The Unexpected Love

The Unexpected Love
Lamaran



Langkah Amelia terhenti tepat di tengah-tengah tangga. ia terkejut luar biasa saat melihat seorang laki-laki yang sangat ia kenali tengah duduk bersama kedua orangnya.


Amelia terdiam membeku di tempatnya berdiri. Dengan susah payah menelan ludahnya sendiri. Ia ingin berlari pergi tapi tak mungkin untuk dilakukannya karena semua mata kini tertuju padanya.


Sedangkan di bawah sana, Rafa langsung berdiri saat ia melihat kehadiran Amelia di tengah-tengah tangga. Decak kagum lolos begitu saja dari mulutnya. "Ya Tuhan...," Rafa berucap lirih dengan pandangan mata sayu penuh puja pada Amelia yang saat ini mengenakan gaun satin berwarna pink kecoklat-coklatan itu.


Rambut panjang Amelia yang berwarna coklat dan memiliki gelombang di bagian bawahnya dibiarkan tergerai indah. Dan itu menambah kesempurnaan penampilannya di mata Rafa.


"Sabar, Nak !" Ayah Rafa menggoyangkan tangan anak lelaki semata wayangnya itu agar ia kembali duduk. Ia tahu sang anak sedang dimabuk cinta dari cara melihat Rafa pada Amelia yang hampir tak mengedipkan mata.


"Nay, bawa aku kabur dari sini," bisik Amelia takut-takut pada sahabatnya itu.


"Kemana Mel ? Semua udah melihat ke arah kita," jawab Nayla dengan sama-sama berbisik.


"Mel, ayo turun," ucap sang Mami yang duduk tak jauh dari bundanya Rafa.


Tentu saja Amelia mengenali bunda Rafa. Ia pernah bertemu dengan wanita yang melahirkan Rafa itu 8 tahun lalu saat ia menengok keadaan Rafa setelah keluar dari rumah sakit karena pengeroyokan itu.


8 tahun berlalu tapi Amelia tak bisa lupa karena beliau sangat baik dan menyenangkan. Amelia ingat bagaimana sang bunda membuka aib- aib Rafa yang memalukan dan itu membuat Amelia tertawa.


"Amelia, ayo turun Nak," kalo ini sang Omah yang berbicara dalam bahasa asingnya.


Hampir semua anggota keluarga Amelia hadir disana. Bahkan Bimo dan istrinya yang sedang hamil muda pun menghadirinya. padahal sang istri sedang dalam masa ngidam yang luar biasa.


Rafa terus berdiri, matanya hanya tertuju pada gadis yang dicintainya. Yang berdiri membeku di tengah-tengah tangga. Jika Amelia kembali ke dalam kamarnya dan mengunci diri, Rafa sudah bertekad untuk mengejarnya dan mendobrak pintu kamar gadis itu. Ia akan membopong paksa tubuh Amelia agar keluar dari kamarnya dan akan menikahinya detik itu juga.


Tapi sepertinya rencana yang ada dalam kepala Rafa tak perlu dilakukan, karena Amelia kini berjalan pelan menuruni tangga.


Semua mata tertuju padanya, seolah-olah kedatangan memang sangat dinantikan. Debaran jantung Amelia semakin berdegup kencang saat ia mendaratkan kakinya di lantai bawah.


Setelah Amelia tiba di lantai yang sama dengannya, Rafa pun kembali duduk di antara kedua orangtuanya. Tapi matanya yang teduh dan penuh damba tak teralihkan dari gadisnya itu.


Tatapan mata Rafa yang tanpa jeda membuat pipi Amelia terasa panas dan ia yakin jika semburat merah sudah menghiasinya. Amelia belum pernah mendapatkan tatapan mata dari seorang lelaki yang sama seperti Rafa.


Hanya Rafa yang melihatnya seperti itu.


"Ehem !!" Papi Amelia berdehem dengan nyaring untuk menyadarkan Rafa dan Amelia dari pikiran mereka.


Sontak itu membuat Rafa dan Amelia melihat pada sang Papi secara bersamaan dengan malu-malu.


"Duduk, Mel," titah sang Papi sembari menunjukkan sebuah kursi kosong yang berada tepat di sebelah Maminya.


Amelia pun menurutinya. Perkataan sang Papi adalah sebuah titah untuknya, hingga ia tak pernah berani untuk menentangnya


Sedangkan Nayla, ia berjalan menuju Elang yang duduk bersama kedua kakaknya dan suami juga istrinya.


"Sini," ucap Elang seraya menepuk sebuah kursi kosong tepat di sisinya. Ia mencium pelipis Nayla dengan mesra saat sang istri mendaratkan tubuhnya. Setelah itu Elang letakan telapak tangannya yang besar di atas paha Nayla. Ia ingin lebih merasakan kehadiran istrinya itu di sana.


"Mmm... Maksud dari kedatangan Rafa dan kedua orangtua Rafa juga beberapa saudara dekat adalah untuk melamar Amelia. Rafa datang untuk meminta Amelia jadi istri Rafa langsung pada Mami dan Papi," ucap Rafa tanpa basa-basi. Bahkan semua orang melihat tak percaya padanya.


Rafa langsung mengatakan maksud kedatangannya tanpa kata-kata pembukaan membuat Elang meraup wajahnya frustasi. Ia lupa jika tingkah laku Rafa sering di kuar nalar.


"A-apa ? Ta-tapi aku... Sa-sama Papi ma-mau.. di-"


"Dijodohkan ?" Rafa memotong kalimat Amelia yang diucapkan dengan terbata-bata oleh gadis itu.


"Dari semua lelaki yang ingin papi kenalkan padamu hanya Rafa yang bikin papi sreg di hati," ucap Papi Amelia dan itu membuat Rafa melengkungkan senyumnya dengan lebar.


