The Unexpected Love

The Unexpected Love
Tak Jadi Pulang.



"Lupa ini... Good morning, Wifey... I love you so much," ucap Elang seraya memberikan kecupan mesra di pipi Nayla. Hingga membuat pipi istrinya itu merona merah.


"Mor-morning," sahut Nayla yang masih saja merasa gugup jika Elang berlaku mesra padanya.


Elang mengulum senyumnya. Bagaimana Elang tak merasa semakin gemas ? Pipi Nayla yang merona malu-malu masih menjadi pemandangan favoritnya. Sama seperti dulu, saat mereka masih remaja.


"Biar sama aku saja," Elang pun memotong pancake yang berada di atas piring dengan menggunakan pisau dan garpu. Ia celupkan potongan kue pancake itu ke dalam madu sebelum menyuapkannya pada Nayla. "Kamu harus makan yang banyak karena tenagamu habis terkuras tadi malam," lanjut Elang.


Nayla tundukkan kepala, apa yang Elang katakan tentang tenaganya yang habis tadi malam membuat pipinya terasa panas. Darahnya berdesir mengingat apa yang ia dan Elang lakukan hampir semalaman itu


"Aku bisa sendiri," cicit Nayla sembari menerima suapan Elang.


Mendengar itu, Elang pun tersenyum. "Aku tahu, tapi aku ingin melakukannya. Aku ingin menyuapi kamu makan," kata Elang sembari memotong kue pancake itu lagi dan kembali menyuapi Nayla.


"Hari ini mau ngapain ? Di bawah ada kolam renang yang cukup luas. Kamu mau berenang ?" Tanya Elang.


Nayla menggelengkan kepalanya pelan. Jangankan untuk berenang, berjalan saja kedua lututnya terasa lemas dan gemetaran.


"Mau di kamar saja ?" Tanya Elang lembut.


"Hu'um... Rasanya aku lelah sekali," jawab Nayla. Ingin rasanya ia mengatakan jika tulang-tulang di tubuhnya serasa mau lepas dari setiap sendi nya tapi Nayla tak ingin membuat Elang merasa bersalah lagi.


"Baiklah, kita akan habiskan hari dengan menonton film saja ? Kamu mau ?" Tawar Elang.


"Ya aku mau !" Nayla tersenyum lebar menanggapinya.


"Mmm... Dan...,"


" Dan apa ?" Tanya Elang.


"Hanya menonton film saja kan ? Tanpa mempraktikkan adegan yang ada di dalamnya," ucap Nayla sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Emangnya kamu mau nonton film apa, Yang ?" Tanya Elang dengan nada menggoda istrinya itu.


Nayla tak menjawab. Yang ia lakukan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terus menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Sayang... Aku tanya, kamu mau nonton film apa ? Sampai-sampai kita tak boleh mereka adegan yang ada di dalamnya." Elang mengulangi pertanyaannya sembari mendekatkan wajahnya pada Nayla. Ia terus menggoda istrinya itu.


"Iihhh gak tau ah," Nayla mencebikkan bibirnya kesal dengan pipi yang dihiasi semburat merah. Apa yang Nayla katakan tadi menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Bagaimana jika kita nonton film ini dan ini," Elang menunjukkan 2 buah film panas melalui layar ponselnya.


Bukannya persetujuan yang Elang dapatkan dari Nayla, tapi ia malah mendapatkan tamparan pelan di lengannya. Elang pun tertawa.


"Dasar mesoom," ucap Nayla sambil memelototkan matanya.


"Tapi suka kan ?"


"Nggak !!" Jawab Nayla dengan cepat.


"Yakin nggak suka ? Terus siapa yang tadi malam bilang 'El.. lagi... Lagi... Lebih dalam... Please...'," Elang menirukan des*han istrinya dan lagi-lagi ia mendapatkan sebuah tamparan di lengannya. Pecahlah tawa Elang untuk yang kedua kalinya. Sungguh ia sangat suka menggoda istrinya itu.


"Gemesin banget sih, Yang !" Ucap Elang sembari memberikan banyak ciuman di wajah Nayla.


***


Pada siang harinya, seperti yang keduanya rencanakan mereka habiskan waktu dengan menonton film. Kali ini Elang memilih film komedi romantis yang sedang digandrungi banyak orang.


Nayla sudah duduk di atas sofa yang berada di kamar hotel itu dengan bedcover yang menutupi tubuhnya. Ia lakukan itu untuk berjaga-jaga dari serangan Elang


Setelah selesai memilih film, Elang pun menyingkap kain bedcover yang menutupi tubuh Nayla. "nga-ngapain ?" Tanya Nayla. Ia merasa sedikit terkejut dengan apa yang Elang lakukan.


