
"Mah, Rissa berangkat ke sekolah dulu ya assalamualaikum" ucap Shivanya mencium punggung tangan ibunya.
"Iya, hati-hati dijalan ya Rissa" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya.
Sesampainya di sekolah ia langsung dihadang oleh Callista dan Altezza.
"Eh ada si endut" ucap Callista menatap Shivanya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Shivanya menghiraukan perkataan Callista dan langsung pergi dari sana.
"Kurang ajar banget tuh orang, berani banget dia sama gw, liatin aja lu, gw balas nanti lu!!" gerutu Callista.
"Udah yuk, mending kita masuk aja" ucap Altezza.
"Iya" ucap Callista.
Callista mengambil paksa bekal makanan Shiva dan sengaja melemparkannya ke bawah.
"UPS!! sorry!!" ucap Callista yang langsung pergi meninggalkannya
Shivanya hanya memandang bekal makanannya yang jatuh berserakan diatas tanah, Shivanya pun pergi keluar untuk mencari makanan. Setelah selesai makan, bel masuk berbunyi, Shiva segera menuju ke kelas namun saat tiba di kelas dan ingin duduk di bangkunya, Callista sengaja meluruskan kakinya hingga membuat Shivanya terjatuh.
"Akh!!" ucap Shiva kesakitan.
"UPS!! sorry!! sengaja hahaha" ucap Callista tertawa.
Shivanya hanya menatap mata Callista dan langsung duduk di bangkunya, dan pelajaran pun berlanjut.
Ketika ingin pulang, Shivanya diberhentikan oleh Kinara, wali kelasnya.
''Shivanya'' kata wali kelas Kinara.
''Ya bu, ada apa?'' tanya Shivanya.
''Belum pulang? ikut ibu sebentar'' kata bu Kinara.
''Oke bu" ucap Shivanya.
“Kamu pilih di antara baju-baju ini,” kata bu Kinara memberikan pilihan baju.
"Ini bagus bu" kata Shivanya sambil menunjuk salah satu bajunya.
"Pilihan yang bagus, oke, besok kamu pakai baju ini saja untuk kompetisi'' kata bu Kinara.
''Oke bu'' ucap Shiva.
''Shivanya, lomba dimulai pukul 10.00 dan besok kamu datang sesuai dengan jam sekolah biasa saja, jam 7 pagi" ucap bu Kinara.
''Oke bu'' ucap Shiva
''Ya sudah sekarang kamu boleh pulang'' ucap bu Kinara.
''Baik bu, permisi'' ucap Shivanya.
''Ya silakan" ucap bu Kinara.
''Permisi kak, kakak sedang apa di sini? kakak kenapa menangis? habis putus dengan pacarnya ya?'' Shivanya bertanya melihat seorang wanita menangis di bawah pohon yang rindang.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
''Bukan? terus apa dong? atau habis bertengkar dengan suaminya?'' tanya Shivanya.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
''Bukan juga? terus apa dong?'' tanya Shivanya.
"Sudah jangan menangis lagi, apa kamu tidak merasa malu jika orang-orang melihatmu menangis?, kamu sudah besar, mengapa kamu menangis di sini?" kata Shivanya sambil mengelus bahu wanita misterius itu.
Lia yang terus memperhatikan Shivanya terkejut saat melihat Shivanya bisa melihat hantu, berbicara, dan menyentuh hantu.
''Shivanya, kamu berbicara dengan siapa?'' tanya ibunya yang datang menjemputnya.
"Sama kakak itu bu" kata Shivanya sambil menunjuk wanita yang ada di sampingnya namun wanita itu tiba-tiba menghilang setelah kehadiran ibunya.
''Dimana Shivanya? ibu tidak melihatnya, tidak ada orang di sana'' tanya ibunya melihat seseorang yang anaknya katakan.
''Lah kok ilang?, ada di sini tadi ibu, Shivanya tidak berbohong'' kata Shivanya yang bingung melihat kepergian wanita itu dengan sangat cepat.
''Sudahlah, ayo pulang" ucap ibunya menarik tangan Shiva.
''Iya bu'' kata Shivanya pergi dari sana dan masih melihat ke belakang.
''Mengapa kakak perempuan tadi menghilang begitu cepat? aneh sekali" kata Shivanya dalam hatinya.
Sesampainya di rumah, ia mandi dan makan. Setelah selesai makan, terdengar ketukan pintu dari luar.
"Assalamualaikum Shivanya main yuk!!" kata Aji dan mengetuk pintu tiga kali.
"Wa'alaikumsalam" kata ibu Shiva sambil membukakan pintu rumahnya.
''Tante" kata Aji mencium tangan ibu Shivanya.
''Apakah kamu Aji anak bu Fitri?" tanya ibu Shiva.
''Ya tante" ucap Aji mengangguk dan tersenyum.
''Masuklah" ucap ibu Shiva.
''Ya tante" ucap Aji masuk ke dalam rumah Shiva.
"Silakan duduk" ucap ibu Shiva.
''Iya tante, ngomong-ngomong Shivanya ada di rumah tante?" tanya Aji.
''Iya ada kok, apa yang ingin kamu minum?'' tanya ibu Shivanya.
"Jangan repot-repot tante" kata Aji gugup.
''Gak repot kok!!, tunggu sebentar, tante buatkan minuman dan panggil Shivanya" ucap ibu Shiva
''Iya tante, terima kasih'' ucap Aji mengangguk dan tersenyum.