"A-ku tahu jika Rafa sahabat Elang ta-tapi apa Papi tahu segala sesuatu tentangnya?" Tanya Amelia.


"Dari Rafa sekolah TK sampai jenjang pendidikan terakhirnya Papi sudah tahu," jawab sang Papi sembari mengingat 'Husband Aplication' milik Rafa.


"A-apa ?"


" Rafa sudah menjadi pekerja tetap di kementrian luar negeri dengan posisi dan penghasilan yang sangat memadai bagi lelaki seusianya. Rafa juga bisa berbicara 5 bahasa asing," lanjut sang Papi dan itu membuat Amelia tahu mengapa Rafa bisa mengerti ucapannya saat ia berbicara dalam bahasa asing sang Oma.


"Kata Rafa, ia belajar bahasa asing biar bisa ngerti omongan kamu, kalau kamu lagi ngambek," ucap sang Papi lagi seolah- olah bisa membaca apa yang anak gadisnya itu pikirkan.


Semua yang mendengar itu tersenyum geli, tapi tidak dengan Rafa yang tersenyum lebar dan bangga.


"Rafa mahir dalam bermain basket bahkan menjadi kapten tim di universitasnya dan mendapatkan beberapa perhargaan. Ia juga mengusai bela diri yang bisa digunakannya untuk melindungi kamu,"


Amelia yang mendengarkan itu hanya bisa terdiam terpaku di tempat duduknya. Telapak tangannya yang basah akan keringat dingin saling meremas satu sama lain.


" Dan yang paling penting diantara semuanya yaitu Rafa yang anak tunggal ini sangat sayang dengan kedua orangtuanya. Ia melaksanakan kewajiban ibadahnya dengan sungguh-sungguh. Bisa mengaji dan mengerti tajwidnya, dan telah beberapa kali Khatam membaca Al Qur'an. Sesuatu yang sangat penting bagi seorang calon imam," jelas Papi Amelia. Ia mengetahui itu semua berdasarkan lamaran yang Rafa berikan tiga bulan lalu.


Rafa pun kembali tersenyum, sedangkan Amelia lagi- lagi menelan ludahnya paksa. Ia sadar jika saat ini tak mungkin lagi mengelak dari lamaran pemuda itu.


"Tak hanya itu, Rafa juga sehat jasmani dan Rohani. Tak mempunyai riwayat penyakit berat dan juga genetik," jelas Papi Elang lagi.


"Betul, Om," ucap Rafa jumawa.


"Dan Rafa juga masih perjaka tulen, Om. Seratus persen masih perjaka ting- ting," lanjut Rafa dan itu membuat yang mendengarnya tertawa kecuali para keluarga Elang yang berasal dari benua Eropa itu. Mereka pun ikut tertawa saat mengerti apa yang baru saja Rafa ucapkan.


Bunda Rafa menyikut putra semata wayangnya itu, mengingatkan sang anak agar tak berbuat sesuatu yang memalukan. "Tapi kan bener,Bun. Walaupun Rafa sering tinggal di luar negeri tapi Rafa belum pernah buka segelan," ucapnya pelan tapi masih bisa terdengar jelas.


Wajah Amelia semakin panas dan merah, sedangkan Elang tundukkan kepala karena malu sendiri dengan ucapan sahabatnya.


"Bagus, saya bangga karenanya," sahut Papi Elang.


"Saya pun bertahun-tahun mengenyam pendidikan di luar negeri dan menjaga diri untuk tak terpengaruh pergaulan bebas itu sangat-sangat sulit. Apalagi di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat dan gaya hidup yang semakin bebas menjadikan itu semakin sulit", lanjutnya lagi seraya menatap takjub pada Rafa.


"Sebenarnya bagi saya, asal lelaki itu menyayangi, menghargai dan bertanggung jawab pada Amelia maka itu sudah cukup sebagai bekalnya menjadi untuk menjadi suami dari anak bungsu saya ini,"


" Saya akan menyayangi, menghargai Amelia dengan sepenuh hati. Dan saya juga akan bertanggung jawab untuk menjaga dan membuat putri Om bahagia," ucap Rafa tanpa keraguan.


"Sebenarnya, kami membawa perwakilan keluarga sebagai juru bicara tapi sepertinya Rafa yang ingin mengatakan semuanya di hari ini," ucap ayah Rafa sambil tersenyum.


"Iya, saya hanya makan gaji buta hari ini," timpal salah satu lelaki yang mengenakan baju batik berwarna biru itu. Ia adalah sepupu laki-laki Rafa yang sudah berusia dewasa. Dirinya ditugaskan sebagai juru bicara tapi nyatanya ia hanya berdiam diri karena Rafa mengambil alih semuanya.


Rafa nyengir kuda, ia tak mau berlama-lama tanpa kepastian ia ingin segera mengetahui lamarannya diterima atau tidak.


"Jadi Amelia... Seperti yang kamu inginkan.. dijodohkan dengan salah satu anak teman Papi, inilah orangnya... Dan asal kamu tahu.. Semenjak Papi merawat Rafa dulu, Papi dan ayah Rafa menjadi teman yang dekat walaupun pernah kehilangan kontak beberapa tahun lamanya. Dan mengenai Rafa, sejauh ini ia adalah lelaki terbaik yang bisa Papi pilihkan untuk menjadi suami kamu. Menurut Papi, Rafa hampir sempurna dalam syarat-syaratnya sebagai calon suami. Oleh karena itu, Papi nyatakan untuk menerima lamarannya padamu," ucap Papi Amelia tanpa ragu.


jangan lupa tinggalkan jejak yaaa


thanks for reading