"Ikut selimutan lah,"jawab Elang sembari ikut masuk ke dalam bedcover itu bersama istrinya.


Mulut Nayla ternganga. Belum apa-apa ia sudah gagal dalam menghalau Elang, dan mengusir lelaki itu pun sepertinya tidak mungkin dilakukan karena Elang udah duduk nyaman di balik kain bedcover putih itu dengan tangannya yang sudah melingkar di bahu Nayla.


"Tahu gak, Yang ?" Tanya Elang.


"Hu'um ?" Sahut Nayla dengan bergumam.


"Dari dulu aku tuh pengen banget nonton film romantis sama kamu, tapi Amelia selalu memilih film horor. Dan aku akan kesal sendiri di tempat dudukku,"


"Hah ? Benarkah ?" Mata Nayla membola karena tak percaya.


Elang pun menganggukkan kepala membenarkan. "Setiap Mami nyuruh aku nemenin kalian nonton, aku tuh senang banget. Aku berharap Amelia memilih film romantis dan kita akan saling pandang di dalam cahaya temaram karena terbawa perasaan," jelas Elang.


"Tapi itu hanya impianku saja, karena nyatanya Amelia selalu memilih film horor dan kita boro-boro saling pandang. Yang ada, kalian heboh sendiri menutup mata," lanjut Elang dan itu membuat Nayla tertawa.


"Oleh karena itu aku ingin melakukannya sekarang," kata Elang lagi dengan tatapan matanya yang kini meredup sayu.


"Sekarang kita bisa nonton film romantis setiap saat," sahut Nayla dengan senyuman semanis madu. Elang pun mengangguk menyetujui.


"Dan ada satu lagi yang ingin aku lakukan saat menonton film di bioskop denganmu dulu," ucap Elang.


"Apa ?" Lirih Nayla karena kini Elang sudah melihatnya dengan cara yang tak biasa.


"Ini," Elang menarik dagu istrinya dengan jempol dan ia tundukkan wajahnya agar bisa membenamkan bibirnya di atas bibir Nayla.


Elang mengulum bibir Nayla dengan lembut dan penuh perasaan saat bibir keduanya telah menyatu sempurna. "Aku ingin menciumu di dalam bioskop seperti pasangan lainnya," ucap Elang lirih tepat di atas bibir Nayla yang basah karena ulahnya.


" mati-matian aku tahan perasaanku sama kamu sejak dulu, Nay," lanjut Elang. Matanya menatap lembut penuh cinta pada istrinya itu.


"Sekarang aku milikmu, dan akan selalu begitu," sahut Nayla sembari mengecup bibir Elang dengan segenap rasa cinta yang ia miliki.


Elang tersenyum, begitu juga Nayla. Lalu keduanya fokus pada layar datar 40 inchi di hadapan mereka yang kini sedang memutar film romantis yang pernah tadi dipilih oleh Elang..


***


Ini adalah hari kedua Elang dan Nayla berada di hotel tempat mereka melangsungkan pesta pernikahan. Rencananya, mereka akan pulang ke Jakarta sesuai permintaan Mami Elang kemarin. Di Jakarta masih banyak saudara Elang yang berkumpul.


Sang Mami sudah menghubungi Elang sejak pagi. Mewanti-wanti agar Elang tak lupa dengan janjinya. Tapi Elang sedikit ragu untuk pulang karena ia tak mau kena omelan sang mami.


"Sayang bagaimana ini ?" Tanya Elang takut-takut pada istrinya.


"Nggak tahu ! Tapi aku masih gemetaran kalau harus berjalan. Padahal aku udah bilang kan tadi malam, kita main sekali saja tapi kamu malah mengajakku bermain-main sampai hampir pagi lagi !!" Jawab Nayla sembari mencebikkan bibirnya.


"Maaf," lagi-lagi Elang meminta maaf dengan kepala tertunduk karena merasa bersalah telah menerkam Nayla semalaman.


"Terus aku harus kasih alasan apa sama Mami karena kita memperpanjang waktu tinggal di hotel ini ?" Tanya Elang. Padahal ia sudah berjanji pada Maminya untuk tidak melahap Nayla habis-habisan. Tapi nyatanya pagi ini, untuk berdiri saja kedua lutut Nayla gemetaran dan itu karena ulah Elang semalam.


to be continued ♥️


Maaf telat update yaa.. anakku yang kecil kena tipes. Mohon doanya yaa agar cepat sembuh.aamiin...


Jangan lupa vote yaaa mumpung masih awal Minggu.


Terimakasih.