''Ya sama sama" ucap ibu Shiva.
"Shivanya, ada Aji di depan'' kata ibunya mengetuk pintu kamar Shiva.
''Iya mah, aku sedang mandi" teriak Shiva dari dalam kamarnya.
''Aji, tunggu sebentar, aku lagi mandi'' teriak Shivanya dari kamar mandi di kamarnya.
''Oke'' ucap Aji.
''Ini minuman dan makanannya, ayo makan'' kata ibu Shivanya.
''Apa kamu sudah lama mengenal Shivanya?'' tanya ibu Shivanya.
''Belum tante, baru kemarin ketemu di toko bu Siti" ucap Aji.
''Oh begitu, apakah kalian bertemu ketika Shivanya membeli mie?'' tanya ibu Shivanya.
''Iya tante'' kata Aji sambil tertawa malu.
''Astaga'' ucap ibu Shiva
Aji hanya tertawa malu dan menggaruk kepalanya.
''Ji'' kata Shivanya yang tiba-tiba datang.
''Shivanya udah selesai mandinya?'' tanya Aji.
'Hm, jika saya belum selesai mandi mengapa datang ke sini?' Shivanya bertanya kesal.
"Ya, ya" kata Aji sambil tertawa.
"Shivanya jangan seperti itu dengan tamu'' kata ibunya.
"Ya, tamu tak diundang" kata Shivanya.
''Kamu pikir aku jelangkung?'' tanya Aji.
''Mirip sih Ji haha!!'' kata Shivanya tertawa.
''Sabar'' kata Aji sambil mengusap dadanya.
Jelangkung adalah boneka yang biasa digunakan untuk memanggil setan dengan menggunakan ritual.
''Shivanya, tidak mungkin seperti itu'' kata ibunya.
''Ya'' kata Shivanya.
''Minta maaf pada Aji'' ucap ibunya.
''Iya mah, sorry Ji" ucap Shivanya.
''Oke, tidak masalah'' kata Aji sambil mengedipkan satu matanya.
''Mamah mau ke pasar, kalau mau main sama Aji kunci saja pintunya, taruh saja kuncinya di tempat biasa oke'' kata ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya.
''Aji, tante, pergi ke pasar, jika kamu ingin bermain dengan Shivanya, tidak apa, tante tinggal ya" kata ibu Shivanya.
''Iya tante'' kata Aji.
''Assalamualaikum" ucap ibunya.
"Wa'alaikumsalam" ucap Aji dan Shiva kompak.
Shivanya mencium tangan ibunya begitu pun Aji.
"Oke, sekarang kita mau main apa?" tanya Aji.
"Apa saja" kata Shivanya.
'' bagaimana jika kamu berkeliling, aku menunggu lilin'' kata Aji.
''Aku tidak mau, kamu saja yang keliling'' kata Shivanya.
''Kenapa jadi aku?" tanya Aji.
''Siapa laki-laki diantara kita? aku atau kamu? kamu kan? ya, jadi kamulah yang mencari nafkah, perempuan yang menunggu hasilnya" kata Shivanya.
''Hm, apa kamu ingin aku memberimu nafkah dari uang yang haram?' tanya Aji.
''Tidak mau'' kata Shivanya.
''Lalu mengapa anda meminta saya untuk berkeliling?'' tanya Aji mengangkat alisnya.
''Ngomong sama kamu gak jelas akh, bikin pusing aja'' ucap Shivanya.
''Siapa yang memulai? kamu Zubaedah'' kata Aji.
''Zubaedah, Zubaedah siapa lagi Zubaedah?'' tanya Shivanya badmood.
''Kamu, itu tidak mungkin aku" ucap Aji.
''Sungguh menyebalkan, kamu mengubah namaku jadi Zubaedah tadi kamu menyuruh ku berkeliling , namaku SHIVANYA NERISSA" ucap Shivanya bad mood.
Aji menertawakan Shivanya.
''Ya sudah ayok main" kata Aji menarik tangan Shiva.
''Jangan sentuh aku'' kata Shivanya sambil memukul tangan Aji yang ingin menyentuhnya.
Aji menertawakannya lagi.
''Ya, kamu jalan duluan saja'' kata Aji.
''Aku tidak mau, kamu kan laki-laki, ya kamulah yang berjalan lebih dulu'' kata Shivanya.
'Hm oke, ya sudah aku yang jalan terlebih dahulu" kata Aji.
''Tunggu, aku kunci pintu dulu" kata Shivanya.
"Kamu yang menyuruh ku untuk berjalan duluan" kata Aji.
"Mengapa kamu sangat sensitif untuk menjadi seorang laki-laki?" tanya Shivanya.
Aji menertawakannya.
"Jangan tertawa!!" ucapnya kesal.
Aji pun berhenti tertawa.
"Jalan duluan sana'' ucap Shiva.
"Oke" ucap Aji.
"Mengapa kamu meninggalkan saya?" tanya Shiva kesal.
"Kamu yang meminta ku untuk berjalan duluan bukan? lantas mengapa? apa kamu takut? rumah kita hanya berjarak beberapa langkah saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap Aji.
''Hm, dasar laki-laki tidak peka" gerutu Shivanya.
"Apa? tidak peka?" tanya Aji menghentikan langkahnya mendorong Shiva ke tembok dan menatap matanya serta meletakkan tangannya di tembok menyeringai.
Shivanya mendorong Aji hingga ia jatuh tersungkur dan berlari meninggalkan Aji.