Mih !" Protes Elang tak terima.


"Diam !" Hardik sang Mami.


"Elang dan Papinya itu satu tipe. Diam dan dingin, tapi mereka jadi macan saat di atas ranjang," ucap Mami Elang dan itu membuat Elang dan Nayla terdiam sambil saling pandang.


"Dulu, waktu Mamih masih pengantin baru. Mamih gak bisa jalan karena lutut Mamih yang gemetaran dan itu berlangsung selama satu Minggu lamanya," lanjutnya lagi dan Nayla makin tercengang mendengarnya.


"Ah seandainya Mamih Elang tahu, bagaimana anak lelakinya itu membuat lutut Nayla terasa lemas di setiap paginya," batin Nayla dalam hati seraya melihat Elang yang sedang menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal itu dengan ujung matanya.


"Jangan salahin aku, Yang ! Ternyata keturunan," bisik Elang tak mau disalahkan.


"Tapi syukurlah jika Elang tak seperti itu," ucap Mami Elang sambil tertawa.


Ingin rasanya Nayla mengatakan hal yang sebenarnya tapi Elang sudah mengedipkan matanya berulang kali sebagai isyarat agar Nayla tak membuka ceritanya.


"Naaayyy !" Amelia barlari dalam rumah dan melingkarkan tangannya di bahu sahabatnya itu.


"Kangen deh !" Sahutnya heboh.


"Aku juga, Mel ! Kangen banget," Nayla membalas rangkulan sahabatnya itu.


Elang mencebikkan bibirnya kesal. Ia tahu setelah ini Elang akan kesulitan untuk berdekatan dengan istrinya karena sang adik pasti akan menguasainya.


"Gak di apa-apain sama si es balok, kan ?" Tanya Amelia tanpa menghiraukan Elang yang sudah memelototkan mata padanya.


Nayla tak menjawabnya, ia hanya tertawa saja menanggapi perkataan sang adik ipar yang juga sahabatnya itu.


Apa yang Mami Elang katakan ternyata benar adanya. Keluarga besar Elang yang berasal dari benua Eropa ternyata masih ada tinggal di sana. Bahkan sang Oma yang sangat memanjakan Elang pun ada. Ia menyambut hangat kedatangan cucu kesayangannya itu. Tak hanya pada Elang, tapi sang Oma pun menyambut Nayla sama hangatnya.


Nayla tersenyum senang, dadanya menghangat karena rasa bahagia. Ia senang karena keluarga Elang memperlakukannya dengan baik.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi keadaan rumah itu masih saja ramai. Bahkan di dapur, beberapa orang tengah sibuk membuat kue brownies dan yang lainnya.


Nayla sedikit terheran tapi melihat banyaknya saudara Elang yang masih tinggal membuatnya tak lagi bertanya-tanya.


Mereka bercengkrama di ruang keluarga, sedangkan Elang membawa koper-kopernya ke kamar nya di lantai 2. Kamar yang akan ia tempati dengan istrinya, Nayla.


Tanpa terasa waktu pun berlalu dengan cepat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. "Ayo-ayo tidur !" Ucap sang Mami pada semua yang masih mengobrol itu.


"Besok harus bangun pagi," ucapnya lagi mengingatkan.


" Aku gak usah bangun pagi karena dapat shift malam," sahut Amelia.


"Malam ini aku mau begadang dan mengobrol dengan Nayla," lanjutkan lagi dengan penuh semangat.


"Apa ?" Tanya Amelia tak terima.


"Apa kamu lupa ? Nayla itu isteri aku sekarang," jawab Elang tak ingin dibantah.


"Tapi dia sahabat aku!" Sahut Amelia tak ingin kalah.


"Dia isteri, aku !"


"Kenapa sih Nay, kamu harus nikah dulu ? Sama dia lagi," Amelia berkata-kata dengan kesal.


"Kamu yang seharusnya dewasa ! cari cowok dan cepat-cepat menikah. biar gak ganggu aku dan Nayla," sahut Elang dan ia mendapatkan delikkan mata dari sang istri. Nayla tak mau Amelia semakin marah.


Mendapatkan peringatan dari sang istri membuat Elang pun bungkam.


Dan tepat seperti dugaan Nayla, Amelia pun marah. Wajahnya yang putih berubah merah dengan genangan air bening di pelupuk matanya.


"Aku akan segera menikah dan gak akan menganggu kalian lagi !" Ucap Amelia dengan suara meninggi.


Sang Oma berkata-kata dalam bahasa asing untuk menenangkan Amelia dan meminta Elang agar meminta maaf pada adiknya itu.


