
Rafa jatuhkan tubuhnya yang basah akan keringat di atas tubuh istrinya. Nafas keduanya menderu terengah-engah. Seolah saling berlomba memasukkan oksigen ke dalam paru-paru mereka.
"Sayang.. berat...," Lirih Amelia dengan nafas tersengal.
Rafa tinggikan lagi tubuhnya menjauhi Amelia yang terbaring lemah, ia tersenyum samar saat mendengar Amelia memanggilnya dengan kata-kata 'sayang'.
"Cinta banget sama kamu... Sumpah...," Lirih Rafa sembari melabuhkan bibirnya di atas dahi Amelia dan menciumnya penuh perasaan. Amelia pejamkan matanya, menikmati ciuman dari lelaki yang kini telah menjadi suaminya.
Ketegangan Rafa sudah mereda, dengan perlahan ia pisahkan tubuhnya dari sang istri. Amelia meringis menahan rasa perih saat Rafa lakukan itu. "sakit ya ? Maafin Rafa," ucapnya sembari berguling ke bagian ranjang yang kosong dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Udara dingin mulai membelai kulit Amelia hingga dirinya sadar jika ia tengah tak mengenakan apapun dan Amelia sangat malu karenanya. Tangan Amelia bergerak-gerak mencari sesuatu untuk menutupi tubuh polosnya.
Pergerakan Amelia tentu saja dirasakan oleh Rafa. "Kenapa ?" Tanya Rafa terlihat kebingungan.
"Ka- kain bedcover mana?" Tanya Amelia seraya menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi aset pribadinya.
Rafa mengerutkan dahinya saat melihat itu. "Rafa kan udah lihat semuanya. Malah udah rasain juga," ucapnya sembari menaik- turunkan alisnya jahil membuat pipi Amelia merona merah karenanya.
"Iiisshhh," Amelia memasang wajah judes pada suaminya itu, berusaha menutupi rasa malunya.
"Kamu adalah yang terindah yang pernah Rafa lihat, percayalah...," Ucap Rafa.
"Emang kamu pernah lihat siapa saja ?" Tanya Amelia dengan judesnya. Matanya mendelik tajam saat mengatakan itu membuat Rafa mati kutu di tempatnya.
"Tak terlihat... Rafa tak terlihat...," Ucap Rafa seolah melafalkan mantra. Ia menyesal mengeluarkan kata-kata yang memancing marah ratu singanya dan ingin menghilang saja dari hadapan Amelia.
"Tak terlihat apanya ?" Tanya Amelia yang kini sudah berhasil menutupi tubuh polosnya dengan selembar kain bedcover.
Rafa tahu akan sangat tak mudah meyakinkan istrinya itu apalagi Rafa seringkali pergi ke luar negeri dalam waktu yang tak sebentar.
Rafa berguling, mendekati sang istri yang tengah Merajuk kesal. "Rafa akui pernah lihat yang lainnya melalui film, majalah atau mimpi dewasa Rafa. Terus juga dari gadis-gadis yang mengenakan baju renang di pantai. Apalagi jika di luar negeri. Tapi itu semua tak seindah sayangnya Rafa," jelas Rafa takut-takut.
Namun, walaupun demikian Amelia masih merasa cemas akan sesuatu. "Tapi ini yang pertama kali buat kamu kan ?" Tanya Amelia yang tak rela jika Rafa pernah tidur dengan wanita lainnya. Amelia tak bisa berbagi lelaki itu dengan siapapun dan rasanya sangat tak adil jika itu terjadi padanya. Selama ini Amelia menjaga kesuciannya hanya untuk Rafa seorang.
"Tentu saja ini yang pertama kalinya !! Kan udah sering Rafa bilang kalau Rafa ini perjaka ting-ting. Tadi aja susah payah masuk....,"
"Stop !!" Ucap Amelia memotong ucapan suaminya. Ia tahu kelanjutan dari kalimat yang akan Rafa ucapkan dan Amelia sangat tak ingin mendengarnya.
"Rafa masih perjaka ! Sumpah deh, Yang !" Rafa mengangkat tangannya dengan jemari yang menunjukkan angka 2. "Maksudnya tadi Rafa masih perjaka. Kalau sekarang udah ngga," Rafa nyengir kuda saat mengatakannya.
"Aku tuh gak mau berbagi kamu dengan yang lain," ucap Amelia menbuat hidung Rafa kembang kempis karena gede rasa.
"Aku berusaha mati-matian setia sama kamu, eeehh gak taunya kamu ada main sama yang lain kan aku yang rugi," lanjutnya lagi.
"Seandainya ada tes untuk memeriksa keperjakaan, Rafa mau ikutan," Ucap Rafa serius.
Amelia tersenyum sembari menatap wajah Rafa hang terlihat sangat serius. "Aku percaya...," Jawabnya pelan.
Mendengar itu Rafa melengkungkan senyumnya lebar. Ia merasa senang karena Amelia mau mengerti dan juga percaya padanya.
"Ayo Rafa bantu Ayang buat mandi," sahut Rafa.
Secepat kilat Rafa membawa istrinya menuju kamar mandi dengan cara digendong seperti pasangan pengantin.
Amelia sandarkan pipinya di dafa Rafa dan ia biasa dengarkan dengan jelsa debaran jantung suaminya yang kian menggila.
"Hari ini sayangnya Rafa gak usah kerja ya, Rafa masih pengen main-main sama ayang," ucap Rafa penuh maksud terselubung di dalamnya.
To be continued