Amelia berjalan tergesa-gesa menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Disusul oleh Nayla di belakangnya. "Ayo Mel, aku akan tidur di kamar kamu," ucap Nayla tapi Amelia mengacuhkannya.


"Mel..," ucap Nayla sembari menahan lengan sahabatnya itu.


"Gak usah !" Amelia menepis cekalan tangan Nayla di lengannya.


"Kamu tidur saja sama Elang, kamu istrinya," Sahut Amelia.


"Kamu lebih berkewajiban untuk patuh padanya bukan aku," lanjut Amelia seraya melanjutkan langkahnya.


Nayla tak bisa berkata-kata lagi. Memaksa berbicara pada Amelia yang sedang marah bukanlah sesuatu yang baik dan Nayla tahu itu.


Nayla berdiri di tengah tangga dan melihat kepergian Amelia ke kamarnya. Gadis itu membanting pintu kamarnya sekeras yang ia bisa hingga menimbulkan bunyi dentuman yang nyaring.


"Kamu tuh El, punya mulut dijaga," omel sang Mami yang terlihat kesal karena pertengkaran kedua anaknya.


"Dia udah dewasa, Mih. Dia harus tahu batasannya," sahut Elang sambil menekuk muka.


Lalu ia pun berjalan menuju Nayla yang masih berdiri terpaku di tengah-tengah tangga.


"Ayo, Nay," ajak Elang seraya menggandeng lengan Nayla.


Nayla mendelikkan matanya sengit pada Elang. Ia menepis halus tangan Elang dari lengannya. Lalu Nayla berjalan mendahului suaminya itu. Sungguh ia merasa kesal pada Elang yang tak bisa menahan dirinya.


Elang menatap nanar punggung Nayla yang semakin menjauh darinya. Ia tahu jika Nayla merasa kecewa padanya. Sudah dipastikan jika Elang tak akan mendapatkan jatahnya malam ini.


Sedangkan di dalam kamar, Amelia tidur dengan posisi menelungkup. Air matanya tak mau berhenti mengalir. "Aku akan menikah ! Sebentar lagi akan menikah," ucapnya lirih.


"Aku bersumpah demi Tuhan... siapapun yang dijodohkan Papi denganku, akan aku terima !" Ucap Amelia masih dengan emosi yang meledak-ledak.


Ya, Amelia sudah bertekad untuk mengakhiri masa lajangnya dengan lelaki yang dijodohkan Papinya.


Ia terus menangis hingga tertidur karena kelelahan.


***


"Mel... Udah bangun ? Sarapan yu ?" Amelia mengerjapkan matanya berulang kali. Menyesuaikan pandangannya dengan keadaan sekitar karena sinar matahari yang sudah memasuki celah-celah tirai nya.


"Mel...," Terdengar lagi suara yang memanggil- manggil namanya diiringi ketukan di daun pintunya. Dan ia tahu jika yang sedang melakukan itu adalah Nayla.


Amelia tak menjawab, ia dudukan tubuhnya di atas ranjang dengan rambut panjangnya yang nampak tak beraturan. Ia lihat pantulan dirinya dalam cermin. "So pathetic," (sungguh menyedihkan) gumamnya sambil tertawa. Mentertawakan nasibnya sendiri. Ia melihat matanya yang bengkak karena menangis semalam.


"Mel..." Ucap Nayla. Ia masih setia menunggu di balik pintu walaupun Amelia merasa enggan untuk membukanya. Amelia masih tak ingin bicara dengan Nayla apalagi Elang.


Tapi itu tak adil bagi Nayla yang tak memiliki salah padanya. Amelia sedang merasa benci pada Elang tapi ia tak bisa benci pada Nayla.


"Tunggu, aku baru bangun," sahut Amelia pada akhirnya.


Mendengar Amelia menyahutinya membuat Nayla tak lagi memanggil- manggil namanya dan ia pun berhenti mengetuk pintu.


Amelia melesat ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia menarik nafas dalam sebelum keluar dari kamarnya. Amelia melengkungkan senyumnya seolah tak terjadi apa-apa sebelum membuka pintu untuk sahabatnya itu.


"Sorry, bikin kamu nunggu," ucap Amelia. ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Sarapan yu ?" Ajak Nayla.


Amelia menganggukkan kepalanya menyetujui. Amelia hentikan langkahnya saat ia berada di titian tangga dan melihat heran pada kesibukan banyak orang di lantai bawah.


"Nay ? Mau ada acara apa ?" Tanya Amelia seraya mengerutkan keningnya.


to be continued


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya


terimakasih.


juga terima kasih banyak atas doanya untuk ankku..


maaf tak bisa balas komennya satu persatu...


Semoga para readers semua juga diberikan kesehatan. aamiin...